SulawesiPos.com – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan sebanyak 18 ribu hektare lahan di enam provinsi ludes dilalap api hingga Minggu (25/10/2026). Berdasarkan data terbaru, luasan karhutla di wilayah Kalimantan tercatat sebagai yang terparah dengan cakupan area hangus melampaui angka 11 ribu hektare.
Berdasarkan analisis kerawanan, Provinsi Kalimantan Tengah dan Sumatera Selatan secara resmi ditetapkan sebagai dua zona dengan risiko paling tinggi. Keputusan ini diambil lantaran tingginya intensitas temuan titik panas baru yang terus bermunculan di hamparan hutan yang luas.
Operasi pemadaman dilaporkan menghadapi jalan buntu akibat karakter alami lahan gambut yang mampu menyimpan bara api di kedalaman tanah. “Lahan gambut ini, di permukaan terbakar, di bawah juga terbakar, kita sudah padamkan di permukaan, di bawah belum tentu, masih ada bara,” terang Plt Kepala Pusat Data BNPB, Berton SP Panjaitan.
Kondisi cuaca ekstrem berupa angin kencang memperbesar peluang api untuk menjalar dan kini diduga mulai mengancam kawasan tempat tinggal penduduk. Petugas di lapangan juga harus berjibaku melintasi kontur tebing pegunungan dengan persediaan air yang minim serta jarak pandang yang terbatas.
Merespons memburuknya situasi, BNPB bersama kementerian teknis terus memaksimalkan pemantauan citra satelit guna mengarahkan operasi ke pusat-pusat api. Sementara itu, proses pengusutan hukum terhadap korporasi yang diduga memicu karhutla tengah didalami oleh aparat kepolisian sesuai porsi kewenangannya.
Peringatan dini terkait kualitas udara yang menyentuh ambang batas berbahaya telah dikeluarkan pemerintah untuk menekan risiko gangguan saluran pernapasan. Sebagai langkah intervensi medis, pemerintah langsung memasok stok masker dan tabung oksigen ke jaringan puskesmas yang berada di lingkar bencana. (*)


