SulawesiPos.com – Pencarian lima jurnalis dan tiga awak speedboat yang hilang saat meliput aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda memasuki hari ke-10, Kamis (17/9/2026).
Operasi pencarian gabungan kini mencakup area seluas 8.509 mil laut persegi dengan pengerahan 24 unit alut untuk menyisir 10 sektor.
Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Lampung Deden Ridwansyah mengatakan seluruh unsur SAR terus memaksimalkan sumber daya yang tersedia dalam operasi hari ke-10.
“Memasuki hari kesepuluh ini, kami dari Tim SAR Gabungan Lampung terus berupaya memaksimalkan seluruh sumber daya alutsista yang ada di lapangan,” kata Deden.
Di tengah pencarian yang masih berlangsung, aspek keselamatan jurnalis dalam penugasan di wilayah bencana menjadi perhatian.
Ketua Pewarta Foto Indonesia (PFI) Makassar, Iqbal Lubis, mendorong agar pengalaman dari penugasan di medan ekstrem menjadi bahan evaluasi untuk memperkuat sistem keselamatan jurnalis ke depan.
Menurut Iqbal, mitigasi risiko perlu dipersiapkan sejak sebelum jurnalis berangkat ke lokasi.
Riset mengenai karakter wilayah, kondisi cuaca, dan situasi lingkungan menjadi bagian penting untuk membantu tim memahami risiko yang mungkin dihadapi selama peliputan.
“Dari teman-teman jurnalis untuk keselamatannya juga, keselamatan kerja di lapangan juga sebaiknya teman-teman punya riset awal dulu di lokasi, di mana area peliputan yang akan didatangi. Jadi sebelum itu kita harus punya, termasuk bagaimana kondisi cuaca dan sebagainya, itu semua harus dipertimbangkan,” ujar Iqbal kepada SulawesiPos.com, Kamis (17/9/2026).
Persiapan Sebelum Penugasan
Selain riset lokasi, sistem komunikasi juga perlu dipastikan sebelum jurnalis memasuki wilayah dengan tingkat risiko tinggi.
Salah satu langkah yang dapat diterapkan ialah buddy system, yakni memastikan ada pihak lain yang mengetahui keberadaan dan posisi jurnalis selama menjalankan tugas.
“Ketika teman-teman melakukan peliputan di daerah bencana ataupun di area yang benar-benar teman-teman tidak paham dengan lokasinya, sebaiknya teman-teman memiliki buddy atau mengabarkan buddy-nya ketika berada di lokasi terakhir,” katanya.
Selain itu, perusahaan media juga dinilai perlu memastikan personel yang ditugaskan memiliki pengalaman dan pemahaman terhadap medan, sekaligus mendapat persiapan yang memadai sebelum berangkat.
“Dari perusahaan media itu sendiri seharusnya sudah mempersiapkan dengan baik para jurnalisnya sebelum melakukan penugasan. Jadi benar-benar orang yang sudah berpengalaman dan orang-orang yang sudah menguasai medan,” tuturnya.
Dukungan peralatan juga menjadi bagian dari mitigasi. Alat komunikasi, GPS, dan perangkat pendukung lainnya dinilai penting untuk membantu jurnalis mengetahui posisi dan menjaga komunikasi selama berada di lokasi yang sulit dijangkau.
Menurut Iqbal, persiapan tersebut perlu menjadi bagian dari standar ketika jurnalis mendapat tugas di wilayah bencana maupun medan yang memiliki kondisi ekstrem.
“Termasuk alat komunikasi, GPS, dan sebagainya. Termasuk mempelajari alam dan sebagainya, itu sangat penting,” tambahnya.
Khusus bagi jurnalis visual, kebutuhan mendapatkan gambar langsung dari lokasi juga perlu diimbangi dengan kemampuan membaca kondisi lingkungan.
Pertimbangan keselamatan, kata Iqbal, tetap perlu menjadi bagian dari pengambilan keputusan ketika kondisi di lapangan berubah.
“Sebagai orang yang profesional ya kita harus juga melihat dan mengukur kemampuan diri dan kondisi alam lingkungan dan kondisi dari lokasi yang ingin diliput itu sendiri,” jelasnya.
Iqbal Lubis mengapresiasi upaya Tim SAR Gabungan yang terus memaksimalkan pencarian terhadap lima jurnalis dan tiga awak speedboat yang hilang di perairan sekitar Anak Krakatau.
Ia berharap proses pencarian yang memasuki hari ke-10 dapat memberikan perkembangan mengenai keberadaan lima jurnalis dan tiga awak kapal tersebut.
“Yang saya harapkan adalah lima kawan jurnalis dan tiga ABK ini segera ada kabar baik. Minimal ada petunjuk buat kawan-kawan di hari kesepuluh ini,” katanya.
Tiga awak speedboat dalam rombongan tersebut yakni Warta (55) selaku nakhoda, Surakman (60) sebagai ABK, serta Heriyanto (49) yang bertugas sebagai pemandu.
Sementara lima jurnalis yang berada dalam rombongan yakni M. Bagus Khoirunnas (28) dari Antara, Ari Basuki (52) dari Merdeka, Yudhis (43) dari iNews, Daus (42) dari Anadolu, serta Donal (51), jurnalis lepas.
Rombongan berangkat dari Dermaga Pagedongan, Carita, Kabupaten Pandeglang, Banten, pada Senin (7/9/2026) sekitar pukul 14.00 WIB.
Mereka menuju kawasan Anak Krakatau untuk meliput aktivitas erupsi gunung tersebut.


