Arab Saudi Pimpin Koalisi Militer 14 Negara Hadapi Ancaman Houthi

SulawesiPos.com – Arab Saudi pada Kamis, 30 Juli 2026, mengumumkan pembentukan koalisi pertahanan maritim multinasional bersama 13 negara untuk melindungi kapal dagang, jalur ekspor energi, serta kebebasan pelayaran di Laut Merah, Selat Bab el-Mandeb, dan Teluk Aden dari meningkatnya serangan Houthi Yaman melalui kerja sama intelijen, latihan militer, dan operasi maritim terpadu.

The New York Times melaporkan perkembangan ini pada 31 Juli 2026.

Kementerian Pertahanan Arab Saudi menyatakan koalisi tersebut didukung Arab Saudi, Bahrain, Bangladesh, Djibouti, Mesir, Yordania, Kuwait, Nigeria, Pakistan, Qatar, Somalia, Sudan, Turki, dan Yaman.

Riyadh akan bertindak sebagai negara pendiri, pemimpin, sekaligus tuan rumah markas besar koalisi yang diklaim bersifat defensif, terbuka, dan tidak ditujukan untuk menyerang negara tertentu.

Rencana tersebut dibahas dalam pertemuan internasional di Riyadh yang diikuti secara langsung maupun daring oleh kepala militer dan perwakilan dari 43 negara serta delegasi Uni Eropa.

Arab Saudi sebelumnya mengundang sekitar 50 negara, termasuk Amerika Serikat dan sejumlah negara Eropa, tetapi beberapa pemerintah Barat masih mempelajari bentuk komando, aturan pelibatan, pembiayaan, dan konsekuensi politik dari keanggotaan mereka.

BACA JUGA:  Lamine Yamal Cetak Gol Perdana di Piala Dunia 2026, Samai Rekor Pelé

Blokade Houthi Mengubah Laut Merah Menjadi Medan Perang

Pembentukan koalisi dipercepat setelah Houthi pada 20 Juli 2026 mengumumkan blokade terhadap kapal-kapal yang berkaitan dengan Arab Saudi sebagai balasan atas tindakan Riyadh yang oleh kelompok tersebut disebut sebagai pengepungan terhadap wilayah Yaman yang mereka kuasai.

Houthi kemudian mengklaim telah menyerang sejumlah kapal terkait Saudi, sementara Riyadh membalas dengan serangan udara terhadap lokasi di wilayah Yaman yang disebut digunakan untuk mengancam pelayaran komersial.

Arab Saudi menilai mekanisme keamanan yang telah ada belum cukup kuat untuk mencegah serangan drone, rudal, kapal tanpa awak, ranjau laut, dan perahu bersenjata terhadap kapal dagang.

Ancaman tersebut turut mendorong pasar asuransi maritim London memperluas zona berisiko tinggi di Laut Merah, langkah yang dapat meningkatkan premi, biaya angkutan, dan harga barang yang diangkut melalui kawasan itu.

Data perusahaan analisis maritim Windward yang dikutip dalam laporan utama menunjukkan lalu lintas kapal Saudi dan kapal lain melalui Bab el-Mandeb berkurang sekitar seperlima setelah deklarasi blokade tersebut.

BACA JUGA:  Trump Umumkan Ali Khamenei Tewas, AS–Israel Gempur Kompleks Kediaman di Teheran

SulawesiPos.com – Arab Saudi pada Kamis, 30 Juli 2026, mengumumkan pembentukan koalisi pertahanan maritim multinasional bersama 13 negara untuk melindungi kapal dagang, jalur ekspor energi, serta kebebasan pelayaran di Laut Merah, Selat Bab el-Mandeb, dan Teluk Aden dari meningkatnya serangan Houthi Yaman melalui kerja sama intelijen, latihan militer, dan operasi maritim terpadu.

The New York Times melaporkan perkembangan ini pada 31 Juli 2026.

Kementerian Pertahanan Arab Saudi menyatakan koalisi tersebut didukung Arab Saudi, Bahrain, Bangladesh, Djibouti, Mesir, Yordania, Kuwait, Nigeria, Pakistan, Qatar, Somalia, Sudan, Turki, dan Yaman.

Riyadh akan bertindak sebagai negara pendiri, pemimpin, sekaligus tuan rumah markas besar koalisi yang diklaim bersifat defensif, terbuka, dan tidak ditujukan untuk menyerang negara tertentu.

Rencana tersebut dibahas dalam pertemuan internasional di Riyadh yang diikuti secara langsung maupun daring oleh kepala militer dan perwakilan dari 43 negara serta delegasi Uni Eropa.

Arab Saudi sebelumnya mengundang sekitar 50 negara, termasuk Amerika Serikat dan sejumlah negara Eropa, tetapi beberapa pemerintah Barat masih mempelajari bentuk komando, aturan pelibatan, pembiayaan, dan konsekuensi politik dari keanggotaan mereka.

BACA JUGA:  Indonesia Ekspor Beras ke Arab Saudi dan Salurkan Bantuan ke Palestina, Bukti Produksi Kuat dan Stok Nasional Aman

Blokade Houthi Mengubah Laut Merah Menjadi Medan Perang

Pembentukan koalisi dipercepat setelah Houthi pada 20 Juli 2026 mengumumkan blokade terhadap kapal-kapal yang berkaitan dengan Arab Saudi sebagai balasan atas tindakan Riyadh yang oleh kelompok tersebut disebut sebagai pengepungan terhadap wilayah Yaman yang mereka kuasai.

Houthi kemudian mengklaim telah menyerang sejumlah kapal terkait Saudi, sementara Riyadh membalas dengan serangan udara terhadap lokasi di wilayah Yaman yang disebut digunakan untuk mengancam pelayaran komersial.

Arab Saudi menilai mekanisme keamanan yang telah ada belum cukup kuat untuk mencegah serangan drone, rudal, kapal tanpa awak, ranjau laut, dan perahu bersenjata terhadap kapal dagang.

Ancaman tersebut turut mendorong pasar asuransi maritim London memperluas zona berisiko tinggi di Laut Merah, langkah yang dapat meningkatkan premi, biaya angkutan, dan harga barang yang diangkut melalui kawasan itu.

Data perusahaan analisis maritim Windward yang dikutip dalam laporan utama menunjukkan lalu lintas kapal Saudi dan kapal lain melalui Bab el-Mandeb berkurang sekitar seperlima setelah deklarasi blokade tersebut.

BACA JUGA:  Iran Ungkap Serangan Udara Israel di Teheran Tewaskan Ali Larijani

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru