Mentan Amran Sulaiman: Citra Kokoh tapi Belum “Membumi”

Oleh: Toto Izul Fatah
Direktur Eksekutif Citra Komunikasi LSI Denny JA

SulawesiPos.com – Ada perbedaan antara seorang pejabat yang dihormati karena ketegasannya dan seorang pemimpin yang terasa dekat di hati rakyat. Ada pula jarak antara dinilai berhasil sebagai menteri dan dipilih sebagai pemimpin nasional.

Dalam membaca posisi Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman, perbedaan itulah yang penting diperhatikan. Amran memiliki modal personal yang kuat. Namun, modal itu masih perlu dipertemukan dengan pengenalan dan kedekatan yang lebih luas di tengah masyarakat.

Merujuk pada temuan survei kami di LSI Denny JA, Amran memiliki fondasi citra personal yang relatif kokoh, terutama di kalangan yang telah mengenalnya.

Ia dipersepsikan sebagai menteri berkarakter, tegas, berani mengambil tindakan, dan memiliki citra bersih.

Dalam percakapan sejumlah kalangan, citra itu bahkan dilekatkan melalui sebutan Mr. Clean. Latar belakangnya sebagai pengusaha juga melahirkan persepsi bahwa Amran merupakan figur yang sudah selesai dengan kebutuhan material pribadinya.

Tentu, kekayaan bukan jaminan seseorang terbebas dari korupsi. Integritas tetap harus dibuktikan melalui perilaku, transparansi, dan konsistensi keputusan. Namun, sebagai persepsi publik, anggapan “sudah selesai dengan dirinya sendiri” merupakan modal kepercayaan yang tidak kecil.

Sejumlah survei lembaga lain memberikan konteks yang menguatkan penilaian positif terhadap kinerjanya. Pada 8 November 2025, misalnya, survei Indikator Politik Indonesia menyebut kepuasan terhadap Amran mencapai 84,9 persen di antara responden yang mengenalnya.

BACA JUGA:  Mentan Amran Rapat Hari Minggu Antisipasi Kekeringan dan Ketegangan Geopolitik

Angka itu tidak berarti 84,9 persen seluruh masyarakat Indonesia mengenal sekaligus puas kepada Amran. Justru di situlah terlihat bahwa penilaian baik dan keluasan pengenalan merupakan dua ukuran berbeda.

Begitu juga dalam survei Parameter Politik Indonesia (PPI) yang pada 18 Oktober 2026, Amran menempati urutan pertama sebagai pejabat dengan kinerja terbaik.

Angka ini merupakan proporsi responden yang menyebutnya sebagai pejabat berkinerja terbaik, bukan angka elektabilitas ataupun tingkat kepuasan.

Temuan-temuan itu memberi alasan untuk mengatakan bahwa Amran memiliki modal penilaian kinerja yang positif. Namun, kepuasan terhadap pekerjaan seorang menteri belum otomatis berubah menjadi kesediaan memilihnya, sebut saja, sebagai calon wakil presiden.

Dalam perilaku pemilih, ada tiga pintu yang harus dilewati. Yaitu, pengenalan, kesukaan, dan keterpilihan. Orang perlu mengetahui siapa seorang tokoh, memiliki alasan untuk menyukainya, kemudian merasa cukup yakin untuk menyerahkan pilihan kepadanya.

Ketiganya saling berhubungan, tetapi tidak selalu berbanding lurus. Seseorang bisa dikenal luas tanpa disukai. Bisa disukai tanpa dipilih. Bisa pula dinilai cakap menjalankan satu jabatan, tetapi belum dianggap sebagai pilihan utama untuk jabatan yang lebih tinggi.

Di sinilah pekerjaan besar Amran masih terbentang.

Berdasarkan pembacaan kami atas temuan LSI Denny JA, pengenalan terhadap Amran lebih kokoh pada kelompok berpendidikan tinggi, terutama mereka yang pernah mengenyam pendidikan perguruan tinggi.

BACA JUGA:  Kementan Dorong Modernisasi Pertanian, Petani CSR Kapuas Dilibatkan Operasikan Drone

Sementara itu, pengenalannya belum merata di masyarakat akar rumput, termasuk sebagian petani tradisional. Temuan ini tidak berarti seluruh petani belum mengenalnya.

Ia menunjukkan adanya ruang yang masih lebar antara reputasi di kalangan yang mengikuti perkembangan pemerintahan dan pengenalan dalam kehidupan masyarakat sehari-hari.

Padahal, pemilih tidak seluruhnya mengikuti berita kementerian, membaca laporan produksi, atau menyimak perdebatan kebijakan. Apalagi, dalam konteks prilaku pemilih kita yang mayoritas berkategori “irrasional”. Yaitu, memilih karena pertimbangan emosional, bukan rasional.

Karena itu, sebutan belum “membumi” bagi Amran harus dimaknai sebagai “PR” besar untuk memperpendek jarak antara keputusan di kementerian yang baik dengan pengalaman hidup masyarakat dibawah lewat pengenalannya yang luas.

Ketika publik menganggap tegas, maka ketegasan terhadap pelanggaran perlu terasa sebagai perlindungan bagi petani. Begitu juga soal perbaikan distribusi pupuk harus hadir sebagai kemudahan memperoleh pupuk tepat waktu.

Di sinilah citra tegas memperoleh makna sosial. Rakyat melihat untuk siapa ketegasan tersebut digunakan.

Kehadiran langsung juga penting. Amran perlu terus menjumpai petani kecil, buruh tani, pedagang pasar, penyuluh, dan keluarga yang menggantungkan hidup pada sektor pangan.

Pertemuan itu akan lebih bermakna jika menyediakan ruang mendengar keluhan secara terbuka dan diikuti penyelesaian yang dapat diperiksa kembali.

Rakyat akan lebih mudah percaya ketika keluhan yang disampaikan hari ini memperoleh jawaban nyata pada kunjungan berikutnya. Kedekatan tumbuh dari kesinambungan semacam itu.

BACA JUGA:  Menkeu: Beras Ilegal Nodai Swasembada, Mentan Amran 115 Juta Petani Dirugikan

Jika pekerjaan besar itu dapat dirasakan sampai ke tingkat rumah tangga, hubungan antara kapasitas dan kedekatan akan terbentuk dengan lebih kuat.

Akan tetapi, ujian Amran ke depan juga semakin berat. Ancaman terhadap ketahanan pangan tidak hanya datang dari persoalan di dalam negeri, seperti cuaca, musim, air, dan distribusi.

Gejolak global dapat memperbesar biaya produksi sekalipun petani Indonesia bekerja di lahannya sendiri.

OECD–FAO Agricultural Outlook 2026–2035 memperingatkan bahwa gangguan akibat konflik Timur Tengah dapat membatasi penggunaan pupuk dan menekan produksi serealia, terutama di negara berpendapatan rendah.

Dalam menghadapi ujian itu, Amran tentu tidak bekerja sendirian. Stabilitas pangan memerlukan kerja bersama kementerian, pemerintah daerah, Bulog, pelaku usaha, dan petani.

Jika dalam satu tahun ke depan ia mampu menjaga kinerja pertanian sekaligus memperkuat kepercayaan masyarakat, modal kepemimpinannya akan bertambah.

Jika ketahanan itu dapat dipertahankan sampai 2029—dengan pangan tersedia, harga terjangkau, dan kehidupan petani membaik—alasan untuk memperhitungkannya dalam kepemimpinan nasional menjadi semakin kuat.

Termasuk sebagai figur yang layak dipertimbangkan untuk posisi calon wakil presiden. Tentu, peluang pencalonan tetap bergantung pada perkembangan dukungan publik, penerimaan partai, dan konfigurasi politik menjelang pemilu.

Amran hari ini memiliki modal untuk dihormati. Pekerjaan berikutnya adalah membuat semakin banyak rakyat mengenal, merasakan manfaat, dan mempercayainya.*

Jakarta, Oktober 2026

Oleh: Toto Izul Fatah
Direktur Eksekutif Citra Komunikasi LSI Denny JA

SulawesiPos.com – Ada perbedaan antara seorang pejabat yang dihormati karena ketegasannya dan seorang pemimpin yang terasa dekat di hati rakyat. Ada pula jarak antara dinilai berhasil sebagai menteri dan dipilih sebagai pemimpin nasional.

Dalam membaca posisi Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman, perbedaan itulah yang penting diperhatikan. Amran memiliki modal personal yang kuat. Namun, modal itu masih perlu dipertemukan dengan pengenalan dan kedekatan yang lebih luas di tengah masyarakat.

Merujuk pada temuan survei kami di LSI Denny JA, Amran memiliki fondasi citra personal yang relatif kokoh, terutama di kalangan yang telah mengenalnya.

Ia dipersepsikan sebagai menteri berkarakter, tegas, berani mengambil tindakan, dan memiliki citra bersih.

Dalam percakapan sejumlah kalangan, citra itu bahkan dilekatkan melalui sebutan Mr. Clean. Latar belakangnya sebagai pengusaha juga melahirkan persepsi bahwa Amran merupakan figur yang sudah selesai dengan kebutuhan material pribadinya.

Tentu, kekayaan bukan jaminan seseorang terbebas dari korupsi. Integritas tetap harus dibuktikan melalui perilaku, transparansi, dan konsistensi keputusan. Namun, sebagai persepsi publik, anggapan “sudah selesai dengan dirinya sendiri” merupakan modal kepercayaan yang tidak kecil.

Sejumlah survei lembaga lain memberikan konteks yang menguatkan penilaian positif terhadap kinerjanya. Pada 8 November 2025, misalnya, survei Indikator Politik Indonesia menyebut kepuasan terhadap Amran mencapai 84,9 persen di antara responden yang mengenalnya.

BACA JUGA:  Kepemimpinan Tegas Mentan Amran Sulaiman, Jenderal Perang yang Tak Gentar Hadapi Mafia Pangan

Angka itu tidak berarti 84,9 persen seluruh masyarakat Indonesia mengenal sekaligus puas kepada Amran. Justru di situlah terlihat bahwa penilaian baik dan keluasan pengenalan merupakan dua ukuran berbeda.

Begitu juga dalam survei Parameter Politik Indonesia (PPI) yang pada 18 Oktober 2026, Amran menempati urutan pertama sebagai pejabat dengan kinerja terbaik.

Angka ini merupakan proporsi responden yang menyebutnya sebagai pejabat berkinerja terbaik, bukan angka elektabilitas ataupun tingkat kepuasan.

Temuan-temuan itu memberi alasan untuk mengatakan bahwa Amran memiliki modal penilaian kinerja yang positif. Namun, kepuasan terhadap pekerjaan seorang menteri belum otomatis berubah menjadi kesediaan memilihnya, sebut saja, sebagai calon wakil presiden.

Dalam perilaku pemilih, ada tiga pintu yang harus dilewati. Yaitu, pengenalan, kesukaan, dan keterpilihan. Orang perlu mengetahui siapa seorang tokoh, memiliki alasan untuk menyukainya, kemudian merasa cukup yakin untuk menyerahkan pilihan kepadanya.

Ketiganya saling berhubungan, tetapi tidak selalu berbanding lurus. Seseorang bisa dikenal luas tanpa disukai. Bisa disukai tanpa dipilih. Bisa pula dinilai cakap menjalankan satu jabatan, tetapi belum dianggap sebagai pilihan utama untuk jabatan yang lebih tinggi.

Di sinilah pekerjaan besar Amran masih terbentang.

Berdasarkan pembacaan kami atas temuan LSI Denny JA, pengenalan terhadap Amran lebih kokoh pada kelompok berpendidikan tinggi, terutama mereka yang pernah mengenyam pendidikan perguruan tinggi.

BACA JUGA:  Harga Gabah Naik Berkat Kebijakan Mentan Amran, Petani Kolaka Mulai Nabung Emas

Sementara itu, pengenalannya belum merata di masyarakat akar rumput, termasuk sebagian petani tradisional. Temuan ini tidak berarti seluruh petani belum mengenalnya.

Ia menunjukkan adanya ruang yang masih lebar antara reputasi di kalangan yang mengikuti perkembangan pemerintahan dan pengenalan dalam kehidupan masyarakat sehari-hari.

Padahal, pemilih tidak seluruhnya mengikuti berita kementerian, membaca laporan produksi, atau menyimak perdebatan kebijakan. Apalagi, dalam konteks prilaku pemilih kita yang mayoritas berkategori “irrasional”. Yaitu, memilih karena pertimbangan emosional, bukan rasional.

Karena itu, sebutan belum “membumi” bagi Amran harus dimaknai sebagai “PR” besar untuk memperpendek jarak antara keputusan di kementerian yang baik dengan pengalaman hidup masyarakat dibawah lewat pengenalannya yang luas.

Ketika publik menganggap tegas, maka ketegasan terhadap pelanggaran perlu terasa sebagai perlindungan bagi petani. Begitu juga soal perbaikan distribusi pupuk harus hadir sebagai kemudahan memperoleh pupuk tepat waktu.

Di sinilah citra tegas memperoleh makna sosial. Rakyat melihat untuk siapa ketegasan tersebut digunakan.

Kehadiran langsung juga penting. Amran perlu terus menjumpai petani kecil, buruh tani, pedagang pasar, penyuluh, dan keluarga yang menggantungkan hidup pada sektor pangan.

Pertemuan itu akan lebih bermakna jika menyediakan ruang mendengar keluhan secara terbuka dan diikuti penyelesaian yang dapat diperiksa kembali.

Rakyat akan lebih mudah percaya ketika keluhan yang disampaikan hari ini memperoleh jawaban nyata pada kunjungan berikutnya. Kedekatan tumbuh dari kesinambungan semacam itu.

BACA JUGA:  GP Ansor Laporkan Dampak Nyata Bantuan Kementan, Siap Kawal Swasembada Pangan Berkelanjutan

Jika pekerjaan besar itu dapat dirasakan sampai ke tingkat rumah tangga, hubungan antara kapasitas dan kedekatan akan terbentuk dengan lebih kuat.

Akan tetapi, ujian Amran ke depan juga semakin berat. Ancaman terhadap ketahanan pangan tidak hanya datang dari persoalan di dalam negeri, seperti cuaca, musim, air, dan distribusi.

Gejolak global dapat memperbesar biaya produksi sekalipun petani Indonesia bekerja di lahannya sendiri.

OECD–FAO Agricultural Outlook 2026–2035 memperingatkan bahwa gangguan akibat konflik Timur Tengah dapat membatasi penggunaan pupuk dan menekan produksi serealia, terutama di negara berpendapatan rendah.

Dalam menghadapi ujian itu, Amran tentu tidak bekerja sendirian. Stabilitas pangan memerlukan kerja bersama kementerian, pemerintah daerah, Bulog, pelaku usaha, dan petani.

Jika dalam satu tahun ke depan ia mampu menjaga kinerja pertanian sekaligus memperkuat kepercayaan masyarakat, modal kepemimpinannya akan bertambah.

Jika ketahanan itu dapat dipertahankan sampai 2029—dengan pangan tersedia, harga terjangkau, dan kehidupan petani membaik—alasan untuk memperhitungkannya dalam kepemimpinan nasional menjadi semakin kuat.

Termasuk sebagai figur yang layak dipertimbangkan untuk posisi calon wakil presiden. Tentu, peluang pencalonan tetap bergantung pada perkembangan dukungan publik, penerimaan partai, dan konfigurasi politik menjelang pemilu.

Amran hari ini memiliki modal untuk dihormati. Pekerjaan berikutnya adalah membuat semakin banyak rakyat mengenal, merasakan manfaat, dan mempercayainya.*

Jakarta, Oktober 2026

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru