SulawesiPos.com – Pesona pesisir Desa Angkue, Kecamatan Kajuara, Kabupaten Bone, mulai mendapat perhatian lebih luas.
Perpaduan budaya maritim, kampung nelayan, kawasan mangrove dan tradisi masyarakat pesisir menjadi potensi yang diyakini dapat dikembangkan sebagai destinasi wisata baru di Bone Selatan.
Potensi tersebut mengemuka dalam Festival Budaya Maritim Lampu’ Toae Zona ke-6 Gau’ Maraja 2026 yang digelar di Kampung Nelayan Merah Putih, Desa Angkue.
Festival yang mengangkat tema “Revitalisasi Kearifan Lokal sebagai Upaya Penguatan Identitas Masyarakat Pesisir Bone” ini dibuka secara resmi oleh Wakil Bupati Bone, Dr. H. Andi Akmal Pasluddin, S.P., M.M.
Bukan sekadar festival budaya, Lampu’ Toae menjadi panggung untuk memperkenalkan wajah lain Kabupaten Bone—wajah pesisir yang menyimpan kekayaan sejarah, tradisi, ekosistem mangrove dan kehidupan masyarakat nelayan.
Di kawasan ini, potensi wisata tidak hanya bertumpu pada panorama alam. Budaya masyarakat pesisir, Kampung Nelayan Merah Putih, pelabuhan, hingga kawasan mangrove menjadi satu kesatuan yang dapat dikembangkan menjadi pengalaman wisata yang khas.
Angkue pun mulai dilirik sebagai salah satu calon destinasi wisata pesisir Bone.
Wakil Bupati Bone Andi Akmal Pasluddin mengatakan, potensi tersebut perlu dikelola secara serius agar memberikan manfaat ekonomi langsung bagi masyarakat.
Menurutnya, masyarakat tidak harus hanya bergantung pada sektor penangkapan ikan. Potensi alam dan lingkungan yang dimiliki Desa Angkue dapat dikembangkan menjadi sumber ekonomi baru melalui sektor pariwisata.
“Ke depan, kita tidak hanya bergantung pada penangkapan ikan laut. Bagaimana kita memaksimalkan potensi yang ada di desa ini untuk ekonomi masyarakat,” ujar Andi Akmal, Selasa (29/9/2026).
Salah satu potensi yang menjadi perhatian adalah kawasan mangrove.
Pemerintah Kabupaten Bone bahkan membuka peluang untuk mendorong rintisan pengembangan wisata mangrove di Angkue pada tahun mendatang.
“Insyaallah tahun depan kita coba membuat rintisan untuk mangrove di Desa Angkue ini. Kita lihat potensinya dan kita berikan dorongan anggaran dari APBD Kabupaten Bone,” katanya.
Mangrove, Budaya dan Laut Jadi Satu Paket Wisata
Dukungan terhadap kelestarian lingkungan juga menjadi bagian dari festival. Yayasan Lontara Hijau turut memberikan 1.000 bibit mangrove serta 2.000 bibit pohon dan buah untuk ditanam dan dikembangkan di kawasan tersebut.
Penyerahan bibit mangrove secara simbolis dilakukan dalam rangkaian kegiatan festival.
Langkah tersebut menjadi modal penting untuk menjaga ekosistem pesisir sekaligus membuka peluang pengembangan wisata berbasis lingkungan.
Jika dikelola secara berkelanjutan, kawasan mangrove Angkue berpotensi menjadi ruang edukasi lingkungan, lokasi rekreasi keluarga hingga destinasi wisata berbasis alam yang melibatkan masyarakat lokal.
Bagi wisatawan, pengalaman yang ditawarkan bukan sekadar menikmati pemandangan. Ada cerita budaya, kehidupan nelayan, tradisi lokal dan ekosistem pesisir yang dapat menjadi daya tarik tersendiri.
Lampu’ Toae, Merawat Cerita dari Pesisir Bone
Festival Maritim Lampu’ Toae sendiri diselenggarakan oleh Pemerhati Seni dan Budaya Bone (PSBB) Sangdara Periode 2025–2026, melalui fasilitasi pemajuan kebudayaan dari Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan dan Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah IX Sulawesi Selatan.
Ketua PSBB Bone Sangdara, Wiwin Wahyuni, S.Tr.AB., mengatakan pemilihan Lampu’ Toae sebagai lokasi festival menjadi bagian dari upaya memperkenalkan kembali kekayaan sejarah dan budaya yang ada di wilayah Kajuara.
Ia berharap generasi muda tidak hanya menjadi penonton, tetapi ikut mengenal, merawat, dan meneruskan warisan budaya tersebut.
Suasana festival semakin semarak dengan pembentangan Bendera Merah Putih sepanjang 100 meter oleh masyarakat. Simbol tersebut menjadi pesan tentang persatuan sekaligus semangat bersama dalam menjaga budaya, lingkungan dan daerah.
Perwakilan Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah IX Sulawesi Selatan, Iswadi, S.S., M.A., juga menegaskan pentingnya kolaborasi antara pemerintah, komunitas budaya dan masyarakat dalam pemajuan kebudayaan.
Dari Festival Menuju Destinasi
Andi Akmal berharap Festival Lampu’ Toae tidak berhenti sebagai agenda tahunan atau kegiatan seremonial.
Menurutnya, festival budaya dapat menjadi pintu masuk untuk memperkenalkan potensi daerah sekaligus menggerakkan ekonomi masyarakat.
Desa Angkue memiliki sejumlah modal yang dapat dirangkai menjadi satu kawasan wisata, mulai dari Kampung Nelayan Merah Putih, mangrove, pelabuhan hingga kekayaan budaya masyarakat pesisir.
Jika dikembangkan secara konsisten, kawasan tersebut dapat menjadi salah satu pilihan baru bagi wisatawan yang ingin menikmati suasana pesisir Bone sekaligus mengenal lebih dekat kehidupan masyarakat nelayan dan budaya lokal. (kar)


