SulawesiPos.com — Aliansi Mahasiswa Universitas Muslim Indonesia (UMI) menggelar aksi unjuk rasa berupa mimbar bebas di depan kampusnya, jalan Urip Sumoharjo, Rabu (21/10/2026).
Aksi yang dipimpin Sudirman Bagas selaku Jenderal Lapangan (Korlap) ini diisi dengan aksi blokade jalan serta pembakaran ban bekas sebagai bentuk protes terhadap dua tahun kepemimpinan nasional.
Aksi yang diikuti oleh sekitar 20 mahasiswa ini berdampak signifikan terhadap arus lalu lintas.
Blokade jalan tersebut memicu kemacetan panjang dari arah pusat Kota Makassar menuju kawasan Tamalanrea, termasuk penumpukan kendaraan di atas flyover Urip Sumoharjo.
Dalam orasinya, massa aksi mengangkat tema “Dua Tahun Prabowo-Gibran; Menolak Tunduk Ditengah Gempuran Militerisme”. Aliansi Mahasiswa UMI menilai bahwa dua tahun perjalanan rezim ini membawa negeri semakin mendekati kehancuran, salah satunya ditandai dengan menguatnya cengkeraman militerisme di hampir seluruh sektor sipil.
“Semenjak revisi UU TNI diketuk palu setahun silam, kini dapat kita saksikan segala urusan sipil diambil alih oleh seragam loreng bersenjata,” tegas Sudirman Bagas saat memimpin aksi.
“Rezim yang mengandalkan militerisme dalam mengurusi persoalan sipil menunjukkan pada kita bahwa kekuasaan tidak percaya pada dialog, tidak percaya pada suara rakyat. Ia lebih percaya kekuatan yang menyanjung dan menghormati dirinya,” ujar Sudirman.
Selain isu militerisme, mahasiswa juga menyoroti berbagai persoalan sosial dan kebijakan pemerintah yang meresahkan masyarakat. Mulai dari polemik proyek pembangunan Kopdes yang tidak jelas, temuan 16.734 titik koordinat pembangunan yang masuk ke dalam kawasan hutan oleh Feri Amsari di Kabinet Bayangan, hingga keresahan publik terhadap program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Berdasarkan data surveilans Kementerian Kesehatan per 2 September 2026, kasus keracunan makanan akibat program MBG telah berdampak pada 50.059 orang dengan 560 kejadian di 245 kabupaten/kota dan 36 provinsi.
Aliansi juga menyoroti krisis ekologis yang parah akibat kerusakan alam di Sumatra, NTT, Papua, hingga Kalimantan. Data Auriga Nusantara mencatat deforestasi alam di Indonesia pada 2025 mencapai 433.751 hektare, yang meningkat drastis 66 persen dari tahun sebelumnya.
Di sisi lain, Kementerian Kesehatan mencatat kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) akibat asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) telah mencapai 306.309 jiwa, sementara pemerintah dinilai sibuk mengurus pembagian makanan bergizi dan menganggap kerusakan alam sebatas musibah biasa tanpa menindak tegas kejahatan korporasi.
Menyikapi berbagai fenomena tersebut, Aliansi Mahasiswa UMI menyampaikan lima tuntutan tegas. Mereka menuntut agar militer dikembalikan ke barak serta menolak militerisme masuk ke ranah sipil dan kampus.
Mahasiswa UMI juga mendesak agar kebakaran hutan serta kerusakan alam di Kalimantan dan Sumatra ditetapkan sebagai bencana nasional, menuntut pertanggungjawaban atas kesehatan warga, serta mengadili dan mencabut izin korporasi yang bertanggung jawab.
Selain itu, mereka menuntut penghentian pembatasan kebebasan berpendapat dan pembungkaman menggunakan militerisme, penghentian program MBG dengan pengalihan anggaran untuk pendidikan berkualitas, serta penghentian segala bentuk perampasan ruang hidup.
Aksi unjuk rasa ini berlangsung di bawah pengawalan aparat kepolisian guna mengurai kemacetan panjang yang melumpuhkan sebagian jalur utama Kota Makassar.


