Ini Alasan Mentan Ekspor Beras dari Kediaman: Efisiensi Anggaran untuk Petani

SulawesiPos.com, Jakarta — Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman memilih kediamannya sebagai lokasi pelepasan rencana ekspor perdana 1.000 ton beras ke Malaysia bukan tanpa alasan Langkah tersebut merupakan bagian dari penerapan efisiensi yang ditekankan Presiden Prabowo Subianto, sekaligus memastikan anggaran pemerintah lebih banyak diarahkan untuk kebutuhan produktif petani.

Agenda ekspor beras ke Malaysia sebelumnya direncanakan berlangsung di hotel.

Namun, Mentan mempertimbangkan efisiensi waktu dan biaya, akhirnya kegiatan tersebut dilakukan di kediamannya yang selama ini juga digunakan sebagai tempat bekerja dan menggelar rapat.

“Nah ini karena ini persoalan waktu, yang pertama kan rencana mau di hotel. Biasanya kan di hotel tuh pengusaha efisien. Kalau di sini sangat efisien,” ujar Mentan Amran, Jumat (14/8).

Mentan Amran menjelaskan, kediamannya dalam praktiknya telah menjadi tempat kerja untuk membahas berbagai persoalan pertanian, termasuk kebijakan pupuk dan pangan.

Mentan bahkan menyebut rapat dapat berlangsung sejak dini hari hingga malam hari.

BACA JUGA:  IKA Unhas Salurkan 100 Ton Beras di Awal Ramadan, Andi Amran: Tak Boleh Ada Kelaparan

“Rumah ini tempat kami jadikan kantor juga. Kantor jam 5 subuh rapat di sini, jam 5 subuh juga pupuk dulu diputuskan di sini sampai jam 7, rapat di sini. Di kantor jam 7 sampai sore di sini dilanjut sampai jam 10 malam,” katanya.

Menurut Mentan Amran, efisiensi bukan sekadar mengurangi biaya, tetapi memastikan setiap rupiah anggaran negara memberikan manfaat langsung bagi masyarakat, khususnya petani.

“Jadi kalau bukan di sini, di kantor. Tidak boleh di hotel. Kita hilangkan biaya seminar di hotel, tanda tangan seperti ini di hotel, seremoni, gunting pita, tidak ada,” tegasnya.

Mentan mencontohkan berbagai biaya pendukung seremoni yang dapat dialihkan untuk kebutuhan pertanian.

Mulai dari biaya hotel, seremoni, hingga berbagai perlengkapan acara, menurutnya akan lebih bermanfaat apabila digunakan untuk pengadaan benih maupun pupuk bagi petani.

“Lebih baik ini biaya semua, biaya cipika-cipiki, biaya bunga, biaya MC, belikan benih, belikan pupuk untuk petani. Setuju nggak? Itulah Bapak Presiden kita, Pak Prabowo, efisiensi,” ujar Mentan Amran.

BACA JUGA:  Mentan Amran Pastikan Stok Pangan Nasional Aman Jelang Ramadhan dan Idul Fitri 2026

Efisiensi tersebut berjalan beriringan dengan agenda besar pemerintah memperkuat ketahanan pangan nasional.

Salah satu indikatornya adalah kemampuan Indonesia membuka pasar ekspor beras setelah memastikan kebutuhan domestik berada dalam kondisi aman.

Pada momentum tersebut, Indonesia menyepakati pengiriman awal 1.000 ton beras premium ke Malaysia.

Jumlah tersebut menjadi bagian dari potensi kerja sama ekspor hingga 200.000 ton per tahun untuk memenuhi kebutuhan beras Sarawak.

Mentan Amran mengatakan harga yang disepakati berada di kisaran Rp17.000 per kilogram, sehingga ekspor tidak hanya menjadi pembukaan pasar baru tetapi juga memberikan peluang ekonomi yang lebih baik bagi rantai usaha perberasan nasional.

“Yang terpenting harga sudah sepakat, yang terpenting harga dulu. Ini yang nego lama, harganya Rp17.000 per kilo,” katanya.

Menurutnya, ekspor merupakan bagian dari upaya meningkatkan kesejahteraan petani. Dengan pasar yang lebih luas, beras Indonesia memiliki peluang mendapatkan nilai ekonomi yang lebih baik tanpa mengabaikan kebutuhan pangan nasional.

BACA JUGA:  Mentan Amran: Ekspor Pupuk ke Australia Tembus Rp7 Triliun, Selanjutnya India, Filipina, Brazil, dan Banglades

“Nah justru inilah langkah kesejahteraan petani karena kita ekspor,” ujar Mentan Amran.

Dalam kesempatan tersebut, Mentan Amran juga menyampaikan apresiasi kepada Presiden Prabowo Subianto, petani, penyuluh pertanian, TNI, Polri, pemerintah daerah, kementerian/lembaga, BUMN, serta seluruh pihak yang berkontribusi terhadap pencapaian swasembada beras.

Ia menegaskan bahwa capaian tersebut merupakan hasil kerja bersama lintas sektor.

“Ini bukan kerja saya, kerja kita bersama sebagai anak bangsa,” katanya.

Ekspor beras ke Malaysia pun menjadi simbol bahwa efisiensi dan produktivitas dapat berjalan beriringan: biaya seremoni ditekan, sementara hasil kerja di sektor pertanian diperluas hingga mampu membuka pasar ekspor baru.

SulawesiPos.com, Jakarta — Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman memilih kediamannya sebagai lokasi pelepasan rencana ekspor perdana 1.000 ton beras ke Malaysia bukan tanpa alasan Langkah tersebut merupakan bagian dari penerapan efisiensi yang ditekankan Presiden Prabowo Subianto, sekaligus memastikan anggaran pemerintah lebih banyak diarahkan untuk kebutuhan produktif petani.

Agenda ekspor beras ke Malaysia sebelumnya direncanakan berlangsung di hotel.

Namun, Mentan mempertimbangkan efisiensi waktu dan biaya, akhirnya kegiatan tersebut dilakukan di kediamannya yang selama ini juga digunakan sebagai tempat bekerja dan menggelar rapat.

“Nah ini karena ini persoalan waktu, yang pertama kan rencana mau di hotel. Biasanya kan di hotel tuh pengusaha efisien. Kalau di sini sangat efisien,” ujar Mentan Amran, Jumat (14/8).

Mentan Amran menjelaskan, kediamannya dalam praktiknya telah menjadi tempat kerja untuk membahas berbagai persoalan pertanian, termasuk kebijakan pupuk dan pangan.

Mentan bahkan menyebut rapat dapat berlangsung sejak dini hari hingga malam hari.

BACA JUGA:  Nilai Skuad Indonesia Dua Kali Lipat Malaysia, Tan Cheng Hoe Tak Gentar

“Rumah ini tempat kami jadikan kantor juga. Kantor jam 5 subuh rapat di sini, jam 5 subuh juga pupuk dulu diputuskan di sini sampai jam 7, rapat di sini. Di kantor jam 7 sampai sore di sini dilanjut sampai jam 10 malam,” katanya.

Menurut Mentan Amran, efisiensi bukan sekadar mengurangi biaya, tetapi memastikan setiap rupiah anggaran negara memberikan manfaat langsung bagi masyarakat, khususnya petani.

“Jadi kalau bukan di sini, di kantor. Tidak boleh di hotel. Kita hilangkan biaya seminar di hotel, tanda tangan seperti ini di hotel, seremoni, gunting pita, tidak ada,” tegasnya.

Mentan mencontohkan berbagai biaya pendukung seremoni yang dapat dialihkan untuk kebutuhan pertanian.

Mulai dari biaya hotel, seremoni, hingga berbagai perlengkapan acara, menurutnya akan lebih bermanfaat apabila digunakan untuk pengadaan benih maupun pupuk bagi petani.

“Lebih baik ini biaya semua, biaya cipika-cipiki, biaya bunga, biaya MC, belikan benih, belikan pupuk untuk petani. Setuju nggak? Itulah Bapak Presiden kita, Pak Prabowo, efisiensi,” ujar Mentan Amran.

BACA JUGA:  BGN Perkenalkan 5 Pejabat Baru, Evaluasi MBG Dimulai dari Data 63 Juta Penerima

Efisiensi tersebut berjalan beriringan dengan agenda besar pemerintah memperkuat ketahanan pangan nasional.

Salah satu indikatornya adalah kemampuan Indonesia membuka pasar ekspor beras setelah memastikan kebutuhan domestik berada dalam kondisi aman.

Pada momentum tersebut, Indonesia menyepakati pengiriman awal 1.000 ton beras premium ke Malaysia.

Jumlah tersebut menjadi bagian dari potensi kerja sama ekspor hingga 200.000 ton per tahun untuk memenuhi kebutuhan beras Sarawak.

Mentan Amran mengatakan harga yang disepakati berada di kisaran Rp17.000 per kilogram, sehingga ekspor tidak hanya menjadi pembukaan pasar baru tetapi juga memberikan peluang ekonomi yang lebih baik bagi rantai usaha perberasan nasional.

“Yang terpenting harga sudah sepakat, yang terpenting harga dulu. Ini yang nego lama, harganya Rp17.000 per kilo,” katanya.

Menurutnya, ekspor merupakan bagian dari upaya meningkatkan kesejahteraan petani. Dengan pasar yang lebih luas, beras Indonesia memiliki peluang mendapatkan nilai ekonomi yang lebih baik tanpa mengabaikan kebutuhan pangan nasional.

BACA JUGA:  Menko Pangan Apresiasi Terobosan Mentan Amran Turunkan Harga Pupuk Bersubsidi 20 Persen

“Nah justru inilah langkah kesejahteraan petani karena kita ekspor,” ujar Mentan Amran.

Dalam kesempatan tersebut, Mentan Amran juga menyampaikan apresiasi kepada Presiden Prabowo Subianto, petani, penyuluh pertanian, TNI, Polri, pemerintah daerah, kementerian/lembaga, BUMN, serta seluruh pihak yang berkontribusi terhadap pencapaian swasembada beras.

Ia menegaskan bahwa capaian tersebut merupakan hasil kerja bersama lintas sektor.

“Ini bukan kerja saya, kerja kita bersama sebagai anak bangsa,” katanya.

Ekspor beras ke Malaysia pun menjadi simbol bahwa efisiensi dan produktivitas dapat berjalan beriringan: biaya seremoni ditekan, sementara hasil kerja di sektor pertanian diperluas hingga mampu membuka pasar ekspor baru.

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru