Trump Batalkan Serangan ke Iran, Diplomasi Dibuka Kembali, Harga Minyak Dunia Langsung Anjlok

SulawesiPos.com – Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan bahwa putaran baru perundingan dengan Iran akan dimulai Senin (3/8/2026) setelah ia membatalkan rencana serangan militer besar terhadap Republik Islam tersebut atas permintaan sejumlah sekutu Amerika di Timur Tengah, termasuk Arab Saudi, Uni Emirat Arab, dan Qatar, karena mereka meyakini kesepakatan mengenai Selat Hormuz dan isu program nuklir Iran sudah berada dalam jangkauan, sementara pasar energi dunia langsung merespons dengan penurunan tajam harga minyak mentah hingga lebih dari lima persen.

Dilaporkan BBC News, Trump mengatakan pembicaraan dengan Iran akan dimulai pada Senin sore waktu setempat sebagai bagian dari upaya negosiasi untuk mengakhiri konflik yang telah berlangsung berbulan-bulan.

Ia mengungkapkan bahwa Amerika Serikat sebenarnya telah siap melancarkan operasi militer yang disebutnya sebagai “serangan terbesar sejak Perang Dunia II”, namun akhirnya memilih menunda operasi tersebut demi memberi ruang bagi penyelesaian diplomatik.

Presiden Amerika itu menolak menetapkan tenggat waktu tercapainya kesepakatan, tetapi menegaskan Washington siap mengambil tindakan kapan saja apabila diplomasi gagal menghasilkan solusi.

BACA JUGA:  Kekuasaan Kosong Usai Supreme Leader Iran Ali Khamenei Tewas, Ini yang Pimpin Iran Sekarang

Trump juga menyatakan dirinya tidak menginginkan jatuhnya korban jiwa dan memilih memberikan kesempatan terakhir bagi jalur perundingan.

Hingga berita ini dipublikasikan, Pemerintah Iran belum memberikan tanggapan resmi terhadap pernyataan terbaru Trump mengenai dimulainya kembali perundingan.

Media semi-resmi Iran, Mehr News Agency, justru membantah klaim Trump bahwa Teheran meminta Amerika Serikat menunda serangan militer dan menyebut pernyataan tersebut sebagai “kebohongan baru”.

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi sebelumnya menyampaikan bahwa negosiasi dengan Oman mengenai pengaturan baru pelayaran di Selat Hormuz telah memasuki tahap akhir penyelesaian menurut laporan media Iran.

Trump belum mengumumkan lokasi maupun komposisi delegasi yang akan mengikuti perundingan tersebut.

Selat Hormuz Menjadi Kunci Stabilitas Energi Dunia

Selat Hormuz kembali menjadi pusat perhatian dunia karena sekitar 20 persen perdagangan minyak mentah dan gas alam cair (LNG) global melewati jalur laut strategis tersebut setiap hari.

Sejak konflik Amerika Serikat, Israel, dan Iran kembali meningkat pada akhir Februari 2026, pasar energi global mengalami gejolak tajam akibat meningkatnya risiko gangguan distribusi minyak dari kawasan Teluk Persia.

BACA JUGA:  Panas! Iran Tak Gentar Ultimatum Trump, Siap Tutup Selat Hormuz

SulawesiPos.com – Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan bahwa putaran baru perundingan dengan Iran akan dimulai Senin (3/8/2026) setelah ia membatalkan rencana serangan militer besar terhadap Republik Islam tersebut atas permintaan sejumlah sekutu Amerika di Timur Tengah, termasuk Arab Saudi, Uni Emirat Arab, dan Qatar, karena mereka meyakini kesepakatan mengenai Selat Hormuz dan isu program nuklir Iran sudah berada dalam jangkauan, sementara pasar energi dunia langsung merespons dengan penurunan tajam harga minyak mentah hingga lebih dari lima persen.

Dilaporkan BBC News, Trump mengatakan pembicaraan dengan Iran akan dimulai pada Senin sore waktu setempat sebagai bagian dari upaya negosiasi untuk mengakhiri konflik yang telah berlangsung berbulan-bulan.

Ia mengungkapkan bahwa Amerika Serikat sebenarnya telah siap melancarkan operasi militer yang disebutnya sebagai “serangan terbesar sejak Perang Dunia II”, namun akhirnya memilih menunda operasi tersebut demi memberi ruang bagi penyelesaian diplomatik.

Presiden Amerika itu menolak menetapkan tenggat waktu tercapainya kesepakatan, tetapi menegaskan Washington siap mengambil tindakan kapan saja apabila diplomasi gagal menghasilkan solusi.

BACA JUGA:  Konflik AS-Iran Kembali Memanas, Harga Minyak Dunia Melonjak Tembus USD 91 per Barel

Trump juga menyatakan dirinya tidak menginginkan jatuhnya korban jiwa dan memilih memberikan kesempatan terakhir bagi jalur perundingan.

Hingga berita ini dipublikasikan, Pemerintah Iran belum memberikan tanggapan resmi terhadap pernyataan terbaru Trump mengenai dimulainya kembali perundingan.

Media semi-resmi Iran, Mehr News Agency, justru membantah klaim Trump bahwa Teheran meminta Amerika Serikat menunda serangan militer dan menyebut pernyataan tersebut sebagai “kebohongan baru”.

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi sebelumnya menyampaikan bahwa negosiasi dengan Oman mengenai pengaturan baru pelayaran di Selat Hormuz telah memasuki tahap akhir penyelesaian menurut laporan media Iran.

Trump belum mengumumkan lokasi maupun komposisi delegasi yang akan mengikuti perundingan tersebut.

Selat Hormuz Menjadi Kunci Stabilitas Energi Dunia

Selat Hormuz kembali menjadi pusat perhatian dunia karena sekitar 20 persen perdagangan minyak mentah dan gas alam cair (LNG) global melewati jalur laut strategis tersebut setiap hari.

Sejak konflik Amerika Serikat, Israel, dan Iran kembali meningkat pada akhir Februari 2026, pasar energi global mengalami gejolak tajam akibat meningkatnya risiko gangguan distribusi minyak dari kawasan Teluk Persia.

BACA JUGA:  "Locked and Loaded”: Ketika Bahasa Militer Trump Membuka Ancaman Intervensi atas Iran

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru