SulawesiPos.com – Realisasi investasi Sulawesi Selatan mencapai Rp15,275 triliun sepanjang Januari-September 2026, atau 67,56 persen dari target tahunan Rp22,580 triliun. Pemerintah provinsi masih harus mengejar tambahan sekitar Rp7,305 triliun pada kuartal IV untuk memenuhi target tersebut.
Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Sulsel Asrul Sani menyampaikan capaian itu dalam laporan realisasi investasi hingga triwulan III 2026, Senin (2/11/2026).
“Target sendiri kita ditetapkan Rp22,58 triliun di tahun 2026. Sampai dengan triwulan ketiga kita terealisasi sebesar Rp15,2 triliun. Kalau kita persentasenya 67,56 persen,” kata Asrul.
PMDN Masih Mendominasi
Realisasi investasi khusus triwulan III 2026 tercatat Rp3,872 triliun. Nilai tersebut terdiri atas Penanaman Modal Asing (PMA) sekitar Rp677 miliar dan Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) sekitar Rp3,194 triliun.
Komposisi itu menunjukkan investasi domestik masih menjadi sumber utama penanaman modal di Sulsel. Nilai PMDN pada periode Juli-September 2026 mencapai lebih dari empat kali lipat dibandingkan investasi asing.
Dalam akumulasi Januari-September, Kota Makassar menjadi daerah dengan realisasi investasi terbesar, yakni sekitar Rp5,003 triliun atau 32,80 persen dari total investasi Sulsel. Capaian tersebut meningkat 22,07 persen dibandingkan periode yang sama pada 2025.
Investasi Makassar didominasi PMDN sekitar Rp4,325 triliun, sedangkan PMA mencapai sekitar Rp678,8 miliar. Sektor jasa menjadi penyumbang terbesar, disusul transportasi, pergudangan dan telekomunikasi, serta perumahan dan kawasan industri.
Investasi Masih Terkonsentrasi di Makassar
Pada triwulan III 2026, Makassar juga mencatat nilai investasi terbesar dengan sekitar Rp2,280 triliun atau 58,88 persen dari total investasi Sulsel pada periode tersebut. Kabupaten Luwu Timur berada di posisi berikutnya dengan Rp670 miliar, disusul Maros sebesar Rp441 miliar.
Asrul mengatakan besarnya investasi di Makassar berkaitan dengan karakter kota sebagai pusat jasa dan aktivitas ekonomi. Sementara itu, investasi di Luwu dan Luwu Timur banyak berhubungan dengan sektor pertambangan.
Pemerintah provinsi kini mendorong agar investasi tidak hanya terkonsentrasi di ibu kota provinsi. Setiap kabupaten dan kota diarahkan mengembangkan industri pengolahan berdasarkan komoditas unggulan masing-masing agar potensi daerah menghasilkan nilai tambah.
“Makassar kota jasa, memang investasi bertumpu di sini. Dari tahun ke tahun besar di Makassar. Kita sebenarnya sudah diskusi kabupaten/kota bagaimana mendorong pemerataan, khususnya untuk industri pengolahan sesuai dengan komoditas unggulannya,” ujar Asrul.
Pemprov Sulsel Kejar Target Akhir Tahun
Pemprov Sulsel menyatakan masih optimistis dapat memenuhi target investasi hingga akhir 2026. Pemerintah daerah akan melanjutkan pemetaan potensi komoditas unggulan dan promosi investasi untuk menarik penanaman modal baru.
“Kita optimis, ya, di akhir tahun targetnya bisa tercapai sesuai yang sudah ditetapkan yaitu Rp22,5 triliun,” kata Asrul.


