Villa Hegra, Pusat Kebudayaan Bersama Saudi–Prancis Pertama, Perluas Program Seni dan Kreativitas

SulawesiPos.com – Arab Saudi dan Prancis memperluas program Villa Hegra di AlUla, Arab Saudi, sepanjang 2026 melalui residensi penulisan skenario dan desain perangkat makan untuk mempertemukan sineas, seniman, desainer, serta perajin lintas negara dalam penciptaan karya kontemporer berbasis warisan lokal, setelah lembaga kebudayaan bersama pertama kedua negara itu resmi diluncurkan pada Oktober 2025.

Villa Hegra dirancang sebagai ruang terbuka bagi kreativitas, pendidikan, penelitian, dan pertukaran budaya yang menghubungkan masyarakat AlUla dengan khalayak internasional melalui seni rupa, desain, film, musik, tari, serta seni pertunjukan.

Lembaga tersebut diresmikan Menteri Kebudayaan Arab Saudi sekaligus Gubernur Komisi Kerajaan untuk AlUla dan Ketua Yayasan Villa Hegra, Pangeran Badr bin Abdullah bin Farhan Al-Saud.

Pengembangan program terbarunya menandai perubahan Villa Hegra dari sebuah proyek diplomasi kebudayaan menjadi pusat produksi pengetahuan dan karya yang memberikan ruang nyata bagi talenta Arab Saudi, kawasan Asia Barat dan Afrika Utara, serta dunia. Demikian laporan Arab News pada 25 Agustus 2026.

Dari Skenario Film hingga Perangkat Makan Artistik

Villa Hegra bersama Film AlUla dan Badan Prancis untuk Pengembangan AlUla atau AFALULA mengumumkan residensi penulisan skenario pada Mei 2026 dengan menggandeng Le Groupe Ouest serta program LIM² atau Less is More.

Program yang berlangsung melalui sesi di Brittany, Prancis, dan AlUla itu ditujukan untuk mendampingi pengembangan awal film panjang melalui dua jalur yang masing-masing menampung delapan sineas internasional serta delapan sineas Arab Saudi dan kawasan Asia Barat-Afrika Utara.

Villa Hegra kemudian membuka residensi desain perangkat makan pertamanya di Champignelles, Burgundy, pada 8 Juni hingga 17 Juli 2026 bersama Campus Mana dan Komisi Seni Kuliner Kementerian Kebudayaan Arab Saudi.

Enam desainer perempuan Arab Saudi yang terpilih melalui seleksi terbuka dilibatkan dalam lokakarya tekstil, kriya kayu, keramik, dan logam bersama para perajin setempat untuk menciptakan koleksi perangkat makan perdana Villa Hegra.

BACA JUGA:  Usai Duel Sengit, Pemain Inggris dan Prancis Tunjukkan Respek di Piala Dunia 2026

Program tersebut memperlihatkan bahwa benda sehari-hari dapat menjadi medium diplomasi budaya karena bentuk, bahan, teknik produksi, dan pola pemakaiannya menyimpan pengetahuan mengenai identitas masyarakat serta hubungan manusia dengan lingkungannya.

Direktur Utama Villa Hegra Feriel Fodil menyebut lembaga itu unik dalam jaringan vila kebudayaan dunia karena dikelola melalui kepemimpinan, kurasi, dan penciptaan bersama antara Arab Saudi dan Prancis.

Modelnya disejajarkan dengan jaringan lembaga kebudayaan Prancis seperti Villa Medici di Roma dan Villa Kujoyama di Kyoto, tetapi Villa Hegra mempunyai ciri tersendiri sebagai institusi bilateral yang berdiri dan beroperasi di Arab Saudi.

Program untuk anak-anak dan remaja, residensi bersama seniman Saudi-Prancis, serta lokakarya musik dengan Philharmonie de Paris disiapkan agar pertukaran budaya tidak hanya dinikmati kalangan elite, melainkan turut menumbuhkan kecakapan kreatif generasi muda AlUla.

Seniman Arab Saudi Badr Ali, misalnya, berkolaborasi dengan produsen furnitur modular Swiss USM untuk mengubah karya seni dari objek pajangan yang tidak boleh disentuh menjadi furnitur interaktif yang dapat diduduki, digunakan menyimpan barang, dan hadir dalam kehidupan sehari-hari.

Seniman Prancis Paul-Émileu Marchesseau juga bekerja bersama perajin AlUla untuk menghasilkan furnitur Villa Hegra, sehingga pengetahuan tradisional setempat tidak sekadar dipamerkan, tetapi ditempatkan dalam proses penciptaan kontemporer.

Diplomasi Budaya Mengubah Wajah AlUla

Akar kelembagaan proyek tersebut berasal dari perjanjian antarpemerintah yang ditandatangani Arab Saudi dan Prancis di Paris pada April 2018, yang membentuk kerangka kerja pengembangan AlUla dalam bidang pelestarian warisan, kebudayaan, pariwisata, pendidikan, dan pembangunan berkelanjutan.

Kesepakatan lanjutan pada 2021 meletakkan fondasi Villa Hegra, sedangkan lembaga multidisipliner itu dibentuk secara resmi melalui dekret kerajaan ketika Presiden Prancis Emmanuel Macron mengunjungi Arab Saudi pada 2024 sebelum dibuka pada Oktober 2025.

BACA JUGA:  Presiden Prabowo Tiba di Indonesia Usai Sambangi Tiga Negara, Ini Hasilnya

Kerja sama Komisi Kerajaan untuk AlUla atau RCU dan AFALULA sejak 2019 telah menghasilkan lebih dari 170 kontrak bagi perusahaan Prancis dengan nilai gabungan melampaui 200 juta dolar AS, sementara sedikitnya 80 perusahaan Prancis tercatat terlibat dalam berbagai proyek AlUla selama 2018–2025.

Kemitraan ini sejalan dengan Visi Saudi 2030 yang berupaya mendiversifikasi perekonomian di luar minyak melalui industri kreatif, pariwisata berkelanjutan, pendidikan, penelitian, dan peningkatan keterampilan masyarakat setempat.

Keterlibatan warga menjadi faktor penting karena pelestarian kawasan bersejarah akan lebih berkelanjutan apabila masyarakat memperoleh akses terhadap pendidikan, pekerjaan, kewirausahaan, serta hak untuk berpartisipasi dalam menentukan cara warisannya dipahami dan dimanfaatkan.

Arkeologi Membuka Mata Rantai Sejarah Arabia

AlUla merupakan oasis bersejarah pada jalur perdagangan kuno yang menghubungkan Jazirah Arab dengan kawasan sekitarnya serta menaungi situs Dadan, Jabal Ikmah, Kota Tua AlUla, dan Hegra yang tercatat sebagai situs Warisan Dunia UNESCO pertama di Arab Saudi sejak 2008.

Kolaborasi arkeologi Saudi-Prancis telah berlangsung lebih dari dua dasawarsa dan melibatkan lebih dari 150 ahli, termasuk melalui 14 proyek penelitian, survei, dan ekskavasi yang diluncurkan sejak 2019.

Lima tahun temuan misi gabungan RCU dan Pusat Nasional Prancis untuk Penelitian Ilmiah di Dadan kemudian dipresentasikan melalui pameran permanen bertajuk Illuminating Discoveries: Uncovering the Layers of Dadan’s History ketika situs tersebut dibuka kembali pada penghujung 2025.

Pameran itu menghadirkan lebih dari 100 artefak yang merekam kehidupan dan perkembangan historis AlUla, sedangkan salah satu patung Dadan dipinjamkan kepada Museum Louvre di Paris untuk memperluas pengenalan warisan Arabia kepada masyarakat internasional.

Salah satu temuan terpenting memberikan bukti yang membantu menjembatani kekosongan informasi antara periode Nabatea dan awal Islam di Wadi Al-Qura, sekaligus menunjukkan bahwa AlUla merupakan bagian dari jaringan permukiman aktif di Arabia barat laut menjelang kemunculan Islam.

BACA JUGA:  Inggris Hancurkan Prancis 4-0 Jelang Turun Minum di Perebutan Tempat Ketiga Piala Dunia 2026

RCU dan Universitas Paris 1 Panthéon-Sorbonne turut mengembangkan pendidikan arkeologi melalui program magister internasional, sekolah lapangan, serta rencana pembentukan pusat dan kursi penelitian yang menghubungkan Paris dengan AlUla.

Program pengembangan kapasitas lainnya telah mengirim 106 pemuda dan pemudi AlUla untuk belajar di Prancis serta melatih 15 peserta dalam bidang arkeologi, sedangkan kemitraan Ferrandi Paris-AlUla memperkuat keterampilan lokal dalam seni kuliner dan pengelolaan perhotelan.

Dari Gurun Purba Menuju Panggung Kreatif Global

Kemitraan RCU dengan Centre Pompidou mendukung perencanaan museum seni kontemporer AlUla, termasuk melalui pameran perdana Arduna atau “Tanah Kita” yang menyajikan lebih dari 80 karya seniman lokal dan internasional mengenai perubahan hubungan manusia dengan lingkungan dalam enam bab tematik.

Hubungan seni dan ruang hidup juga diperlihatkan dalam pertunjukan Vertige pada Festival Seni AlUla 2026 di Wadi AlFann, ketika para pelintas tali tinggi dan akrobat Prancis berpadu dengan anak-anak setempat dalam sebuah koreografi mengenai keberanian dan transendensi.

Karya hasil program residensi AlUla selanjutnya dijadwalkan tampil dalam pameran Life of Forms pada Paris Design Week, 8–13 September 2026, dengan menyoroti pengaruh bahan alam dan kerajinan tradisional terhadap pemikiran desain kontemporer.

Villa Hegra kini memperlihatkan bahwa pelestarian warisan tidak harus membekukan masa lalu, tetapi dapat menghidupkannya melalui penelitian ilmiah, pendidikan, penciptaan seni, transfer keahlian, dan kerja sama setara lintas kebudayaan.

Transformasi AlUla pada akhirnya bukan sekadar proyek pembangunan destinasi wisata, melainkan eksperimen besar mengenai bagaimana oasis purba dapat menjadi jembatan peradaban yang mempertemukan memori sejarah, kreativitas manusia, kelestarian lingkungan, dan masa depan ekonomi berbasis pengetahuan. (Ali)

SulawesiPos.com – Arab Saudi dan Prancis memperluas program Villa Hegra di AlUla, Arab Saudi, sepanjang 2026 melalui residensi penulisan skenario dan desain perangkat makan untuk mempertemukan sineas, seniman, desainer, serta perajin lintas negara dalam penciptaan karya kontemporer berbasis warisan lokal, setelah lembaga kebudayaan bersama pertama kedua negara itu resmi diluncurkan pada Oktober 2025.

Villa Hegra dirancang sebagai ruang terbuka bagi kreativitas, pendidikan, penelitian, dan pertukaran budaya yang menghubungkan masyarakat AlUla dengan khalayak internasional melalui seni rupa, desain, film, musik, tari, serta seni pertunjukan.

Lembaga tersebut diresmikan Menteri Kebudayaan Arab Saudi sekaligus Gubernur Komisi Kerajaan untuk AlUla dan Ketua Yayasan Villa Hegra, Pangeran Badr bin Abdullah bin Farhan Al-Saud.

Pengembangan program terbarunya menandai perubahan Villa Hegra dari sebuah proyek diplomasi kebudayaan menjadi pusat produksi pengetahuan dan karya yang memberikan ruang nyata bagi talenta Arab Saudi, kawasan Asia Barat dan Afrika Utara, serta dunia. Demikian laporan Arab News pada 25 Agustus 2026.

Dari Skenario Film hingga Perangkat Makan Artistik

Villa Hegra bersama Film AlUla dan Badan Prancis untuk Pengembangan AlUla atau AFALULA mengumumkan residensi penulisan skenario pada Mei 2026 dengan menggandeng Le Groupe Ouest serta program LIM² atau Less is More.

Program yang berlangsung melalui sesi di Brittany, Prancis, dan AlUla itu ditujukan untuk mendampingi pengembangan awal film panjang melalui dua jalur yang masing-masing menampung delapan sineas internasional serta delapan sineas Arab Saudi dan kawasan Asia Barat-Afrika Utara.

Villa Hegra kemudian membuka residensi desain perangkat makan pertamanya di Champignelles, Burgundy, pada 8 Juni hingga 17 Juli 2026 bersama Campus Mana dan Komisi Seni Kuliner Kementerian Kebudayaan Arab Saudi.

Enam desainer perempuan Arab Saudi yang terpilih melalui seleksi terbuka dilibatkan dalam lokakarya tekstil, kriya kayu, keramik, dan logam bersama para perajin setempat untuk menciptakan koleksi perangkat makan perdana Villa Hegra.

BACA JUGA:  Dembélé Hattrick, Prancis Tumbangkan Norwegia 4-1 di Piala Dunia 2026

Program tersebut memperlihatkan bahwa benda sehari-hari dapat menjadi medium diplomasi budaya karena bentuk, bahan, teknik produksi, dan pola pemakaiannya menyimpan pengetahuan mengenai identitas masyarakat serta hubungan manusia dengan lingkungannya.

Direktur Utama Villa Hegra Feriel Fodil menyebut lembaga itu unik dalam jaringan vila kebudayaan dunia karena dikelola melalui kepemimpinan, kurasi, dan penciptaan bersama antara Arab Saudi dan Prancis.

Modelnya disejajarkan dengan jaringan lembaga kebudayaan Prancis seperti Villa Medici di Roma dan Villa Kujoyama di Kyoto, tetapi Villa Hegra mempunyai ciri tersendiri sebagai institusi bilateral yang berdiri dan beroperasi di Arab Saudi.

Program untuk anak-anak dan remaja, residensi bersama seniman Saudi-Prancis, serta lokakarya musik dengan Philharmonie de Paris disiapkan agar pertukaran budaya tidak hanya dinikmati kalangan elite, melainkan turut menumbuhkan kecakapan kreatif generasi muda AlUla.

Seniman Arab Saudi Badr Ali, misalnya, berkolaborasi dengan produsen furnitur modular Swiss USM untuk mengubah karya seni dari objek pajangan yang tidak boleh disentuh menjadi furnitur interaktif yang dapat diduduki, digunakan menyimpan barang, dan hadir dalam kehidupan sehari-hari.

Seniman Prancis Paul-Émileu Marchesseau juga bekerja bersama perajin AlUla untuk menghasilkan furnitur Villa Hegra, sehingga pengetahuan tradisional setempat tidak sekadar dipamerkan, tetapi ditempatkan dalam proses penciptaan kontemporer.

Diplomasi Budaya Mengubah Wajah AlUla

Akar kelembagaan proyek tersebut berasal dari perjanjian antarpemerintah yang ditandatangani Arab Saudi dan Prancis di Paris pada April 2018, yang membentuk kerangka kerja pengembangan AlUla dalam bidang pelestarian warisan, kebudayaan, pariwisata, pendidikan, dan pembangunan berkelanjutan.

Kesepakatan lanjutan pada 2021 meletakkan fondasi Villa Hegra, sedangkan lembaga multidisipliner itu dibentuk secara resmi melalui dekret kerajaan ketika Presiden Prancis Emmanuel Macron mengunjungi Arab Saudi pada 2024 sebelum dibuka pada Oktober 2025.

BACA JUGA:  Inggris Hancurkan Prancis 4-0 Jelang Turun Minum di Perebutan Tempat Ketiga Piala Dunia 2026

Kerja sama Komisi Kerajaan untuk AlUla atau RCU dan AFALULA sejak 2019 telah menghasilkan lebih dari 170 kontrak bagi perusahaan Prancis dengan nilai gabungan melampaui 200 juta dolar AS, sementara sedikitnya 80 perusahaan Prancis tercatat terlibat dalam berbagai proyek AlUla selama 2018–2025.

Kemitraan ini sejalan dengan Visi Saudi 2030 yang berupaya mendiversifikasi perekonomian di luar minyak melalui industri kreatif, pariwisata berkelanjutan, pendidikan, penelitian, dan peningkatan keterampilan masyarakat setempat.

Keterlibatan warga menjadi faktor penting karena pelestarian kawasan bersejarah akan lebih berkelanjutan apabila masyarakat memperoleh akses terhadap pendidikan, pekerjaan, kewirausahaan, serta hak untuk berpartisipasi dalam menentukan cara warisannya dipahami dan dimanfaatkan.

Arkeologi Membuka Mata Rantai Sejarah Arabia

AlUla merupakan oasis bersejarah pada jalur perdagangan kuno yang menghubungkan Jazirah Arab dengan kawasan sekitarnya serta menaungi situs Dadan, Jabal Ikmah, Kota Tua AlUla, dan Hegra yang tercatat sebagai situs Warisan Dunia UNESCO pertama di Arab Saudi sejak 2008.

Kolaborasi arkeologi Saudi-Prancis telah berlangsung lebih dari dua dasawarsa dan melibatkan lebih dari 150 ahli, termasuk melalui 14 proyek penelitian, survei, dan ekskavasi yang diluncurkan sejak 2019.

Lima tahun temuan misi gabungan RCU dan Pusat Nasional Prancis untuk Penelitian Ilmiah di Dadan kemudian dipresentasikan melalui pameran permanen bertajuk Illuminating Discoveries: Uncovering the Layers of Dadan’s History ketika situs tersebut dibuka kembali pada penghujung 2025.

Pameran itu menghadirkan lebih dari 100 artefak yang merekam kehidupan dan perkembangan historis AlUla, sedangkan salah satu patung Dadan dipinjamkan kepada Museum Louvre di Paris untuk memperluas pengenalan warisan Arabia kepada masyarakat internasional.

Salah satu temuan terpenting memberikan bukti yang membantu menjembatani kekosongan informasi antara periode Nabatea dan awal Islam di Wadi Al-Qura, sekaligus menunjukkan bahwa AlUla merupakan bagian dari jaringan permukiman aktif di Arabia barat laut menjelang kemunculan Islam.

BACA JUGA:  Timnas Putri Indonesia Buka Srikandi Merdeka Cup dengan Hajar Arab Saudi 7-0

RCU dan Universitas Paris 1 Panthéon-Sorbonne turut mengembangkan pendidikan arkeologi melalui program magister internasional, sekolah lapangan, serta rencana pembentukan pusat dan kursi penelitian yang menghubungkan Paris dengan AlUla.

Program pengembangan kapasitas lainnya telah mengirim 106 pemuda dan pemudi AlUla untuk belajar di Prancis serta melatih 15 peserta dalam bidang arkeologi, sedangkan kemitraan Ferrandi Paris-AlUla memperkuat keterampilan lokal dalam seni kuliner dan pengelolaan perhotelan.

Dari Gurun Purba Menuju Panggung Kreatif Global

Kemitraan RCU dengan Centre Pompidou mendukung perencanaan museum seni kontemporer AlUla, termasuk melalui pameran perdana Arduna atau “Tanah Kita” yang menyajikan lebih dari 80 karya seniman lokal dan internasional mengenai perubahan hubungan manusia dengan lingkungan dalam enam bab tematik.

Hubungan seni dan ruang hidup juga diperlihatkan dalam pertunjukan Vertige pada Festival Seni AlUla 2026 di Wadi AlFann, ketika para pelintas tali tinggi dan akrobat Prancis berpadu dengan anak-anak setempat dalam sebuah koreografi mengenai keberanian dan transendensi.

Karya hasil program residensi AlUla selanjutnya dijadwalkan tampil dalam pameran Life of Forms pada Paris Design Week, 8–13 September 2026, dengan menyoroti pengaruh bahan alam dan kerajinan tradisional terhadap pemikiran desain kontemporer.

Villa Hegra kini memperlihatkan bahwa pelestarian warisan tidak harus membekukan masa lalu, tetapi dapat menghidupkannya melalui penelitian ilmiah, pendidikan, penciptaan seni, transfer keahlian, dan kerja sama setara lintas kebudayaan.

Transformasi AlUla pada akhirnya bukan sekadar proyek pembangunan destinasi wisata, melainkan eksperimen besar mengenai bagaimana oasis purba dapat menjadi jembatan peradaban yang mempertemukan memori sejarah, kreativitas manusia, kelestarian lingkungan, dan masa depan ekonomi berbasis pengetahuan. (Ali)

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru