Imbas Krisis Teluk Persia, Rupiah Anjlok ke Rp17.993 Pagi Ini

SulawesiPos.com, Pasar keuangan Indonesia kembali bergejolak hebat pada sesi perdagangan pagi ini, Rabu, 21 Oktober 2026. Nilai tukar rupiah langsung terperosok ke zona merah dengan tingkat pelemahan mencapai 0,03 persen di transaksi spot.

Mata uang kebanggaan nasional ini tertekan secara instan hingga harus memulai perdagangan di level Rp17.993 per dolar AS. Pergerakan muram serupa juga tercatat di pasar Non-Deliverable Forward yang dengan cepat menembus angka Rp18.022 per dolar AS.

Anjloknya kinerja rupiah ini tidak lepas dari sentimen negatif meroketnya harga minyak mentah global secara tiba-tiba. Komoditas energi acuan dunia tersebut dilaporkan melambung melampaui level psikologis US$110 per barel pada perdagangan hari ini.

Kepanikan masif di bursa komoditas ini dipicu oleh kabar meluasnya serangan militer di kawasan strategis Teluk Persia. Insiden eskalasi yang menyasar armada kapal komersial tersebut dikonfirmasi memicu tingkat kerusakan yang sangat memprihatinkan.

Situasi darurat ini membuat pelaku pasar segera memindahkan aset mereka dan memicu tren pelemahan di pasar obligasi global. “Sebanyak dua orang bahkan berpendapat BI perlu menaikkan BI Rate ke 6,25 persen,” sebut pantauan sentimen pakar menyikapi darurat ini.

BACA JUGA:  Siapa Perry Warjiyo? Gubernur BI yang Mundur, Ini Perjalanan Karier dan Penyebab Mundurnya

Tekanan ganda dari meroketnya harga minyak dan anjloknya surat utang diperkirakan akan terus menghantui laju Garuda. Otoritas moneter diprediksi harus segera merespons gejolak ekstrem ini guna menenangkan kepanikan yang terlanjur menjalar di pasar modal. (*)

SulawesiPos.com, Pasar keuangan Indonesia kembali bergejolak hebat pada sesi perdagangan pagi ini, Rabu, 21 Oktober 2026. Nilai tukar rupiah langsung terperosok ke zona merah dengan tingkat pelemahan mencapai 0,03 persen di transaksi spot.

Mata uang kebanggaan nasional ini tertekan secara instan hingga harus memulai perdagangan di level Rp17.993 per dolar AS. Pergerakan muram serupa juga tercatat di pasar Non-Deliverable Forward yang dengan cepat menembus angka Rp18.022 per dolar AS.

Anjloknya kinerja rupiah ini tidak lepas dari sentimen negatif meroketnya harga minyak mentah global secara tiba-tiba. Komoditas energi acuan dunia tersebut dilaporkan melambung melampaui level psikologis US$110 per barel pada perdagangan hari ini.

Kepanikan masif di bursa komoditas ini dipicu oleh kabar meluasnya serangan militer di kawasan strategis Teluk Persia. Insiden eskalasi yang menyasar armada kapal komersial tersebut dikonfirmasi memicu tingkat kerusakan yang sangat memprihatinkan.

Situasi darurat ini membuat pelaku pasar segera memindahkan aset mereka dan memicu tren pelemahan di pasar obligasi global. “Sebanyak dua orang bahkan berpendapat BI perlu menaikkan BI Rate ke 6,25 persen,” sebut pantauan sentimen pakar menyikapi darurat ini.

BACA JUGA:  Dolar AS Terpuruk Dekati Titik Terendah, Dunia Menanti Rahasia Suku Bunga The Fed

Tekanan ganda dari meroketnya harga minyak dan anjloknya surat utang diperkirakan akan terus menghantui laju Garuda. Otoritas moneter diprediksi harus segera merespons gejolak ekstrem ini guna menenangkan kepanikan yang terlanjur menjalar di pasar modal. (*)

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru