Acwa Arab Saudi–PT GARAM Siapkan Proyek Rp6,4 Triliun, Ubah Air Laut Gresik Jadi Air Bersih dan Garam Industri

SulawesiPos.com – Perusahaan infrastruktur air dan energi asal Arab Saudi, Acwa, bersama BUMN PT GARAM menandatangani Perjanjian Pengembangan Bersama atau Joint Development Agreement (JDA) di kantor Danantara, Jakarta, Rabu (12/8/2026), untuk menyiapkan fasilitas terpadu desalinasi air laut dan produksi garam industri pertama berskala utilitas di Indonesia senilai sekitar 400 juta dolar AS atau setara Rp6,4 triliun di Manyar, Gresik, Jawa Timur, dengan memanfaatkan teknologi seawater reverse osmosis agar menghasilkan air tawar sekaligus garam berkadar kemurnian tinggi.

Kesepakatan tersebut ditandatangani Direktur Utama PT GARAM Abraham Mose dan CEO PT Acwa Power Indonesia Tim Anderson serta disaksikan CEO Danantara sekaligus Menteri Investasi dan Hilirisasi Rosan Roeslani.

Berdasarkan keterangan resmi Acwa yang dipublikasikan pada 12 Agustus 2026, fasilitas itu dirancang berkapasitas sekitar 62.500 meter kubik air hasil desalinasi per hari dan 500.000 ton garam industri berkadar kemurnian tinggi per tahun.

Kapasitas air tersebut secara matematis mencapai sekitar 22,8 juta meter kubik per tahun apabila instalasi beroperasi penuh selama 365 hari, meskipun realisasi produksinya kelak akan dipengaruhi masa pemeliharaan, kebutuhan energi, kualitas air baku, dan tingkat utilisasi fasilitas.

BACA JUGA:  Bareskrim Bongkar Peredaran Whip Pink, Dijual lewat WhatsApp hingga Tempat Hiburan Malam

Proyek ini masih berada pada tahap pengembangan bersama sehingga jadwal konstruksi, penyelesaian studi kelayakan, keputusan investasi final, skema penyerapan produk, perizinan lingkungan, dan tanggal mulai beroperasi belum diumumkan.

Satu Pabrik Menjawab Dua Persoalan Strategis

Teknologi seawater reverse osmosis atau SWRO bekerja dengan memberikan tekanan tinggi untuk mendorong air laut melewati membran semipermeabel sehingga molekul air dapat dipisahkan dari garam dan berbagai zat terlarut.

Berbeda dari instalasi desalinasi konvensional yang umumnya memandang larutan garam pekat atau brine sebagai residu, rancangan di Gresik akan berusaha memulihkan garam industri sebagai produk pendamping bernilai ekonomi.

Integrasi tersebut diharapkan meningkatkan efisiensi pemanfaatan air laut, menyediakan pasokan air yang lebih stabil bagi kegiatan industri, dan memperbesar produksi garam domestik dengan spesifikasi yang dibutuhkan sektor manufaktur.

Garam industri berkadar tinggi merupakan bahan strategis bagi industri kimia dasar, klor-alkali, farmasi, kosmetik, pengolahan pangan, tekstil, pulp dan kertas, hingga pengeboran minyak.

BACA JUGA:  CCTV Soetta Rekam Aksi Pilot Malaysia Selundupkan 70 Ribu Butir Ekstasi, Modusnya Kelabui Petugas

CEO Acwa Samir J. Serhan mengatakan Indonesia merupakan pasar pertumbuhan penting bagi perusahaan dan proyek terpadu ini berpeluang memperkuat keamanan air sekaligus mendukung peningkatan produksi garam dalam negeri.

“Dengan menggabungkan keahlian kami dalam desalinasi air laut berskala besar dan produksi garam industri berkadar kemurnian tinggi, kami memiliki peluang menghadirkan solusi terpadu yang memperkuat keamanan air serta mendukung ambisi Indonesia meningkatkan produksi garam domestik,” kata Serhan.

Abraham Mose menyebut penandatanganan JDA sebagai tonggak penting dalam pembangunan industri garam Indonesia yang lebih modern, efisien, kompetitif, dan ditopang tenaga kerja nasional yang mampu mengoperasikan teknologi berskala dunia secara berkelanjutan.

Ketergantungan Impor dan Tantangan Kualitas

Acwa dalam pengumumannya menyatakan Indonesia mengimpor lebih dari empat juta ton garam industri setiap tahun dan memperkirakan kebutuhannya melampaui 7,7 juta ton pada 2028, tetapi angka perusahaan tersebut perlu dibaca sebagai proyeksi sektoral dan metodologinya tidak dijelaskan dalam siaran pers.

Sebagai pembanding, Kementerian Kelautan dan Perikanan menyebut kebutuhan garam nasional pada 2024 sekitar 4,8 juta ton dengan lebih dari 55 persen masih dipenuhi melalui impor, terutama garam industri berspesifikasi tinggi.

BACA JUGA:  Kebiasaannya di Makassar Terbawa ke Ibu Kota, Nina Zatulini Cerita Minder Pakai Mukenah saat War Takjil di Benhil

Perbedaan angka itu dapat berasal dari perbedaan tahun dasar, definisi kebutuhan, cakupan jenis garam, proyeksi pertumbuhan industri, serta penghitungan antara kebutuhan nasional dan volume impor aktual sehingga tidak semestinya diperlakukan sebagai data yang identik.

Pemerintah melalui Peraturan Presiden Nomor 17 Tahun 2025 tentang Percepatan Pembangunan Pergaraman Nasional menargetkan penguatan produksi dan kualitas garam domestik untuk memenuhi kebutuhan industri serta mengurangi ketergantungan terhadap pasokan luar negeri.

Jika mampu menghasilkan 500.000 ton per tahun sesuai rancangan, fasilitas Manyar akan memasok sekitar 10 persen dari kebutuhan nasional 2024 yang disebut KKP, tetapi kontribusi akhirnya tetap bergantung pada mutu produk, harga, kapasitas operasi, dan kesesuaiannya dengan spesifikasi pembeli.

Peluang Besar, Risiko Lingkungan Wajib Dijaga

Proyek ini direncanakan memakai skema Build-Own-Operate atau BOO melalui perusahaan proyek yang didirikan di Indonesia dengan pembiayaan terbatas atau tanpa jaminan langsung kepada sponsor karena pengembaliannya bertumpu pada arus kas proyek.

SulawesiPos.com – Perusahaan infrastruktur air dan energi asal Arab Saudi, Acwa, bersama BUMN PT GARAM menandatangani Perjanjian Pengembangan Bersama atau Joint Development Agreement (JDA) di kantor Danantara, Jakarta, Rabu (12/8/2026), untuk menyiapkan fasilitas terpadu desalinasi air laut dan produksi garam industri pertama berskala utilitas di Indonesia senilai sekitar 400 juta dolar AS atau setara Rp6,4 triliun di Manyar, Gresik, Jawa Timur, dengan memanfaatkan teknologi seawater reverse osmosis agar menghasilkan air tawar sekaligus garam berkadar kemurnian tinggi.

Kesepakatan tersebut ditandatangani Direktur Utama PT GARAM Abraham Mose dan CEO PT Acwa Power Indonesia Tim Anderson serta disaksikan CEO Danantara sekaligus Menteri Investasi dan Hilirisasi Rosan Roeslani.

Berdasarkan keterangan resmi Acwa yang dipublikasikan pada 12 Agustus 2026, fasilitas itu dirancang berkapasitas sekitar 62.500 meter kubik air hasil desalinasi per hari dan 500.000 ton garam industri berkadar kemurnian tinggi per tahun.

Kapasitas air tersebut secara matematis mencapai sekitar 22,8 juta meter kubik per tahun apabila instalasi beroperasi penuh selama 365 hari, meskipun realisasi produksinya kelak akan dipengaruhi masa pemeliharaan, kebutuhan energi, kualitas air baku, dan tingkat utilisasi fasilitas.

BACA JUGA:  4 Perusahaan Milik Don Ritto Digeledah Kejagung di Kasus TPPU Febrie, Rumah Tersangka NH Ikut Disasar

Proyek ini masih berada pada tahap pengembangan bersama sehingga jadwal konstruksi, penyelesaian studi kelayakan, keputusan investasi final, skema penyerapan produk, perizinan lingkungan, dan tanggal mulai beroperasi belum diumumkan.

Satu Pabrik Menjawab Dua Persoalan Strategis

Teknologi seawater reverse osmosis atau SWRO bekerja dengan memberikan tekanan tinggi untuk mendorong air laut melewati membran semipermeabel sehingga molekul air dapat dipisahkan dari garam dan berbagai zat terlarut.

Berbeda dari instalasi desalinasi konvensional yang umumnya memandang larutan garam pekat atau brine sebagai residu, rancangan di Gresik akan berusaha memulihkan garam industri sebagai produk pendamping bernilai ekonomi.

Integrasi tersebut diharapkan meningkatkan efisiensi pemanfaatan air laut, menyediakan pasokan air yang lebih stabil bagi kegiatan industri, dan memperbesar produksi garam domestik dengan spesifikasi yang dibutuhkan sektor manufaktur.

Garam industri berkadar tinggi merupakan bahan strategis bagi industri kimia dasar, klor-alkali, farmasi, kosmetik, pengolahan pangan, tekstil, pulp dan kertas, hingga pengeboran minyak.

BACA JUGA:  CCTV Soetta Rekam Aksi Pilot Malaysia Selundupkan 70 Ribu Butir Ekstasi, Modusnya Kelabui Petugas

CEO Acwa Samir J. Serhan mengatakan Indonesia merupakan pasar pertumbuhan penting bagi perusahaan dan proyek terpadu ini berpeluang memperkuat keamanan air sekaligus mendukung peningkatan produksi garam dalam negeri.

“Dengan menggabungkan keahlian kami dalam desalinasi air laut berskala besar dan produksi garam industri berkadar kemurnian tinggi, kami memiliki peluang menghadirkan solusi terpadu yang memperkuat keamanan air serta mendukung ambisi Indonesia meningkatkan produksi garam domestik,” kata Serhan.

Abraham Mose menyebut penandatanganan JDA sebagai tonggak penting dalam pembangunan industri garam Indonesia yang lebih modern, efisien, kompetitif, dan ditopang tenaga kerja nasional yang mampu mengoperasikan teknologi berskala dunia secara berkelanjutan.

Ketergantungan Impor dan Tantangan Kualitas

Acwa dalam pengumumannya menyatakan Indonesia mengimpor lebih dari empat juta ton garam industri setiap tahun dan memperkirakan kebutuhannya melampaui 7,7 juta ton pada 2028, tetapi angka perusahaan tersebut perlu dibaca sebagai proyeksi sektoral dan metodologinya tidak dijelaskan dalam siaran pers.

Sebagai pembanding, Kementerian Kelautan dan Perikanan menyebut kebutuhan garam nasional pada 2024 sekitar 4,8 juta ton dengan lebih dari 55 persen masih dipenuhi melalui impor, terutama garam industri berspesifikasi tinggi.

BACA JUGA:  Tur Pulang Kampung Veda Pratama: Dari Meet and Greet di Jakarta, Sowan ke Sri Sultan di Yogya, Pelesir ke Bali, hingga 90 Lap di Mandalika

Perbedaan angka itu dapat berasal dari perbedaan tahun dasar, definisi kebutuhan, cakupan jenis garam, proyeksi pertumbuhan industri, serta penghitungan antara kebutuhan nasional dan volume impor aktual sehingga tidak semestinya diperlakukan sebagai data yang identik.

Pemerintah melalui Peraturan Presiden Nomor 17 Tahun 2025 tentang Percepatan Pembangunan Pergaraman Nasional menargetkan penguatan produksi dan kualitas garam domestik untuk memenuhi kebutuhan industri serta mengurangi ketergantungan terhadap pasokan luar negeri.

Jika mampu menghasilkan 500.000 ton per tahun sesuai rancangan, fasilitas Manyar akan memasok sekitar 10 persen dari kebutuhan nasional 2024 yang disebut KKP, tetapi kontribusi akhirnya tetap bergantung pada mutu produk, harga, kapasitas operasi, dan kesesuaiannya dengan spesifikasi pembeli.

Peluang Besar, Risiko Lingkungan Wajib Dijaga

Proyek ini direncanakan memakai skema Build-Own-Operate atau BOO melalui perusahaan proyek yang didirikan di Indonesia dengan pembiayaan terbatas atau tanpa jaminan langsung kepada sponsor karena pengembaliannya bertumpu pada arus kas proyek.

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru