Benteng Somba Opu Memanggil Pulang: Revitalisasi, Ingatan, dan Masa Depan Sulsel

Oleh: Ir. Amril Taufik Gobel, ST, IPU, ASEAN Eng.

Penulis Buku Dwilogi “Indonesia Di Tengah Badai Zaman” , Blogger (daengbattala.com)

Ada yang bergetar di tepian Sungai Jeneberang pada Selasa, 27 Oktober 2026.

Di atas tanah delta yang selama tiga setengah abad menyimpan luka, batu pertama revitalisasi Benteng Somba Opu diletakkan.

Menteri Kebudayaan Fadli Zon, didampingi Gubernur Sulawesi Selatan Andi Sudirman Sulaiman dan Plt Bupati Gowa Darmawangsyah Muin, memulai pemugaran itu.

Bagi orang Makassar dan Bugis, peristiwa itu bukan sekadar seremoni proyek. Ia terasa seperti sebuah janji yang akhirnya ditepati: bahwa negeri ini tidak lagi membiarkan saksi kejayaan leluhurnya terbenam dalam lumpur dan lupa.

Untuk memahami mengapa batu bata merah itu begitu berarti, kita perlu menengok jauh ke belakang.

Benteng Somba Opu pertama kali dibangun pada 1525 oleh Raja Gowa ke-9, Daeng Matanre Karaeng Tumapa’risi’ Kallonna. Ketika Malaka jatuh ke tangan Portugis pada 1511, para pedagang mengalihkan jalur pelayaran mereka ke Somba Opu, yang kemudian menjadi tempat kapal-kapal mengisi perbekalan.

Di balik tembok setinggi tujuh hingga delapan meter itu berdiri istana raja, masjid, permukiman bangsawan, dan pasar yang ramai. Saudagar dari Melayu, Jawa, Gujarat, Tiongkok, Portugis, hingga Inggris berbaur di sana. Somba Opu adalah kota pelabuhan kosmopolitan, simbol keterbukaan yang menjadi watak asli orang Sulawesi Selatan.

Keterbukaan itulah yang tidak disukai VOC. Kongsi dagang Belanda itu menginginkan monopoli rempah, sementara Gowa di bawah Sultan Hasanuddin bersikukuh bahwa laut adalah milik bersama.

Pecahlah Perang Makassar (1666–1669). Pasukan VOC di bawah Laksamana Cornelis Speelman, yang bersekutu dengan Arung Palakka dari Bone, menggempur Gowa habis-habisan.

Perjanjian Bongaya pada November 1667 memaksa Gowa tunduk, namun Hasanuddin kembali mengangkat senjata. Keberaniannya membuat Belanda menjulukinya De Haantjes van het Oosten, Ayam Jantan dari Timur.

Penaklukan benteng ini bahkan dicatat sebagai salah satu kampanye militer tersulit yang pernah dijalani VOC di Timur. Akhirnya, pada 24 Juni 1669 VOC menguasai lalu menghancurkan benteng ini hingga terendam ombak pasang.

Speelman tidak hanya meruntuhkan tembok; ia berusaha memutus ingatan sebuah bangsa maritim tentang kebesarannya sendiri.

Tetapi sejarah punya cara untuk pulang.

Pada 1980-an sisa benteng ditemukan kembali oleh para peneliti, dan sekitar 1990 sebagian dipugar. Sejak itu kawasan seluas puluhan hektare ini menjadi rumah bagi miniatur rumah adat Bugis, Makassar, Mandar, dan Toraja.

BACA JUGA:  Tembus Kementerian, Wabup Bone Dorong Revitalisasi Bola Soba

Sayangnya, perhatian datang dan pergi. Rumput liar tumbuh, rumah adat lapuk, dan tembok benteng terputus.

Pada kunjungan Juli lalu, pemerintah mencatat salah satu pekerjaan prioritas adalah menyambung kembali bagian benteng yang terputus sepanjang sekitar 500 meter.

Di sinilah pemerintahan Presiden Prabowo Subianto menorehkan langkah yang patut disambut. Keputusan membentuk Kementerian Kebudayaan sebagai kementerian tersendiri dalam Kabinet Merah Putih kini mulai berbuah nyata di tanah Gowa. Angka-angkanya berbicara.

Kajian teknis mencakup segmen struktur sepanjang 638,91 meter, dan pemugaran direncanakan bertahap pada empat segmen dengan total 567,24 meter.

Khusus 2026, dinding yang dipugar ditargetkan 101 meter dengan sekitar 50 pekerja dan kurang lebih 70.000 batu bata, sementara Bastion Maccini Sombala melibatkan 30 pekerja dan sekitar 40.000 bata.

Yang paling menyentuh, bata berukuran 24 x 14 x 4 sentimeter itu dibuat secara tradisional oleh perajin dari Kabupaten Takalar.

Tangan-tangan anak cucu kini menyusun kembali tembok leluhurnya, bata demi bata. Itulah revitalisasi yang sesungguhnya: bukan sekadar membangun, melainkan memulihkan martabat.

Menteri Fadli Zon menegaskan bahwa pemugaran ini adalah investasi, bukan sekadar beban anggaran, sejalan dengan amanat Pasal 32 ayat (1) UUD 1945 bahwa negara memajukan kebudayaan nasional.

Pernyataan itu punya pijakan kuat. Sulawesi Selatan sedang menjadi magnet perjalanan. Sepanjang 2024, perjalanan wisatawan nusantara ke Sulsel mencapai 36,52 juta perjalanan, naik 43,62 persen dibanding 2023.

Di tingkat nasional, kunjungan wisatawan mancanegara sepanjang 2025 mencapai 15,39 juta, tumbuh 10,8 persen, dan pada semester I 2026 sudah menembus 7,45 juta kunjungan, tertinggi sejak 2020.

Namun wisatawan asing yang singgah ke Sulsel masih sedikit: pada Desember 2024 BPS hanya mencatat 1.085 kunjungan wisman ke provinsi ini.

Jarak antara potensi dan kenyataan inilah yang bisa dijembatani oleh Somba Opu yang hidup kembali, sebagai pintu gerbang wisata sejarah kawasan timur Indonesia, hanya sekitar 7 hingga 8 kilometer dari pusat Kota Makassar.

Maknanya bagi pembangunan bangsa jauh melampaui angka kunjungan. Somba Opu mengajarkan bahwa Indonesia lahir dari keberanian menolak penindasan dan dari keterbukaan menyambut dunia.

Di tengah generasi muda yang lebih akrab dengan layar ponsel ketimbang hikayat leluhur, benteng ini bisa menjadi ruang kelas terbuka tempat nilai siri’ na pacce, harga diri dan rasa senasib, dihidupkan kembali. Gubernur Andi Sudirman pun berharap kawasan ini kembali menjadi ruang pembelajaran sejarah yang memperkenalkan kejayaan dan

BACA JUGA:  Revitalisasi Benteng Somba Opu Diharapkan Perkuat Wisata Edukasi Sejarah

Namun jalan menuju kebangkitan tidak pernah mulus.

Tantangan pertama adalah soal waktu dan anggaran. Target 101 meter pada 2026 baru sekitar 18 persen dari 567,24 meter yang direncanakan.

Jika satu meter tembok membutuhkan kurang lebih 700 bata, maka seluruh segmen memerlukan sekitar 390 ribu bata.

Tanpa komitmen pendanaan lintas tahun, proyek mulia ini bisa berhenti di tengah jalan seperti upaya-upaya sebelumnya.

Tantangan kedua adalah alam. Kawasan ini adalah dataran rendah delta yang landai sehingga rawan banjir, baik karena luapan sungai maupun hujan lokal.

Tantangan ketiga datang dari tata kelola. Sebuah penelitian Universitas Bosowa tahun ini mengidentifikasi 20 faktor penyebab merosotnya fungsi kawasan bersejarah Benteng Somba Opu, sementara kajian lain mencatat minat investasi di kawasan ini masih rendah karena daya tariknya dinilai kurang.

Tantangan keempat menyangkut manusia, yakni warga yang tinggal di sekitar benteng. Gubernur sendiri mengingatkan agar penataan memperhatikan keberadaan masyarakat sekitar sehingga pelestarian berjalan seiring dengan solusi bagi warga.

Solusinya harus berakar pada kearifan lokal itu sendiri.

Pertama, kunci pendanaan dalam peta jalan bertahap yang disepakati pusat, provinsi, dan Kabupaten Gowa, dilengkapi skema dana abadi kebudayaan serta sumbangan perusahaan, sehingga pembangunan tidak bergantung pada siklus anggaran tahunan semata.

Penetapan status cagar budaya nasional, yang kini didorong Menteri Kebudayaan dan didukung Pemprov Sulsel, perlu dipercepat agar perlindungan hukumnya kokoh.

Kedua, hadapi ancaman banjir dengan rekayasa tata air yang menghormati lanskap delta, belajar dari cara leluhur Gowa membangun di antara dua muara.

Ketiga, jadikan warga sebagai tuan rumah, bukan penonton. Pedagang kaki lima ditata menjadi pusat kuliner khas seperti coto, pallubasa, dan pisang epe; pemuda dilatih menjadi pemandu sejarah; perajin bata Takalar, penenun sutra, dan pembuat perahu pinisi diberi ruang pamer tetap.

Keempat, hidupkan kawasan sepanjang tahun lewat festival, pertunjukan pakarena, lomba mappadendang, hingga konser musik dan jambore budaya seperti yang diharapkan Menteri Kebudayaan.

Kelima, gandeng kampus-kampus di Makassar untuk riset arkeologi berkelanjutan, serta hadirkan cerita Somba Opu dalam bentuk digital agar menjangkau generasi yang hidup di dunia maya.

BACA JUGA:  Mengenal Benteng Somba Opu: Sejarah, Arsitektur, dan Wisata Budaya di Gowa

Orang Makassar punya pepatah, kualleangi tallanga na towalia: lebih baik tenggelam daripada kembali surut ke belakang.

Semangat itulah yang dahulu membuat Sultan Hasanuddin bertahan hingga titik darah terakhir. Kini semangat yang sama diperlukan untuk memastikan revitalisasi ini tuntas, tidak berhenti pada batu pertama.

Tiga ratus lima puluh tujuh tahun setelah Speelman meruntuhkan temboknya, Somba Opu diberi kesempatan untuk berdiri lagi. Kesempatan seperti ini tidak datang dua kali.

Ketika kelak seorang anak dari Gowa menyentuh bata merah yang dibuat kakeknya di dan mendengar kisah tentang raja-raja yang berani berkata tidak kepada penjajah, saat itulah revitalisasi benar-benar berhasil.

Sebab yang kita bangun kembali bukan hanya tembok, melainkan keyakinan bahwa bangsa ini besar karena tidak pernah lupa dari mana ia berasal.

Referensi:

  1. IDN Times Sulsel: Benteng Somba Opu Dipugar, Disiapkan Jadi Wisata Sejarah
    https://sulsel.idntimes.com/news/sulawesi-selatan/benteng-somba-opu-dipugar-disiapkan-jadi-wisata-sejarah-00-5qckx-18p5p1
  2. Good News From Indonesia: Benteng Somba Opu Gowa, Menyimpan Kisah Kejayaan Pusat Rempah di Timur Nusantara
    https://www.goodnewsfromindonesia.id/indonesiana/wisata/benteng-somba-opu-gowa-menyimpan-kisah-kejayaan-pusat-rempah-di-timur-nusantara
  3. Jurnal Arsitektura (UNS): Kajian Revitalisasi Kawasan Benteng Somba Opu Sebagai Kawasan Bersejarah
    https://jurnal.uns.ac.id/Arsitektura/article/download/42223/28473
  4. Wikipedia: Fort Somba Opu
    https://en.wikipedia.org/wiki/Fort_Somba_Opu
  5. detikSulsel: Benteng Somba Opu Gowa: Profil, Sejarah, hingga Daya Tarik Wisatanya
    https://www.detik.com/sulsel/wisata/d-6617390/benteng-somba-opu-gowa-profil-sejarah-hingga-daya-tarik-wisatanya
  6. Good News From Indonesia: Benteng Somba Opu Bakal Bangkit! Revitalisasi Besar Disiapkan untuk Hidupkan Kembali Ikon Budaya Sulsel
    https://www.goodnewsfromindonesia.id/indonesiana/sejarah/benteng-somba-opu-bakal-bangkit-revitalisasi-besar-disiapkan-untuk-hidupkan-kembali-ikon-budaya-sulsel
  7. Kombi.id: Benteng Somba Opu Direvitalisasi! Disiapkan Jadi Destinasi Wisata Sejarah dan Budaya di Gowa
    https://kombi.id/read/2026/10/30/benteng-somba-opu-direvitalisasi-disiapkan-jadi-destinasi-wisata-sejarah-dan-budaya-di-gowa/
  8. BPS Provinsi Sulawesi Selatan: Pada Bulan Desember 2024 Ada 1.085 Kunjungan Wisman ke Sulawesi Selatan
    https://sulsel.bps.go.id/en/pressrelease/2025/02/03/864/pada-bulan-desember-2024-ada-1-085-kunjungan-wisman-ke-sulawesi-selatan.html
  9. BCA Sekuritas: BPS: Kunjungan Wisman Sepanjang 2025 Capai 15,39 Juta
    https://bcasekuritas.co.id/latest-news/news/bps-kunjungan-wisman-sepanjang-2025-capai-1539-juta
  10. JawaPos: Kunjungan Wisman Semester I 2026 Capai 7,45 Juta, Tertinggi Sejak 2020
    https://www.jawapos.com/travelling/2608030198/kunjungan-wisman-semester-i-2026-capai-745-juta-tertinggi-sejak-2020
  11. Inilah.co.id: Gubernur Sulsel Bersama Menteri Kebudayaan Fadli Zon Letakkan Batu Pertama Revitalisasi Benteng Somba Opu
    https://inilah.co.id/2026/10/27/gubernur-sulsel-bersama-menteri-kebudayaan-fadli-zon-letakkan-batu-pertama-revitalisasi-benteng-somba-opu/
  12. Repositori Universitas Hasanuddin: Analisis Potensi Kerawanan Banjir pada Kawasan Situs Benteng Somba Opu Berbasis SIG
    https://repository.unhas.ac.id/id/eprint/55468/2/F071191021-1-2.pdf
  13. Jurnal URSJ (Universitas Bosowa): Arahan Revitalisasi Kawasan Bersejarah Benteng Somba Opu Kabupaten Gowa
    https://journal.unibos.ac.id/ursj/article/download/6055/4198/43209
  14. Jurnal TIMPALAJA (UIN Alauddin): Desain Atribut Jalan Sebagai Upaya Revitalisasi Kawasan Benteng Somba Opu
    https://journal3.uin-alauddin.ac.id/index.php/timpalaja/article/download/18209/10378
  15. SuaraSulsel.id: Revitalisasi Benteng Somba Opu, Pemprov Sulsel Dukung Jadi Cagar Budaya Nasional
    https://sulsel.suara.com/read/2026/10/28/124326/revitalisasi-benteng-somba-opu-pemprov-sulsel-dukung-jadi-cagar-budaya-nasional

Oleh: Ir. Amril Taufik Gobel, ST, IPU, ASEAN Eng.

Penulis Buku Dwilogi “Indonesia Di Tengah Badai Zaman” , Blogger (daengbattala.com)

Ada yang bergetar di tepian Sungai Jeneberang pada Selasa, 27 Oktober 2026.

Di atas tanah delta yang selama tiga setengah abad menyimpan luka, batu pertama revitalisasi Benteng Somba Opu diletakkan.

Menteri Kebudayaan Fadli Zon, didampingi Gubernur Sulawesi Selatan Andi Sudirman Sulaiman dan Plt Bupati Gowa Darmawangsyah Muin, memulai pemugaran itu.

Bagi orang Makassar dan Bugis, peristiwa itu bukan sekadar seremoni proyek. Ia terasa seperti sebuah janji yang akhirnya ditepati: bahwa negeri ini tidak lagi membiarkan saksi kejayaan leluhurnya terbenam dalam lumpur dan lupa.

Untuk memahami mengapa batu bata merah itu begitu berarti, kita perlu menengok jauh ke belakang.

Benteng Somba Opu pertama kali dibangun pada 1525 oleh Raja Gowa ke-9, Daeng Matanre Karaeng Tumapa’risi’ Kallonna. Ketika Malaka jatuh ke tangan Portugis pada 1511, para pedagang mengalihkan jalur pelayaran mereka ke Somba Opu, yang kemudian menjadi tempat kapal-kapal mengisi perbekalan.

Di balik tembok setinggi tujuh hingga delapan meter itu berdiri istana raja, masjid, permukiman bangsawan, dan pasar yang ramai. Saudagar dari Melayu, Jawa, Gujarat, Tiongkok, Portugis, hingga Inggris berbaur di sana. Somba Opu adalah kota pelabuhan kosmopolitan, simbol keterbukaan yang menjadi watak asli orang Sulawesi Selatan.

Keterbukaan itulah yang tidak disukai VOC. Kongsi dagang Belanda itu menginginkan monopoli rempah, sementara Gowa di bawah Sultan Hasanuddin bersikukuh bahwa laut adalah milik bersama.

Pecahlah Perang Makassar (1666–1669). Pasukan VOC di bawah Laksamana Cornelis Speelman, yang bersekutu dengan Arung Palakka dari Bone, menggempur Gowa habis-habisan.

Perjanjian Bongaya pada November 1667 memaksa Gowa tunduk, namun Hasanuddin kembali mengangkat senjata. Keberaniannya membuat Belanda menjulukinya De Haantjes van het Oosten, Ayam Jantan dari Timur.

Penaklukan benteng ini bahkan dicatat sebagai salah satu kampanye militer tersulit yang pernah dijalani VOC di Timur. Akhirnya, pada 24 Juni 1669 VOC menguasai lalu menghancurkan benteng ini hingga terendam ombak pasang.

Speelman tidak hanya meruntuhkan tembok; ia berusaha memutus ingatan sebuah bangsa maritim tentang kebesarannya sendiri.

Tetapi sejarah punya cara untuk pulang.

Pada 1980-an sisa benteng ditemukan kembali oleh para peneliti, dan sekitar 1990 sebagian dipugar. Sejak itu kawasan seluas puluhan hektare ini menjadi rumah bagi miniatur rumah adat Bugis, Makassar, Mandar, dan Toraja.

BACA JUGA:  Fadli Zon Ungkap Kedekatan Prabowo dan Ryamizard Ryacudu Terjalin Sejak Masa Taruna

Sayangnya, perhatian datang dan pergi. Rumput liar tumbuh, rumah adat lapuk, dan tembok benteng terputus.

Pada kunjungan Juli lalu, pemerintah mencatat salah satu pekerjaan prioritas adalah menyambung kembali bagian benteng yang terputus sepanjang sekitar 500 meter.

Di sinilah pemerintahan Presiden Prabowo Subianto menorehkan langkah yang patut disambut. Keputusan membentuk Kementerian Kebudayaan sebagai kementerian tersendiri dalam Kabinet Merah Putih kini mulai berbuah nyata di tanah Gowa. Angka-angkanya berbicara.

Kajian teknis mencakup segmen struktur sepanjang 638,91 meter, dan pemugaran direncanakan bertahap pada empat segmen dengan total 567,24 meter.

Khusus 2026, dinding yang dipugar ditargetkan 101 meter dengan sekitar 50 pekerja dan kurang lebih 70.000 batu bata, sementara Bastion Maccini Sombala melibatkan 30 pekerja dan sekitar 40.000 bata.

Yang paling menyentuh, bata berukuran 24 x 14 x 4 sentimeter itu dibuat secara tradisional oleh perajin dari Kabupaten Takalar.

Tangan-tangan anak cucu kini menyusun kembali tembok leluhurnya, bata demi bata. Itulah revitalisasi yang sesungguhnya: bukan sekadar membangun, melainkan memulihkan martabat.

Menteri Fadli Zon menegaskan bahwa pemugaran ini adalah investasi, bukan sekadar beban anggaran, sejalan dengan amanat Pasal 32 ayat (1) UUD 1945 bahwa negara memajukan kebudayaan nasional.

Pernyataan itu punya pijakan kuat. Sulawesi Selatan sedang menjadi magnet perjalanan. Sepanjang 2024, perjalanan wisatawan nusantara ke Sulsel mencapai 36,52 juta perjalanan, naik 43,62 persen dibanding 2023.

Di tingkat nasional, kunjungan wisatawan mancanegara sepanjang 2025 mencapai 15,39 juta, tumbuh 10,8 persen, dan pada semester I 2026 sudah menembus 7,45 juta kunjungan, tertinggi sejak 2020.

Namun wisatawan asing yang singgah ke Sulsel masih sedikit: pada Desember 2024 BPS hanya mencatat 1.085 kunjungan wisman ke provinsi ini.

Jarak antara potensi dan kenyataan inilah yang bisa dijembatani oleh Somba Opu yang hidup kembali, sebagai pintu gerbang wisata sejarah kawasan timur Indonesia, hanya sekitar 7 hingga 8 kilometer dari pusat Kota Makassar.

Maknanya bagi pembangunan bangsa jauh melampaui angka kunjungan. Somba Opu mengajarkan bahwa Indonesia lahir dari keberanian menolak penindasan dan dari keterbukaan menyambut dunia.

Di tengah generasi muda yang lebih akrab dengan layar ponsel ketimbang hikayat leluhur, benteng ini bisa menjadi ruang kelas terbuka tempat nilai siri’ na pacce, harga diri dan rasa senasib, dihidupkan kembali. Gubernur Andi Sudirman pun berharap kawasan ini kembali menjadi ruang pembelajaran sejarah yang memperkenalkan kejayaan dan

BACA JUGA:  Mengenal Benteng Somba Opu: Sejarah, Arsitektur, dan Wisata Budaya di Gowa

Namun jalan menuju kebangkitan tidak pernah mulus.

Tantangan pertama adalah soal waktu dan anggaran. Target 101 meter pada 2026 baru sekitar 18 persen dari 567,24 meter yang direncanakan.

Jika satu meter tembok membutuhkan kurang lebih 700 bata, maka seluruh segmen memerlukan sekitar 390 ribu bata.

Tanpa komitmen pendanaan lintas tahun, proyek mulia ini bisa berhenti di tengah jalan seperti upaya-upaya sebelumnya.

Tantangan kedua adalah alam. Kawasan ini adalah dataran rendah delta yang landai sehingga rawan banjir, baik karena luapan sungai maupun hujan lokal.

Tantangan ketiga datang dari tata kelola. Sebuah penelitian Universitas Bosowa tahun ini mengidentifikasi 20 faktor penyebab merosotnya fungsi kawasan bersejarah Benteng Somba Opu, sementara kajian lain mencatat minat investasi di kawasan ini masih rendah karena daya tariknya dinilai kurang.

Tantangan keempat menyangkut manusia, yakni warga yang tinggal di sekitar benteng. Gubernur sendiri mengingatkan agar penataan memperhatikan keberadaan masyarakat sekitar sehingga pelestarian berjalan seiring dengan solusi bagi warga.

Solusinya harus berakar pada kearifan lokal itu sendiri.

Pertama, kunci pendanaan dalam peta jalan bertahap yang disepakati pusat, provinsi, dan Kabupaten Gowa, dilengkapi skema dana abadi kebudayaan serta sumbangan perusahaan, sehingga pembangunan tidak bergantung pada siklus anggaran tahunan semata.

Penetapan status cagar budaya nasional, yang kini didorong Menteri Kebudayaan dan didukung Pemprov Sulsel, perlu dipercepat agar perlindungan hukumnya kokoh.

Kedua, hadapi ancaman banjir dengan rekayasa tata air yang menghormati lanskap delta, belajar dari cara leluhur Gowa membangun di antara dua muara.

Ketiga, jadikan warga sebagai tuan rumah, bukan penonton. Pedagang kaki lima ditata menjadi pusat kuliner khas seperti coto, pallubasa, dan pisang epe; pemuda dilatih menjadi pemandu sejarah; perajin bata Takalar, penenun sutra, dan pembuat perahu pinisi diberi ruang pamer tetap.

Keempat, hidupkan kawasan sepanjang tahun lewat festival, pertunjukan pakarena, lomba mappadendang, hingga konser musik dan jambore budaya seperti yang diharapkan Menteri Kebudayaan.

Kelima, gandeng kampus-kampus di Makassar untuk riset arkeologi berkelanjutan, serta hadirkan cerita Somba Opu dalam bentuk digital agar menjangkau generasi yang hidup di dunia maya.

BACA JUGA:  Tiga Abad Lebih Berlayar: Sulawesi Selatan, Dermaga Harapan bagi Kebangkitan Indonesia Timur

Orang Makassar punya pepatah, kualleangi tallanga na towalia: lebih baik tenggelam daripada kembali surut ke belakang.

Semangat itulah yang dahulu membuat Sultan Hasanuddin bertahan hingga titik darah terakhir. Kini semangat yang sama diperlukan untuk memastikan revitalisasi ini tuntas, tidak berhenti pada batu pertama.

Tiga ratus lima puluh tujuh tahun setelah Speelman meruntuhkan temboknya, Somba Opu diberi kesempatan untuk berdiri lagi. Kesempatan seperti ini tidak datang dua kali.

Ketika kelak seorang anak dari Gowa menyentuh bata merah yang dibuat kakeknya di dan mendengar kisah tentang raja-raja yang berani berkata tidak kepada penjajah, saat itulah revitalisasi benar-benar berhasil.

Sebab yang kita bangun kembali bukan hanya tembok, melainkan keyakinan bahwa bangsa ini besar karena tidak pernah lupa dari mana ia berasal.

Referensi:

  1. IDN Times Sulsel: Benteng Somba Opu Dipugar, Disiapkan Jadi Wisata Sejarah
    https://sulsel.idntimes.com/news/sulawesi-selatan/benteng-somba-opu-dipugar-disiapkan-jadi-wisata-sejarah-00-5qckx-18p5p1
  2. Good News From Indonesia: Benteng Somba Opu Gowa, Menyimpan Kisah Kejayaan Pusat Rempah di Timur Nusantara
    https://www.goodnewsfromindonesia.id/indonesiana/wisata/benteng-somba-opu-gowa-menyimpan-kisah-kejayaan-pusat-rempah-di-timur-nusantara
  3. Jurnal Arsitektura (UNS): Kajian Revitalisasi Kawasan Benteng Somba Opu Sebagai Kawasan Bersejarah
    https://jurnal.uns.ac.id/Arsitektura/article/download/42223/28473
  4. Wikipedia: Fort Somba Opu
    https://en.wikipedia.org/wiki/Fort_Somba_Opu
  5. detikSulsel: Benteng Somba Opu Gowa: Profil, Sejarah, hingga Daya Tarik Wisatanya
    https://www.detik.com/sulsel/wisata/d-6617390/benteng-somba-opu-gowa-profil-sejarah-hingga-daya-tarik-wisatanya
  6. Good News From Indonesia: Benteng Somba Opu Bakal Bangkit! Revitalisasi Besar Disiapkan untuk Hidupkan Kembali Ikon Budaya Sulsel
    https://www.goodnewsfromindonesia.id/indonesiana/sejarah/benteng-somba-opu-bakal-bangkit-revitalisasi-besar-disiapkan-untuk-hidupkan-kembali-ikon-budaya-sulsel
  7. Kombi.id: Benteng Somba Opu Direvitalisasi! Disiapkan Jadi Destinasi Wisata Sejarah dan Budaya di Gowa
    https://kombi.id/read/2026/10/30/benteng-somba-opu-direvitalisasi-disiapkan-jadi-destinasi-wisata-sejarah-dan-budaya-di-gowa/
  8. BPS Provinsi Sulawesi Selatan: Pada Bulan Desember 2024 Ada 1.085 Kunjungan Wisman ke Sulawesi Selatan
    https://sulsel.bps.go.id/en/pressrelease/2025/02/03/864/pada-bulan-desember-2024-ada-1-085-kunjungan-wisman-ke-sulawesi-selatan.html
  9. BCA Sekuritas: BPS: Kunjungan Wisman Sepanjang 2025 Capai 15,39 Juta
    https://bcasekuritas.co.id/latest-news/news/bps-kunjungan-wisman-sepanjang-2025-capai-1539-juta
  10. JawaPos: Kunjungan Wisman Semester I 2026 Capai 7,45 Juta, Tertinggi Sejak 2020
    https://www.jawapos.com/travelling/2608030198/kunjungan-wisman-semester-i-2026-capai-745-juta-tertinggi-sejak-2020
  11. Inilah.co.id: Gubernur Sulsel Bersama Menteri Kebudayaan Fadli Zon Letakkan Batu Pertama Revitalisasi Benteng Somba Opu
    https://inilah.co.id/2026/10/27/gubernur-sulsel-bersama-menteri-kebudayaan-fadli-zon-letakkan-batu-pertama-revitalisasi-benteng-somba-opu/
  12. Repositori Universitas Hasanuddin: Analisis Potensi Kerawanan Banjir pada Kawasan Situs Benteng Somba Opu Berbasis SIG
    https://repository.unhas.ac.id/id/eprint/55468/2/F071191021-1-2.pdf
  13. Jurnal URSJ (Universitas Bosowa): Arahan Revitalisasi Kawasan Bersejarah Benteng Somba Opu Kabupaten Gowa
    https://journal.unibos.ac.id/ursj/article/download/6055/4198/43209
  14. Jurnal TIMPALAJA (UIN Alauddin): Desain Atribut Jalan Sebagai Upaya Revitalisasi Kawasan Benteng Somba Opu
    https://journal3.uin-alauddin.ac.id/index.php/timpalaja/article/download/18209/10378
  15. SuaraSulsel.id: Revitalisasi Benteng Somba Opu, Pemprov Sulsel Dukung Jadi Cagar Budaya Nasional
    https://sulsel.suara.com/read/2026/10/28/124326/revitalisasi-benteng-somba-opu-pemprov-sulsel-dukung-jadi-cagar-budaya-nasional

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru