Karena itu, sosok Opu Daeng Risadju dapat dilihat sebagai perempuan yang melampaui batas sosial dan budaya pada zamannya.
Ia tidak hanya menjadi bagian dari perjuangan, tetapi menjadi subjek yang menentukan arah perjuangan.
Keberaniannya juga menunjukkan bahwa kepemimpinan tidak hanya dapat dilakukan oleh laki-laki.
Perempuan juga dapat mengambil keputusan, menggerakkan masyarakat, memimpin organisasi, dan menghadapi risiko dari pilihan perjuangannya.
Bahkan, statusnya sebagai bangsawan tidak membuat Opu Daeng Risadju memilih untuk berada di belakang.
Sebaliknya, ia menggunakan kedudukan sosial dan pengetahuan agama yang dimilikinya untuk membangun pengaruh di tengah masyarakat.
Perjuangan Opu Daeng Risadju Mendapat Tekanan
Perjuangan Opu Daeng Risadju tidak berjalan mudah. Aktivitasnya di PSII dan upayanya menyebarkan ajaran Islam di Tanah Luwu mendapat tekanan, baik dari pemerintah kolonial Belanda maupun dari lingkungan keluarganya sendiri.
Belanda kemudian menangkap Opu Daeng Risadju bersama sejumlah pengikutnya.
Setelah menjalani masa tahanan, dukungan terhadap perjuangannya tetap bermunculan.
Sejumlah utusan dan undangan bahkan meminta Opu Daeng Risadju mendirikan ranting PSII di sejumlah wilayah di Tanah Luwu, termasuk Maili dan Patampanua.
Opu Daeng Risadju bersama suaminya kemudian dibawa menuju Palopo melalui jalur laut dengan pengawalan ketat. Keduanya bahkan diborgol.
Bagi kalangan bangsawan Luwu, pemborgolan tersebut dianggap sebagai bentuk penghinaan terhadap kaum bangsawan dan keluarganya.
Pemangku Adat Luwu, termasuk Opu Balirante yang memiliki hubungan darah dengan Opu Daeng Risadju, turut memprotes perlakuan tersebut.
Peristiwa itu menjadi salah satu bagian penting dalam perjalanan perjuangan Opu Daeng Risadju yang harus berhadapan dengan pemerintah kolonial sekaligus menghadapi tekanan dari lingkungan sosialnya.
Disiksa hingga Kehilangan Pendengaran
Tekanan terhadap Opu Daeng Risadju tidak berhenti pada penahanan.
Ia pernah mendapatkan hukuman dari pihak Belanda dan Ketua Distrik Bajo dengan diperintahkan berlari mengelilingi lapangan sepak bola di bawah terik matahari.
Dalam hukuman tersebut, letusan senapan dilakukan di dekatnya.

