Oleh Mustamin Raga
Penulis Buku Negara dalam Kemasan: Dari Brand Produk ke Politik Citra
SulawesiPos.com – Takdir kadang-kadang tidak datang dengan bunyi genderang. Ia berjalan pelan, menyelinap di antara kerja panjang, keputusan-keputusan yang tidak selalu dipahami orang, kesempatan yang sengaja dilewatkan, dan kesabaran menunggu pintu yang tepat untuk diketuk.
Ketika waktunya tiba, seseorang yang selama bertahun-tahun berada di sekitar panggung akhirnya berdiri tepat di tengahnya. Bukan lagi sebagai penonton, bukan pula sebagai pemain pendukung, melainkan sebagai orang yang harus menentukan ke mana cerita akan dibawa.
Begitulah Darmawangsyah Muin, yang akrab disingkat DM, menjemput takdir politiknya di tanah bersejarah, Gowa. Pada 28 Oktober 2026, bertepatan dengan peringatan Hari Sumpah Pemuda, Gubernur Sulawesi Selatan Andi Sudirman Sulaiman melantiknya sebagai Bupati Gowa ke-12. Tanggal itu seolah memberikan lapisan makna tersendiri bagi perjalanan seorang politikus yang kini harus membuktikan bahwa cita-cita pembaruan tidak berhenti sebagai bunyi slogan, tetapi menjelma menjadi kerja yang dapat disentuh oleh kehidupan masyarakat.

Empat belas hari sebelumnya, sejak 14 Oktober 2026, DM menjalankan tugas sebagai Pelaksana Tugas Bupati Gowa setelah Menteri Dalam Negeri memberhentikan Sitti Husniah Talenrang. Empat belas hari itu adalah jembatan pendek yang menghubungkan dua keadaan: dari seorang wakil bupati menjadi pemegang kendali pemerintahan, dari mendampingi keputusan menjadi orang yang harus berdiri paling depan ketika keputusan diambil. Tidak banyak waktu
untuk menikmati perubahan posisi. Jabatan datang bersama pekerjaan rumah yang tidak mengenal seremoni.
Namun, kalau kita menarik benang perjalanan DM lebih jauh ke belakang, pelantikan itu bukanlah cerita yang muncul tiba-tiba dari ruang kosong. Ada jalan panjang yang telah dilaluinya, ada arena politik yang telah dijelajahi, dan ada sejumlah tikungan yang mengajarkan bahwa kekuasaan bukan hanya soal keberanian memasuki gelanggang, melainkan juga kecermatan membaca keadaan.
DM lahir pada 27 Desember 1975 di Dusun Lambengi, Desa Bontoala, Kecamatan Pallangga, Kabupaten Gowa, dari pasangan Abdul Muin Karaeng Muntu dan Siti Rukiyah. Ia bukan seseorang yang datang dari luar untuk kemudian mengenal Gowa melalui peta wilayah dan lembar statistik pemerintahan. Ia lahir dari tanah ini, tumbuh dalam lingkungan sosial dan kebudayaan yang memiliki akar panjang, lalu menapaki jalan politik yang akhirnya membawanya kembali ke tanah kelahirannya dengan tanggung jawab yang jauh lebih besar.
Ada dimensi kultural yang menarik dalam latar belakang keluarganya. DM memiliki hubungan dengan lingkungan adat Anrong Guru Taeng. Ayahnya, Abdul Muin Karaeng Muntu, merupakan pemangku adat yang dikenal sebagai Anrong Guru Taeng atau Bali Empona Kesultanan Gowa, dengan peran sebagai dewan pertimbangan sejak Agustus 2018.
Dalam tradisi yang masih menghargai ikatan adat dan sejarah, kedekatan dengan lingkungan semacam ini bukan sekadar keterangan dalam silsilah keluarga. Ia mengingatkan bahwa Gowa memiliki lapisan identitas yang tidak seluruhnya dapat dibaca melalui jabatan, anggaran, dan urusan administrasi.
Tentu, garis keluarga tidak otomatis melahirkan kualitas kepemimpinan. Sejarah keluarga bisa menjadi akar, tetapi pohon tetap harus tumbuh dengan kekuatannya sendiri. Nama besar tidak dapat menggantikan kerja, dan kedekatan dengan tradisi tidak serta-merta menjamin kebijaksanaan. Justru di situlah seorang pemimpin diuji: mampukah ia membawa nilai-nilai baik dari warisan masa lalu ke dalam kebutuhan zaman yang terus berubah?
Perjalanan politik DM memperlihatkan seorang pekerja yang menapaki jenjang secara bertahap. Ia pernah menjadi anggota DPRD Kabupaten Gowa, kemudian terpilih sebagai anggota DPRD Sulawesi Selatan pada Pemilu 2014 dan kembali memperoleh kursi pada Pemilu 2019. Pada periode 2019–2024, ia menduduki posisi Wakil Ketua DPRD Sulawesi Selatan. Dalam Pemilu 2019, ia meraih 39.834 suara di daerah pemilihan Sulawesi Selatan III. Angka itu bukan sekadar deretan digit dalam tabel hasil pemilu. Ia merupakan ukuran elektoral tentang seberapa luas kepercayaan pemilih yang berhasil dihimpunnya pada kontestasi tersebut.
Tetapi politik tidak pernah sesederhana mengubah jumlah suara menjadi tinggi jabatan. Di antara keduanya ada proses panjang yang melibatkan perjumpaan, komunikasi, kerja organisasi, kemampuan menjaga hubungan, dan kesediaan berada di tengah masyarakat.
Seorang pekerja politik yang bertahan tidak cukup hanya pandai berbicara ketika mikrofon berada di tangannya. Ia harus memahami bahasa yang tidak diucapkan, membaca keresahan yang tidak selalu disampaikan secara terbuka, serta mengenali kebutuhan warga yang kadang-kadang bahkan tidak tahu harus mengadu kepada siapa.
Di sinilah kisah DM menarik untuk dibaca sebagai sebuah sumber inspirasi tentang ketangguhan politik. Jejaknya tidak hanya terbentang dari satu jabatan ke jabatan lain, tetapi juga melalui kemampuannya bertahan dalam perjalanan yang tidak selalu menyediakan jalan lurus.
Dalam politik, ada orang yang cepat dikenal tetapi lekas dilupakan. Ada pula yang menumbuhkan pengaruh melalui perjumpaan berulang, sampai namanya menjadi bagian dari percakapan masyarakat. Kedekatan seperti itu tidak lahir dalam semalam. Ia dibangun dari waktu, kehadiran, dan konsistensi yang kemudian diuji oleh ingatan para pemilih.
Kita memang tidak dapat mengukur seluruh kedekatan seseorang dengan masyarakat hanya dari angka elektoral atau catatan media.
Namun, perjalanan DM dari legislatif kabupaten ke provinsi, kemudian menjadi wakil bupati dan kini bupati, memperlihatkan lintasan politik yang panjang. Ia telah melewati beberapa tingkat arena, dengan tuntutan dan karakter pemilih yang tidak sepenuhnya sama. Pengalaman itu memberinya bekal untuk memahami bahwa masyarakat bukan sekadar kumpulan suara yang datang pada hari pemungutan, lalu menghilang setelah penghitungan selesai.
Ada kehidupan yang berlangsung jauh dari baliho. Ada keluarga yang menunggu pekerjaan, anak-anak yang membutuhkan sekolah yang layak, petani yang menghitung biaya produksi, pedagang kecil yang bertahan dari keuntungan tipis, dan warga yang berharap urusan administrasi tidak menghabiskan waktu lebih lama daripada yang semestinya. Di hadapan kehidupan semacam itu, politik kehilangan gunanya apabila hanya sibuk mengatur siapa menduduki kursi apa. Politik memperoleh martabatnya ketika kekuasaan mampu mengurangi jarak antara kebutuhan rakyat dan kehadiran negara.
DM juga tidak tumbuh hanya dalam satu lingkungan kelembagaan. Ia menempuh pendidikan di Universitas Hasanuddin dan Institut Teknologi Indonesia. Di luar jabatan pemerintahan dan partai, ia menjabat Sekretaris DPD Partai Gerindra Sulawesi Selatan serta Ketua Komite Olahraga Nasional Indonesia Provinsi Sulawesi Selatan. Ragam peran ini memperlihatkan luasnya lingkungan organisasi yang pernah atau sedang menjadi bagian dari aktivitasnya. Setiap organisasi mempunyai watak, ritme, dan kepentingannya sendiri.
Mengelola perbedaan itu tentu menuntut kemampuan membangun komunikasi sekaligus menjaga arah kerja.
Kehidupan pribadinya pun terhubung dengan dunia politik Gowa. Ia menikah dengan Andi Tenri Indah, yang juga dikenal sebagai Wakil Ketua DPRD Kabupaten Gowa, dan memiliki tiga anak. Namun, ketika seseorang telah menerima mandat sebagai kepala daerah, batas antara
kehidupan pribadi dan tanggung jawab publik menjadi semakin tegas. Jabatan bukan ruang untuk memperluas kepentingan keluarga, melainkan amanah yang justru menuntut kemampuan menjaga jarak dari segala bentuk konflik kepentingan. Kedekatan personal tidak boleh mengalahkan kepentingan masyarakat; hubungan politik tidak boleh membuat pelayanan kehilangan prinsip keadilan.
Salah satu bagian paling menarik dari perjalanan DM adalah caranya menghadapi momentum. Beberapa kali namanya diperbincangkan sebagai figur yang berpotensi memasuki gelanggang Pilkada Gowa. Ketika Adnan Purichta Ichsan hendak melanjutkan kepemimpinan untuk periode kedua, DM pernah diperkirakan akan menjadi salah satu penantangnya. Namun, ia memilih berkonsentrasi pada kiprahnya di DPRD Sulawesi Selatan, alih-alih terburu-buru memasuki pertarungan melawan petahana yang ketika itu memiliki daya tarik elektoral kuat.
Keputusan itu menarik karena dalam politik, keberanian sering kali dipertontonkan melalui kesediaan maju. Seolah-olah siapa yang paling cepat mendaftarkan diri adalah orang yang paling percaya diri, sementara siapa yang memilih menunggu dianggap tidak cukup berani.
Padahal, gelanggang politik bukan lapangan kosong tempat semua orang memiliki peluang yang sama. Ada petahana dengan rekam kerja dan jaringan yang telah terbentuk, ada suasana batin pemilih, ada kekuatan organisasi, serta ada momentum yang menentukan apakah sebuah langkah akan menjadi peluang atau justru menjadi jalan buntu.
DM tampaknya memahami bahwa tidak setiap pintu yang terbuka harus segera dimasuki. Ada saat ketika seseorang perlu menahan ambisi, mengumpulkan pengalaman, memperkuat pijakan, dan membiarkan keadaan memperlihatkan bentuknya dengan lebih jelas.
Menunggu, dalam pengertian ini, bukan berarti menyerah kepada keadaan. Menunggu dapat menjadi bagian dari strategi, selama ia disertai kerja dan bukan sekadar bersembunyi di balik ketakutan.
Politik memang memiliki musimnya sendiri. Ada orang yang menanam ketika hujan belum turun, ada pula yang baru menyadari pentingnya benih ketika tanah telanjur mengeras. Seorang pekerja politik yang tangguh harus memiliki naluri untuk membedakan keduanya. Ia perlu mengetahui kapan harus maju, kapan harus memperkuat barisan, dan kapan sebuah langkah yang tampak menggiurkan justru sebaiknya dilewatkan.
Tetapi naluri politik yang berhasil mengantarkan seseorang menuju kekuasaan tidak otomatis menjadikannya pemimpin yang berhasil. Kemampuan membaca peluang adalah satu perkara; kemampuan membaca penderitaan rakyat adalah perkara lain. Yang pertama dapat memenangkan kontestasi, sedangkan yang kedua menentukan apakah kemenangan itu benarbenar bermakna bagi kehidupan masyarakat.
Pada Pilkada Gowa 2024, DM berpasangan dengan Sitti Husniah Talenrang sebagai calon wakil bupati. Pasangan ini memperoleh 225.492 suara atau 53,62 persen dan terpilih memimpin Gowa untuk periode berikutnya. Pada 20 Februari 2025, DM mulai menjalankan tugas sebagai Wakil Bupati Gowa. Kurang dari dua tahun kemudian, perubahan keadaan politik dan pemerintahan membawanya ke posisi yang sebelumnya berada di atasnya dalam struktur kepemimpinan daerah.
Begitulah politik: kadang-kadang jalan menuju tujuan tidak mengikuti urutan yang dibayangkan orang. Ada yang berusaha keras meraih puncak, tetapi harus berhenti di lereng. Ada pula yang menempuh jalan panjang, lalu mendapati bahwa puncak itu akhirnya berada di hadapannya.
Namun, jangan terlalu cepat menganggap semua ini sebagai kemenangan seorang individu. Dalam pemerintahan, perubahan kepemimpinan membawa konsekuensi yang jauh melampaui nasib satu orang. Ada kesinambungan pelayanan, kepastian kebijakan, stabilitas birokrasi, dan harapan masyarakat yang tidak boleh ikut terguncang oleh perubahan di pucuk kekuasaan.
Di sinilah Gowa Berua, tagline yang telah lama melekat dalam perjalanan politik DM, menemukan ujian yang sesungguhnya. Berua berarti baru, tetapi pembaruan tidak cukup dilakukan dengan mengganti wajah di ruang pimpinan. Ia harus menyentuh cara pemerintah bekerja, cara anggaran digunakan, cara aparatur melayani, dan cara keputusan dibuat. Sebuah pemerintahan tidak menjadi baru hanya karena pemimpinnya berganti. Ia baru ketika kebiasaan lama yang menghambat kepentingan publik berani dibenahi, ketika pelayanan tidak lagi berputarputar, dan ketika pembangunan tidak hanya tampak megah dari jalan utama tetapi juga terasa manfaatnya di pelosok.
Gowa adalah tanah dengan ingatan sejarah yang panjang. Di sini Sultan Hasanuddin dilahirkan, dibesarkan, dan mengukir perjuangannya bagi Indonesia. Namanya dikenang bukan karena sekadar pernah menduduki posisi tertinggi dalam kerajaan, melainkan karena keberanian dan sikapnya menghadapi kekuatan yang mengancam martabat negerinya. Zaman telah berubah, medan perjuangan pun berbeda. Bupati hari ini tidak mengangkat senjata seperti Sultan Hasanuddin. Namun, ia tetap harus memiliki keberanian menghadapi lawan-lawan pembangunan yang sering kali tidak terlihat: kemiskinan, ketimpangan, pelayanan yang buruk, tata kelola yang lemah, dan kepentingan sempit yang dapat menyusup ke dalam keputusan publik.
Warisan sejarah itu bukan beban untuk meniru masa lalu secara harfiah. Ia adalah pengingat bahwa kepemimpinan selalu menuntut keberpihakan. Seorang pemimpin harus tahu apa yang perlu dipertahankan, apa yang mesti diperbaiki, dan apa yang sudah terlalu lama dibiarkan. Ia harus mampu mendengar kritik tanpa merasa kehilangan wibawa, menerima perbedaan tanpa menganggapnya sebagai ancaman, serta menempatkan kepentingan masyarakat di atas kenyamanan kelompoknya sendiri.
Pada Hari Sumpah Pemuda, ketika DM dilantik, ada pula pesan yang patut direnungkan. Sumpah Pemuda lahir dari kesediaan untuk melampaui sekat-sekat kepentingan demi cita-cita yang lebih besar. Semangat itu semestinya tidak berhenti di panggung upacara. Dalam pemerintahan daerah, ia dapat hadir melalui kesediaan merangkul seluruh kelompok, melayani warga tanpa membedakan pilihan politik, dan mengajak birokrasi bekerja sebagai satu kesatuan.
Tidak boleh ada warga yang merasa menjadi anak tiri hanya karena berbeda pilihan pada masa pemilihan.
Kini, Darmawangsyah Muin telah sampai di kursi Bupati Gowa ke-12. Perjalanan panjangnya telah membawanya dari Lambengi, dari dunia legislatif, dari dinamika partai dan organisasi, hingga ke pusat pengambilan keputusan di Kabupaten Gowa. Ia telah menjemput takdir sejarahnya. Namun, takdir politik bukanlah medali yang selesai dipoles setelah upacara pelantikan. Ia lebih menyerupai lembar kosong yang harus diisi dengan keputusan-keputusan nyata, sementara masyarakat menunggu hasilnya dengan kesabaran yang tidak selalu tak terbatas.
Barangkali inilah bagian paling krusial dari sebuah jabatan: setelah tepuk tangan berhenti, setelah tamu undangan pulang, setelah pakaian pelantikan disimpan kembali, seorang bupati tetap harus berhadapan dengan kenyataan yang tidak dapat diselesaikan hanya dengan pidato.
Ada persoalan yang menuntut jawaban segera, ada janji yang harus ditepati, dan ada harapan yang tidak bisa terus-menerus diminta menunggu.
DM memiliki pengalaman politik, jejaring organisasi, dan perjalanan panjang yang dapat menjadi modal untuk bekerja. Kini, modal itu harus diubah menjadi hasil. Gowa Berua harus keluar dari baliho dan masuk ke ruang pelayanan, ke sekolah-sekolah, ke pasar, ke sawah, ke kantor-kantor pemerintahan, dan ke rumah warga yang selama ini menunggu perubahan bukan dalam bentuk kata-kata, melainkan dalam bentuk kehidupan yang lebih baik.
Sebab, seorang pekerja politik boleh dikenang karena kegigihannya menapaki jalan menuju kekuasaan. Namun, seorang pemimpin hanya akan dikenang lebih lama apabila ia mampu membuat kekuasaan bekerja untuk mereka yang tidak memilikinya. Di tanah bersejarah ini, takdir telah membuka pintunya bagi Darmawangsyah Muin. Sekarang, sejarah menunggu apa yang akan ia lakukan di dalamnya.*
Gerhana Alauddin, 29 Oktober 2026


