Satelit Rusia Membidik Teluk, Teknologi China Memperkuat Rudal Iran: Poros Baru Perang Modern Mengguncang Pangkalan AS

SulawesiPos.com – Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy pada 25 Juli 2026 menuduh Rusia menggunakan satelit untuk memantau pangkalan militer Amerika Serikat dan negara-negara Teluk, lalu menyerahkan citranya kepada Iran guna membantu penentuan sasaran, persiapan serangan, dan penilaian dampak serangan.

Pada hari yang sama, Ukraina juga mengumumkan serangan pesawat nirawak terhadap kapal-kapal kargo di Laut Kaspia yang diduga mengangkut perlengkapan militer antara Iran dan Rusia. Informasi tersebut dilaporkan FDD’s Long War Journal pada 28 Juli 2026.

Zelenskyy mengatakan Ukraina mencatat aktivitas pengintaian satelit Rusia terhadap negara-negara Teluk dan fasilitas militer AS sejak awal Juli, tetapi tuduhan tersebut belum disertai bukti teknis terbuka yang memungkinkan verifikasi independen secara menyeluruh.

Menurut pemimpin Ukraina itu, terdapat korelasi antara lintasan satelit Rusia dan serangan Iran karena citra disebut dikumpulkan sebelum operasi untuk persiapan target serta setelah serangan untuk menilai tingkat kerusakan.

Pada 19 dan 20 Juli saja, lanjut Zelenskyy, dua pangkalan udara di Bahrain serta masing-masing satu pangkalan di Yordania dan Kuwait masuk dalam wilayah pengamatan satelit Rusia sebelum atau di sekitar waktu serangan Iran terhadap fasilitas Amerika di kawasan tersebut.

BACA JUGA:  Iran Tekankan Selat Hormuz Terbuka untuk Negara Sahabat, Tertutup bagi Lawan

Kremlin sebelumnya menolak laporan mengenai bantuan intelijen kepada Iran dan menyebut berbagai tuduhan yang berasal dari Ukraina sebagai informasi palsu, sehingga status bantuan langsung Moskwa masih menjadi perkara yang diperdebatkan dan diselidiki.

Akurasi Serangan Iran Memunculkan Pertanyaan Besar

Kecurigaan terhadap keterlibatan Rusia menguat setelah serangkaian serangan Iran mengenai fasilitas sensitif Amerika, termasuk lokasi yang digunakan Badan Intelijen Pusat AS atau CIA di kawasan Teluk.

Reuters melaporkan pada 22 Juli 2026 bahwa lembaga intelijen Amerika sedang menilai kemungkinan Rusia memberikan informasi penargetan atau teknologi tambahan kepada Iran, tetapi penyelidikan tersebut belum menghasilkan kesimpulan publik yang definitif.

Salah satu fokus penyelidikan adalah serangan pesawat nirawak terhadap kompleks Kedutaan Besar AS di Riyadh pada 3 Maret 2026, tempat sebuah fasilitas CIA dilaporkan ikut terkena serangan tanpa menimbulkan korban jiwa.

Sejumlah analis menduga Iran menggunakan versi pesawat nirawak Shahed yang telah ditingkatkan dengan teknologi Rusia, termasuk sistem navigasi satelit Kometa-M yang dirancang meningkatkan ketepatan serta ketahanan terhadap gangguan elektronik.

BACA JUGA:  Kedubes AS di Riyadh Arab Saudi Diserang Drone, Timur Tengah Kian Memanas

Namun, beberapa pakar mengingatkan bahwa banyak pangkalan Amerika merupakan sasaran tetap yang dapat diamati melalui citra satelit komersial, sehingga keberhasilan serangan tidak otomatis membuktikan adanya pemberian data rahasia dari suatu negara.

SulawesiPos.com – Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy pada 25 Juli 2026 menuduh Rusia menggunakan satelit untuk memantau pangkalan militer Amerika Serikat dan negara-negara Teluk, lalu menyerahkan citranya kepada Iran guna membantu penentuan sasaran, persiapan serangan, dan penilaian dampak serangan.

Pada hari yang sama, Ukraina juga mengumumkan serangan pesawat nirawak terhadap kapal-kapal kargo di Laut Kaspia yang diduga mengangkut perlengkapan militer antara Iran dan Rusia. Informasi tersebut dilaporkan FDD’s Long War Journal pada 28 Juli 2026.

Zelenskyy mengatakan Ukraina mencatat aktivitas pengintaian satelit Rusia terhadap negara-negara Teluk dan fasilitas militer AS sejak awal Juli, tetapi tuduhan tersebut belum disertai bukti teknis terbuka yang memungkinkan verifikasi independen secara menyeluruh.

Menurut pemimpin Ukraina itu, terdapat korelasi antara lintasan satelit Rusia dan serangan Iran karena citra disebut dikumpulkan sebelum operasi untuk persiapan target serta setelah serangan untuk menilai tingkat kerusakan.

Pada 19 dan 20 Juli saja, lanjut Zelenskyy, dua pangkalan udara di Bahrain serta masing-masing satu pangkalan di Yordania dan Kuwait masuk dalam wilayah pengamatan satelit Rusia sebelum atau di sekitar waktu serangan Iran terhadap fasilitas Amerika di kawasan tersebut.

BACA JUGA:  Bocor Sebelum Sah, Ini Isi Lengkap MOU 14 Poin Damai AS-Iran

Kremlin sebelumnya menolak laporan mengenai bantuan intelijen kepada Iran dan menyebut berbagai tuduhan yang berasal dari Ukraina sebagai informasi palsu, sehingga status bantuan langsung Moskwa masih menjadi perkara yang diperdebatkan dan diselidiki.

Akurasi Serangan Iran Memunculkan Pertanyaan Besar

Kecurigaan terhadap keterlibatan Rusia menguat setelah serangkaian serangan Iran mengenai fasilitas sensitif Amerika, termasuk lokasi yang digunakan Badan Intelijen Pusat AS atau CIA di kawasan Teluk.

Reuters melaporkan pada 22 Juli 2026 bahwa lembaga intelijen Amerika sedang menilai kemungkinan Rusia memberikan informasi penargetan atau teknologi tambahan kepada Iran, tetapi penyelidikan tersebut belum menghasilkan kesimpulan publik yang definitif.

Salah satu fokus penyelidikan adalah serangan pesawat nirawak terhadap kompleks Kedutaan Besar AS di Riyadh pada 3 Maret 2026, tempat sebuah fasilitas CIA dilaporkan ikut terkena serangan tanpa menimbulkan korban jiwa.

Sejumlah analis menduga Iran menggunakan versi pesawat nirawak Shahed yang telah ditingkatkan dengan teknologi Rusia, termasuk sistem navigasi satelit Kometa-M yang dirancang meningkatkan ketepatan serta ketahanan terhadap gangguan elektronik.

BACA JUGA:  Iran Tekankan Selat Hormuz Terbuka untuk Negara Sahabat, Tertutup bagi Lawan

Namun, beberapa pakar mengingatkan bahwa banyak pangkalan Amerika merupakan sasaran tetap yang dapat diamati melalui citra satelit komersial, sehingga keberhasilan serangan tidak otomatis membuktikan adanya pemberian data rahasia dari suatu negara.

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru