Trump Batalkan Serangan Houthi, Dosen UB Nilai Risiko Perang Baru Jadi Pertimbangan

SulawesiPos.com – Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada Minggu (20/9/2026), menunda serangan udara terhadap kelompok Houthi atau Ansar Allah di Yaman ketika daftar sasaran telah disetujui dan bom mulai dimuat ke pesawat tempur.

Hal ini dilakukan karena membantu Arab Saudi berisiko menyeret Washington ke medan perang baru, sedangkan menolak permintaan Riyadh dapat melemahkan dukungan sekutu penting Amerika dalam menghadapi Iran.

Keputusan tersebut pertama kali dilaporkan The New York Times melalui tulisan Helene Cooper, Eric Roston, Jonathan Swan, dan Maggie Haberman, kemudian diterbitkan kembali oleh The Japan Times pada Senin (21/9/2026).

Jurnalis SulawesiPos.com menghubungi Yusli Effendi, S.IP., M.A., Dosen Departemen Hubungan Internasional FISIP Universitas Brawijaya sekaligus Direktur Brawijaya Institute for Islamic Civilization and Middle East Studies (BICMES), pada Selasa (22/9/2026), untuk menganalisis dilema geopolitik di balik keputusan Trump.

Menurut Yusli, peristiwa tersebut merupakan gambaran hampir sempurna mengenai alliance security dilemma atau dilema keamanan dalam hubungan persekutuan.

“Patron, dalam hal ini Amerika Serikat, terjebak antara risiko abandonment, yaitu ditinggalkan mitra jika tidak membantu, dan risiko entrapment, yakni terseret ke dalam konflik yang sebenarnya tidak diinginkan jika memenuhi permintaan sekutunya,” kata Yusli.

Konsep yang dikembangkan dalam studi politik aliansi itu menjelaskan bahwa usaha mengurangi risiko ditinggalkan sekutu dapat memperbesar kemungkinan suatu negara terperangkap dalam perang sekutunya, sedangkan upaya menghindari perang dapat menimbulkan keraguan atas kredibilitas komitmen pertahanan.

Trump mengerem serangan saat tekanan Saudi–Houthi mengancam dua nadi energi dan stabilitas dunia global (Dok. Ilustrasi)
Trump mengerem serangan saat tekanan Saudi–Houthi mengancam dua nadi energi dan stabilitas dunia global (Dok. Ilustrasi)

Bom Siap, Perintah Tak Pernah Datang

Trump selama hampir dua pekan dilaporkan maju-mundur dalam menanggapi permintaan Riyadh agar Washington membantu membendung kemajuan Houthi di Yaman dan sekitar Laut Merah.

Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman menelepon Trump pada Kamis dan kembali meminta Amerika turun tangan membantu pasukan pemerintah Yaman yang didukung Riyadh.

Sehari sebelumnya, Trump mengatakan kepada para penasihatnya bahwa dirinya tidak mendukung serangan terhadap Houthi karena militer Amerika telah menghadapi tekanan besar akibat konflik dengan Iran.

Namun, setelah berbicara dengan Mohammed bin Salman, Trump berubah pikiran dan menginstruksikan Pentagon mempersiapkan serangan udara terhadap sejumlah posisi Houthi.

Dua sumber yang mengetahui rencana tersebut mengatakan komandan militer telah menyetujui daftar sasaran dan personel mulai memasang bom pada pesawat tempur yang dipilih untuk menjalankan misi.

Trump kemudian kembali mengerem sebelum serangan dimulai, sehingga sampai Minggu siang tidak ada bom Amerika yang dijatuhkan ke Yaman.

“Pesawat tempur siap, bom sudah terpasang, dan target telah disetujui, tetapi tinggal satu perintah yang justru dibatalkan Trump pada menit terakhir,” ujar Yusli.

Menurut dia, perubahan keputusan tersebut bukan sekadar keraguan pribadi seorang presiden, melainkan gambaran dua pilihan strategis yang sama-sama mengandung risiko besar.

Reuters pada Senin (21/9/2026) juga melaporkan bahwa Trump tidak memberikan komitmen bantuan militer langsung ketika berbicara dengan Ketua Dewan Kepemimpinan Presiden Yaman Rashad al-Alimi mengenai kemajuan Houthi di dekat Bab el-Mandeb.

BACA JUGA:  Trump Klaim Iran Beri “Hadiah” Minyak dan Gas, Terkait Negosiasi untuk Akhiri Konflik

Takut Ditinggalkan atau Terperangkap

Jika Amerika menyerang Houthi, Washington berisiko menghancurkan kesepakatan tidak resmi yang selama ini membuat kelompok tersebut menghindari serangan terhadap kapal-kapal Amerika.

Trump sebelumnya mengatakan Amerika terus berkomunikasi dengan Houthi dan kelompok itu telah berjanji tidak menyerang kepentingan Washington.

Pejabat senior Houthi, Mohammed al-Bukhaiti, juga mengatakan kepada Associated Press bahwa kelompoknya tidak berniat menyerang kapal Amerika selama Washington tidak bergabung dalam perang Saudi.

Sebaliknya, jika Amerika menolak membantu, Arab Saudi dapat meragukan komitmen keamanan Washington dan menggunakan akses wilayah udara, pangkalan, logistik, maupun kerja sama intelijen sebagai alat tawar.

“Trump memilih menunda, bukan menyelesaikan dilema, karena menyerang dapat memancing Houthi kembali membidik Amerika, tetapi berdiam diri dapat membuat Saudi merasa ditinggalkan,” kata Yusli.

Kekuatan tawar Riyadh pernah terlihat pada Mei 2026 ketika Saudi menolak penggunaan wilayah udara dan pangkalan militernya bagi rencana Washington mengawal kapal tanker komersial melewati Selat Hormuz.

Menurut Yusli, pola pengambilan keputusan melalui komunikasi langsung Trump dengan Mohammed bin Salman juga menimbulkan persoalan mengenai kepastian kebijakan luar negeri Amerika.

“Keputusan besar kembali sangat dipengaruhi telepon pribadi Trump dengan MBS, bukan proses pemerintahan yang matang, sehingga sekutu Amerika semakin sulit memastikan sejauh mana Washington benar-benar akan membela mereka,” ujarnya.

Houthi Memainkan Strategi Selektif

Yusli menilai keputusan Houthi menghindari kapal Amerika sambil terus menyerang sasaran Saudi bukanlah suatu kebetulan, melainkan pilihan strategis untuk membatasi jumlah lawan yang harus dihadapi secara bersamaan.

“Houthi memahami bahwa menyerang Amerika akan memancing pembalasan besar, sedangkan tekanan terhadap Saudi masih dapat dijalankan tanpa secara otomatis membuka perang langsung dengan Washington,” katanya.

Strategi tersebut memungkinkan Houthi mempertahankan tekanan terhadap Riyadh sekaligus memperbesar perbedaan kepentingan antara Amerika dan sekutu Teluknya.

Washington berkepentingan menjaga keamanan pelayaran dan mencegah Iran memperluas pengaruhnya, tetapi tidak ingin kembali terlibat dalam kampanye militer panjang yang mahal dan belum tentu menghasilkan kemenangan.

Arab Saudi, sebaliknya, menghadapi ancaman langsung dari rudal, drone, kemajuan pasukan Houthi, serta gangguan terhadap pelabuhan dan infrastruktur energinya.

Perbedaan tingkat ancaman itulah yang membuat Riyadh menginginkan tindakan militer lebih keras, sementara Washington masih menghitung biaya dan risiko perluasan perang.

Seribu Sasaran Tak Menundukkan Houthi

Keraguan Amerika juga berakar pada pengalaman kampanye udara sebelumnya yang tidak berhasil menghilangkan kemampuan tempur Houthi.

Pada musim semi 2025, militer Amerika membombardir Yaman selama lebih dari 50 hari untuk menghentikan serangan terhadap pelayaran komersial dan kapal Angkatan Laut Amerika.

Komando Pusat Amerika Serikat atau CENTCOM menyerang lebih dari 1.000 sasaran, termasuk radar, pertahanan udara, posisi rudal balistik, lokasi peluncuran drone, dan fasilitas produksi pesawat nirawak di sekitar Sanaa.

BACA JUGA:  Muhammadiyah Kirim Surat ke Presiden, Minta Penundaan Keanggotaan Tetap di Board of Peace

Namun, Houthi tetap mampu menembak jatuh sejumlah drone Amerika dan melancarkan serangan ke arah kapal perang, termasuk sebuah kapal induk.

Operasi tersebut menghabiskan persenjataan dan amunisi sekitar 1 miliar dolar AS hanya dalam bulan pertama, belum termasuk hilangnya dua pesawat F/A-18 Super Hornet dalam insiden terpisah di kapal induk.

“Pengalaman 2025 menunjukkan bahwa Amerika tidak memiliki cara yang murah untuk mengalahkan Houthi, sementara kemampuan kelompok itu untuk menyerap serangan dan membangun kembali kekuatannya sangat tinggi,” ujar Yusli.

Kurang dari dua bulan setelah kampanye dimulai, Trump mengumumkan gencatan senjata setelah Houthi berjanji menghentikan serangan terhadap kapal Amerika.

Menurut Yusli, memulai kembali pemboman berarti mempertaruhkan kesepakatan yang telah mengurangi ancaman langsung terhadap personel dan armada Amerika.

Koalisi Anti-Houthi Rapuh

Jika Washington memutuskan bergabung, serangan udara Amerika diperkirakan akan mendukung operasi darat pasukan pemerintah Yaman yang disokong Arab Saudi.

Masalahnya, kekuatan anti-Houthi terdiri atas berbagai kelompok dengan kepentingan, wilayah kekuasaan, sponsor, dan gambaran masa depan Yaman yang berbeda.

Gregory Johnsen dari Arab Gulf States Institute di Washington menggambarkan koalisi tersebut sebagai “Frankenstein” yang tersusun dari kelompok-kelompok sisa di Yaman.

Menurut Johnsen, sejumlah kelompok anti-Houthi justru lebih sering bersaing satu sama lain daripada membangun kekuatan terpadu menghadapi lawan bersama.

Yusli menilai perpecahan tersebut membuat serangan udara tidak mudah diterjemahkan menjadi kemenangan politik maupun penguasaan wilayah di darat.

“Saudi tidak sanggup menyelesaikannya sendirian, Amerika tidak ingin terperangkap, sedangkan koalisi anti-Houthi tidak memiliki persatuan yang cukup untuk mengubah keunggulan udara menjadi hasil politik permanen,” katanya.

AI dan Perang Berbiaya Tidak Seimbang

Sejumlah pejabat aktif dan mantan pejabat Amerika menyebut Houthi mulai menggunakan kecerdasan buatan untuk membantu merancang dan merekayasa jenis rudal baru.

Yusli mengingatkan klaim tersebut belum diverifikasi secara independen, sehingga tidak boleh diperlakukan sebagai fakta yang telah terbukti.

Namun, penggunaan perangkat lunak, simulasi, navigasi digital, dan pemrosesan data dalam konflik modern tetap menunjukkan bagaimana aktor nonnegara dapat memperkecil kesenjangan kemampuan dengan militer negara besar.

Pola perang asimetris menciptakan ketimpangan biaya karena drone atau rudal berbiaya relatif murah dapat memaksa lawan menembakkan sistem pencegat bernilai jutaan dolar.

Keadaan tersebut menjadikan pemboman konvensional sulit menghasilkan kemenangan permanen, sebab fasilitas produksi dapat dipindahkan, disamarkan, diperkecil, atau dibangun kembali di kawasan pegunungan.

Dua Nadi Energi Dunia Terancam

Perang Yaman bukan semata persoalan Timur Tengah karena kawasan itu berada di dekat Selat Bab el-Mandeb, jalur yang menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden dan Samudra Hindia.

Data U.S. Energy Information Administration menunjukkan sekitar 4,2 juta barel minyak dan produk minyak per hari melewati Bab el-Mandeb pada semester pertama 2025, sedangkan sekitar 20,9 juta barel per hari melintasi Hormuz pada periode yang sama.

BACA JUGA:  Eskalasi Konflik Iran–AS Menguat, Trump Prediksi Korban Bertambah, Ulama Syiah Serukan Jihad Global

Reuters pada 21 September 2026 melaporkan lalu lintas kapal komoditas melalui Hormuz pada akhir pekan turun jauh dibandingkan kondisi sebelum perang, sementara aktivitas pelayaran di Bab el-Mandeb juga melemah.

Tidak terlihat pemuatan minyak mentah dari Pelabuhan Yanbu di pesisir Laut Merah Saudi sejak 16 September, sedangkan gangguan terhadap jalur pipa East-West mendorong Aramco meningkatkan pengiriman melalui Hormuz.

“Jika Bab el-Mandeb terganggu pada saat Hormuz juga tidak stabil, dunia menghadapi tekanan pada dua pintu energi sekaligus,” ujar Yusli.

Kapal yang menghindari Laut Merah harus memutar melalui Tanjung Harapan di Afrika Selatan, sehingga perjalanan menjadi lebih panjang, kebutuhan bahan bakar bertambah, premi asuransi meningkat, dan tarif angkutan membengkak.

Dampaknya Menjangkau Dapur Indonesia

Menurut Yusli, masyarakat Indonesia tidak boleh menganggap konflik tersebut sebagai peristiwa jauh tanpa hubungan dengan kehidupan sehari-hari.

Gangguan pasokan dan kenaikan ongkos angkut dapat memengaruhi harga minyak mentah, BBM, pangan, pupuk, listrik, tiket transportasi, dan barang impor.

Sebagai negara pengimpor bersih minyak, Indonesia juga dapat menghadapi tambahan beban subsidi energi, tekanan terhadap anggaran negara, dan pelebaran defisit perdagangan migas.

Biaya pengiriman dari Eropa dan kawasan Mediterania berpotensi naik jika kapal harus menghindari Terusan Suez dan memutar melalui Afrika Selatan.

“Efeknya bisa sampai ke dapur rumah tangga Indonesia melalui kenaikan harga BBM, membengkaknya subsidi energi, dan bertambah mahalnya biaya logistik,” kata Yusli.

Trump Menunda Kekalahan, Bukan Menyelesaikan Masalah

Yusli menilai keputusan Trump tidak dapat disebut kemenangan diplomatik karena akar konfliknya masih tetap ada.

“Sederhananya, Trump tidak sedang menang dengan menunda serangan ini; ia sedang menunda kekalahan karena masalah dasarnya belum selesai,” ujarnya.

Amerika tidak mempunyai pilihan militer murah, Saudi tidak mampu menundukkan Houthi sendirian, sedangkan Houthi memperoleh keuntungan strategis selama ketidakpastian terus berlangsung.

Jika Amerika menyerang, Washington berisiko kembali menjadi sasaran dan membuka front baru di tengah konflik dengan Iran.

Jika Amerika terus menolak, kredibilitas jaminan keamanan Washington di mata Saudi dan sekutu Teluk lainnya dapat semakin melemah.

Jalan keluar yang lebih rasional adalah menghidupkan kembali mediasi Oman dan PBB, membangun gencatan senjata lintas perbatasan, menjamin keamanan pelayaran, serta menghubungkan penghentian serangan Houthi dengan penghentian serangan udara dan pembukaan akses kemanusiaan.

Perundingan juga harus melibatkan kekuatan-kekuatan Yaman yang selama ini terpecah agar penyelesaian konflik tidak semata-mata menjadi kesepakatan antara kekuatan asing.

“Bom yang batal dijatuhkan ini bukan akhir cerita, melainkan jeda sebelum babak berikutnya, kecuali seluruh pihak mengubah logika perang menjadi proses politik yang dapat menjamin keamanan Saudi sekaligus mengakui realitas kekuatan Houthi di Yaman,” kata Yusli. (Ali)

SulawesiPos.com – Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada Minggu (20/9/2026), menunda serangan udara terhadap kelompok Houthi atau Ansar Allah di Yaman ketika daftar sasaran telah disetujui dan bom mulai dimuat ke pesawat tempur.

Hal ini dilakukan karena membantu Arab Saudi berisiko menyeret Washington ke medan perang baru, sedangkan menolak permintaan Riyadh dapat melemahkan dukungan sekutu penting Amerika dalam menghadapi Iran.

Keputusan tersebut pertama kali dilaporkan The New York Times melalui tulisan Helene Cooper, Eric Roston, Jonathan Swan, dan Maggie Haberman, kemudian diterbitkan kembali oleh The Japan Times pada Senin (21/9/2026).

Jurnalis SulawesiPos.com menghubungi Yusli Effendi, S.IP., M.A., Dosen Departemen Hubungan Internasional FISIP Universitas Brawijaya sekaligus Direktur Brawijaya Institute for Islamic Civilization and Middle East Studies (BICMES), pada Selasa (22/9/2026), untuk menganalisis dilema geopolitik di balik keputusan Trump.

Menurut Yusli, peristiwa tersebut merupakan gambaran hampir sempurna mengenai alliance security dilemma atau dilema keamanan dalam hubungan persekutuan.

“Patron, dalam hal ini Amerika Serikat, terjebak antara risiko abandonment, yaitu ditinggalkan mitra jika tidak membantu, dan risiko entrapment, yakni terseret ke dalam konflik yang sebenarnya tidak diinginkan jika memenuhi permintaan sekutunya,” kata Yusli.

Konsep yang dikembangkan dalam studi politik aliansi itu menjelaskan bahwa usaha mengurangi risiko ditinggalkan sekutu dapat memperbesar kemungkinan suatu negara terperangkap dalam perang sekutunya, sedangkan upaya menghindari perang dapat menimbulkan keraguan atas kredibilitas komitmen pertahanan.

Trump mengerem serangan saat tekanan Saudi–Houthi mengancam dua nadi energi dan stabilitas dunia global (Dok. Ilustrasi)
Trump mengerem serangan saat tekanan Saudi–Houthi mengancam dua nadi energi dan stabilitas dunia global (Dok. Ilustrasi)

Bom Siap, Perintah Tak Pernah Datang

Trump selama hampir dua pekan dilaporkan maju-mundur dalam menanggapi permintaan Riyadh agar Washington membantu membendung kemajuan Houthi di Yaman dan sekitar Laut Merah.

Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman menelepon Trump pada Kamis dan kembali meminta Amerika turun tangan membantu pasukan pemerintah Yaman yang didukung Riyadh.

Sehari sebelumnya, Trump mengatakan kepada para penasihatnya bahwa dirinya tidak mendukung serangan terhadap Houthi karena militer Amerika telah menghadapi tekanan besar akibat konflik dengan Iran.

Namun, setelah berbicara dengan Mohammed bin Salman, Trump berubah pikiran dan menginstruksikan Pentagon mempersiapkan serangan udara terhadap sejumlah posisi Houthi.

Dua sumber yang mengetahui rencana tersebut mengatakan komandan militer telah menyetujui daftar sasaran dan personel mulai memasang bom pada pesawat tempur yang dipilih untuk menjalankan misi.

Trump kemudian kembali mengerem sebelum serangan dimulai, sehingga sampai Minggu siang tidak ada bom Amerika yang dijatuhkan ke Yaman.

“Pesawat tempur siap, bom sudah terpasang, dan target telah disetujui, tetapi tinggal satu perintah yang justru dibatalkan Trump pada menit terakhir,” ujar Yusli.

Menurut dia, perubahan keputusan tersebut bukan sekadar keraguan pribadi seorang presiden, melainkan gambaran dua pilihan strategis yang sama-sama mengandung risiko besar.

Reuters pada Senin (21/9/2026) juga melaporkan bahwa Trump tidak memberikan komitmen bantuan militer langsung ketika berbicara dengan Ketua Dewan Kepemimpinan Presiden Yaman Rashad al-Alimi mengenai kemajuan Houthi di dekat Bab el-Mandeb.

BACA JUGA:  Trump Klaim Iran Beri “Hadiah” Minyak dan Gas, Terkait Negosiasi untuk Akhiri Konflik

Takut Ditinggalkan atau Terperangkap

Jika Amerika menyerang Houthi, Washington berisiko menghancurkan kesepakatan tidak resmi yang selama ini membuat kelompok tersebut menghindari serangan terhadap kapal-kapal Amerika.

Trump sebelumnya mengatakan Amerika terus berkomunikasi dengan Houthi dan kelompok itu telah berjanji tidak menyerang kepentingan Washington.

Pejabat senior Houthi, Mohammed al-Bukhaiti, juga mengatakan kepada Associated Press bahwa kelompoknya tidak berniat menyerang kapal Amerika selama Washington tidak bergabung dalam perang Saudi.

Sebaliknya, jika Amerika menolak membantu, Arab Saudi dapat meragukan komitmen keamanan Washington dan menggunakan akses wilayah udara, pangkalan, logistik, maupun kerja sama intelijen sebagai alat tawar.

“Trump memilih menunda, bukan menyelesaikan dilema, karena menyerang dapat memancing Houthi kembali membidik Amerika, tetapi berdiam diri dapat membuat Saudi merasa ditinggalkan,” kata Yusli.

Kekuatan tawar Riyadh pernah terlihat pada Mei 2026 ketika Saudi menolak penggunaan wilayah udara dan pangkalan militernya bagi rencana Washington mengawal kapal tanker komersial melewati Selat Hormuz.

Menurut Yusli, pola pengambilan keputusan melalui komunikasi langsung Trump dengan Mohammed bin Salman juga menimbulkan persoalan mengenai kepastian kebijakan luar negeri Amerika.

“Keputusan besar kembali sangat dipengaruhi telepon pribadi Trump dengan MBS, bukan proses pemerintahan yang matang, sehingga sekutu Amerika semakin sulit memastikan sejauh mana Washington benar-benar akan membela mereka,” ujarnya.

Houthi Memainkan Strategi Selektif

Yusli menilai keputusan Houthi menghindari kapal Amerika sambil terus menyerang sasaran Saudi bukanlah suatu kebetulan, melainkan pilihan strategis untuk membatasi jumlah lawan yang harus dihadapi secara bersamaan.

“Houthi memahami bahwa menyerang Amerika akan memancing pembalasan besar, sedangkan tekanan terhadap Saudi masih dapat dijalankan tanpa secara otomatis membuka perang langsung dengan Washington,” katanya.

Strategi tersebut memungkinkan Houthi mempertahankan tekanan terhadap Riyadh sekaligus memperbesar perbedaan kepentingan antara Amerika dan sekutu Teluknya.

Washington berkepentingan menjaga keamanan pelayaran dan mencegah Iran memperluas pengaruhnya, tetapi tidak ingin kembali terlibat dalam kampanye militer panjang yang mahal dan belum tentu menghasilkan kemenangan.

Arab Saudi, sebaliknya, menghadapi ancaman langsung dari rudal, drone, kemajuan pasukan Houthi, serta gangguan terhadap pelabuhan dan infrastruktur energinya.

Perbedaan tingkat ancaman itulah yang membuat Riyadh menginginkan tindakan militer lebih keras, sementara Washington masih menghitung biaya dan risiko perluasan perang.

Seribu Sasaran Tak Menundukkan Houthi

Keraguan Amerika juga berakar pada pengalaman kampanye udara sebelumnya yang tidak berhasil menghilangkan kemampuan tempur Houthi.

Pada musim semi 2025, militer Amerika membombardir Yaman selama lebih dari 50 hari untuk menghentikan serangan terhadap pelayaran komersial dan kapal Angkatan Laut Amerika.

Komando Pusat Amerika Serikat atau CENTCOM menyerang lebih dari 1.000 sasaran, termasuk radar, pertahanan udara, posisi rudal balistik, lokasi peluncuran drone, dan fasilitas produksi pesawat nirawak di sekitar Sanaa.

BACA JUGA:  Trump–Netanyahu Siapkan Agenda Iran, Tepi Barat Memanas: Diplomasi Washington Berpacu dengan Eskalasi Militer Israel

Namun, Houthi tetap mampu menembak jatuh sejumlah drone Amerika dan melancarkan serangan ke arah kapal perang, termasuk sebuah kapal induk.

Operasi tersebut menghabiskan persenjataan dan amunisi sekitar 1 miliar dolar AS hanya dalam bulan pertama, belum termasuk hilangnya dua pesawat F/A-18 Super Hornet dalam insiden terpisah di kapal induk.

“Pengalaman 2025 menunjukkan bahwa Amerika tidak memiliki cara yang murah untuk mengalahkan Houthi, sementara kemampuan kelompok itu untuk menyerap serangan dan membangun kembali kekuatannya sangat tinggi,” ujar Yusli.

Kurang dari dua bulan setelah kampanye dimulai, Trump mengumumkan gencatan senjata setelah Houthi berjanji menghentikan serangan terhadap kapal Amerika.

Menurut Yusli, memulai kembali pemboman berarti mempertaruhkan kesepakatan yang telah mengurangi ancaman langsung terhadap personel dan armada Amerika.

Koalisi Anti-Houthi Rapuh

Jika Washington memutuskan bergabung, serangan udara Amerika diperkirakan akan mendukung operasi darat pasukan pemerintah Yaman yang disokong Arab Saudi.

Masalahnya, kekuatan anti-Houthi terdiri atas berbagai kelompok dengan kepentingan, wilayah kekuasaan, sponsor, dan gambaran masa depan Yaman yang berbeda.

Gregory Johnsen dari Arab Gulf States Institute di Washington menggambarkan koalisi tersebut sebagai “Frankenstein” yang tersusun dari kelompok-kelompok sisa di Yaman.

Menurut Johnsen, sejumlah kelompok anti-Houthi justru lebih sering bersaing satu sama lain daripada membangun kekuatan terpadu menghadapi lawan bersama.

Yusli menilai perpecahan tersebut membuat serangan udara tidak mudah diterjemahkan menjadi kemenangan politik maupun penguasaan wilayah di darat.

“Saudi tidak sanggup menyelesaikannya sendirian, Amerika tidak ingin terperangkap, sedangkan koalisi anti-Houthi tidak memiliki persatuan yang cukup untuk mengubah keunggulan udara menjadi hasil politik permanen,” katanya.

AI dan Perang Berbiaya Tidak Seimbang

Sejumlah pejabat aktif dan mantan pejabat Amerika menyebut Houthi mulai menggunakan kecerdasan buatan untuk membantu merancang dan merekayasa jenis rudal baru.

Yusli mengingatkan klaim tersebut belum diverifikasi secara independen, sehingga tidak boleh diperlakukan sebagai fakta yang telah terbukti.

Namun, penggunaan perangkat lunak, simulasi, navigasi digital, dan pemrosesan data dalam konflik modern tetap menunjukkan bagaimana aktor nonnegara dapat memperkecil kesenjangan kemampuan dengan militer negara besar.

Pola perang asimetris menciptakan ketimpangan biaya karena drone atau rudal berbiaya relatif murah dapat memaksa lawan menembakkan sistem pencegat bernilai jutaan dolar.

Keadaan tersebut menjadikan pemboman konvensional sulit menghasilkan kemenangan permanen, sebab fasilitas produksi dapat dipindahkan, disamarkan, diperkecil, atau dibangun kembali di kawasan pegunungan.

Dua Nadi Energi Dunia Terancam

Perang Yaman bukan semata persoalan Timur Tengah karena kawasan itu berada di dekat Selat Bab el-Mandeb, jalur yang menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden dan Samudra Hindia.

Data U.S. Energy Information Administration menunjukkan sekitar 4,2 juta barel minyak dan produk minyak per hari melewati Bab el-Mandeb pada semester pertama 2025, sedangkan sekitar 20,9 juta barel per hari melintasi Hormuz pada periode yang sama.

BACA JUGA:  Muhammadiyah Kirim Surat ke Presiden, Minta Penundaan Keanggotaan Tetap di Board of Peace

Reuters pada 21 September 2026 melaporkan lalu lintas kapal komoditas melalui Hormuz pada akhir pekan turun jauh dibandingkan kondisi sebelum perang, sementara aktivitas pelayaran di Bab el-Mandeb juga melemah.

Tidak terlihat pemuatan minyak mentah dari Pelabuhan Yanbu di pesisir Laut Merah Saudi sejak 16 September, sedangkan gangguan terhadap jalur pipa East-West mendorong Aramco meningkatkan pengiriman melalui Hormuz.

“Jika Bab el-Mandeb terganggu pada saat Hormuz juga tidak stabil, dunia menghadapi tekanan pada dua pintu energi sekaligus,” ujar Yusli.

Kapal yang menghindari Laut Merah harus memutar melalui Tanjung Harapan di Afrika Selatan, sehingga perjalanan menjadi lebih panjang, kebutuhan bahan bakar bertambah, premi asuransi meningkat, dan tarif angkutan membengkak.

Dampaknya Menjangkau Dapur Indonesia

Menurut Yusli, masyarakat Indonesia tidak boleh menganggap konflik tersebut sebagai peristiwa jauh tanpa hubungan dengan kehidupan sehari-hari.

Gangguan pasokan dan kenaikan ongkos angkut dapat memengaruhi harga minyak mentah, BBM, pangan, pupuk, listrik, tiket transportasi, dan barang impor.

Sebagai negara pengimpor bersih minyak, Indonesia juga dapat menghadapi tambahan beban subsidi energi, tekanan terhadap anggaran negara, dan pelebaran defisit perdagangan migas.

Biaya pengiriman dari Eropa dan kawasan Mediterania berpotensi naik jika kapal harus menghindari Terusan Suez dan memutar melalui Afrika Selatan.

“Efeknya bisa sampai ke dapur rumah tangga Indonesia melalui kenaikan harga BBM, membengkaknya subsidi energi, dan bertambah mahalnya biaya logistik,” kata Yusli.

Trump Menunda Kekalahan, Bukan Menyelesaikan Masalah

Yusli menilai keputusan Trump tidak dapat disebut kemenangan diplomatik karena akar konfliknya masih tetap ada.

“Sederhananya, Trump tidak sedang menang dengan menunda serangan ini; ia sedang menunda kekalahan karena masalah dasarnya belum selesai,” ujarnya.

Amerika tidak mempunyai pilihan militer murah, Saudi tidak mampu menundukkan Houthi sendirian, sedangkan Houthi memperoleh keuntungan strategis selama ketidakpastian terus berlangsung.

Jika Amerika menyerang, Washington berisiko kembali menjadi sasaran dan membuka front baru di tengah konflik dengan Iran.

Jika Amerika terus menolak, kredibilitas jaminan keamanan Washington di mata Saudi dan sekutu Teluk lainnya dapat semakin melemah.

Jalan keluar yang lebih rasional adalah menghidupkan kembali mediasi Oman dan PBB, membangun gencatan senjata lintas perbatasan, menjamin keamanan pelayaran, serta menghubungkan penghentian serangan Houthi dengan penghentian serangan udara dan pembukaan akses kemanusiaan.

Perundingan juga harus melibatkan kekuatan-kekuatan Yaman yang selama ini terpecah agar penyelesaian konflik tidak semata-mata menjadi kesepakatan antara kekuatan asing.

“Bom yang batal dijatuhkan ini bukan akhir cerita, melainkan jeda sebelum babak berikutnya, kecuali seluruh pihak mengubah logika perang menjadi proses politik yang dapat menjamin keamanan Saudi sekaligus mengakui realitas kekuatan Houthi di Yaman,” kata Yusli. (Ali)

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru