Siapa Badris Salam, dari Buruh Bangunan ke Pengembang Properti Kini Calon Kuat Ketua REI Sulsel

SulawesiPos.com – H Badris Salam meniti perjalanan dari buruh bangunan, tukang, mandor, dan subkontraktor hingga menjadi pengembang properti di Sulawesi Selatan. Pengalaman lapangan, pola kerja sama dengan pemilik lahan, dan keputusan mengalihkan proyek komersial yang macet menjadi rumah subsidi menjadi rangkaian penting yang membentuk bisnisnya.

Badris kemudian mendirikan PT Bumi Pundi Karsa pada 2013 setelah mulai masuk ke bisnis developer pada 2007.

Perusahaan tersebut kini menyebut telah mengembangkan lebih dari 20 proyek perumahan di sejumlah kabupaten dan kota, sementara sejumlah laporan media mencatat kiprahnya berkembang dari rumah subsidi hingga proyek komersial.

Sejumlah profil publik menyebut Badris lahir di Sinjai pada 28 Agustus 1975 dan menghabiskan masa kecil di Dusun Bulu-bulu, Desa Bulu Tellue, Kecamatan Bulupoddo.

Latar daerah itu kemudian beririsan dengan perjalanan bisnisnya ketika ia mengembangkan salah satu proyek penting di Kabupaten Sinjai.

Badris masuk ke dunia konstruksi setelah mengikuti pamannya yang bekerja sebagai kontraktor di Makassar. Dari sana, ia bertahap bekerja sebagai buruh bangunan, tukang, mandor, dan subkontraktor.

“Awalnya itu kami ikut sama paman. Paman di Makassar ini memang dulu kontraktor. Sehingga kami ikut juga sama beliau,” kata Badris.

Pengalaman tersebut membawanya terlibat dalam berbagai pekerjaan konstruksi dan berhadapan langsung dengan material, tenaga kerja, waktu pengerjaan, serta kebutuhan teknis proyek.

Salah satu pengalaman yang masih diingatnya adalah ketika menjadi mandor dalam pekerjaan di Masjid Raya Makassar sekitar 2004.

Dari Pekerja Lapangan ke Bisnis Developer

Peralihan dari pekerja konstruksi ke pengembang berlangsung ketika Badris mulai masuk ke bisnis developer pada 2007.

Dengan modal terbatas, ia memilih menggandeng pemilik lahan dan membangun proyek melalui skema berbagi peran serta keuntungan.

Salah satu kerja sama awal dilakukan dengan pengusaha bernama Jefry yang memiliki lahan di kawasan Sudiang, Jalan Goa Ria, Makassar.

Pemilik lahan menyediakan tanah, sedangkan Badris menyiapkan kemampuan dan biaya pembangunan.

BACA JUGA:  Pria Asal Sinjai Tewas Diduga Dikeroyok Massa di Morowali, Polisi Selidiki Kasus Main Hakim Sendiri

“ Kami hanya kerja sama. Mereka punya lahan, kami punya bangunan. Setelah kita bangun, kami jual. Diberikan haknya untuk lahan, saya ambil untuk bangunannya, profit dibagi sekian persen,” ujarnya.

Modal dari proyek tersebut diputar untuk mengembangkan lahan sekitar dua hektare di Barombong.

Proyek itu berjalan hingga proses Kredit Pemilikan Rumah mulai dilakukan dan menjadi pijakan bagi Badris memperluas usahanya.

PT Bumi Pundi Karsa kemudian didirikan di Makassar pada 2013.

Profil resmi perusahaan menyebut bisnis tersebut berawal dari perusahaan kontraktor sebelum berkembang menjadi pengembang perumahan dengan proyek yang tersebar di berbagai daerah di Indonesia.

Dua Tahun Tanpa Pemasukan di Sinjai

Perjalanan bisnis Badris tidak selalu berjalan mulus. Sekitar 2012, ia membeli lahan seluas 12 hektare di Sinjai dan membangun rumah komersial dengan perkiraan pasar akan bergerak seperti Makassar.

Perkiraan itu tidak terwujud. Rumah yang sudah dibangun tidak terjual sesuai harapan sehingga modal tertahan dan arus pendapatan terhenti.

“Kami sudah bangun tapi tidak bisa terjual dengan lancar seperti di Makassar. Di situlah kami kekurangan biaya,” ungkapnya.

Badris menyebut selama sekitar dua tahun tidak memperoleh pemasukan dari proyek tersebut, meski biaya pembebasan lahan telah dikeluarkan.

“Saat itu kami dua tahun tidak pernah ada pemasukan. Padahal kita sudah keluarkan biaya untuk pembebasan lahan. Jadi kita kembali nol lagi,” katanya.

Titik balik datang dari tawaran Bank BTN Syariah agar kawasan tersebut dialihkan dari rumah komersial menjadi perumahan subsidi.

Saran itu mengubah arah proyek sekaligus membuka jalan bagi Badris untuk menekuni segmen rumah subsidi.

“Alhamdulillah dengan ada penyampaian dari Bank BTN Syariah di waktu itu, bagaimana kalau Bapak mengalihkan lokasinya menjadi rumah subsidi. Nah, di situlah kami mulai awalnya untuk menjalankan rumah subsidi,” kata Badris.

Badris menyiapkan sekitar 100 unit rumah dan memproses 20 unit pertama melalui skema KPR subsidi. Ketika kerja sama dengan perbankan berjalan, arus dana kembali bergerak dan proyek Sinjai perlahan bangkit.

BACA JUGA:  Skandal BBM Subsidi di Sinjai Viral: Jerigen Bebas Isi Solar, Pengawasan Diduga Lalai

Rumah Subsidi Menjadi Mesin Pertumbuhan

Keberhasilan di Sinjai menjadi modal untuk memperluas proyek ke Bone, Bulukumba, Bantaeng, Maros, Gowa, dan Palopo.

Badris juga kembali mengembangkan rumah komersial di kawasan belakang Kantor Gubernur Sulsel, BTP Makassar, dan Gowa.

Ia tidak menggantungkan bisnis hanya pada satu segmen. Dalam komposisi yang pernah disampaikannya, rumah subsidi menyumbang sekitar 70 persen, sedangkan rumah komersial sekitar 30 persen.

“Jadi bukan kita ini hanya rumah subsidi. Tentunya rumah komersil juga ada. Kalau dirata-ratakan, subsidi mungkin 70 persen, 30 persen yang komersil,” ucapnya.

Melalui PT Bumi Pundi Karsa dan PT Mandiri Pratama Putra, sejumlah profil industri menyebut grup usaha Badris telah membangun sekitar 15.000 unit rumah subsidi dan 1.000 unit rumah komersial.

Angka tersebut merupakan klaim yang dimuat dalam profil dan pemberitaan mengenai bisnisnya, bukan angka audit independen yang disertakan dalam sumber terbuka.

Salah satu capaian yang diberitakan adalah Bumi Findaria Mas 2 di Maros yang memperoleh Silver Award sebagai perumahan subsidi terbaik kedua secara nasional pada 2025.

Proyek tersebut juga disiapkan sebagai salah satu lokasi potensial akad massal rumah subsidi berskala nasional pada 2027.

Profil resmi perusahaan menyebut Bumi Pundi Karsa memiliki visi menyediakan hunian berkualitas dan terjangkau.

Arah itu sejalan dengan pengalaman Badris yang menemukan titik balik bisnisnya melalui kebutuhan rumah subsidi bagi masyarakat berpenghasilan rendah.

Organisasi dan Pengalaman di Luar Proyek

Di luar bisnis, Badris aktif dalam organisasi pengembang dan komunitas. Ia tercatat sebagai anggota Badan Pertimbangan Organisasi Daerah REI Sulawesi Selatan sejak 2023 serta pernah menjabat bendahara JK Owners Celebes pada 2022–2024.

Pada Desember 2024, Badris terpilih sebagai Ketua Umum JKOC periode 2024–2027. Pengalaman itu memperluas perannya dari pengelolaan perusahaan ke kepemimpinan organisasi dan jejaring komunitas.

BACA JUGA:  Pedagang Pasar Sentral Sinjai Dikeroyok Ibu dan Anak, Polisi Tangani Saling Lapor

Namanya kemudian masuk dalam bursa calon Ketua DPD REI Sulsel periode 2026–2029. Timnya mengambil formulir pencalonan pada 21 September 2026 dan mengklaim mengantongi dukungan 255 dari 388 anggota yang disebut memiliki hak suara; klaim tersebut masih merupakan pernyataan tim menjelang Musda.

Dalam kegiatan organisasi, Badris membawa gagasan agar REI menjadi rumah bersama bagi pengembang besar, menengah, dan perintis.

Ia juga dikaitkan dengan isu akses pembiayaan masyarakat berpenghasilan rendah serta dukungan bagi pengembang kecil yang menghadapi persoalan likuiditas.

Di sisi personal, sumber publik mencatat Badris menyukai golf, bulu tangkis, dan domino. Ia juga dikenal menggunakan nama anak-anaknya sebagai bagian dari penamaan sejumlah proyek perumahan, seperti Bumi Findaria Mas dan Bumi Nurmita Mas.

Tiga Pegangan Membangun Usaha

Badris merangkum perjalanan bisnisnya dalam tiga pegangan: kerja keras, memperluas jaringan, dan keikhlasan.

Baginya, pengalaman menghadapi proyek yang gagal menjual sama pentingnya dengan pengalaman ketika bisnis berkembang.

“Keberhasilan yang kami capai karena pertama kerja keras. Kedua, kita perbanyak jaringan. Ketiga, kita ikhlas,” katanya.

Ia menilai keikhlasan membantu pelaku usaha bertahan ketika hasil tidak segera terlihat, sedangkan jaringan membuka akses terhadap pemilik lahan, perbankan, mitra usaha, dan pasar.

“Karena dengan adanya keikhlasan, tentu itu semua yang mendapatkan kita bisa bagaimana kesuksesan kita. Dan selalu kita kerja dengan cerdas,” jelasnya.

Kisah Badris memperlihatkan bahwa bisnis propertinya dibangun melalui perpindahan bertahap: dari memahami pekerjaan konstruksi, mengelola proyek dengan modal terbatas, menghadapi dua tahun tanpa pemasukan, lalu menemukan pasar rumah subsidi sebagai jalan pemulihan.

Pengalaman itu pula yang menjadi dasar ketika ia membawa diri sebagai pengusaha, pengelola grup usaha, pemimpin komunitas, dan salah satu figur kuat dalam dinamika pemilihan Ketua REI Sulsel.*

 

 

SulawesiPos.com – H Badris Salam meniti perjalanan dari buruh bangunan, tukang, mandor, dan subkontraktor hingga menjadi pengembang properti di Sulawesi Selatan. Pengalaman lapangan, pola kerja sama dengan pemilik lahan, dan keputusan mengalihkan proyek komersial yang macet menjadi rumah subsidi menjadi rangkaian penting yang membentuk bisnisnya.

Badris kemudian mendirikan PT Bumi Pundi Karsa pada 2013 setelah mulai masuk ke bisnis developer pada 2007.

Perusahaan tersebut kini menyebut telah mengembangkan lebih dari 20 proyek perumahan di sejumlah kabupaten dan kota, sementara sejumlah laporan media mencatat kiprahnya berkembang dari rumah subsidi hingga proyek komersial.

Sejumlah profil publik menyebut Badris lahir di Sinjai pada 28 Agustus 1975 dan menghabiskan masa kecil di Dusun Bulu-bulu, Desa Bulu Tellue, Kecamatan Bulupoddo.

Latar daerah itu kemudian beririsan dengan perjalanan bisnisnya ketika ia mengembangkan salah satu proyek penting di Kabupaten Sinjai.

Badris masuk ke dunia konstruksi setelah mengikuti pamannya yang bekerja sebagai kontraktor di Makassar. Dari sana, ia bertahap bekerja sebagai buruh bangunan, tukang, mandor, dan subkontraktor.

“Awalnya itu kami ikut sama paman. Paman di Makassar ini memang dulu kontraktor. Sehingga kami ikut juga sama beliau,” kata Badris.

Pengalaman tersebut membawanya terlibat dalam berbagai pekerjaan konstruksi dan berhadapan langsung dengan material, tenaga kerja, waktu pengerjaan, serta kebutuhan teknis proyek.

Salah satu pengalaman yang masih diingatnya adalah ketika menjadi mandor dalam pekerjaan di Masjid Raya Makassar sekitar 2004.

Dari Pekerja Lapangan ke Bisnis Developer

Peralihan dari pekerja konstruksi ke pengembang berlangsung ketika Badris mulai masuk ke bisnis developer pada 2007.

Dengan modal terbatas, ia memilih menggandeng pemilik lahan dan membangun proyek melalui skema berbagi peran serta keuntungan.

Salah satu kerja sama awal dilakukan dengan pengusaha bernama Jefry yang memiliki lahan di kawasan Sudiang, Jalan Goa Ria, Makassar.

Pemilik lahan menyediakan tanah, sedangkan Badris menyiapkan kemampuan dan biaya pembangunan.

BACA JUGA:  Doakan dari Makkah, Ketua Gapeksindo Sulsel Amirullah Dukung Badris Salam Pimpin REI Sulsel

“ Kami hanya kerja sama. Mereka punya lahan, kami punya bangunan. Setelah kita bangun, kami jual. Diberikan haknya untuk lahan, saya ambil untuk bangunannya, profit dibagi sekian persen,” ujarnya.

Modal dari proyek tersebut diputar untuk mengembangkan lahan sekitar dua hektare di Barombong.

Proyek itu berjalan hingga proses Kredit Pemilikan Rumah mulai dilakukan dan menjadi pijakan bagi Badris memperluas usahanya.

PT Bumi Pundi Karsa kemudian didirikan di Makassar pada 2013.

Profil resmi perusahaan menyebut bisnis tersebut berawal dari perusahaan kontraktor sebelum berkembang menjadi pengembang perumahan dengan proyek yang tersebar di berbagai daerah di Indonesia.

Dua Tahun Tanpa Pemasukan di Sinjai

Perjalanan bisnis Badris tidak selalu berjalan mulus. Sekitar 2012, ia membeli lahan seluas 12 hektare di Sinjai dan membangun rumah komersial dengan perkiraan pasar akan bergerak seperti Makassar.

Perkiraan itu tidak terwujud. Rumah yang sudah dibangun tidak terjual sesuai harapan sehingga modal tertahan dan arus pendapatan terhenti.

“Kami sudah bangun tapi tidak bisa terjual dengan lancar seperti di Makassar. Di situlah kami kekurangan biaya,” ungkapnya.

Badris menyebut selama sekitar dua tahun tidak memperoleh pemasukan dari proyek tersebut, meski biaya pembebasan lahan telah dikeluarkan.

“Saat itu kami dua tahun tidak pernah ada pemasukan. Padahal kita sudah keluarkan biaya untuk pembebasan lahan. Jadi kita kembali nol lagi,” katanya.

Titik balik datang dari tawaran Bank BTN Syariah agar kawasan tersebut dialihkan dari rumah komersial menjadi perumahan subsidi.

Saran itu mengubah arah proyek sekaligus membuka jalan bagi Badris untuk menekuni segmen rumah subsidi.

“Alhamdulillah dengan ada penyampaian dari Bank BTN Syariah di waktu itu, bagaimana kalau Bapak mengalihkan lokasinya menjadi rumah subsidi. Nah, di situlah kami mulai awalnya untuk menjalankan rumah subsidi,” kata Badris.

Badris menyiapkan sekitar 100 unit rumah dan memproses 20 unit pertama melalui skema KPR subsidi. Ketika kerja sama dengan perbankan berjalan, arus dana kembali bergerak dan proyek Sinjai perlahan bangkit.

BACA JUGA:  Siapa Rezza Pratama, dari Teknik Perkapalan ke Bisnis Properti Kini Calon Kuat Ketua REI Sulsel

Rumah Subsidi Menjadi Mesin Pertumbuhan

Keberhasilan di Sinjai menjadi modal untuk memperluas proyek ke Bone, Bulukumba, Bantaeng, Maros, Gowa, dan Palopo.

Badris juga kembali mengembangkan rumah komersial di kawasan belakang Kantor Gubernur Sulsel, BTP Makassar, dan Gowa.

Ia tidak menggantungkan bisnis hanya pada satu segmen. Dalam komposisi yang pernah disampaikannya, rumah subsidi menyumbang sekitar 70 persen, sedangkan rumah komersial sekitar 30 persen.

“Jadi bukan kita ini hanya rumah subsidi. Tentunya rumah komersil juga ada. Kalau dirata-ratakan, subsidi mungkin 70 persen, 30 persen yang komersil,” ucapnya.

Melalui PT Bumi Pundi Karsa dan PT Mandiri Pratama Putra, sejumlah profil industri menyebut grup usaha Badris telah membangun sekitar 15.000 unit rumah subsidi dan 1.000 unit rumah komersial.

Angka tersebut merupakan klaim yang dimuat dalam profil dan pemberitaan mengenai bisnisnya, bukan angka audit independen yang disertakan dalam sumber terbuka.

Salah satu capaian yang diberitakan adalah Bumi Findaria Mas 2 di Maros yang memperoleh Silver Award sebagai perumahan subsidi terbaik kedua secara nasional pada 2025.

Proyek tersebut juga disiapkan sebagai salah satu lokasi potensial akad massal rumah subsidi berskala nasional pada 2027.

Profil resmi perusahaan menyebut Bumi Pundi Karsa memiliki visi menyediakan hunian berkualitas dan terjangkau.

Arah itu sejalan dengan pengalaman Badris yang menemukan titik balik bisnisnya melalui kebutuhan rumah subsidi bagi masyarakat berpenghasilan rendah.

Organisasi dan Pengalaman di Luar Proyek

Di luar bisnis, Badris aktif dalam organisasi pengembang dan komunitas. Ia tercatat sebagai anggota Badan Pertimbangan Organisasi Daerah REI Sulawesi Selatan sejak 2023 serta pernah menjabat bendahara JK Owners Celebes pada 2022–2024.

Pada Desember 2024, Badris terpilih sebagai Ketua Umum JKOC periode 2024–2027. Pengalaman itu memperluas perannya dari pengelolaan perusahaan ke kepemimpinan organisasi dan jejaring komunitas.

BACA JUGA:  Yusran Paris: Haji Badris Orangnya Berkomitmen dan Punya Tekad Majukan REI

Namanya kemudian masuk dalam bursa calon Ketua DPD REI Sulsel periode 2026–2029. Timnya mengambil formulir pencalonan pada 21 September 2026 dan mengklaim mengantongi dukungan 255 dari 388 anggota yang disebut memiliki hak suara; klaim tersebut masih merupakan pernyataan tim menjelang Musda.

Dalam kegiatan organisasi, Badris membawa gagasan agar REI menjadi rumah bersama bagi pengembang besar, menengah, dan perintis.

Ia juga dikaitkan dengan isu akses pembiayaan masyarakat berpenghasilan rendah serta dukungan bagi pengembang kecil yang menghadapi persoalan likuiditas.

Di sisi personal, sumber publik mencatat Badris menyukai golf, bulu tangkis, dan domino. Ia juga dikenal menggunakan nama anak-anaknya sebagai bagian dari penamaan sejumlah proyek perumahan, seperti Bumi Findaria Mas dan Bumi Nurmita Mas.

Tiga Pegangan Membangun Usaha

Badris merangkum perjalanan bisnisnya dalam tiga pegangan: kerja keras, memperluas jaringan, dan keikhlasan.

Baginya, pengalaman menghadapi proyek yang gagal menjual sama pentingnya dengan pengalaman ketika bisnis berkembang.

“Keberhasilan yang kami capai karena pertama kerja keras. Kedua, kita perbanyak jaringan. Ketiga, kita ikhlas,” katanya.

Ia menilai keikhlasan membantu pelaku usaha bertahan ketika hasil tidak segera terlihat, sedangkan jaringan membuka akses terhadap pemilik lahan, perbankan, mitra usaha, dan pasar.

“Karena dengan adanya keikhlasan, tentu itu semua yang mendapatkan kita bisa bagaimana kesuksesan kita. Dan selalu kita kerja dengan cerdas,” jelasnya.

Kisah Badris memperlihatkan bahwa bisnis propertinya dibangun melalui perpindahan bertahap: dari memahami pekerjaan konstruksi, mengelola proyek dengan modal terbatas, menghadapi dua tahun tanpa pemasukan, lalu menemukan pasar rumah subsidi sebagai jalan pemulihan.

Pengalaman itu pula yang menjadi dasar ketika ia membawa diri sebagai pengusaha, pengelola grup usaha, pemimpin komunitas, dan salah satu figur kuat dalam dinamika pemilihan Ketua REI Sulsel.*

 

 

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru