Gubernur BI Berganti, Rupiah Diprediksi Tetap Lemah hingga 2031

SulawesiPos.com – Pergantian kepemimpinan Bank Indonesia dari Perry Warjiyo ke Destry Damayanti dinilai tidak akan otomatis menguatkan rupiah hingga 2031, karena ekonom senior Didik J Rachbini memperkirakan mata uang domestik tetap lemah dalam lima tahun mendatang akibat persoalan struktural ekonomi Indonesia, mulai dari lemahnya sektor luar negeri hingga keterbatasan cadangan devisa, sebagaimana disampaikan di Jakarta, Minggu (30/8/2026).

Destry sebelumnya disetujui Komisi XI DPR sebagai Gubernur BI terpilih periode 2026-2031 dan akan menggantikan Perry Warjiyo yang mengundurkan diri pada 25 Juli 2026.

Penetapan definitif Destry selanjutnya dijadwalkan dibawa ke Rapat Paripurna DPR pada Selasa (1/9/2026).

“Kepemimpinan BI sekarang akan mengubah posisi rupiah menjadi lebih stabil dan lebih kuat dari sebelumnya? Jawabnya sulit dan bahkan hampir tidak bisa. Sampai 5 tahun mendatang rupiah tetap tidak akan menguat, akan tetap lemah dan bahkan terus melemah,” kata Didik.

Menurut dia, pergantian gubernur BI tidak cukup untuk membalikkan tekanan moneter karena ada banyak faktor eksternal dan internal yang telah lama membebani rupiah.

BACA JUGA:  Profil Destry Damayanti, Deputi Gubernur Senior yang Kini Pimpin BI Usai Perry Warjiyo Mundur

Struktur Ekonomi Dinilai Jadi Biang Kerok

Didik menilai Indonesia memang memiliki pasar domestik besar, tetapi hal itu tidak otomatis membuat rupiah kuat karena struktur ekonomi nasional lemah pada sektor luar negeri.

“Namun dengan skala ekonomi besar tersebut, mata uangnya tidak pernah bisa menguat karena begitulah struktur ekonomi Indonesia terbentuk, lemah dalam sektor luar negerinya,” ujarnya.

Ia menilai instrumen suku bunga yang selama ini menjadi andalan BI juga memiliki keterbatasan untuk menopang nilai tukar dalam jangka panjang.

“Kebijakan konservatif yang sederhana hanya dengan instrumen suku bunga tidak akan menjadikan nilai tukar lebih kuat,” tutur Didik.

Menurut Didik, rupiah tetap rentan meski tanpa krisis karena arus devisa yang masuk masih lebih kecil dibanding kebutuhan dolar AS untuk impor, utang luar negeri, dan transaksi internasional.

Ia mencatat cadangan devisa Indonesia pada akhir Juli 2026 berada di kisaran 145,3 miliar dollar AS, masih tertinggal dibanding Singapura yang memiliki sekitar 426,2 miliar dollar AS dan Thailand sekitar 279,2 miliar dollar AS.

BACA JUGA:  Rekomendasi Saham Hari Ini 6 Agustus 2026: IHSG Menguat ke 6.351, Cermati ADRO hingga EXCL

Didik juga menilai orientasi ekonomi Indonesia terlalu berputar di pasar domestik dan belum cukup outward looking untuk mendatangkan devisa segar dari ekspor, investasi asing, dan sektor luar negeri lainnya.

SulawesiPos.com – Pergantian kepemimpinan Bank Indonesia dari Perry Warjiyo ke Destry Damayanti dinilai tidak akan otomatis menguatkan rupiah hingga 2031, karena ekonom senior Didik J Rachbini memperkirakan mata uang domestik tetap lemah dalam lima tahun mendatang akibat persoalan struktural ekonomi Indonesia, mulai dari lemahnya sektor luar negeri hingga keterbatasan cadangan devisa, sebagaimana disampaikan di Jakarta, Minggu (30/8/2026).

Destry sebelumnya disetujui Komisi XI DPR sebagai Gubernur BI terpilih periode 2026-2031 dan akan menggantikan Perry Warjiyo yang mengundurkan diri pada 25 Juli 2026.

Penetapan definitif Destry selanjutnya dijadwalkan dibawa ke Rapat Paripurna DPR pada Selasa (1/9/2026).

“Kepemimpinan BI sekarang akan mengubah posisi rupiah menjadi lebih stabil dan lebih kuat dari sebelumnya? Jawabnya sulit dan bahkan hampir tidak bisa. Sampai 5 tahun mendatang rupiah tetap tidak akan menguat, akan tetap lemah dan bahkan terus melemah,” kata Didik.

Menurut dia, pergantian gubernur BI tidak cukup untuk membalikkan tekanan moneter karena ada banyak faktor eksternal dan internal yang telah lama membebani rupiah.

BACA JUGA:  Rupiah Menguat Tajam Usai Prabowo Usulkan Destry Jadi Gubernur BI

Struktur Ekonomi Dinilai Jadi Biang Kerok

Didik menilai Indonesia memang memiliki pasar domestik besar, tetapi hal itu tidak otomatis membuat rupiah kuat karena struktur ekonomi nasional lemah pada sektor luar negeri.

“Namun dengan skala ekonomi besar tersebut, mata uangnya tidak pernah bisa menguat karena begitulah struktur ekonomi Indonesia terbentuk, lemah dalam sektor luar negerinya,” ujarnya.

Ia menilai instrumen suku bunga yang selama ini menjadi andalan BI juga memiliki keterbatasan untuk menopang nilai tukar dalam jangka panjang.

“Kebijakan konservatif yang sederhana hanya dengan instrumen suku bunga tidak akan menjadikan nilai tukar lebih kuat,” tutur Didik.

Menurut Didik, rupiah tetap rentan meski tanpa krisis karena arus devisa yang masuk masih lebih kecil dibanding kebutuhan dolar AS untuk impor, utang luar negeri, dan transaksi internasional.

Ia mencatat cadangan devisa Indonesia pada akhir Juli 2026 berada di kisaran 145,3 miliar dollar AS, masih tertinggal dibanding Singapura yang memiliki sekitar 426,2 miliar dollar AS dan Thailand sekitar 279,2 miliar dollar AS.

BACA JUGA:  Juda Agung Jadi Wamenkeu, Tekankan Sinergitas Fiskal-Moneter

Didik juga menilai orientasi ekonomi Indonesia terlalu berputar di pasar domestik dan belum cukup outward looking untuk mendatangkan devisa segar dari ekspor, investasi asing, dan sektor luar negeri lainnya.

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru