Oleh: Dr Istiati Hatma Mallewai SPd MPd
Widyaiswara Balai Diklat Keagamaan Makassar
SulawesiPos.com – Kita hidup pada zaman ketika pengetahuan tidak lagi sulit ditemukan. Dengan satu sentuhan jari, seseorang dapat mengakses ribuan artikel, buku digital, jurnal ilmiah, video pembelajaran, podcast, hingga berbagai jawaban yang dihasilkan oleh kecerdasan artifisial (Artificial Intelligence/AI).
Informasi tersedia hampir tanpa batas, melintasi ruang dan waktu. Namun, di tengah kemudahan tersebut, muncul sebuah paradoks pendidikan: semakin mudah manusia memperoleh informasi, belum tentu semakin baik kemampuannya memahami pengetahuan.
Peserta didik saat ini dapat mencari jawaban atas hampir semua pertanyaan melalui Google, YouTube, TikTok, dan berbagai aplikasi berbasis AI. Akan tetapi, apakah mereka mampu membedakan informasi yang benar dan keliru? Apakah mereka dapat mengidentifikasi sumber yang kredibel? Apakah mereka mampu mengolah informasi menjadi pemahaman, gagasan, dan solusi?
Pertanyaan-pertanyaan ini menjadi penting karena tantangan pendidikan masa kini bukan lagi sekadar menyediakan sumber pengetahuan, melainkan membangun kemampuan untuk mengelola keberlimpahan pengetahuan tersebut.
Ketika Informasi Melimpah, Perhatian Menjadi Langka
Keberlimpahan informasi atau information abundance telah mengubah cara manusia belajar, bekerja, dan berinteraksi. Jika pada masa lalu persoalan utama pendidikan adalah keterbatasan sumber belajar, kini persoalannya justru terletak pada terlalu banyaknya informasi yang harus dihadapi. Peserta didik dapat menemukan puluhan bahkan ratusan sumber untuk menjawab satu pertanyaan.
Sayangnya, tidak semua informasi memiliki kualitas, akurasi, dan relevansi yang sama. Kondisi ini berpotensi menimbulkan information overload, yaitu situasi ketika seseorang menerima informasi melebihi kapasitasnya untuk mengolah dan memaknainya secara efektif.
Akibatnya, peserta didik mudah berpindah dari satu informasi ke informasi lain tanpa memperoleh pemahaman yang mendalam. Mereka membaca banyak hal, tetapi tidak selalu memahami substansinya. Mereka mampu mengumpulkan jawaban, tetapi belum tentu mampu membangun argumentasi.
Fenomena tersebut semakin kompleks dengan hadirnya AI generatif. Teknologi ini memungkinkan peserta didik memperoleh rangkuman, penjelasan, bahkan jawaban tugas dalam waktu singkat.
Di satu sisi, AI membuka peluang besar bagi personalisasi pembelajaran. Namun, di sisi lain, penggunaan yang tidak disertai literasi kritis dapat mendorong ketergantungan intelektual.
Peserta didik berisiko lebih sibuk mencari jawaban instan daripada membangun proses berpikir.
Persoalan sesungguhnya bukan terletak pada banyaknya informasi atau kecanggihan teknologi, melainkan pada kesiapan manusia dalam mengelolanya.
Kita membutuhkan kemampuan untuk menentukan informasi mana yang penting, sumber mana yang dapat dipercaya, dan pengetahuan mana yang layak digunakan untuk mengambil keputusan.
Dari Konsumen Informasi Menjadi Kurator Pengetahuan
Salah satu strategi penting untuk menyiasati keberlimpahan sumber pengetahuan adalah mengubah posisi peserta didik dari sekadar konsumen informasi menjadi kurator pengetahuan.
Konsumen informasi cenderung menerima dan mengumpulkan berbagai informasi, sedangkan kurator pengetahuan memiliki kemampuan menyeleksi, memverifikasi, mengorganisasi, menghubungkan, dan mengembangkan informasi menjadi pengetahuan yang bermakna.
Strategi pertama adalah membangun kemampuan seleksi informasi.
Peserta didik harus dibiasakan menentukan tujuan sebelum mencari informasi. Mereka perlu memahami bahwa tidak semua informasi harus dikonsumsi dan tidak semua sumber perlu dijadikan rujukan.
Kemampuan menentukan kebutuhan informasi menjadi langkah awal agar proses belajar lebih terarah dan tidak terjebak dalam aktivitas pencarian tanpa tujuan.
Strategi kedua adalah mengembangkan kemampuan verifikasi.
Informasi yang ditemukan di internet tidak otomatis benar hanya karena tampilannya menarik atau dibagikan oleh banyak orang. Peserta didik harus mampu memeriksa identitas penulis, lembaga penerbit, tanggal publikasi, bukti pendukung, serta membandingkan informasi dengan sumber lain yang dapat dipertanggungjawabkan.
Literasi digital harus bergerak melampaui kemampuan mengoperasikan perangkat menuju kemampuan menilai kredibilitas informasi.
Strategi ketiga adalah memperkuat literasi kritis.
Peserta didik tidak cukup hanya mampu menemukan dan memahami informasi, tetapi harus berani mempertanyakan isi informasi, mengidentifikasi bias, membandingkan perspektif, dan menyusun kesimpulan berdasarkan bukti.
Mereka perlu dibiasakan bertanya: siapa yang menyampaikan informasi ini, untuk kepentingan apa, apa bukti yang mendukungnya, dan apakah terdapat sudut pandang lain?
Strategi keempat adalah melakukan kurasi pengetahuan melalui catatan digital, peta konsep, jurnal refleksi, portofolio, dan dokumentasi pembelajaran.
Informasi yang telah diseleksi dan diverifikasi perlu disusun secara sistematis agar dapat digunakan kembali.
Dengan demikian, peserta didik tidak sekadar mengumpulkan tautan, tetapi membangun pengetahuan yang terorganisasi dan berkembang secara berkelanjutan.
Strategi kelima adalah mentransformasikan informasi menjadi karya dan tindakan.
Pengetahuan yang bermakna bukan hanya yang mampu diingat, tetapi yang dapat digunakan untuk menghasilkan sesuatu. Peserta didik dapat mengembangkan hasil pencarian informasi menjadi artikel, proyek sederhana, presentasi, penelitian, kampanye lingkungan, atau solusi terhadap persoalan di sekitarnya.
Pada tahap inilah informasi mengalami transformasi menjadi pengetahuan yang produktif.
Mengubah Peran Guru di Tengah Keberlimpahan Pengetahuan
Keberlimpahan sumber pengetahuan menuntut perubahan paradigma dalam pembelajaran. Guru tidak lagi dapat menempatkan dirinya sebagai satu-satunya sumber informasi.
Pengetahuan dapat diakses peserta didik dari berbagai platform, bahkan terkadang lebih cepat daripada penjelasan yang disampaikan di ruang kelas. Namun, hal tersebut tidak berarti peran guru menjadi berkurang. Justru, peran guru semakin strategis sebagai kurator, fasilitator, mentor, dan pengarah pembelajaran.
Guru perlu membantu peserta didik menemukan sumber yang tepat, mengembangkan pertanyaan yang bermutu, menguji kebenaran informasi, dan membangun pemahaman secara mandiri.
Pembelajaran seharusnya tidak lagi didominasi oleh aktivitas menghafal informasi, tetapi diarahkan pada kemampuan berpikir tingkat tinggi, pemecahan masalah, kreativitas, kolaborasi, dan refleksi.
Guru dapat memberikan tugas yang tidak hanya menuntut peserta didik menemukan jawaban, tetapi juga menjelaskan proses memperoleh jawaban, membandingkan sumber, menunjukkan bukti, dan mempertanggungjawabkan kesimpulannya.
Dalam konteks Pembelajaran Mendalam (Deep Learning), peserta didik perlu memperoleh pengalaman belajar yang berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan. Mereka tidak hanya belajar untuk mengetahui, tetapi juga memahami, mengaplikasikan, merefleksikan, dan mengembangkan pengetahuan dalam kehidupan nyata.
Bagi madrasah, strategi ini dapat diperkaya dengan nilai-nilai Kurikulum Berbasis Cinta, Ekoteologi, dan Moderasi Beragama.
Keberlimpahan informasi harus diarahkan untuk membangun manusia yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki kepedulian sosial, tanggung jawab ekologis, sikap saling menghargai, dan integritas moral.
Pengetahuan yang diperoleh harus menjadi sarana menghadirkan kemaslahatan, bukan sekadar alat untuk menunjukkan keunggulan diri.
AI Bukan Pengganti Nalar Manusia
Kehadiran AI generatif menjadi bagian yang tidak dapat dipisahkan dari ekosistem pengetahuan masa kini. Menghindari teknologi bukanlah strategi yang tepat. Sebaliknya, pendidikan harus mengajarkan bagaimana memanfaatkan AI secara bertanggung jawab.
AI dapat digunakan untuk mengeksplorasi gagasan, membantu memahami konsep yang sulit, membandingkan perspektif, dan memperoleh umpan balik. Namun, peserta didik harus memahami bahwa jawaban AI tidak selalu akurat, lengkap, atau bebas dari bias.
Setiap informasi yang dihasilkan tetap membutuhkan verifikasi. Guru perlu membangun etika penggunaan AI dengan menekankan kejujuran akademik, transparansi, perlindungan data pribadi, dan tanggung jawab atas setiap karya.
Peserta didik harus tetap menjadi pemilik proses berpikirnya. Teknologi boleh membantu mempercepat pekerjaan, tetapi tidak boleh mengambil alih tanggung jawab intelektual manusia.
Di sinilah pentingnya membangun keseimbangan antara literasi digital, literasi informasi, literasi manusia, dan literasi etis. Kecakapan menggunakan teknologi harus berjalan seiring dengan kemampuan bernalar, empati, kreativitas, serta kesadaran moral.
Dari Keberlimpahan Informasi Menuju Kedaulatan Pengetahuan
Pada akhirnya, menyiasati keberlimpahan sumber pengetahuan bukan berarti membatasi akses terhadap informasi. Sebaliknya, kita harus membangun kapasitas manusia agar mampu hidup secara cerdas di tengah arus informasi yang terus berkembang.
Sekolah, madrasah, keluarga, dan masyarakat perlu bekerja sama menciptakan ekosistem pembelajaran yang mendorong budaya membaca, bertanya, memverifikasi, berdiskusi, menulis, dan menghasilkan karya.
Keberhasilan pendidikan tidak cukup diukur dari seberapa banyak informasi yang dikuasai peserta didik, tetapi juga dari kemampuan mereka menggunakan pengetahuan untuk memahami persoalan dan memberikan kontribusi nyata bagi kehidupan.
Kita perlu menyadari bahwa pada era digital, orang yang paling banyak mengakses informasi belum tentu menjadi orang yang paling berpengetahuan. Mereka yang mampu memilih, menghubungkan, mengkritisi, dan memanfaatkan informasi secara bijaksana justru memiliki keunggulan dalam menghadapi perubahan.
Pendidikan masa depan bukan tentang mencetak manusia yang mengetahui segala hal, melainkan membentuk manusia yang tahu bagaimana menemukan pengetahuan, mampu membedakan kebenaran, berani berpikir secara mandiri, dan bijaksana menggunakan apa yang diketahuinya.
Sebab, di tengah dunia yang tidak pernah kehabisan informasi, tantangan terbesar manusia bukan lagi menemukan pengetahuan, melainkan menjaga agar akal sehat, nalar kritis, dan nilai-nilai kemanusiaan tidak tenggelam dalam lautan informasi.*


