Nilai tukar rupiah kembali melemah hingga menyentuh Rp17.613 per dolar AS pada perdagangan Jumat (15/5/2026). Ketegangan geopolitik global disebut jadi pemicu utama.
Pemerintah akan membantu Bank Indonesia menahan pelemahan rupiah dengan mengintervensi pasar obligasi melalui skema Bond Stabilization Fund mulai besok.
Rupiah menyentuh level Rp17.500 per dolar AS akibat sentimen geopolitik Timur Tengah, kenaikan harga minyak dunia, dan kekhawatiran pasar terhadap arus keluar modal asing.
Nilai tukar rupiah anjlok hingga menembus Rp17.500 per dolar AS pada perdagangan Selasa (12/5/2026). Pelemahan dipicu penguatan indeks dolar AS dan kenaikan harga minyak dunia.
Nilai tukar dolar Amerika Serikat melemah tajam akibat kebijakan tarif dan ketidakpastian global. Akademisi Universitas Hasanuddin menilai kondisi ini membuka peluang strategis bagi Indonesia dan negara berkembang.
Nilai tukar rupiah diperkirakan bergerak fluktuatif dengan risiko melemah ke Rp16.950 per dolar AS pada Jumat (23/1/2026), dipengaruhi sentimen global terkait Greenland dan kebijakan Bank Indonesia.
Nilai tukar rupiah ditutup di level terlemah sepanjang sejarah pada 13 Januari 2026 di Rp16.877 per dolar AS. HSBC memproyeksikan rupiah berpotensi melemah hingga Rp17.000.