SulawesiPos.com – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) akhirnya memberikan klarifikasi resmi guna menanggapi derasnya pelarian puluhan triliun dana asing dari bursa saham nasional. Penjelasan terbaru pada Minggu (1/11/2026) ini sengaja dirilis untuk menepis kekhawatiran luas bahwa investor global telah benar-benar menjauhi Indonesia.
Menurut hasil penyelidikan awal lembaga tersebut, sebagian besar dana asing diduga kuat hanya menggeser keranjangnya menuju instrumen Surat Berharga Negara (SBN). Langkah pengamanan aset dalam skala besar ini diambil akibat tingginya risiko investasi saham serta godaan imbal hasil dari tren suku bunga acuan.
Lonjakan drastis angka penjualan bersih saham domestik mulai terekam sangat masif semenjak adanya pelemparan wacana penurunan status pasar oleh lembaga MSCI. Rilis pengumuman yang terjadi pada Kamis (15/10/2026) tersebut dilaporkan memicu aliran keluar modal hingga belasan triliun rupiah hanya dalam rentang waktu sangat singkat.
Agus Firmansyah selaku perwakilan OJK menerangkan bahwa pola perubahan strategi investasi ini sudah sangat sesuai dengan prinsip manajemen risiko standar. “Karena sekarang berisiko, mereka mungkin mengalihkan ke SBN,” tegasnya saat menjabarkan anatomi pasar keuangan kepada para jurnalis.
Kendati telah memberikan kepastian, pihak regulator mengaku tidak memiliki instrumen pelacakan seketika untuk mengetahui nama institusi murni di balik aksi jual bersih tersebut. “Yang kelihatan transaksi kan si Mandiri Sekuritas nya, yang kelihatan transaksi UBS-nya,” tambah Agus membenarkan adanya kerumitan struktur perdagangan bursa.
Pemerintah lantas mengimbau seluruh pelaku ritel dan pasar untuk tetap bersikap rasional dalam menyikapi setiap pergerakan dinamika pasar modal hari ini. Bank Indonesia juga ikut memberikan jaminan bahwa daya tarik instrumen investasi nasional secara fundamental masih berada jauh di atas banyak negara maju.
Sikap optimistis tingkat tinggi ini disampaikan secara langsung oleh Gubernur Bank Indonesia, Destry Damayanti, guna menjaga dan mengelola stabilitas persepsi publik. “Kita tahu stock marketnya mereka [Amerika Serikat] juga sekarang sudah besarnya 2,4 kali dari GDP-nya,” beber Destry menyoroti tingkat kerentanan ekonomi global saat ini. (*)


