SulawesiPos.com – Wali Kota Makassar Munafri Arifuddin meninjau sekaligus memanen hasil urban farming di Kecamatan Tamalate, Rabu (4/11/2026). Kunjungan ke Kelompok Tani Marennu di Kelurahan Mangasa dan Kelompok Wanita Tani Mawar di Kelurahan Maccini Sombala itu menjadi bagian dari dorongan Pemerintah Kota Makassar agar lahan produktif berkembang di seluruh RW.
Di Kebun Urban Farming Kelompok Tani Marennu, Munafri memanen bawang merah bersama warga. Rombongan kemudian menuju KWT Mawar di Jalan Deppasawi Luar, Maccini Sombala, untuk melihat panen cabai, kangkung, dan terong.
Kegiatan tersebut didampingi Kepala Dinas Perikanan dan Pertanian Kota Makassar Aulia Arsyad serta jajaran pemerintah kecamatan. Pemerintah kota menempatkan kelompok tani dan kelompok wanita tani sebagai penggerak pemanfaatan lahan kosong maupun pekarangan di kawasan padat penduduk.
“Program urban farming ini penting karena menjadi salah satu solusi untuk memperkuat ketahanan pangan keluarga,” kata Munafri.
Menurut Munafri, lahan terbatas di perkotaan tetap dapat dimanfaatkan untuk memproduksi kebutuhan pangan rumah tangga. Hasil kebun juga dapat memberi nilai tambah bagi warga apabila dikelola secara konsisten dan terhubung dengan kebutuhan lingkungan sekitar.
Tamalate Siapkan Percontohan
Camat Tamalate Muhammad Aril Syahbani menyebut sekitar 60 persen RW di wilayahnya telah memiliki kawasan urban farming. Dari 677 RW, sekitar 406 RW disebut sudah mengembangkan lahan pertanian perkotaan.
Pemerintah kecamatan menargetkan seluruh RW di Tamalate memiliki sedikitnya satu kawasan urban farming. RW 5 Maccini Sombala disiapkan sebagai salah satu rujukan atau proyek percontohan karena telah menunjukkan hasil panen dan keterlibatan warga.
Pengembangan tidak akan menggunakan satu metode untuk semua wilayah. Warga dengan lahan cukup dapat menanam langsung di tanah, sedangkan lingkungan yang lahannya terbatas diarahkan menggunakan hidroponik.
Aril mengatakan hasil panen selama ini lebih banyak dimanfaatkan warga RT dan RW yang mengelola kebun. Tantangan berikutnya ialah memperluas partisipasi masyarakat dan mencari solusi atas biaya awal pembangunan instalasi hidroponik.
“Karakteristik setiap wilayah berbeda. Kalau tidak memiliki lahan yang cukup, bisa menggunakan metode hidroponik,” ujar Aril.
Terhubung dengan Edufarm Makassar
Penguatan kebun warga di Tamalate berjalan beriringan dengan rencana kawasan Edufarm terintegrasi di Barombong dan Sudiang. Program Dinas Perikanan dan Pertanian Makassar itu dirancang sebagai ruang edukasi urban farming sekaligus lokasi percontohan bagi warga.
Kepala DP2 Makassar Aulia Arsyad mengatakan kawasan Edufarm akan menggabungkan budidaya hortikultura, peternakan, perikanan, budidaya jamur, serta pengelolaan sampah melalui maggot dan biopori.
“Urban Farming bertujuan mewujudkan kemandirian pangan keluarga, terutama dalam menekan inflasi komoditas seperti cabai dan tomat,” kata Aulia.
Model tersebut membuat urban farming tidak hanya berkaitan dengan produksi sayur untuk konsumsi, tetapi juga edukasi, pengelolaan lingkungan, dan pemberdayaan ekonomi warga. Di tingkat kelurahan, kebun-kebun seperti Marennu dan KWT Mawar menjadi contoh bahwa produksi pangan dapat berlangsung di tengah kawasan perkotaan.
Pemkot Makassar belum merinci target produksi dari dua kelompok yang dikunjungi maupun skema distribusi hasil panen ke pasar. Untuk sementara, hasil kebun urban farming Tamalate masih terutama dimanfaatkan masyarakat di lingkungan pengelola.


