Rupiah Terkoreksi ke Rp18.050/US$ di Tengah Isu Serangan Timur Tengah

SulawesiPos.com – Nilai tukar rupiah kembali terperosok ke zona merah pada awal pembukaan pasar valuta asing hari Jumat (23/10/2026). Mata uang nasional ini melemah tipis ke level Rp18.050 per dolar AS akibat derasnya tekanan sentimen global.

Angka pembukaan ini menunjukkan koreksi sebesar lima poin dari penutupan perdagangan pada hari Kamis (22/10/2026). Sementara itu, indikator pergerakan dolar AS terhadap enam mata uang utama dunia terpantau stagnan di kisaran 101.

Laju penguatan rupiah tertahan secara signifikan oleh sentimen memanasnya suhu konflik di wilayah Timur Tengah. Ancaman putusnya rantai pasokan energi dunia memicu para investor memindahkan dana ke instrumen yang dinilai lebih aman.

“Rencana operasi lanjutan di kawasan tersebut menjadi sorotan utama yang meresahkan para pelaku pasar valas,” catat laporan The New York Times. Situasi diperkuat oleh sinyalemen keras dari Washington yang menutup pintu negosiasi diplomatik dengan otoritas Teheran.

Efek domino dari memburuknya relasi ini langsung mengerek harga minyak mentah Brent hingga menembus angka US$112,96 per barel. Lonjakan tajam komoditas hitam ini menjadi tantangan serius bagi ketahanan fundamental ekonomi Indonesia.

BACA JUGA:  Gubernur BI Berganti, Rupiah Diprediksi Tetap Lemah hingga 2031

Kalangan analis mengkhawatirkan kebutuhan dolar AS akan membengkak drastis demi menutupi biaya impor minyak bumi nasional. Risiko meroketnya inflasi membuat pemilik modal enggan menempatkan dana besar di bursa negara berkembang.

Kendati demikian, otoritas moneter lokal masih mencatat adanya proyeksi positif dari kinerja sektor kredit perbankan domestik. Indikator kuartalan dilaporkan naik pesat yang mengisyaratkan kelonggaran syarat pinjaman modal bagi masyarakat luas.

Penurunan perlahan imbal hasil obligasi AS bertenor panjang sebenarnya berpeluang memberikan sedikit ruang napas bagi rupiah. Sayangnya, level ketidakpastian arah konflik menahan laju pemulihan sehingga penguatan mata uang Garuda menjadi amat terbatas. (*)

SulawesiPos.com – Nilai tukar rupiah kembali terperosok ke zona merah pada awal pembukaan pasar valuta asing hari Jumat (23/10/2026). Mata uang nasional ini melemah tipis ke level Rp18.050 per dolar AS akibat derasnya tekanan sentimen global.

Angka pembukaan ini menunjukkan koreksi sebesar lima poin dari penutupan perdagangan pada hari Kamis (22/10/2026). Sementara itu, indikator pergerakan dolar AS terhadap enam mata uang utama dunia terpantau stagnan di kisaran 101.

Laju penguatan rupiah tertahan secara signifikan oleh sentimen memanasnya suhu konflik di wilayah Timur Tengah. Ancaman putusnya rantai pasokan energi dunia memicu para investor memindahkan dana ke instrumen yang dinilai lebih aman.

“Rencana operasi lanjutan di kawasan tersebut menjadi sorotan utama yang meresahkan para pelaku pasar valas,” catat laporan The New York Times. Situasi diperkuat oleh sinyalemen keras dari Washington yang menutup pintu negosiasi diplomatik dengan otoritas Teheran.

Efek domino dari memburuknya relasi ini langsung mengerek harga minyak mentah Brent hingga menembus angka US$112,96 per barel. Lonjakan tajam komoditas hitam ini menjadi tantangan serius bagi ketahanan fundamental ekonomi Indonesia.

BACA JUGA:  DK PBB Gagal Sahkan Resolusi Rusia untuk Hentikan Eskalasi Militer di Timur Tengah

Kalangan analis mengkhawatirkan kebutuhan dolar AS akan membengkak drastis demi menutupi biaya impor minyak bumi nasional. Risiko meroketnya inflasi membuat pemilik modal enggan menempatkan dana besar di bursa negara berkembang.

Kendati demikian, otoritas moneter lokal masih mencatat adanya proyeksi positif dari kinerja sektor kredit perbankan domestik. Indikator kuartalan dilaporkan naik pesat yang mengisyaratkan kelonggaran syarat pinjaman modal bagi masyarakat luas.

Penurunan perlahan imbal hasil obligasi AS bertenor panjang sebenarnya berpeluang memberikan sedikit ruang napas bagi rupiah. Sayangnya, level ketidakpastian arah konflik menahan laju pemulihan sehingga penguatan mata uang Garuda menjadi amat terbatas. (*)

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru