Narasi Swasembada Pemerintah dan Laporan BPS yang Dituding Asal, Sedang Diuji Oleh El Nino

Oleh: Yarifai Mappeaty
Pemerhati Pangan

SulawesiPos.com – La Nina dan El Nino, dua-duanya adalah fenomena penyimpangan iklim global yang terjadi dalam siklus 2 – 7 tahun sekali. La Nina adalah terjadinya curah hujan ekstrim. El Nino, sebaliknya, kemarau ekstrim. Fenomena ini terjadi sebagai dampak pemanasan suhu air laut di Samudera Pasifik bagian tengah dan timur yang tidak biasa, di atas 2 derajat Celcius.

Jika air laut di Samudera Pasifik yang mengalami pemanasan itu, didorong Angin Pasat dari Benua Amerika ke arah Asia, khususnya ke Indonesia dan Kawasan Asia Tenggara lainnya, maka oleh proses evaporasi yang tinggi menyebabkan terjadinya penumpukan awan hujan dalam jumlah yang sangat besar di sekitar equator. Dan, pada gilirannya terjadi hujan ekstrim, banjir, erosi, dan angin kencang. Begitu kurang lebih fenomena La Nina terjadi.

Sedangkan El Nino sebaliknya. Air laut Samudera Pasifik yang megalami pemanasan tersebut, oleh angin pasat dari Benua Asia mendorongnya menjauh ke arah Amerika Selatan. Akibatnya, kawasan di sekitar equator Asia, mulai dari Indonesia hingga India, mengalami kehilangan potensi awan hujan, yang kemudian menyebabkan terjadinya kemarau panjang.

 

Alumni Unhas Angkatan 1985, Yarifai Mappeaty
Yarifai Mappeaty, penulis

 

Menurut BMKG serta Lembaga internasional seperti NOAA, El Nino yang melanda saat ini diperkirakan berlangsung hingga kuartal pertama 2027. Setelah melewati masa transisi pada periode Maret – April, La Nina diperkirakan datang menyusul pada pertengahan tahun (Juni – Juli) dan berlangsung hingga akhir 2027.

BACA JUGA:  BMKG Ingatkan El Nino Kuat Bayangi Indonesia hingga Oktober 2026, Lebih dari 80 Persen Wilayah Diprediksi Kering

Menghadapi hal itu, Dwi Andreas Santosa mengingatkan agar waspada pangan 2026 – 2027 dalam tulisannya di Harian Kompas, 17/9/2026 lalu. Peringatan Kepala Biotech Centre IPB Bogor itu cukup beralasan, sebab data operasional Kementerian PU, BNPB, dan dinas-dinas pertanian daerah terdampak, melaporkan bahwa per September 2026, sudah lebih 50 ribu hektar sawah mengalami kekeringan meski tak sampai gagal panen total.

Memang hanya sekadar mengingatkan, tetapi opini Santosa itu tak urung memantik perdebatan menjadi kian panas di kalangan pemerhati pangan dalam kaitan dengan rilis data BPS baru-baru ini. BPS melaporkan bahwa produksi beras nasional pada periode Juni – Agustus 2026 mencapai 8,42 juta ton, lebih tinggi 1,17% dari periode yang sama tahun sebelumnya (2025).

Terkait laporan itu, banyak pihak berpendapat bahwa BPS cenderung asal, yaitu, asal bapak presiden senang. Sebab bagaimana mungkin produksi tetap meningkat di tengah sistuasi El Nino sedang melanda? Kira-kira begitu dalam benak mereka. Sampai di sini, mereka tampaknya berada di atas angin.

BACA JUGA:  Kolaborasi Jadi Kunci, Mentan Amran Apresiasi Peran Polri Jaga Produksi dan Harga Pangan

Hanya saja, mereka tak memperhitungkan langkah antisipasi yang dilakukan pemerintah dalam rangka memitigasi dampak El Nino. Padahal Kemeterian Pertanian dan PU sejak jauh hari sudah mempersiapkan diri dengan irigasi pompa (Irpom) dengan pembagian wewenang dan skala kerja teknis yang berbeda di lapangan.

Kementerian PU bekerja di hulu, bertanggung jawab menangani waduk, bendungan, sungai besar, serta jaringan irigasi primer dan sekunder. Pompa air skala besar dimobilisasi untuk menyedot air langsung dari waduk atau sungai besar, seperti Citarum dan Bengawan Solo, untuk kemudian dialirkan ke saluran irigasi primer yang kering.

Sedangkan Kementan di hilir. Air yang sudah sampai di saluran irigasi kemudian didistribusikan ke sawah-sawah menggunakan pompa air skala kecil dan menengah. Hingga sejauh ini, sudah ratusan ribu pompa air ukuran 3 inci, 4 inci, 6 inci, didistribusikan kepada petani. Berkat kolaborasi kedua kementerian itu dan instansi terkait lainnya, menurut pu.go.id, 53.052 hektar sawah berhasil diselamatkan.

Bagi mereka yang memang sudah kontra terhadap narasi swasembada sejak awal, paparan di atas tentu tidak ada artinya, dan data BPS tetap saja dianggap asal. Tetapi, baik data BPS maupun narasi swasembada beras yang diklaim pemerintah dalam setahun terakhir, sebenarnya, saat ini tengah diuji oleh El Nino, dan El Nino ini adalah penguji paling netral dan tak berpihak.

BACA JUGA:  El Nino Diprediksi Menguat, Komisi IV DPR Minta Mitigasi Pangan dan Peternakan Dipercepat

Dalam hal ini, kita tak usah dulu percaya pada data BPS, apa lagi omongan pejabat. Juga tak perlu berhipotetis segala. Tapi cukup kita gunakan tinjauan empiris.

El Nino melanda terhitung sudah empat bulan. Jika saja narasi swasembada itu benar-benar narasi kosong, dan data BPS itu sungguh data asal, maka hari-hari ini, kita semestinya sudah menyaksikan kapal besar yang mengangkut beras dari luar negeri, sandar di Pelabuhan Belawan, Tanjung Priok, Tanjung Perak, dan Pelabuhan Soekarno-Hatta di Makassar.

Tetapi faktanya apa? Kita belum menyaksikan hal itu. Artinya, stok beras dalam negeri sejauh ini masih cukup. Selain itu, harga beras relatif masih stabil, dan belum terjadi antrean panjang beli beras yang menunjukkan terjadinya kelangkaan. Semua ini adalah fakta yang tak terbantahkan.

Hujan yang turun semalam semoga saja adalah berkah dari langit, sekaligus pertanda bahwa El Nino sudah mulai tak betah, sehingga tak perlu menunggunya pergi hingga akhir tahun.

Depok, 23 September 2026

Oleh: Yarifai Mappeaty
Pemerhati Pangan

SulawesiPos.com – La Nina dan El Nino, dua-duanya adalah fenomena penyimpangan iklim global yang terjadi dalam siklus 2 – 7 tahun sekali. La Nina adalah terjadinya curah hujan ekstrim. El Nino, sebaliknya, kemarau ekstrim. Fenomena ini terjadi sebagai dampak pemanasan suhu air laut di Samudera Pasifik bagian tengah dan timur yang tidak biasa, di atas 2 derajat Celcius.

Jika air laut di Samudera Pasifik yang mengalami pemanasan itu, didorong Angin Pasat dari Benua Amerika ke arah Asia, khususnya ke Indonesia dan Kawasan Asia Tenggara lainnya, maka oleh proses evaporasi yang tinggi menyebabkan terjadinya penumpukan awan hujan dalam jumlah yang sangat besar di sekitar equator. Dan, pada gilirannya terjadi hujan ekstrim, banjir, erosi, dan angin kencang. Begitu kurang lebih fenomena La Nina terjadi.

Sedangkan El Nino sebaliknya. Air laut Samudera Pasifik yang megalami pemanasan tersebut, oleh angin pasat dari Benua Asia mendorongnya menjauh ke arah Amerika Selatan. Akibatnya, kawasan di sekitar equator Asia, mulai dari Indonesia hingga India, mengalami kehilangan potensi awan hujan, yang kemudian menyebabkan terjadinya kemarau panjang.

 

Alumni Unhas Angkatan 1985, Yarifai Mappeaty
Yarifai Mappeaty, penulis

 

Menurut BMKG serta Lembaga internasional seperti NOAA, El Nino yang melanda saat ini diperkirakan berlangsung hingga kuartal pertama 2027. Setelah melewati masa transisi pada periode Maret – April, La Nina diperkirakan datang menyusul pada pertengahan tahun (Juni – Juli) dan berlangsung hingga akhir 2027.

BACA JUGA:  Asuransi Padi Lindungi 100 Ribu Hektare Sawah dari Ancaman El Nino

Menghadapi hal itu, Dwi Andreas Santosa mengingatkan agar waspada pangan 2026 – 2027 dalam tulisannya di Harian Kompas, 17/9/2026 lalu. Peringatan Kepala Biotech Centre IPB Bogor itu cukup beralasan, sebab data operasional Kementerian PU, BNPB, dan dinas-dinas pertanian daerah terdampak, melaporkan bahwa per September 2026, sudah lebih 50 ribu hektar sawah mengalami kekeringan meski tak sampai gagal panen total.

Memang hanya sekadar mengingatkan, tetapi opini Santosa itu tak urung memantik perdebatan menjadi kian panas di kalangan pemerhati pangan dalam kaitan dengan rilis data BPS baru-baru ini. BPS melaporkan bahwa produksi beras nasional pada periode Juni – Agustus 2026 mencapai 8,42 juta ton, lebih tinggi 1,17% dari periode yang sama tahun sebelumnya (2025).

Terkait laporan itu, banyak pihak berpendapat bahwa BPS cenderung asal, yaitu, asal bapak presiden senang. Sebab bagaimana mungkin produksi tetap meningkat di tengah sistuasi El Nino sedang melanda? Kira-kira begitu dalam benak mereka. Sampai di sini, mereka tampaknya berada di atas angin.

BACA JUGA:  Tekanan Air Rendah hingga Debit Menyusut, Ini Penjelasan PDAM Soal Krisis Air di Makassar Utara

Hanya saja, mereka tak memperhitungkan langkah antisipasi yang dilakukan pemerintah dalam rangka memitigasi dampak El Nino. Padahal Kemeterian Pertanian dan PU sejak jauh hari sudah mempersiapkan diri dengan irigasi pompa (Irpom) dengan pembagian wewenang dan skala kerja teknis yang berbeda di lapangan.

Kementerian PU bekerja di hulu, bertanggung jawab menangani waduk, bendungan, sungai besar, serta jaringan irigasi primer dan sekunder. Pompa air skala besar dimobilisasi untuk menyedot air langsung dari waduk atau sungai besar, seperti Citarum dan Bengawan Solo, untuk kemudian dialirkan ke saluran irigasi primer yang kering.

Sedangkan Kementan di hilir. Air yang sudah sampai di saluran irigasi kemudian didistribusikan ke sawah-sawah menggunakan pompa air skala kecil dan menengah. Hingga sejauh ini, sudah ratusan ribu pompa air ukuran 3 inci, 4 inci, 6 inci, didistribusikan kepada petani. Berkat kolaborasi kedua kementerian itu dan instansi terkait lainnya, menurut pu.go.id, 53.052 hektar sawah berhasil diselamatkan.

Bagi mereka yang memang sudah kontra terhadap narasi swasembada sejak awal, paparan di atas tentu tidak ada artinya, dan data BPS tetap saja dianggap asal. Tetapi, baik data BPS maupun narasi swasembada beras yang diklaim pemerintah dalam setahun terakhir, sebenarnya, saat ini tengah diuji oleh El Nino, dan El Nino ini adalah penguji paling netral dan tak berpihak.

BACA JUGA:  BPS: Produksi Beras Awal 2026 Naik Jadi 14,03 Juta Ton, Luas Panen Ikut Tumbuh

Dalam hal ini, kita tak usah dulu percaya pada data BPS, apa lagi omongan pejabat. Juga tak perlu berhipotetis segala. Tapi cukup kita gunakan tinjauan empiris.

El Nino melanda terhitung sudah empat bulan. Jika saja narasi swasembada itu benar-benar narasi kosong, dan data BPS itu sungguh data asal, maka hari-hari ini, kita semestinya sudah menyaksikan kapal besar yang mengangkut beras dari luar negeri, sandar di Pelabuhan Belawan, Tanjung Priok, Tanjung Perak, dan Pelabuhan Soekarno-Hatta di Makassar.

Tetapi faktanya apa? Kita belum menyaksikan hal itu. Artinya, stok beras dalam negeri sejauh ini masih cukup. Selain itu, harga beras relatif masih stabil, dan belum terjadi antrean panjang beli beras yang menunjukkan terjadinya kelangkaan. Semua ini adalah fakta yang tak terbantahkan.

Hujan yang turun semalam semoga saja adalah berkah dari langit, sekaligus pertanda bahwa El Nino sudah mulai tak betah, sehingga tak perlu menunggunya pergi hingga akhir tahun.

Depok, 23 September 2026

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru