SulawesiPos.com – Gerakan Pangan Murah (GPM) telah digelar sebanyak 11.349 kali di seluruh Indonesia sepanjang Januari hingga Oktober 2026.
Di tengah upaya menjaga stabilitas harga pangan, Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) Saleh Mustafa menyoroti daya beli masyarakat yang relatif rendah dan mendorong optimalisasi bantuan pangan dari pemerintah.
Saleh mengatakan, pelaksanaan GPM perlu terus ditingkatkan dan dievaluasi agar intervensi pemerintah benar-benar berdampak terhadap kemampuan masyarakat memenuhi kebutuhan pokok.
“Saya sangat mengapresiasi gerakan ini karena sangat membantu masyarakat. Namun, kita juga harus melihat kondisi riil bahwa daya beli masyarakat saat ini relatif rendah,” ujar Saleh saat menghadiri GPM Nasional di Jakarta, Kamis (22/10).
Menurut dia, bantuan pangan yang telah direncanakan Presiden perlu dioptimalkan untuk membantu masyarakat memenuhi kebutuhan pokok secara merata.
Pemerintah juga perlu memperkuat langkah intervensi agar lebih cepat merespons gejolak harga di daerah.
Sepanjang Januari hingga Oktober 2026, GPM tercatat berlangsung sebanyak 11.349 kegiatan.
Jumlah tersebut terdiri atas 127 kegiatan di tingkat pusat, 2.071 kegiatan di tingkat provinsi, 8.710 kegiatan di kabupaten/kota, serta 441 kegiatan bersama mitra.
Program ini dilaksanakan di 38 provinsi dan 514 kabupaten/kota dengan melibatkan pemerintah daerah, Badan Pangan Nasional (Bapanas), BUMN, BUMD, serta pelaku usaha swasta.
Kendaraan Pengujian Pangan Dukung Respons Gejolak Harga
Selain menggelar penjualan bahan pokok dengan harga terjangkau, pemerintah memperkuat dukungan sarana untuk menguji keamanan pangan dan menangani gejolak harga.
Dalam kegiatan tersebut, pemerintah menyerahkan kendaraan untuk mendukung pengujian komoditas pangan, termasuk memastikan cabai yang dipasarkan aman dikonsumsi dan tidak mengandung bahan berbahaya.
Pemerintah juga menghadirkan kendaraan pendukung program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) dari Bapanas.
Fasilitas ini diharapkan membantu pemantauan kondisi pangan sekaligus mempercepat intervensi di wilayah yang mengalami ketidakstabilan harga.
“Tujuannya agar ketika terjadi gejolak atau harga pangan tidak stabil di suatu wilayah, kita bisa melakukan intervensi secara cepat,” kata Saleh.
GPM Nasional diselenggarakan dalam rangka Hari Pangan Sedunia 2026. Di Jakarta, kegiatan dipusatkan di tiga lokasi, yakni bantaran sungai Flyover Kalibata Cawang-Cililitan, Kantor RW 007 Kelurahan Bidara Cina, Jakarta Timur, serta Kantor Kelurahan Bukit Duri, Jakarta Selatan.
Pemilihan kawasan padat penduduk bertujuan mendekatkan layanan pangan murah kepada masyarakat.
Dalam kegiatan tersebut, pemerintah menyediakan 400 paket beras gratis dan 2.400 voucher belanja senilai Rp15.000 per voucher.
Berbagai komoditas juga dijual dengan harga di bawah harga pasar. Persediaan yang disiapkan meliputi beras SPHP sebanyak 12,25 ton, beras premium 6 ton, gula pasir 3,24 ton, minyak goreng 5.500 liter, ayam 1.200 ekor, daging sapi 150 kilogram, serta telur ayam ras 870 kilogram.
Komoditas lainnya terdiri atas cabai rawit merah sebanyak 80 kilogram, cabai merah keriting 185 kilogram, bawang merah 170 kilogram, dan bawang putih 150 kilogram.
Pemerintah berharap penguatan pelaksanaan GPM dan koordinasi lintas instansi dapat menjaga ketersediaan serta stabilitas harga pangan, sekaligus memperluas akses masyarakat terhadap bahan pangan yang aman dan terjangkau.


