SulawesiPos.com – Banyak yang belum mengetahui, nama Jalan Cenderawasih di Kota Makassar, Sulawesi Selatan, sudah berganti menjadi Jalan Opu Daeng Risadju. Perubahan nama jalan tersebut diresmikan pada 2022 oleh Wali Kota Makassar saat itu, Moh Ramdhan ‘Danny’ Pomanto.
Pergantian nama tersebut bukan sekadar perubahan identitas sebuah ruas jalan. Nama Opu Daeng Risadju mengingatkan masyarakat pada sosok perempuan asal Luwu yang dikenal sebagai pejuang kemerdekaan sekaligus salah satu tokoh perempuan penting dalam sejarah perjuangan di Sulawesi Selatan.
Kisah hidupnya lekat dengan perjuangan melawan penjajahan, aktivitas politik, dakwah Islam, hingga keberaniannya menembus batas sosial yang pada masa itu membatasi ruang perempuan.
Asal-usul Opu Daeng Risadju
Opu Daeng Risadju dilahirkan di Palopo, Luwu, pada 1880. Ia terlahir dengan nama Famajjah. Ayahnya bernama Muhammad Abdullah To Bareseng, sedangkan ibunya bernama Opu Daeng Mawellu.
Darah bangsawan diperolehnya dari garis ibunya. Opu Daeng Mawellu disebut merupakan keturunan langsung atau cicit Raja Bone ke-22, La Temmasonge Matimoeri Malimongeng, yang memerintah pada 1749-1775.
Dalam masyarakat Luwu, gelar Opu merupakan titulatur kebangsawanan. Gelar tersebut diberikan kepada seseorang setelah menikah dan berkaitan dengan kedudukan seseorang dalam struktur sosial dan birokrasi kerajaan.
Sebagai perempuan dari keluarga bangsawan, Opu Daeng Risadju memiliki kedudukan terhormat di tengah masyarakat.
Status tersebut membuatnya memiliki ruang untuk berinteraksi dengan berbagai lapisan masyarakat.
Namun, kedudukan sebagai bangsawan tidak membuat Opu Daeng Risadju hanya hidup dalam lingkungan keluarga kerajaan. Ia justru menggunakan ruang sosial yang dimilikinya untuk berhubungan dengan masyarakat hingga kemudian terlibat dalam perjuangan.
Pendidikan Agama Opu Daeng Risadju
Opu Daeng Risadju tidak menempuh pendidikan formal di sekolah. Sejak kecil, ia memperoleh pendidikan agama dari para pengasuh dan guru agama.
Masa kecilnya banyak diisi dengan belajar membaca dan mengaji Al-Qur’an hingga menyelesaikan 30 juz. Selain itu, ia mempelajari ilmu keagamaan seperti fikih, nahwu, saraf, dan balaghah dari sejumlah guru agama dan ulama di Sabang Paru, Luwu.
Pengetahuan agama yang dimilikinya kemudian menjadi salah satu dasar penting dalam perjalanan hidupnya.
Pada masa itu, kesempatan perempuan untuk memperoleh pendidikan formal masih sangat terbatas. Pendidikan bagi perempuan umumnya lebih diarahkan pada kemampuan dasar membaca dan menulis.
Kondisi tersebut membuat pengetahuan agama Opu Daeng Risadju justru jauh lebih menonjol dibandingkan pendidikan umum yang dimilikinya.
Mendapat Gelar Opu Daeng Risadju Setelah Menikah
Setelah dewasa, Famajjah menikah dengan H. Muhammad Daud, seorang ulama asal Bone yang pernah bermukim di Mekkah.
H. Muhammad Daud merupakan anak dari rekan dagang ayah Famajjah. Setelah menikah dengan keluarga bangsawan dan memiliki pengetahuan agama yang luas, H. Muhammad Daud kemudian diangkat menjadi imam Masjid Istana Kerajaan Luwu.
Pernikahan tersebut menjadi bagian penting dalam perjalanan hidup Famajjah. Sesuai tradisi masyarakat Luwu, setelah menikah ia memperoleh gelar Opu Daeng Risadju.
Nama itulah yang kemudian dikenal dalam sejarah perjuangan bangsa Indonesia.
Mulai Terlibat dalam Perjuangan Politik
Pada 1905, Belanda melakukan ekspedisi terhadap kerajaan-kerajaan di Sulawesi Selatan, termasuk Kerajaan Luwu.

