Diskusi Buku Money Politics, Pemred Tribun Timur Ungkap Keberanian Caleg Sukriansyah S Latief Pasang Baliho Jangan Pilih Saya Kalau Anda Mau Uang

SulawesiPos.com – Pemimpin Redaksi Tribun Timur, Nur Thamzil Thahir, mengungkap kisah Sukriansyah S Latief, seorang calon anggota legislatif pada kontestasi Pileg DPRD Sulsel, yang tegas menolak memberikan uang kepada konstituennya.

Dalam diskusi dan bedah buku “Money Politics dan Demokrasi Elektoral” karya Mustamin Raga di Ruang Redaksi SulawesiPos.com di AAS Building, Sabtu (18/4/2026), Thamzil Thahir pada mulanya membedah buku setebal 212 halaman tersebut.

Thamzil Thahir mengungkapkan, dirinya mencari dalam indeksing buku tersebut, apakah ada nama Sukriansyah S Latief.

“Kenapa nama Sukriansyah S Latief saya cari di dalam buku ini? Sebab dia adalah politisi pertama, atau caleg pertama, yang pada tahun 2023 menyebarkan spanduk dan baliho ‘Jangan Pilih Saya Kalau Anda Mau Uang’,” katanya.

Thamzil Thahir mengatakan, dirinya sudah menjadi wartawan sekitar 30 tahun, dengan 20 tahun di antaranya menjadi wartawan politik, namun dia tidak menemukan ada caleg yang seberani Sukriansyah.

“Saya mencari nama Sukriansyah di dalam buku yang kita bedah ini. Sayangnya tidak ada. Padahal, sejatinya dia bisa menjadi salah satu teladan bagi para politisi untuk tidak melakukan money politics,” ujarnya.

BACA JUGA: 
Andi Amran Sulaiman Silaturahmi dengan Pegawai PT Tiran Group, Suasana Hangat dan Penuh Kebersamaan

Dalam diskusi dan bedah buku tersebut, Thamzil Thahir menjadi salah satu narasumber. Lainnya adalaf Prof Dr Phill Sukri SIP MSi, Dekan FISIP Unhas.

Diskusi dan bedah duku ini dihadiri sekitar 50-an orang dari berbagai kalangan, seperti akademisi, jurnalis, konsultan politik, hingga mantan caleg. Di antaranya, artawan senior Dahlan Abubakar, pengamat sosial Mulawarman, mantan komisioner KPU Makassar yang juga dosen Ilmu Politik Unhas, Endang Sari, hingga praktisi survei politik Suwadi Idris Amir.

Money Politics Jadi Musuh Bersama

Sementara itu, Prof Sukri dalam paparannya, mengatakan, dalam setiap pesta demokrasi yang digelar di negara kita, tidak dipungkiri selalu ada pihak yang berbuat curang dengan membagi-bagikan uang atau hadiah ke pemilih, atau yang biasa disebut money politics/politik uang.

Kecurangan ini dianggap sebagai penyakit kronis bagi demokrasi di bangsa kita.

Prof Sukri menilai praktik money politics selama ini susah diungkap hingga lemahnya penjatuhan sanksi.

Salah satu cara untuk melawan praktek money politics dalam setiap kontestasi politik, lanjut Prof Sukri, adalah dengan menjadikannya sebagai musuh bersama bagi setiap orang.
Bukan hanya bagi peserta Pemilu, politisi, atau kalangan perguruan tinggi, namun juga bagi seluruh kalangan masyarakat, yang mengingikan demokrasi sehat di negara kita.

BACA JUGA: 
Diskusi Luwu Raya, Sukriansyah S. Latief: Gerakan Pemekaran Luwu Raya Harus Elegan dan Sesuai Prosedur

“Kalau kita sepakat bahwa demokrasi sistem yang kita percaya, maka kita harus memastikan demokrasi berjalan sehat,” katanya.

“Setiap rintangan atau penyakit yang menyertainya harus kita hilangkan. Memang tidak bisa cepat, karena sudah dianggap budaya, namun bukan tidak mungkin,” tambahnya.

Semua stakeholder, lanjut Prof Sukrim harus berani melawannya. Bukan hanya kalangan parpol, perguruan tinggi, tapi semua masyarakat harus berani.

Prof Sukri menambahkan, praktik politik uang selama ini susah dibuktikan keberadaannya. Namun, dengan kehadiran buku karya Mustamin Raga, akan menjadi fakta bahwa politik uang itu nyata dan bukan sekadar desas-desus yang sering dihembuskan di momen Pilkada atau Pemilu Legislatif.

Diskusi ab bedah buku dimoderatori dosen FIB Unhas Dr Supratman dan juga dihadiri sejumlah tokoh di Sulsel, seperti wartawan senior Dahlan Abu Bakar, pengamat sosial Mulawarman, mantan komisioner KPU Makassar yang juga dosen Ilmu Politik Unhas, Endang Sari, hingga praktisi survei politik Suwadi Idris Ami*

BACA JUGA: 
Bedah Buku Money Politics, Mantan Komisioner KPU Ungkap Fenomena Golput di Makassar: Ekspektasi Tak Terpenuhi

SulawesiPos.com – Pemimpin Redaksi Tribun Timur, Nur Thamzil Thahir, mengungkap kisah Sukriansyah S Latief, seorang calon anggota legislatif pada kontestasi Pileg DPRD Sulsel, yang tegas menolak memberikan uang kepada konstituennya.

Dalam diskusi dan bedah buku “Money Politics dan Demokrasi Elektoral” karya Mustamin Raga di Ruang Redaksi SulawesiPos.com di AAS Building, Sabtu (18/4/2026), Thamzil Thahir pada mulanya membedah buku setebal 212 halaman tersebut.

Thamzil Thahir mengungkapkan, dirinya mencari dalam indeksing buku tersebut, apakah ada nama Sukriansyah S Latief.

“Kenapa nama Sukriansyah S Latief saya cari di dalam buku ini? Sebab dia adalah politisi pertama, atau caleg pertama, yang pada tahun 2023 menyebarkan spanduk dan baliho ‘Jangan Pilih Saya Kalau Anda Mau Uang’,” katanya.

Thamzil Thahir mengatakan, dirinya sudah menjadi wartawan sekitar 30 tahun, dengan 20 tahun di antaranya menjadi wartawan politik, namun dia tidak menemukan ada caleg yang seberani Sukriansyah.

“Saya mencari nama Sukriansyah di dalam buku yang kita bedah ini. Sayangnya tidak ada. Padahal, sejatinya dia bisa menjadi salah satu teladan bagi para politisi untuk tidak melakukan money politics,” ujarnya.

BACA JUGA: 
Pemilihan Rektor Unhas, Sukriansyah S Latief Wakili Ketua Umum IKA dan Winarno Wakili Gubernur Sulsel

Dalam diskusi dan bedah buku tersebut, Thamzil Thahir menjadi salah satu narasumber. Lainnya adalaf Prof Dr Phill Sukri SIP MSi, Dekan FISIP Unhas.

Diskusi dan bedah duku ini dihadiri sekitar 50-an orang dari berbagai kalangan, seperti akademisi, jurnalis, konsultan politik, hingga mantan caleg. Di antaranya, artawan senior Dahlan Abubakar, pengamat sosial Mulawarman, mantan komisioner KPU Makassar yang juga dosen Ilmu Politik Unhas, Endang Sari, hingga praktisi survei politik Suwadi Idris Amir.

Money Politics Jadi Musuh Bersama

Sementara itu, Prof Sukri dalam paparannya, mengatakan, dalam setiap pesta demokrasi yang digelar di negara kita, tidak dipungkiri selalu ada pihak yang berbuat curang dengan membagi-bagikan uang atau hadiah ke pemilih, atau yang biasa disebut money politics/politik uang.

Kecurangan ini dianggap sebagai penyakit kronis bagi demokrasi di bangsa kita.

Prof Sukri menilai praktik money politics selama ini susah diungkap hingga lemahnya penjatuhan sanksi.

Salah satu cara untuk melawan praktek money politics dalam setiap kontestasi politik, lanjut Prof Sukri, adalah dengan menjadikannya sebagai musuh bersama bagi setiap orang.
Bukan hanya bagi peserta Pemilu, politisi, atau kalangan perguruan tinggi, namun juga bagi seluruh kalangan masyarakat, yang mengingikan demokrasi sehat di negara kita.

BACA JUGA: 
Diskusi Luwu Raya: Antara Harapan, Realitas, dan Tantangan Hukum

“Kalau kita sepakat bahwa demokrasi sistem yang kita percaya, maka kita harus memastikan demokrasi berjalan sehat,” katanya.

“Setiap rintangan atau penyakit yang menyertainya harus kita hilangkan. Memang tidak bisa cepat, karena sudah dianggap budaya, namun bukan tidak mungkin,” tambahnya.

Semua stakeholder, lanjut Prof Sukrim harus berani melawannya. Bukan hanya kalangan parpol, perguruan tinggi, tapi semua masyarakat harus berani.

Prof Sukri menambahkan, praktik politik uang selama ini susah dibuktikan keberadaannya. Namun, dengan kehadiran buku karya Mustamin Raga, akan menjadi fakta bahwa politik uang itu nyata dan bukan sekadar desas-desus yang sering dihembuskan di momen Pilkada atau Pemilu Legislatif.

Diskusi ab bedah buku dimoderatori dosen FIB Unhas Dr Supratman dan juga dihadiri sejumlah tokoh di Sulsel, seperti wartawan senior Dahlan Abu Bakar, pengamat sosial Mulawarman, mantan komisioner KPU Makassar yang juga dosen Ilmu Politik Unhas, Endang Sari, hingga praktisi survei politik Suwadi Idris Ami*

BACA JUGA: 
Digelar Mei, Panitia Ajak Alumni Meriahkan Mubes IKA Unhas 2026

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru