Jalan Opu Daeng Risadju Makassar: Sosok Pejuang Perempuan Luwu yang Tembus Batas Patriarki

Dalam situasi tersebut, Opu Daeng Risadju bersama suaminya meninggalkan Palopo dan kemudian menetap di Parepare.

Di Parepare, Opu Daeng Risadju mulai aktif dalam organisasi Partai Sarekat Islam Indonesia (PSII). Pada 1927, ia tercatat aktif di PSII cabang Parepare.

Organisasi tersebut bergerak dalam bidang politik dan menjadi salah satu wadah perjuangan menghadapi penjajahan.

Keterlibatan dalam PSII membuat Opu Daeng Risadju semakin aktif dalam pergerakan.

Ia tidak hanya menjadi bagian dari organisasi, tetapi berkembang menjadi sosok yang memiliki pengaruh dalam perjuangan politik.

Opu Daeng Risadju tercatat dalam sejumlah sumber sejarah sebagai perempuan Indonesia yang menjadi pucuk pimpinan partai politik berasaskan Islam, yakni PSII.

Posisi tersebut menjadi hal penting karena pada masa itu ruang politik masih sangat didominasi laki-laki.

Kehadiran Opu Daeng Risadju sebagai pemimpin menunjukkan bahwa perempuan juga mampu mengambil posisi strategis dalam organisasi dan pergerakan politik.

Opu Daeng Risadju, Pemimpin Perempuan yang Menembus Batas Patriarki

BACA JUGA:  Kebakaran Nipah Mall Makassar: Api Mulai Padam, Jalan Depan Kantor Gubernur Macet Total

Perjuangan Opu Daeng Risadju tidak hanya menghadapkan dirinya pada pemerintah kolonial Belanda.

Ia juga harus berhadapan dengan batas-batas sosial terhadap perempuan pada zamannya.

Pada masa tersebut, perempuan masih sering ditempatkan dalam ruang domestik.

Kesempatan untuk memperoleh pendidikan, memasuki ruang politik, menjadi pengambil keputusan, maupun tampil sebagai pemimpin masih terbatas.

Dalam kondisi seperti itu, Opu Daeng Risadju justru memilih untuk tampil di ruang publik.

Ia aktif dalam organisasi politik, membangun hubungan dengan masyarakat, menyebarkan ajaran Islam, dan mengambil peran dalam perjuangan melawan penjajahan.

Dalam situasi tersebut, Opu Daeng Risadju bersama suaminya meninggalkan Palopo dan kemudian menetap di Parepare.

Di Parepare, Opu Daeng Risadju mulai aktif dalam organisasi Partai Sarekat Islam Indonesia (PSII). Pada 1927, ia tercatat aktif di PSII cabang Parepare.

Organisasi tersebut bergerak dalam bidang politik dan menjadi salah satu wadah perjuangan menghadapi penjajahan.

Keterlibatan dalam PSII membuat Opu Daeng Risadju semakin aktif dalam pergerakan.

Ia tidak hanya menjadi bagian dari organisasi, tetapi berkembang menjadi sosok yang memiliki pengaruh dalam perjuangan politik.

Opu Daeng Risadju tercatat dalam sejumlah sumber sejarah sebagai perempuan Indonesia yang menjadi pucuk pimpinan partai politik berasaskan Islam, yakni PSII.

Posisi tersebut menjadi hal penting karena pada masa itu ruang politik masih sangat didominasi laki-laki.

Kehadiran Opu Daeng Risadju sebagai pemimpin menunjukkan bahwa perempuan juga mampu mengambil posisi strategis dalam organisasi dan pergerakan politik.

Opu Daeng Risadju, Pemimpin Perempuan yang Menembus Batas Patriarki

BACA JUGA:  Ilham Uskara Serahkan SK 13 DPC di Rakorwil PPP Sulsel, Fokus Benahi Struktur Menuju Pemilu 2029

Perjuangan Opu Daeng Risadju tidak hanya menghadapkan dirinya pada pemerintah kolonial Belanda.

Ia juga harus berhadapan dengan batas-batas sosial terhadap perempuan pada zamannya.

Pada masa tersebut, perempuan masih sering ditempatkan dalam ruang domestik.

Kesempatan untuk memperoleh pendidikan, memasuki ruang politik, menjadi pengambil keputusan, maupun tampil sebagai pemimpin masih terbatas.

Dalam kondisi seperti itu, Opu Daeng Risadju justru memilih untuk tampil di ruang publik.

Ia aktif dalam organisasi politik, membangun hubungan dengan masyarakat, menyebarkan ajaran Islam, dan mengambil peran dalam perjuangan melawan penjajahan.

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru