Serangan 72 Jam ke Iran, Dr. Virtuous: Perang Bisa Melampaui Kendali AS–Israel

SulawesiPos.com — Pakar hubungan internasional Universitas Andalas, Dr. Virtuous Setyaka, S.IP., M.Si., memperingatkan bahwa rencana serangan sekitar 72 jam Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran setelah pemilu sela AS pada 3 November 2026 berisiko berkembang menjadi konflik berkepanjangan melalui pembalasan terhadap infrastruktur energi dan komunikasi, sebagaimana analisisnya ketika dihubungi jurnalis Sulawesi Pos pada Kamis, 22 Oktober 2026, menyusul laporan persiapan militer yang dinilainya juga berfungsi menekan Teheran dalam perundingan nuklir.

Dosen Departemen Hubungan Internasional FISIP Universitas Andalas sekaligus Direktur Center for Agrarian and Environmental Justice (CAEJ) periode 2025–2030 itu menilai peningkatan latihan udara dan beredarnya informasi rencana serangan perlu dibaca sebagai perpaduan persiapan operasi, tekanan diplomatik, serta kalkulasi politik domestik.

“Hingga saat ini, belum ada keputusan final yang diketuk oleh Trump,” ujar Virtuous.

Menurutnya, keberadaan opsi serangan belum memastikan perang akan dimulai, tetapi penggunaan ancaman militer untuk memperoleh konsesi juga membawa risiko salah perhitungan yang dapat menggagalkan diplomasi.

Rencana tersebut diungkap The New York Times pada Rabu, 21 Oktober 2026, berdasarkan keterangan pejabat Amerika dan orang-orang yang mengetahui pembahasan, kemudian diberitakan kembali oleh The Jerusalem Post serta Iran International pada Kamis, 22 Oktober 2026.

Sasaran yang dipertimbangkan disebut mencakup fasilitas nuklir, infrastruktur energi, serta persenjataan rudal dan pesawat nirawak Iran, sementara Presiden Donald Trump belum memberikan persetujuan pelaksanaan.

Menurut laporan tersebut, Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth membicarakan kemungkinan serangan baru dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dalam kunjungannya ke Israel, bersamaan dengan peningkatan latihan udara untuk menyimulasikan operasi menuju Iran.

BACA JUGA:  Baghdad Kutuk Serangan Gabungan Arab Saudi-AS, Ancam Guncang Stabilitas Asia Barat

Gertakan Militer dan Batas Pemaksaan

Virtuous membaca perkembangan itu melalui konsep brinkmanship, yakni strategi membawa ketegangan mendekati ambang konflik untuk meningkatkan tekanan terhadap lawan tanpa memastikan bahwa perang benar-benar menjadi pilihan terakhir.

Dalam penilaiannya, latihan militer dan pemberitaan mengenai kesiapan serangan dapat dimanfaatkan untuk meyakinkan Teheran bahwa penolakan terhadap tuntutan Washington memiliki konsekuensi yang serius.

Namun, dugaan bahwa informasi tersebut sengaja dibocorkan sebagai gertakan merupakan pembacaan analitis atas pola tekanan, bukan fakta mengenai tujuan kebocoran yang telah dikonfirmasi pemerintah Amerika.

Virtuous menekankan adanya perbedaan mendasar antara kemampuan menghancurkan fasilitas dan keberhasilan memaksa perubahan keputusan politik.

“Seperti yang dinyatakan mantan pejabat Pentagon Dana Stroul, ada jurang pemisah yang besar antara kemampuan menghancurkan sasaran fisik dan kemampuan mencapai tujuan politik,” ujarnya.

Dalam laporan The New York Times, Stroul mempertanyakan bagaimana perang tambahan dapat mengubah kebuntuan strategis yang belum terselesaikan melalui serangan sebelumnya.

Sebagian perencana Amerika disebut memperkirakan pemboman intensif selama tiga hari dapat menimbulkan tekanan ekonomi yang cukup besar untuk mengubah posisi Iran, tetapi perkiraan itu tetap merupakan asumsi perencanaan yang hasilnya belum dapat dipastikan.

Keraguan tersebut menempatkan ukuran keberhasilan operasi pada persoalan yang lebih luas daripada jumlah sasaran yang dihancurkan, yaitu apakah serangan benar-benar menghasilkan kesepakatan atau justru memperpanjang perlawanan.

Pemilu Membatasi Ruang Gerak Trump dan Netanyahu

Virtuous menilai keputusan Trump juga dipengaruhi kebutuhan menghindari guncangan harga bahan bakar dan tekanan biaya hidup menjelang pemilu sela Amerika.

BACA JUGA:  Mentan Amran Rapat Hari Minggu Antisipasi Kekeringan dan Ketegangan Geopolitik
AS–Israel siapkan serangan terhadap Iran seusai pemilu Amerika; diplomasi berlanjut, risiko perang meluas membayangi. (Ilustrasi: ChatGPT).
AS–Israel siapkan serangan terhadap Iran seusai pemilu Amerika; diplomasi berlanjut, risiko perang meluas membayangi. (Ilustrasi: ChatGPT).

Menurut analisisnya, eskalasi yang mengganggu pasokan energi dapat membawa biaya politik domestik karena dampaknya dirasakan pemilih melalui pengeluaran sehari-hari.

Financial Times pada 21 Oktober 2026 melaporkan bahwa Israel sebelumnya telah menyiapkan pemboman beberapa hari untuk akhir pekan sekitar 10 Oktober, tetapi operasi itu tidak dilaksanakan setelah Trump menolak dimulainya kembali pertempuran besar sebelum pemilu sela AS.

Sasaran dalam rencana Oktober tersebut dilaporkan mencakup pembangkit listrik, fasilitas nuklir, serta lokasi yang berkaitan dengan pemerintahan Iran, meskipun keterlibatan langsung militer Amerika belum jelas.

Di pihak Israel, Virtuous menilai pemilu yang dijadwalkan pada 27 Oktober turut memengaruhi ruang politik Netanyahu dalam mengambil keputusan mengenai operasi besar.

Ketidakpastian hasil pemilu, menurutnya, dapat memperumit dukungan politik terhadap perang berkepanjangan apabila Netanyahu harus melanjutkan pemerintahan dalam status sementara.

Namun, hambatan politik tersebut tidak dapat disamakan dengan kepastian bahwa operasi militer akan dibatalkan karena keputusan akhirnya tetap bergantung pada perkembangan keamanan dan pilihan para pemimpin.

Serangan Singkat Belum Tentu Menghasilkan Perang Singkat

Virtuous menilai peringatan Iran mengenai kemungkinan konflik melampaui 72 jam perlu diperhitungkan karena durasi pemboman yang direncanakan tidak otomatis membatasi rangkaian pembalasan.

Pihak penyerang dapat menentukan awal operasi, tetapi penghentian konflik juga bergantung pada respons lawan, keterlibatan pihak lain, dan kemampuan kedua kubu menyepakati jalan keluar.

Menurut pemberitaan yang dirangkum Iran International, penasihat senior Ketua Parlemen Iran, Mehdi Mohammadi, menolak anggapan bahwa putaran serangan baru dapat diselesaikan dalam tiga hari.

BACA JUGA:  PKB Kecam Serangan AS–Israel ke Ali Khamenei, Minta PBB untuk Tidak Standar Ganda

Pejabat Iran juga mengancam memperluas sasaran pembalasan ke pusat data dan kabel komunikasi bawah laut, selain kapal dagang serta infrastruktur energi kawasan.

Virtuous memperingatkan bahwa ancaman terhadap jaringan tersebut berpotensi memperluas dampak konflik dari kerusakan fisik di medan perang menjadi gangguan ekonomi digital dan rantai pasokan.

Relevansi kekhawatiran itu terlihat dalam keterangan International Telecommunication Union (ITU) pada 3 Februari 2026 bahwa lebih dari 99 persen lalu lintas data internasional dibawa melalui kabel bawah laut, sehingga gangguan konektivitas dapat memengaruhi ekonomi, akses informasi, dan pelayanan publik.

Meski demikian, ancaman terhadap sejumlah kabel belum berarti seluruh internet dunia akan lumpuh karena besarnya dampak bergantung pada lokasi kerusakan, ketersediaan jalur alternatif, dan kemampuan pemulihan jaringan.

Diplomasi Membutuhkan Jalan Keluar

Di tengah persiapan militer, The Wall Street Journal pada 21 Oktober 2026 melaporkan bahwa mediator kawasan meningkatkan upaya menghidupkan kembali perundingan untuk mencegah pecahnya pertempuran baru.

Perbedaan utama masih menyangkut urutan pembahasan, dengan Washington menghendaki kemajuan mengenai program nuklir, sedangkan Teheran mendahulukan penghentian perang, pencabutan blokade, dan pengaturan pelayaran melalui Selat Hormuz.

Bagi Virtuous, keadaan tersebut menunjukkan bahwa tekanan militer belum menghapus perbedaan mendasar mengenai syarat dimulainya penyelesaian.

“Rencana serangan 72 jam ini masih berada di ranah opsi militer dan instrumen tekanan diplomatik,” ujarnya.

Ia menilai para mediator regional harus menjembatani perbedaan itu sebelum ancaman yang semula digunakan untuk memperkuat posisi tawar berkembang menjadi perang terbuka dengan konsekuensi yang sulit dibatasi.

SulawesiPos.com — Pakar hubungan internasional Universitas Andalas, Dr. Virtuous Setyaka, S.IP., M.Si., memperingatkan bahwa rencana serangan sekitar 72 jam Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran setelah pemilu sela AS pada 3 November 2026 berisiko berkembang menjadi konflik berkepanjangan melalui pembalasan terhadap infrastruktur energi dan komunikasi, sebagaimana analisisnya ketika dihubungi jurnalis Sulawesi Pos pada Kamis, 22 Oktober 2026, menyusul laporan persiapan militer yang dinilainya juga berfungsi menekan Teheran dalam perundingan nuklir.

Dosen Departemen Hubungan Internasional FISIP Universitas Andalas sekaligus Direktur Center for Agrarian and Environmental Justice (CAEJ) periode 2025–2030 itu menilai peningkatan latihan udara dan beredarnya informasi rencana serangan perlu dibaca sebagai perpaduan persiapan operasi, tekanan diplomatik, serta kalkulasi politik domestik.

“Hingga saat ini, belum ada keputusan final yang diketuk oleh Trump,” ujar Virtuous.

Menurutnya, keberadaan opsi serangan belum memastikan perang akan dimulai, tetapi penggunaan ancaman militer untuk memperoleh konsesi juga membawa risiko salah perhitungan yang dapat menggagalkan diplomasi.

Rencana tersebut diungkap The New York Times pada Rabu, 21 Oktober 2026, berdasarkan keterangan pejabat Amerika dan orang-orang yang mengetahui pembahasan, kemudian diberitakan kembali oleh The Jerusalem Post serta Iran International pada Kamis, 22 Oktober 2026.

Sasaran yang dipertimbangkan disebut mencakup fasilitas nuklir, infrastruktur energi, serta persenjataan rudal dan pesawat nirawak Iran, sementara Presiden Donald Trump belum memberikan persetujuan pelaksanaan.

Menurut laporan tersebut, Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth membicarakan kemungkinan serangan baru dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dalam kunjungannya ke Israel, bersamaan dengan peningkatan latihan udara untuk menyimulasikan operasi menuju Iran.

BACA JUGA:  Iran Menjadi Negara Pertama yang Berhasil Mematikan Jaringan Starlink

Gertakan Militer dan Batas Pemaksaan

Virtuous membaca perkembangan itu melalui konsep brinkmanship, yakni strategi membawa ketegangan mendekati ambang konflik untuk meningkatkan tekanan terhadap lawan tanpa memastikan bahwa perang benar-benar menjadi pilihan terakhir.

Dalam penilaiannya, latihan militer dan pemberitaan mengenai kesiapan serangan dapat dimanfaatkan untuk meyakinkan Teheran bahwa penolakan terhadap tuntutan Washington memiliki konsekuensi yang serius.

Namun, dugaan bahwa informasi tersebut sengaja dibocorkan sebagai gertakan merupakan pembacaan analitis atas pola tekanan, bukan fakta mengenai tujuan kebocoran yang telah dikonfirmasi pemerintah Amerika.

Virtuous menekankan adanya perbedaan mendasar antara kemampuan menghancurkan fasilitas dan keberhasilan memaksa perubahan keputusan politik.

“Seperti yang dinyatakan mantan pejabat Pentagon Dana Stroul, ada jurang pemisah yang besar antara kemampuan menghancurkan sasaran fisik dan kemampuan mencapai tujuan politik,” ujarnya.

Dalam laporan The New York Times, Stroul mempertanyakan bagaimana perang tambahan dapat mengubah kebuntuan strategis yang belum terselesaikan melalui serangan sebelumnya.

Sebagian perencana Amerika disebut memperkirakan pemboman intensif selama tiga hari dapat menimbulkan tekanan ekonomi yang cukup besar untuk mengubah posisi Iran, tetapi perkiraan itu tetap merupakan asumsi perencanaan yang hasilnya belum dapat dipastikan.

Keraguan tersebut menempatkan ukuran keberhasilan operasi pada persoalan yang lebih luas daripada jumlah sasaran yang dihancurkan, yaitu apakah serangan benar-benar menghasilkan kesepakatan atau justru memperpanjang perlawanan.

Pemilu Membatasi Ruang Gerak Trump dan Netanyahu

Virtuous menilai keputusan Trump juga dipengaruhi kebutuhan menghindari guncangan harga bahan bakar dan tekanan biaya hidup menjelang pemilu sela Amerika.

BACA JUGA:  Trump Batalkan Serangan ke Iran, Diplomasi Dibuka Kembali, Harga Minyak Dunia Langsung Anjlok
AS–Israel siapkan serangan terhadap Iran seusai pemilu Amerika; diplomasi berlanjut, risiko perang meluas membayangi. (Ilustrasi: ChatGPT).
AS–Israel siapkan serangan terhadap Iran seusai pemilu Amerika; diplomasi berlanjut, risiko perang meluas membayangi. (Ilustrasi: ChatGPT).

Menurut analisisnya, eskalasi yang mengganggu pasokan energi dapat membawa biaya politik domestik karena dampaknya dirasakan pemilih melalui pengeluaran sehari-hari.

Financial Times pada 21 Oktober 2026 melaporkan bahwa Israel sebelumnya telah menyiapkan pemboman beberapa hari untuk akhir pekan sekitar 10 Oktober, tetapi operasi itu tidak dilaksanakan setelah Trump menolak dimulainya kembali pertempuran besar sebelum pemilu sela AS.

Sasaran dalam rencana Oktober tersebut dilaporkan mencakup pembangkit listrik, fasilitas nuklir, serta lokasi yang berkaitan dengan pemerintahan Iran, meskipun keterlibatan langsung militer Amerika belum jelas.

Di pihak Israel, Virtuous menilai pemilu yang dijadwalkan pada 27 Oktober turut memengaruhi ruang politik Netanyahu dalam mengambil keputusan mengenai operasi besar.

Ketidakpastian hasil pemilu, menurutnya, dapat memperumit dukungan politik terhadap perang berkepanjangan apabila Netanyahu harus melanjutkan pemerintahan dalam status sementara.

Namun, hambatan politik tersebut tidak dapat disamakan dengan kepastian bahwa operasi militer akan dibatalkan karena keputusan akhirnya tetap bergantung pada perkembangan keamanan dan pilihan para pemimpin.

Serangan Singkat Belum Tentu Menghasilkan Perang Singkat

Virtuous menilai peringatan Iran mengenai kemungkinan konflik melampaui 72 jam perlu diperhitungkan karena durasi pemboman yang direncanakan tidak otomatis membatasi rangkaian pembalasan.

Pihak penyerang dapat menentukan awal operasi, tetapi penghentian konflik juga bergantung pada respons lawan, keterlibatan pihak lain, dan kemampuan kedua kubu menyepakati jalan keluar.

Menurut pemberitaan yang dirangkum Iran International, penasihat senior Ketua Parlemen Iran, Mehdi Mohammadi, menolak anggapan bahwa putaran serangan baru dapat diselesaikan dalam tiga hari.

BACA JUGA:  PKB Kecam Serangan AS–Israel ke Ali Khamenei, Minta PBB untuk Tidak Standar Ganda

Pejabat Iran juga mengancam memperluas sasaran pembalasan ke pusat data dan kabel komunikasi bawah laut, selain kapal dagang serta infrastruktur energi kawasan.

Virtuous memperingatkan bahwa ancaman terhadap jaringan tersebut berpotensi memperluas dampak konflik dari kerusakan fisik di medan perang menjadi gangguan ekonomi digital dan rantai pasokan.

Relevansi kekhawatiran itu terlihat dalam keterangan International Telecommunication Union (ITU) pada 3 Februari 2026 bahwa lebih dari 99 persen lalu lintas data internasional dibawa melalui kabel bawah laut, sehingga gangguan konektivitas dapat memengaruhi ekonomi, akses informasi, dan pelayanan publik.

Meski demikian, ancaman terhadap sejumlah kabel belum berarti seluruh internet dunia akan lumpuh karena besarnya dampak bergantung pada lokasi kerusakan, ketersediaan jalur alternatif, dan kemampuan pemulihan jaringan.

Diplomasi Membutuhkan Jalan Keluar

Di tengah persiapan militer, The Wall Street Journal pada 21 Oktober 2026 melaporkan bahwa mediator kawasan meningkatkan upaya menghidupkan kembali perundingan untuk mencegah pecahnya pertempuran baru.

Perbedaan utama masih menyangkut urutan pembahasan, dengan Washington menghendaki kemajuan mengenai program nuklir, sedangkan Teheran mendahulukan penghentian perang, pencabutan blokade, dan pengaturan pelayaran melalui Selat Hormuz.

Bagi Virtuous, keadaan tersebut menunjukkan bahwa tekanan militer belum menghapus perbedaan mendasar mengenai syarat dimulainya penyelesaian.

“Rencana serangan 72 jam ini masih berada di ranah opsi militer dan instrumen tekanan diplomatik,” ujarnya.

Ia menilai para mediator regional harus menjembatani perbedaan itu sebelum ancaman yang semula digunakan untuk memperkuat posisi tawar berkembang menjadi perang terbuka dengan konsekuensi yang sulit dibatasi.

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru