Perubahan Iklim dan Perilaku Kita Sendiri

Oleh: Mustamin Raga
Penulis Buku Money Politics dan Demokrasi Elektoral

SulawesiPos.com – Setiap siang, tetangga saya duduk di teras sambil mengipas-ngipaskan kerah bajunya. “Panasnya sudah tidak masuk akal,” katanya, seperti sedang menggugat takdir. Ia menyalahkan musim yang menurutnya sudah kehilangan akal, matahari yang kian garang, dan pemerintah yang dianggapnya abai.

Keluhan itu ia ulang hampir setiap hari, dengan keyakinan bahwa ia adalah seorang korban yang merasa tak punya andil apa pun atas nasibnya sendiri.

Maka ketika akar pohon di depan rumahnya mulai merambat ke pondasi saluran drainase, ia tidak butuh waktu lama untuk memutuskan. Pohon yang selama bertahun-tahun meneduhi terasnya itu ditebang pada suatu pagi, tanpa upacara dan tanpa sesal. Menggeser saluran atau menyesuaikan bangunan berarti repot, mahal, dan merepotkan tukang. Sedangksn menumbangkan pohon hanya butuh gergaji dan satu perintah.

Mustamin Raga, menulis tentang perubahan iklim dan perilaku manusia.
Mustamin Raga, menulis tentang perubahan iklim dan perilaku manusia.

Siang itu, teras yang dulu teduh kini menjadi terang benderang, dan ia kembali mengeluh kepanasan, tanpa menyadari bahwa ia baru saja menebang sebagian dari jawaban atas keluhannya sendiri.

Saya tidak sedang menghakimi tetangga saya. Ia hanya contoh yang kebetulan paling dekat. Kisah serupa berlangsung di ribuan halaman rumah, di pinggir ribuan jalan, di banyak kota dan kampung kita.

Di sana, perubahan iklim tidak datang sebagai angka dalam laporan ilmiah, melainkan sebagai keputusan-keputusan kecil yang diambil dengan enteng, dan karena enteng, nyaris tak pernah dipertanyakan.

Ilmu pengetahuan sudah lama bersuara. Konsensus ilmiah menyatakan bahwa pemanasan global yang kita alami hari ini terutama bersumber dari aktivitas manusia berupa pembakaran bahan bakar fosil, pembukaan hutan, dan perubahan cara kita memperlakukan tanah.

BACA JUGA:  Bedah Buku Money Politics dan Demokrasi Elektoral, Ruang Redaksi SulawesiPos Jadi Forum Diskusi

Tetapi kata “manusia” dalam kalimat itu terlalu besar, terlalu abstrak, sehingga tak seorang pun merasa sedang disebut namanya. Kita membayangkan pelakunya adalah cerobong pabrik di benua lain, bukan gergaji di depan rumah sendiri.

Di sinilah sosiologi mengajarkan sesuatu bahwa tanggung jawab yang dibagi rata kepada semua orang cenderung berakhir sebagai tanggung jawab yang tak dipikul siapa-siapa.

Satu pohon memang tak seberapa. Ia hanya menyimpan sedikit karbon, menaungi beberapa meter tanah, menahan sejumlah air hujan. Justru karena “tak seberapa” itulah ia mudah dikorbankan.

Namun satu hal yang pasti bahwa alam tidak berhitung sama dengan cara kita berhitung. Ia menjumlahkan. Pohon demi pohon yang tumbang di sepanjang lorong, di pekarangan, di tepi jalan, menjelma kota yang lebih panas, tanah yang kehilangan resapan, dan air yang tak lagi tahu ke mana harus singgah.

Sebuah keputusan kecil tidak pernah sendirian. Ia selalu punya saudara kembar di rumah sebelah.

Pada titik ini, persoalan iklim sesungguhnya adalah persoalan kebiasaan. Pierre Bourdieu menyebutnya habitus, yakni cara bertindak yang mengendap begitu dalam hingga tak lagi terasa sebagai pilihan.

Kita menebang karena begitulah orang-orang di sekitar kita menyelesaikan masalah.

Kita membakar sampah karena begitulah orang tua kita dulu melakukannya.

Kita membeton halaman karena begitulah rumah yang ingin kelihatan “rapi” sesuai yang kita bayangkan.

Kebiasaan tidak bertanya apakah ia benar. Ia hanya bertanya apakah ia mudah.

BACA JUGA:  Tawar Menawar Partai Politik Parliamentary Threshold, Demokratiskah?

Ada pula persoalan komunikasi. Selama ini perubahan iklim dibahasakan dengan bahasa yang terlalu jauh dan tinggi: suhu rata-rata bumi, es kutub yang mencair, permukaan laut yang naik di kepulauan seberang.

Bahasa semacam itu benar, tetapi tak menyentuh. Manusia jarang tergerak oleh sesuatu yang terlalu jauh dari jangkauan inderanya. Kita baru sungguh-sungguh terkesiima mendengar ketika persoalan itu berbicara dengan nada yang kita kenal: teras yang panas, sumur yang lebih cepat kering, genangan yang tak surut di depan rumah setelah hujan sebentar.

Barangkali tugas mulia para penulis seperti saya dan para intelektual lainnya adalah menerjemahkan bahasa menara gading menjadi bahasa halaman rumah.

Politik pun ikut berperan, tetapi dengan cara yang lebih diam-diam. Kita kerap membangun ruang hidup dengan anggapan bahwa yang keras lebih modern daripada yang hijau, bahwa beton patut dipertahankan sementara akar boleh disingkirkan. Padahal drainase hanyalah benda buatan manusia; ia bisa digeser, dibelokkan, dirancang ulang. Pohon tidak. Pohon adalah hasil kerja waktu yang tak bisa dipesan dari tukang mana pun.

Ketika kita membiarkan yang bisa diubah tetap tak diubah, dan mengorbankan yang tak tergantikan, tampaklah urutan nilai yang kita anut tanpa pernah kita tuliskan.

Para penyair sering lebih awal memahami hal ini. Dalam sastra, pohon bukan sekadar tumbuhan, ia adalah saksi, peneduh, dan penanda waktu. Orang-orang tua kita menanam pohon di halaman bukan untuk dirinya sendiri, melainkan untuk anak cucu yang kelak berteduh. Ada etika yang di sana yakni menanam apa yang naungannya mungkin tak sempat kita nikmati.

BACA JUGA:  Hadapi Musim Kemarau, Kementan Perkuat Mitigasi Kekeringan di Sektor Perkebunan

Kita, generasi yang pandai menebang demi kenyamanan hari ini, sedang membalik etika itu. Menikmati apa yang ditanam orang lain, lalu memusnahkannya sebelum cucu kita sempat mengenalnya.

Akhirnya, persoalan ini mungkin bukan soal pengetahuan, melainkan soal kerepotan. Di sinilah kejujuran harus dimulai. Kita tahu pohon itu berguna. Kita juga tahu panas sedang menyiksa. Yang tak kita punya adalah kesediaan untuk repot: membongkar sedikit saluran, mengubah sedikit rancangan, bersabar sedikit lebih lama.

Perubahan iklim, pada skala yang paling kecil dan paling jujur, adalah akumulasi dari ketidaksediaan kita untuk repot demi sesuatu yang tak bisa membalas budi seketika.

Barangkali itu sebabnya tetangga saya, dan kita semua, perlu belajar bertanya sebelum menebang: benarkah pohon ini yang harus berubah, atau justru cara kita membangun?

Pertanyaan sederhana itu, bila diulang di cukup banyak halaman, mungkin lebih berarti daripada seratus konferensi. Sebab iklim tidak diselamatkan hanya di ruang-ruang rapat yang jauh, melainkan juga di depan rumah, pada saat kita memegang gergaji dan pada saat kita harus memilih antara yang mudah dan yang benar.

Suatu siang nanti, ketika teras itu kembali terik, semoga kita tak lagi menggugat nasib dan takdir. Semoga kita cukup jujur menoleh pada tebing kecil yang tersisa di tepi saluran, dan mengakui bahwa langit tidak pernah kehilangan akal. Justru Kitalah yang selalu kehilangan kesabaran.*

Gerhana Alauddin, 25 Oktober 2026

Oleh: Mustamin Raga
Penulis Buku Money Politics dan Demokrasi Elektoral

SulawesiPos.com – Setiap siang, tetangga saya duduk di teras sambil mengipas-ngipaskan kerah bajunya. “Panasnya sudah tidak masuk akal,” katanya, seperti sedang menggugat takdir. Ia menyalahkan musim yang menurutnya sudah kehilangan akal, matahari yang kian garang, dan pemerintah yang dianggapnya abai.

Keluhan itu ia ulang hampir setiap hari, dengan keyakinan bahwa ia adalah seorang korban yang merasa tak punya andil apa pun atas nasibnya sendiri.

Maka ketika akar pohon di depan rumahnya mulai merambat ke pondasi saluran drainase, ia tidak butuh waktu lama untuk memutuskan. Pohon yang selama bertahun-tahun meneduhi terasnya itu ditebang pada suatu pagi, tanpa upacara dan tanpa sesal. Menggeser saluran atau menyesuaikan bangunan berarti repot, mahal, dan merepotkan tukang. Sedangksn menumbangkan pohon hanya butuh gergaji dan satu perintah.

Mustamin Raga, menulis tentang perubahan iklim dan perilaku manusia.
Mustamin Raga, menulis tentang perubahan iklim dan perilaku manusia.

Siang itu, teras yang dulu teduh kini menjadi terang benderang, dan ia kembali mengeluh kepanasan, tanpa menyadari bahwa ia baru saja menebang sebagian dari jawaban atas keluhannya sendiri.

Saya tidak sedang menghakimi tetangga saya. Ia hanya contoh yang kebetulan paling dekat. Kisah serupa berlangsung di ribuan halaman rumah, di pinggir ribuan jalan, di banyak kota dan kampung kita.

Di sana, perubahan iklim tidak datang sebagai angka dalam laporan ilmiah, melainkan sebagai keputusan-keputusan kecil yang diambil dengan enteng, dan karena enteng, nyaris tak pernah dipertanyakan.

Ilmu pengetahuan sudah lama bersuara. Konsensus ilmiah menyatakan bahwa pemanasan global yang kita alami hari ini terutama bersumber dari aktivitas manusia berupa pembakaran bahan bakar fosil, pembukaan hutan, dan perubahan cara kita memperlakukan tanah.

BACA JUGA:  Ketika BBM Langka, Ekonomi Daerah Tersandera?

Tetapi kata “manusia” dalam kalimat itu terlalu besar, terlalu abstrak, sehingga tak seorang pun merasa sedang disebut namanya. Kita membayangkan pelakunya adalah cerobong pabrik di benua lain, bukan gergaji di depan rumah sendiri.

Di sinilah sosiologi mengajarkan sesuatu bahwa tanggung jawab yang dibagi rata kepada semua orang cenderung berakhir sebagai tanggung jawab yang tak dipikul siapa-siapa.

Satu pohon memang tak seberapa. Ia hanya menyimpan sedikit karbon, menaungi beberapa meter tanah, menahan sejumlah air hujan. Justru karena “tak seberapa” itulah ia mudah dikorbankan.

Namun satu hal yang pasti bahwa alam tidak berhitung sama dengan cara kita berhitung. Ia menjumlahkan. Pohon demi pohon yang tumbang di sepanjang lorong, di pekarangan, di tepi jalan, menjelma kota yang lebih panas, tanah yang kehilangan resapan, dan air yang tak lagi tahu ke mana harus singgah.

Sebuah keputusan kecil tidak pernah sendirian. Ia selalu punya saudara kembar di rumah sebelah.

Pada titik ini, persoalan iklim sesungguhnya adalah persoalan kebiasaan. Pierre Bourdieu menyebutnya habitus, yakni cara bertindak yang mengendap begitu dalam hingga tak lagi terasa sebagai pilihan.

Kita menebang karena begitulah orang-orang di sekitar kita menyelesaikan masalah.

Kita membakar sampah karena begitulah orang tua kita dulu melakukannya.

Kita membeton halaman karena begitulah rumah yang ingin kelihatan “rapi” sesuai yang kita bayangkan.

Kebiasaan tidak bertanya apakah ia benar. Ia hanya bertanya apakah ia mudah.

BACA JUGA:  Bersembunyi di Balik Kata Diduga dan Dugaan

Ada pula persoalan komunikasi. Selama ini perubahan iklim dibahasakan dengan bahasa yang terlalu jauh dan tinggi: suhu rata-rata bumi, es kutub yang mencair, permukaan laut yang naik di kepulauan seberang.

Bahasa semacam itu benar, tetapi tak menyentuh. Manusia jarang tergerak oleh sesuatu yang terlalu jauh dari jangkauan inderanya. Kita baru sungguh-sungguh terkesiima mendengar ketika persoalan itu berbicara dengan nada yang kita kenal: teras yang panas, sumur yang lebih cepat kering, genangan yang tak surut di depan rumah setelah hujan sebentar.

Barangkali tugas mulia para penulis seperti saya dan para intelektual lainnya adalah menerjemahkan bahasa menara gading menjadi bahasa halaman rumah.

Politik pun ikut berperan, tetapi dengan cara yang lebih diam-diam. Kita kerap membangun ruang hidup dengan anggapan bahwa yang keras lebih modern daripada yang hijau, bahwa beton patut dipertahankan sementara akar boleh disingkirkan. Padahal drainase hanyalah benda buatan manusia; ia bisa digeser, dibelokkan, dirancang ulang. Pohon tidak. Pohon adalah hasil kerja waktu yang tak bisa dipesan dari tukang mana pun.

Ketika kita membiarkan yang bisa diubah tetap tak diubah, dan mengorbankan yang tak tergantikan, tampaklah urutan nilai yang kita anut tanpa pernah kita tuliskan.

Para penyair sering lebih awal memahami hal ini. Dalam sastra, pohon bukan sekadar tumbuhan, ia adalah saksi, peneduh, dan penanda waktu. Orang-orang tua kita menanam pohon di halaman bukan untuk dirinya sendiri, melainkan untuk anak cucu yang kelak berteduh. Ada etika yang di sana yakni menanam apa yang naungannya mungkin tak sempat kita nikmati.

BACA JUGA:  Menata Ulang Segitiga Kekuasaan dalam RUU Partai Politik

Kita, generasi yang pandai menebang demi kenyamanan hari ini, sedang membalik etika itu. Menikmati apa yang ditanam orang lain, lalu memusnahkannya sebelum cucu kita sempat mengenalnya.

Akhirnya, persoalan ini mungkin bukan soal pengetahuan, melainkan soal kerepotan. Di sinilah kejujuran harus dimulai. Kita tahu pohon itu berguna. Kita juga tahu panas sedang menyiksa. Yang tak kita punya adalah kesediaan untuk repot: membongkar sedikit saluran, mengubah sedikit rancangan, bersabar sedikit lebih lama.

Perubahan iklim, pada skala yang paling kecil dan paling jujur, adalah akumulasi dari ketidaksediaan kita untuk repot demi sesuatu yang tak bisa membalas budi seketika.

Barangkali itu sebabnya tetangga saya, dan kita semua, perlu belajar bertanya sebelum menebang: benarkah pohon ini yang harus berubah, atau justru cara kita membangun?

Pertanyaan sederhana itu, bila diulang di cukup banyak halaman, mungkin lebih berarti daripada seratus konferensi. Sebab iklim tidak diselamatkan hanya di ruang-ruang rapat yang jauh, melainkan juga di depan rumah, pada saat kita memegang gergaji dan pada saat kita harus memilih antara yang mudah dan yang benar.

Suatu siang nanti, ketika teras itu kembali terik, semoga kita tak lagi menggugat nasib dan takdir. Semoga kita cukup jujur menoleh pada tebing kecil yang tersisa di tepi saluran, dan mengakui bahwa langit tidak pernah kehilangan akal. Justru Kitalah yang selalu kehilangan kesabaran.*

Gerhana Alauddin, 25 Oktober 2026

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru