Oleh: Idcham Latief
Pegawai Balai Diklat Keagamaan Makassar
SulawesiPos.com – Kecerdasan buatan atau Artificial Intteligence (AI) kini hadir di mana-mana — di genggaman tangan, di ruang kelas, hingga di perbincangan sehari-hari. Ia mampu menyusun tulisan, menjawab pertanyaan, bahkan menyajikan penjelasan yang tampak begitu meyakinkan dalam hitungan detik.
Di saat yang sama, arus informasi yang deras membawa beban berat: berita bohong atau hoaks yang menyebar bak api di musim kemarau. Mulai dari isu keagamaan yang diputarbalikkan, ajaran yang tidak sesuai, hingga narasi yang memecah belah, semuanya tersaji rapi dan mudah dipercaya.
Di tengah realitas ini, peran Guru Pendidikan Agama Islam (PAI) bukan sekadar mengajar di depan papan tulis — melainkan menjadi kompas yang menuntun peserta didik membedakan mana kebenaran dan mana kebohongan, mana ilmu yang bermanfaat dan mana informasi yang menyesatkan.

Kehadiran AI membawa dua sisi mata uang sekaligus. Di satu sisi, ia memudahkan akses ilmu tanpa batas; di sisi lain, ia kerap menyajikan jawaban yang tampak benar padahal keliru, atau mencampuradukkan fakta dengan rekayasa.
Sementara itu, hoaks yang menyelimuti ruang digital sering kali menyasar ranah keagamaan — karena isu ini paling mudah memancing emosi dan paling sulit dibantah jika tidak dipahami dengan ilmu yang kokoh.
Peserta didik, yang sedang dalam masa pencarian jati diri dan terbuka terhadap segala hal baru, menjadi pihak yang paling rentan terhanyut.
Jika tidak ada yang memandu, mereka bisa saja menerima pemahaman yang keliru sebagai kebenaran, lalu menyebarkannya tanpa sadar, sehingga kebodohan dan perpecahan terus berputar tanpa henti.
Di sinilah letak peran sentral Guru PAI. Pertama, Guru PAI harus menjadi teladan yang tidak berhenti belajar — memahami cara kerja AI, mengenali pola penyebaran berita palsu, dan tidak mudah tergoda informasi yang sensasional.
Kedua, Guru PAI membekali peserta didik dengan kerangka berpikir kritis yang berlandaskan nilai-nilai keimanan dan akhlak. Mengajarkan bahwa kebenaran agama tidak diambil dari mana saja, melainkan bersumber dari dalil yang jelas, penafsiran yang tepat, dan para ulama yang dapat dipertanggungjawabkan.
Guru PAI mengajarkan: memeriksa kebenaran sebelum menyebarkan adalah bagian dari iman, dan menyebarkan kebohongan sama saja dengan merusak kepercayaan sesama.
Lebih dari itu, Guru PAI hadir bukan hanya sebagai pemberi materi, melainkan sebagai pendamping yang memanusiakan peserta didik — sesuatu yang tidak bisa dilakukan mesin sekecanggih apa pun.
AI mampu menyajikan informasi, tetapi tidak mampu menanamkan kebijaksanaan; hoaks mampu membingungkan akal, tetapi tidak mampu menggantikan bimbingan hati yang tulus.
Guru PAI mengajarkan bahwa di balik setiap informasi, ada akhlak yang harus dijaga: keteladanan, kejujuran, kehati-hatian, serta semangat menyebarkan kedamaian, bukan pertikaian.
Dengan demikian, peserta didik tumbuh tidak hanya cerdas secara pengetahuan, tetapi juga kokoh dalam iman dan bijak dalam bersikap.
Pada akhirnya, tantangan AI dan hoaks bukanlah hal yang harus ditakuti, melainkan dihadapi dengan kesiapan diri dan penguatan peran.
Guru PAI memegang peran kunci: menjadikan teknologi sebagai jembatan untuk memperluas kebaikan, bukan jurang yang memisahkan sesama; menjadikan informasi sebagai sarana mempererat persaudaraan, bukan bahan untuk saling mencela.
Di tengah kabut informasi yang tak kunjung reda, Guru PAI adalah cahaya yang tetap menyala — menuntun arah, menjaga kebenaran, dan memastikan generasi penerus melangkah di jalan yang lurus, terang, dan berkah.*


