SulawesiPos.com – Istilah “Londo Ireng” kembali menjadi perbincangan nasional setelah dipakai Presiden Prabowo Subianto untuk menyindir pihak yang dinilai lebih membela kepentingan asing.
Di Makassar, jejak sejarah istilah yang lama dikaitkan dengan struktur militer kolonial itu terekam pada Ambon Kamp, kawasan permukiman yang dahulu disiapkan pemerintah Hindia Belanda bagi militer dan pegawai sipil asal Maluku.
Dalam kajian tata ruang kota kolonial, Ambon Kamp berdiri sebagai bagian dari pola pemisahan wilayah berdasarkan etnis yang diterapkan pemerintah Hindia Belanda.
Penelitian Anwar (2023) berjudul Ambtenaar Bumiputera di Kota Makassar Tahun 1906-1942 mencatat orang-orang Ambon didatangkan ke Makassar untuk mengisi pos administrasi perkantoran sekaligus memperkuat pertahanan militer.
Penempatan itu tidak dilakukan secara acak. Pemerintah kolonial mengelompokkan mereka dalam satu kawasan permukiman tersendiri untuk memudahkan kontrol atas populasi yang bekerja di bawah struktur negara kolonial.
Jejak wilayah historis Ambon Kamp kini berada di kawasan pusat Kota Makassar.
Menurut uraian dalam buku Sociologizing Urban Space: Makassar karya Nas (2020), area Ambon Kamp mencakup jalur yang sekarang dikenal sebagai Jalan Gunung Latimojong, Jalan Sungai Saddang, dan Jalan Gunung Merapi.
Nama-nama lama seperti Maradekaya-weg, Schijfberg-weg, dan Ladjangiru-weg menunjukkan bagaimana kawasan itu dulu ditata sebagai bagian dari kota kolonial yang tersegregasi.
Dari Kawasan Khusus ke Label Sosial
Di dalam struktur Koninklijk Nederlandsch-Indische Leger atau KNIL, tentara asal Maluku menempati posisi yang berbeda dibanding banyak prajurit bumiputera lain.
Kajian Maniagasi (2018) mencatat jumlah serdadu asal Jawa pada dekade 1920-an memang jauh lebih besar, tetapi tentara Ambon memperoleh privilese lebih tinggi dalam struktur kolonial.
Perbedaan itu terlihat dari gaji yang lebih tinggi, fasilitas asrama keluarga yang lebih layak, hingga status hukum yang disejajarkan dengan tentara Eropa.

