SulawesiPos.com – Pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup dengan koreksi tipis hari ini Jumat (6/11/2026). Pelemahan ini diduga kuat merupakan imbas dari dinamika pasar keuangan global yang masih belum stabil.
Berdasarkan data pantauan terbaru, mata uang nasional tercatat merosot 0,03 persen dibandingkan sesi penutupan sebelumnya. Angka penutupan ini menunjukkan rupiah harus rela bertahan di level Rp18.080 per dolar AS.
Sebelumnya, mata uang kebanggaan Indonesia ini sempat mencatatkan tren penguatan semu pada awal pembukaan. Namun, tingginya permintaan pasar terhadap dolar AS membuat pergerakan rupiah kembali berbalik arah.
Bersamaan dengan dinamika tersebut, otoritas moneter merilis laporan terkini terkait posisi cadangan devisa. Laporan resmi itu menunjukkan adanya peningkatan simpanan valas yang cukup lumayan dari bulan lalu.
Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso, memberikan rincian terkait rasio kecukupan tersebut. “Posisi cadangan devisa pada akhir Oktober 2026 setara dengan pembiayaan 5,3 bulan impor atau 5,2 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah,” jelasnya.
Di tengah sentimen positif moneter, kalangan ekonom tetap memberikan catatan kritis terkait pengelolaan kewajiban negara. Mereka menyoroti beban bunga utang yang dinilai masih membebani ketersediaan ruang fiskal pemerintah.
Kepala Ekonom Bank Danamon, Irman Faiz, menyebutkan adanya risiko serius yang mengintai kesehatan APBN. “Kalau ke depan, dalam dua tahun ke depan, itu tidak turun ke bawah 15%, ada potensi downgrade yang bisa dilakukan,” tuturnya.
Sementara itu, situasi indeks dolar AS di tingkat global terpantau mengalami penguatan secara luas. Indeks yang mengukur kekuatan mata uang asing itu terpantau menanjak hingga mencapai level 101,939.
Perhatian pelaku pasar kini tertuju penuh pada rilis data ketenagakerjaan dari negeri Paman Sam. Data krusial tersebut diprediksi akan menjadi petunjuk utama mengenai arah manuver bank sentral AS. (*)


