Jalan Opu Daeng Risadju Makassar: Sosok Pejuang Perempuan Luwu yang Tembus Batas Patriarki

SulawesiPos.com – Banyak yang belum mengetahui, nama Jalan Cenderawasih di Kota Makassar, Sulawesi Selatan, sudah berganti menjadi Jalan Opu Daeng Risadju. Perubahan nama jalan tersebut diresmikan pada 2022 oleh Wali Kota Makassar saat itu, Moh Ramdhan ‘Danny’ Pomanto.

Pergantian nama tersebut bukan sekadar perubahan identitas sebuah ruas jalan. Nama Opu Daeng Risadju mengingatkan masyarakat pada sosok perempuan asal Luwu yang dikenal sebagai pejuang kemerdekaan sekaligus salah satu tokoh perempuan penting dalam sejarah perjuangan di Sulawesi Selatan.

Kisah hidupnya lekat dengan perjuangan melawan penjajahan, aktivitas politik, dakwah Islam, hingga keberaniannya menembus batas sosial yang pada masa itu membatasi ruang perempuan.

Asal-usul Opu Daeng Risadju

Opu Daeng Risadju dilahirkan di Palopo, Luwu, pada 1880. Ia terlahir dengan nama Famajjah. Ayahnya bernama Muhammad Abdullah To Bareseng, sedangkan ibunya bernama Opu Daeng Mawellu.

Darah bangsawan diperolehnya dari garis ibunya. Opu Daeng Mawellu disebut merupakan keturunan langsung atau cicit Raja Bone ke-22, La Temmasonge Matimoeri Malimongeng, yang memerintah pada 1749-1775.

Dalam masyarakat Luwu, gelar Opu merupakan titulatur kebangsawanan. Gelar tersebut diberikan kepada seseorang setelah menikah dan berkaitan dengan kedudukan seseorang dalam struktur sosial dan birokrasi kerajaan.

Sebagai perempuan dari keluarga bangsawan, Opu Daeng Risadju memiliki kedudukan terhormat di tengah masyarakat.

Status tersebut membuatnya memiliki ruang untuk berinteraksi dengan berbagai lapisan masyarakat.

Namun, kedudukan sebagai bangsawan tidak membuat Opu Daeng Risadju hanya hidup dalam lingkungan keluarga kerajaan. Ia justru menggunakan ruang sosial yang dimilikinya untuk berhubungan dengan masyarakat hingga kemudian terlibat dalam perjuangan.

Pendidikan Agama Opu Daeng Risadju

Opu Daeng Risadju tidak menempuh pendidikan formal di sekolah. Sejak kecil, ia memperoleh pendidikan agama dari para pengasuh dan guru agama.

Masa kecilnya banyak diisi dengan belajar membaca dan mengaji Al-Qur’an hingga menyelesaikan 30 juz. Selain itu, ia mempelajari ilmu keagamaan seperti fikih, nahwu, saraf, dan balaghah dari sejumlah guru agama dan ulama di Sabang Paru, Luwu.

Pengetahuan agama yang dimilikinya kemudian menjadi salah satu dasar penting dalam perjalanan hidupnya.

Pada masa itu, kesempatan perempuan untuk memperoleh pendidikan formal masih sangat terbatas. Pendidikan bagi perempuan umumnya lebih diarahkan pada kemampuan dasar membaca dan menulis.

BACA JUGA:  Wanita Muda Tewas Tergantung di BTP Makassar, Keluarga Minta Autopsi usai Lihat Lebam dan Bercak Darah

Kondisi tersebut membuat pengetahuan agama Opu Daeng Risadju justru jauh lebih menonjol dibandingkan pendidikan umum yang dimilikinya.

Mendapat Gelar Opu Daeng Risadju Setelah Menikah

Setelah dewasa, Famajjah menikah dengan H. Muhammad Daud, seorang ulama asal Bone yang pernah bermukim di Mekkah.

H. Muhammad Daud merupakan anak dari rekan dagang ayah Famajjah. Setelah menikah dengan keluarga bangsawan dan memiliki pengetahuan agama yang luas, H. Muhammad Daud kemudian diangkat menjadi imam Masjid Istana Kerajaan Luwu.

Pernikahan tersebut menjadi bagian penting dalam perjalanan hidup Famajjah. Sesuai tradisi masyarakat Luwu, setelah menikah ia memperoleh gelar Opu Daeng Risadju.

Nama itulah yang kemudian dikenal dalam sejarah perjuangan bangsa Indonesia.

Mulai Terlibat dalam Perjuangan Politik

Pada 1905, Belanda melakukan ekspedisi terhadap kerajaan-kerajaan di Sulawesi Selatan, termasuk Kerajaan Luwu.

Dalam situasi tersebut, Opu Daeng Risadju bersama suaminya meninggalkan Palopo dan kemudian menetap di Parepare.

Di Parepare, Opu Daeng Risadju mulai aktif dalam organisasi Partai Sarekat Islam Indonesia (PSII). Pada 1927, ia tercatat aktif di PSII cabang Parepare.

Organisasi tersebut bergerak dalam bidang politik dan menjadi salah satu wadah perjuangan menghadapi penjajahan.

Keterlibatan dalam PSII membuat Opu Daeng Risadju semakin aktif dalam pergerakan.

Ia tidak hanya menjadi bagian dari organisasi, tetapi berkembang menjadi sosok yang memiliki pengaruh dalam perjuangan politik.

Opu Daeng Risadju tercatat dalam sejumlah sumber sejarah sebagai perempuan Indonesia yang menjadi pucuk pimpinan partai politik berasaskan Islam, yakni PSII.

Posisi tersebut menjadi hal penting karena pada masa itu ruang politik masih sangat didominasi laki-laki.

Kehadiran Opu Daeng Risadju sebagai pemimpin menunjukkan bahwa perempuan juga mampu mengambil posisi strategis dalam organisasi dan pergerakan politik.

Opu Daeng Risadju, Pemimpin Perempuan yang Menembus Batas Patriarki

Perjuangan Opu Daeng Risadju tidak hanya menghadapkan dirinya pada pemerintah kolonial Belanda.

Ia juga harus berhadapan dengan batas-batas sosial terhadap perempuan pada zamannya.

Pada masa tersebut, perempuan masih sering ditempatkan dalam ruang domestik.

Kesempatan untuk memperoleh pendidikan, memasuki ruang politik, menjadi pengambil keputusan, maupun tampil sebagai pemimpin masih terbatas.

Dalam kondisi seperti itu, Opu Daeng Risadju justru memilih untuk tampil di ruang publik.

BACA JUGA:  Jalan Petta Punggawa: Jejak Panglima Tertinggi Bone yang Gugur dalam Perang 1905

Ia aktif dalam organisasi politik, membangun hubungan dengan masyarakat, menyebarkan ajaran Islam, dan mengambil peran dalam perjuangan melawan penjajahan.

Karena itu, sosok Opu Daeng Risadju dapat dilihat sebagai perempuan yang melampaui batas sosial dan budaya pada zamannya.

Ia tidak hanya menjadi bagian dari perjuangan, tetapi menjadi subjek yang menentukan arah perjuangan.

Keberaniannya juga menunjukkan bahwa kepemimpinan tidak hanya dapat dilakukan oleh laki-laki.

Perempuan juga dapat mengambil keputusan, menggerakkan masyarakat, memimpin organisasi, dan menghadapi risiko dari pilihan perjuangannya.

Bahkan, statusnya sebagai bangsawan tidak membuat Opu Daeng Risadju memilih untuk berada di belakang.

Sebaliknya, ia menggunakan kedudukan sosial dan pengetahuan agama yang dimilikinya untuk membangun pengaruh di tengah masyarakat.

Perjuangan Opu Daeng Risadju Mendapat Tekanan

Perjuangan Opu Daeng Risadju tidak berjalan mudah. Aktivitasnya di PSII dan upayanya menyebarkan ajaran Islam di Tanah Luwu mendapat tekanan, baik dari pemerintah kolonial Belanda maupun dari lingkungan keluarganya sendiri.

Belanda kemudian menangkap Opu Daeng Risadju bersama sejumlah pengikutnya.

Setelah menjalani masa tahanan, dukungan terhadap perjuangannya tetap bermunculan.

Sejumlah utusan dan undangan bahkan meminta Opu Daeng Risadju mendirikan ranting PSII di sejumlah wilayah di Tanah Luwu, termasuk Maili dan Patampanua.

Opu Daeng Risadju bersama suaminya kemudian dibawa menuju Palopo melalui jalur laut dengan pengawalan ketat. Keduanya bahkan diborgol.

Bagi kalangan bangsawan Luwu, pemborgolan tersebut dianggap sebagai bentuk penghinaan terhadap kaum bangsawan dan keluarganya.

Pemangku Adat Luwu, termasuk Opu Balirante yang memiliki hubungan darah dengan Opu Daeng Risadju, turut memprotes perlakuan tersebut.

Peristiwa itu menjadi salah satu bagian penting dalam perjalanan perjuangan Opu Daeng Risadju yang harus berhadapan dengan pemerintah kolonial sekaligus menghadapi tekanan dari lingkungan sosialnya.

Disiksa hingga Kehilangan Pendengaran

Tekanan terhadap Opu Daeng Risadju tidak berhenti pada penahanan.

Ia pernah mendapatkan hukuman dari pihak Belanda dan Ketua Distrik Bajo dengan diperintahkan berlari mengelilingi lapangan sepak bola di bawah terik matahari.

Dalam hukuman tersebut, letusan senapan dilakukan di dekatnya.

Bahkan, sebuah senapan ditembakkan tepat di samping telinganya.

Penyiksaan tersebut menyebabkan gendang telinga Opu Daeng Risadju pecah. Akibatnya, ia kehilangan pendengarannya dan mengalami tuli seumur hidup.

Meski mengalami penyiksaan, tekanan tersebut tidak membuatnya menghentikan perjuangan.

BACA JUGA:  Ngaku Teman Bos, Residivis di Makassar Diciduk Jatanras! Sempat Drama Coba Kabur dari Mobil Polisi

Peristiwa tersebut memperlihatkan keteguhan Opu Daeng Risadju dalam mempertahankan keyakinan dan perjuangannya.

Ia tetap bertahan meski harus membayar perjuangannya dengan penderitaan fisik.

Opu Daeng Risadju: Perempuan yang Melampaui Batas Zamannya

Dalam buku Kiprah Perempuan dalam Peradaban Sulawesi Selatan karya Nur Jamilah Ambi dkk., Opu Daeng Risadju digambarkan sebagai sosok perempuan yang mampu melampaui batas-batas sosial pada zamannya.

Keberaniannya menghadapi penjajahan, tekanan sosial, hingga penyiksaan menjadi gambaran bahwa perempuan juga memiliki posisi penting dalam perjuangan dan perubahan sosial.

Opu Daeng Risadju menunjukkan bahwa perempuan tidak harus ditempatkan sebagai pelengkap dalam sebuah gerakan.

Perempuan dapat menjadi penggerak, pemimpin, pengambil keputusan, sekaligus aktor yang menentukan arah perubahan.

Semangat tersebut masih relevan dengan gerakan perempuan masa kini.

Dalam konteks organisasi perempuan PMII melalui KOPRI, misalnya, nilai-nilai perjuangan Opu Daeng Risadju dapat dilihat melalui upaya penguatan kapasitas intelektual, advokasi hak perempuan, pendampingan kelompok rentan, serta perjuangan menciptakan ruang publik yang lebih setara.

Semangat perjuangan Opu Daeng Risadju juga menunjukkan pentingnya keberanian perempuan untuk memasuki ruang-ruang yang sebelumnya lebih banyak didominasi laki-laki.

Jika pada masa lalu Opu Daeng Risadju menghadapi kolonialisme dan batas sosial terhadap perempuan, maka perjuangan perempuan masa kini menghadapi tantangan yang berbeda.

Salah satunya adalah budaya patriarki yang masih dapat membatasi perempuan dalam kepemimpinan, pengambilan keputusan, maupun partisipasi di ruang publik.

Karena itu, nilai yang diwariskan Opu Daeng Risadju bukan hanya keberanian melawan penjajah, tetapi juga keberanian perempuan untuk menentukan pilihan hidup dan mengambil peran strategis dalam masyarakat.

Akhir Hidup Opu Daeng Risadju

Setelah Indonesia merdeka, Opu Daeng Risadju menjalani kehidupan bersama anaknya di Parepare.

Pada 10 Februari 1964, Opu Daeng Risadju meninggal dunia.

Jenazahnya kemudian dimakamkan di kompleks makam raja-raja Lakkoe di Palopo.

Perjuangannya kemudian mendapat pengakuan negara. Pada 3 November 2006, Opu Daeng Risadju diangkat sebagai Pahlawan Nasional Indonesia.

Pengakuan tersebut memperkuat posisi Opu Daeng Risadju sebagai salah satu tokoh penting dalam sejarah perjuangan bangsa, khususnya dari Sulawesi Selatan.

Sumber:

  1. Dinas Kebudayaan Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, materi biografi Opu Daeng Risadju.
  2. Nur Jamilah Ambi dkk., Kiprah Perempuan dalam Peradaban Sulawesi Selatan.

SulawesiPos.com – Banyak yang belum mengetahui, nama Jalan Cenderawasih di Kota Makassar, Sulawesi Selatan, sudah berganti menjadi Jalan Opu Daeng Risadju. Perubahan nama jalan tersebut diresmikan pada 2022 oleh Wali Kota Makassar saat itu, Moh Ramdhan ‘Danny’ Pomanto.

Pergantian nama tersebut bukan sekadar perubahan identitas sebuah ruas jalan. Nama Opu Daeng Risadju mengingatkan masyarakat pada sosok perempuan asal Luwu yang dikenal sebagai pejuang kemerdekaan sekaligus salah satu tokoh perempuan penting dalam sejarah perjuangan di Sulawesi Selatan.

Kisah hidupnya lekat dengan perjuangan melawan penjajahan, aktivitas politik, dakwah Islam, hingga keberaniannya menembus batas sosial yang pada masa itu membatasi ruang perempuan.

Asal-usul Opu Daeng Risadju

Opu Daeng Risadju dilahirkan di Palopo, Luwu, pada 1880. Ia terlahir dengan nama Famajjah. Ayahnya bernama Muhammad Abdullah To Bareseng, sedangkan ibunya bernama Opu Daeng Mawellu.

Darah bangsawan diperolehnya dari garis ibunya. Opu Daeng Mawellu disebut merupakan keturunan langsung atau cicit Raja Bone ke-22, La Temmasonge Matimoeri Malimongeng, yang memerintah pada 1749-1775.

Dalam masyarakat Luwu, gelar Opu merupakan titulatur kebangsawanan. Gelar tersebut diberikan kepada seseorang setelah menikah dan berkaitan dengan kedudukan seseorang dalam struktur sosial dan birokrasi kerajaan.

Sebagai perempuan dari keluarga bangsawan, Opu Daeng Risadju memiliki kedudukan terhormat di tengah masyarakat.

Status tersebut membuatnya memiliki ruang untuk berinteraksi dengan berbagai lapisan masyarakat.

Namun, kedudukan sebagai bangsawan tidak membuat Opu Daeng Risadju hanya hidup dalam lingkungan keluarga kerajaan. Ia justru menggunakan ruang sosial yang dimilikinya untuk berhubungan dengan masyarakat hingga kemudian terlibat dalam perjuangan.

Pendidikan Agama Opu Daeng Risadju

Opu Daeng Risadju tidak menempuh pendidikan formal di sekolah. Sejak kecil, ia memperoleh pendidikan agama dari para pengasuh dan guru agama.

Masa kecilnya banyak diisi dengan belajar membaca dan mengaji Al-Qur’an hingga menyelesaikan 30 juz. Selain itu, ia mempelajari ilmu keagamaan seperti fikih, nahwu, saraf, dan balaghah dari sejumlah guru agama dan ulama di Sabang Paru, Luwu.

Pengetahuan agama yang dimilikinya kemudian menjadi salah satu dasar penting dalam perjalanan hidupnya.

Pada masa itu, kesempatan perempuan untuk memperoleh pendidikan formal masih sangat terbatas. Pendidikan bagi perempuan umumnya lebih diarahkan pada kemampuan dasar membaca dan menulis.

BACA JUGA:  Jalan Petta Punggawa: Jejak Panglima Tertinggi Bone yang Gugur dalam Perang 1905

Kondisi tersebut membuat pengetahuan agama Opu Daeng Risadju justru jauh lebih menonjol dibandingkan pendidikan umum yang dimilikinya.

Mendapat Gelar Opu Daeng Risadju Setelah Menikah

Setelah dewasa, Famajjah menikah dengan H. Muhammad Daud, seorang ulama asal Bone yang pernah bermukim di Mekkah.

H. Muhammad Daud merupakan anak dari rekan dagang ayah Famajjah. Setelah menikah dengan keluarga bangsawan dan memiliki pengetahuan agama yang luas, H. Muhammad Daud kemudian diangkat menjadi imam Masjid Istana Kerajaan Luwu.

Pernikahan tersebut menjadi bagian penting dalam perjalanan hidup Famajjah. Sesuai tradisi masyarakat Luwu, setelah menikah ia memperoleh gelar Opu Daeng Risadju.

Nama itulah yang kemudian dikenal dalam sejarah perjuangan bangsa Indonesia.

Mulai Terlibat dalam Perjuangan Politik

Pada 1905, Belanda melakukan ekspedisi terhadap kerajaan-kerajaan di Sulawesi Selatan, termasuk Kerajaan Luwu.

Dalam situasi tersebut, Opu Daeng Risadju bersama suaminya meninggalkan Palopo dan kemudian menetap di Parepare.

Di Parepare, Opu Daeng Risadju mulai aktif dalam organisasi Partai Sarekat Islam Indonesia (PSII). Pada 1927, ia tercatat aktif di PSII cabang Parepare.

Organisasi tersebut bergerak dalam bidang politik dan menjadi salah satu wadah perjuangan menghadapi penjajahan.

Keterlibatan dalam PSII membuat Opu Daeng Risadju semakin aktif dalam pergerakan.

Ia tidak hanya menjadi bagian dari organisasi, tetapi berkembang menjadi sosok yang memiliki pengaruh dalam perjuangan politik.

Opu Daeng Risadju tercatat dalam sejumlah sumber sejarah sebagai perempuan Indonesia yang menjadi pucuk pimpinan partai politik berasaskan Islam, yakni PSII.

Posisi tersebut menjadi hal penting karena pada masa itu ruang politik masih sangat didominasi laki-laki.

Kehadiran Opu Daeng Risadju sebagai pemimpin menunjukkan bahwa perempuan juga mampu mengambil posisi strategis dalam organisasi dan pergerakan politik.

Opu Daeng Risadju, Pemimpin Perempuan yang Menembus Batas Patriarki

Perjuangan Opu Daeng Risadju tidak hanya menghadapkan dirinya pada pemerintah kolonial Belanda.

Ia juga harus berhadapan dengan batas-batas sosial terhadap perempuan pada zamannya.

Pada masa tersebut, perempuan masih sering ditempatkan dalam ruang domestik.

Kesempatan untuk memperoleh pendidikan, memasuki ruang politik, menjadi pengambil keputusan, maupun tampil sebagai pemimpin masih terbatas.

Dalam kondisi seperti itu, Opu Daeng Risadju justru memilih untuk tampil di ruang publik.

BACA JUGA:  Puluhan Tahun Terpisah, Secangkir Kopi Mempertemukan Kembali Dua Sahabat Pena

Ia aktif dalam organisasi politik, membangun hubungan dengan masyarakat, menyebarkan ajaran Islam, dan mengambil peran dalam perjuangan melawan penjajahan.

Karena itu, sosok Opu Daeng Risadju dapat dilihat sebagai perempuan yang melampaui batas sosial dan budaya pada zamannya.

Ia tidak hanya menjadi bagian dari perjuangan, tetapi menjadi subjek yang menentukan arah perjuangan.

Keberaniannya juga menunjukkan bahwa kepemimpinan tidak hanya dapat dilakukan oleh laki-laki.

Perempuan juga dapat mengambil keputusan, menggerakkan masyarakat, memimpin organisasi, dan menghadapi risiko dari pilihan perjuangannya.

Bahkan, statusnya sebagai bangsawan tidak membuat Opu Daeng Risadju memilih untuk berada di belakang.

Sebaliknya, ia menggunakan kedudukan sosial dan pengetahuan agama yang dimilikinya untuk membangun pengaruh di tengah masyarakat.

Perjuangan Opu Daeng Risadju Mendapat Tekanan

Perjuangan Opu Daeng Risadju tidak berjalan mudah. Aktivitasnya di PSII dan upayanya menyebarkan ajaran Islam di Tanah Luwu mendapat tekanan, baik dari pemerintah kolonial Belanda maupun dari lingkungan keluarganya sendiri.

Belanda kemudian menangkap Opu Daeng Risadju bersama sejumlah pengikutnya.

Setelah menjalani masa tahanan, dukungan terhadap perjuangannya tetap bermunculan.

Sejumlah utusan dan undangan bahkan meminta Opu Daeng Risadju mendirikan ranting PSII di sejumlah wilayah di Tanah Luwu, termasuk Maili dan Patampanua.

Opu Daeng Risadju bersama suaminya kemudian dibawa menuju Palopo melalui jalur laut dengan pengawalan ketat. Keduanya bahkan diborgol.

Bagi kalangan bangsawan Luwu, pemborgolan tersebut dianggap sebagai bentuk penghinaan terhadap kaum bangsawan dan keluarganya.

Pemangku Adat Luwu, termasuk Opu Balirante yang memiliki hubungan darah dengan Opu Daeng Risadju, turut memprotes perlakuan tersebut.

Peristiwa itu menjadi salah satu bagian penting dalam perjalanan perjuangan Opu Daeng Risadju yang harus berhadapan dengan pemerintah kolonial sekaligus menghadapi tekanan dari lingkungan sosialnya.

Disiksa hingga Kehilangan Pendengaran

Tekanan terhadap Opu Daeng Risadju tidak berhenti pada penahanan.

Ia pernah mendapatkan hukuman dari pihak Belanda dan Ketua Distrik Bajo dengan diperintahkan berlari mengelilingi lapangan sepak bola di bawah terik matahari.

Dalam hukuman tersebut, letusan senapan dilakukan di dekatnya.

Bahkan, sebuah senapan ditembakkan tepat di samping telinganya.

Penyiksaan tersebut menyebabkan gendang telinga Opu Daeng Risadju pecah. Akibatnya, ia kehilangan pendengarannya dan mengalami tuli seumur hidup.

Meski mengalami penyiksaan, tekanan tersebut tidak membuatnya menghentikan perjuangan.

BACA JUGA:  Jemaah Haji Kloter 12 Asal Mamuju Sesak Napas Setiba di Makassar, Dirawat di Rumah Sakit

Peristiwa tersebut memperlihatkan keteguhan Opu Daeng Risadju dalam mempertahankan keyakinan dan perjuangannya.

Ia tetap bertahan meski harus membayar perjuangannya dengan penderitaan fisik.

Opu Daeng Risadju: Perempuan yang Melampaui Batas Zamannya

Dalam buku Kiprah Perempuan dalam Peradaban Sulawesi Selatan karya Nur Jamilah Ambi dkk., Opu Daeng Risadju digambarkan sebagai sosok perempuan yang mampu melampaui batas-batas sosial pada zamannya.

Keberaniannya menghadapi penjajahan, tekanan sosial, hingga penyiksaan menjadi gambaran bahwa perempuan juga memiliki posisi penting dalam perjuangan dan perubahan sosial.

Opu Daeng Risadju menunjukkan bahwa perempuan tidak harus ditempatkan sebagai pelengkap dalam sebuah gerakan.

Perempuan dapat menjadi penggerak, pemimpin, pengambil keputusan, sekaligus aktor yang menentukan arah perubahan.

Semangat tersebut masih relevan dengan gerakan perempuan masa kini.

Dalam konteks organisasi perempuan PMII melalui KOPRI, misalnya, nilai-nilai perjuangan Opu Daeng Risadju dapat dilihat melalui upaya penguatan kapasitas intelektual, advokasi hak perempuan, pendampingan kelompok rentan, serta perjuangan menciptakan ruang publik yang lebih setara.

Semangat perjuangan Opu Daeng Risadju juga menunjukkan pentingnya keberanian perempuan untuk memasuki ruang-ruang yang sebelumnya lebih banyak didominasi laki-laki.

Jika pada masa lalu Opu Daeng Risadju menghadapi kolonialisme dan batas sosial terhadap perempuan, maka perjuangan perempuan masa kini menghadapi tantangan yang berbeda.

Salah satunya adalah budaya patriarki yang masih dapat membatasi perempuan dalam kepemimpinan, pengambilan keputusan, maupun partisipasi di ruang publik.

Karena itu, nilai yang diwariskan Opu Daeng Risadju bukan hanya keberanian melawan penjajah, tetapi juga keberanian perempuan untuk menentukan pilihan hidup dan mengambil peran strategis dalam masyarakat.

Akhir Hidup Opu Daeng Risadju

Setelah Indonesia merdeka, Opu Daeng Risadju menjalani kehidupan bersama anaknya di Parepare.

Pada 10 Februari 1964, Opu Daeng Risadju meninggal dunia.

Jenazahnya kemudian dimakamkan di kompleks makam raja-raja Lakkoe di Palopo.

Perjuangannya kemudian mendapat pengakuan negara. Pada 3 November 2006, Opu Daeng Risadju diangkat sebagai Pahlawan Nasional Indonesia.

Pengakuan tersebut memperkuat posisi Opu Daeng Risadju sebagai salah satu tokoh penting dalam sejarah perjuangan bangsa, khususnya dari Sulawesi Selatan.

Sumber:

  1. Dinas Kebudayaan Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, materi biografi Opu Daeng Risadju.
  2. Nur Jamilah Ambi dkk., Kiprah Perempuan dalam Peradaban Sulawesi Selatan.

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru