Jalan Opu Daeng Risadju Makassar: Sosok Pejuang Perempuan Luwu yang Tembus Batas Patriarki

Bahkan, sebuah senapan ditembakkan tepat di samping telinganya.

Penyiksaan tersebut menyebabkan gendang telinga Opu Daeng Risadju pecah. Akibatnya, ia kehilangan pendengarannya dan mengalami tuli seumur hidup.

Meski mengalami penyiksaan, tekanan tersebut tidak membuatnya menghentikan perjuangan.

Peristiwa tersebut memperlihatkan keteguhan Opu Daeng Risadju dalam mempertahankan keyakinan dan perjuangannya.

Ia tetap bertahan meski harus membayar perjuangannya dengan penderitaan fisik.

Opu Daeng Risadju: Perempuan yang Melampaui Batas Zamannya

Dalam buku Kiprah Perempuan dalam Peradaban Sulawesi Selatan karya Nur Jamilah Ambi dkk., Opu Daeng Risadju digambarkan sebagai sosok perempuan yang mampu melampaui batas-batas sosial pada zamannya.

Keberaniannya menghadapi penjajahan, tekanan sosial, hingga penyiksaan menjadi gambaran bahwa perempuan juga memiliki posisi penting dalam perjuangan dan perubahan sosial.

Opu Daeng Risadju menunjukkan bahwa perempuan tidak harus ditempatkan sebagai pelengkap dalam sebuah gerakan.

Perempuan dapat menjadi penggerak, pemimpin, pengambil keputusan, sekaligus aktor yang menentukan arah perubahan.

Semangat tersebut masih relevan dengan gerakan perempuan masa kini.

BACA JUGA:  Makassar Terancam Krisis Air Bersih, 12.717 Rumah di 6 Kecamatan Mulai Terdampak

Dalam konteks organisasi perempuan PMII melalui KOPRI, misalnya, nilai-nilai perjuangan Opu Daeng Risadju dapat dilihat melalui upaya penguatan kapasitas intelektual, advokasi hak perempuan, pendampingan kelompok rentan, serta perjuangan menciptakan ruang publik yang lebih setara.

Semangat perjuangan Opu Daeng Risadju juga menunjukkan pentingnya keberanian perempuan untuk memasuki ruang-ruang yang sebelumnya lebih banyak didominasi laki-laki.

Jika pada masa lalu Opu Daeng Risadju menghadapi kolonialisme dan batas sosial terhadap perempuan, maka perjuangan perempuan masa kini menghadapi tantangan yang berbeda.

Salah satunya adalah budaya patriarki yang masih dapat membatasi perempuan dalam kepemimpinan, pengambilan keputusan, maupun partisipasi di ruang publik.

Karena itu, nilai yang diwariskan Opu Daeng Risadju bukan hanya keberanian melawan penjajah, tetapi juga keberanian perempuan untuk menentukan pilihan hidup dan mengambil peran strategis dalam masyarakat.

Akhir Hidup Opu Daeng Risadju

Setelah Indonesia merdeka, Opu Daeng Risadju menjalani kehidupan bersama anaknya di Parepare.

Pada 10 Februari 1964, Opu Daeng Risadju meninggal dunia.

BACA JUGA:  Prakiraan Cuaca Sulawesi Selatan Hari Ini, Jumat 31 Juli 2026: Berawan, Luwu Timur Berpotensi Hujan Sedang

Bahkan, sebuah senapan ditembakkan tepat di samping telinganya.

Penyiksaan tersebut menyebabkan gendang telinga Opu Daeng Risadju pecah. Akibatnya, ia kehilangan pendengarannya dan mengalami tuli seumur hidup.

Meski mengalami penyiksaan, tekanan tersebut tidak membuatnya menghentikan perjuangan.

Peristiwa tersebut memperlihatkan keteguhan Opu Daeng Risadju dalam mempertahankan keyakinan dan perjuangannya.

Ia tetap bertahan meski harus membayar perjuangannya dengan penderitaan fisik.

Opu Daeng Risadju: Perempuan yang Melampaui Batas Zamannya

Dalam buku Kiprah Perempuan dalam Peradaban Sulawesi Selatan karya Nur Jamilah Ambi dkk., Opu Daeng Risadju digambarkan sebagai sosok perempuan yang mampu melampaui batas-batas sosial pada zamannya.

Keberaniannya menghadapi penjajahan, tekanan sosial, hingga penyiksaan menjadi gambaran bahwa perempuan juga memiliki posisi penting dalam perjuangan dan perubahan sosial.

Opu Daeng Risadju menunjukkan bahwa perempuan tidak harus ditempatkan sebagai pelengkap dalam sebuah gerakan.

Perempuan dapat menjadi penggerak, pemimpin, pengambil keputusan, sekaligus aktor yang menentukan arah perubahan.

Semangat tersebut masih relevan dengan gerakan perempuan masa kini.

BACA JUGA:  Mahasiswi Disekap-Diperkosa di Makassar Tergiur Loker Babysitter Lewat Facebook

Dalam konteks organisasi perempuan PMII melalui KOPRI, misalnya, nilai-nilai perjuangan Opu Daeng Risadju dapat dilihat melalui upaya penguatan kapasitas intelektual, advokasi hak perempuan, pendampingan kelompok rentan, serta perjuangan menciptakan ruang publik yang lebih setara.

Semangat perjuangan Opu Daeng Risadju juga menunjukkan pentingnya keberanian perempuan untuk memasuki ruang-ruang yang sebelumnya lebih banyak didominasi laki-laki.

Jika pada masa lalu Opu Daeng Risadju menghadapi kolonialisme dan batas sosial terhadap perempuan, maka perjuangan perempuan masa kini menghadapi tantangan yang berbeda.

Salah satunya adalah budaya patriarki yang masih dapat membatasi perempuan dalam kepemimpinan, pengambilan keputusan, maupun partisipasi di ruang publik.

Karena itu, nilai yang diwariskan Opu Daeng Risadju bukan hanya keberanian melawan penjajah, tetapi juga keberanian perempuan untuk menentukan pilihan hidup dan mengambil peran strategis dalam masyarakat.

Akhir Hidup Opu Daeng Risadju

Setelah Indonesia merdeka, Opu Daeng Risadju menjalani kehidupan bersama anaknya di Parepare.

Pada 10 Februari 1964, Opu Daeng Risadju meninggal dunia.

BACA JUGA:  Makassar Terancam Krisis Air Bersih, 12.717 Rumah di 6 Kecamatan Mulai Terdampak

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru