SulawesiPos.com — Pakar dan dosen Hubungan Internasional FISIP Universitas Hasanuddin, Dr. Patrice Lumumba, menilai peluang Benjamin Netanyahu mempertahankan jabatan perdana menteri masih terbuka menjelang pemilu parlemen Israel pada 27 Oktober 2026 melalui mobilisasi pendukung dan perundingan koalisi, sebagaimana disampaikannya ketika dihubungi jurnalis Sulawesi Pos pada Sabtu, 24 Oktober 2026, dengan menyoroti dukungan Presiden Amerika Serikat Donald Trump di tengah tekanan politik domestik dan belum tercapainya proyeksi mayoritas parlemen.
“Kalau melihat dinamika perkembangan politik dalam negeri Israel menjelang pemilu 27 Oktober 2026 dan kaitannya dengan peluang Netanyahu sebagai perdana menteri, apakah akan lengser atau tetap bertahan, memang sangat menarik untuk dikaji karena penuh dengan drama,” ujar Patrice.
Menurut Patrice, tekanan dari lawan politik, persoalan hukum, serta kontroversi kebijakan perang telah mempersempit ruang gerak Netanyahu, tetapi belum cukup untuk memastikan berakhirnya kekuasaannya.
Ia menilai dukungan Trump menjadi tambahan modal politik yang dapat dimanfaatkan Netanyahu untuk memperkuat posisi di hadapan pemilih maupun calon mitra koalisi.
“Secara demikian, kans Netanyahu sebagai perdana menteri Israel masih terbuka,” katanya.
Reuters pada 18 Oktober 2026 memberitakan bahwa Trump secara terbuka mendukung Netanyahu menjelang pemilu, meskipun pengaruh dukungan tersebut terhadap pilihan pemilih Israel masih belum pasti.
Dalam pembacaan Patrice, dukungan dari Washington dapat memperkuat daya tawar Netanyahu dalam perundingan pembagian kekuasaan, tetapi keberhasilannya tetap bergantung pada respons kekuatan politik di Israel.
Rahasia “Raja Bibi”: Kepentingan Sekutu Saling Terikat
Analisis Patrice berkelindan dengan laporan Jacob Kornbluh dalam The Forward pada 23 Oktober 2026, yang mengulas kemampuan Netanyahu bertahan setelah kegagalan keamanan 7 Oktober 2023, protes domestik, dan persidangan korupsi.
Tanggal 7 Oktober 2023 merujuk pada serangan Hamas terhadap Israel yang kemudian diikuti perang Gaza, bukan serangan Israel terhadap Iran.
Dalam laporan tersebut, penulis biografi Netanyahu, Anshel Pfeffer, menilai ketahanan politik pemimpin berjuluk “Raja Bibi” itu ditopang kecakapan kampanye serta jaringan kepentingan yang dibangunnya selama puluhan tahun.
Menurut Pfeffer, masa depan politik dan kepentingan ekonomi sejumlah sekutu terkait erat dengan keberhasilan Netanyahu, sehingga mereka mempunyai alasan mempertahankan koalisi meskipun berselisih mengenai kebijakan pemerintah.
Sementara itu, penulis Cracking the Netanyahu Code, Mazal Mualem, menilai keberanian Netanyahu mengambil risiko militer membantu memulihkan dukungan sebagian pemilih yang sebelumnya kecewa.
Penilaian kedua penulis tersebut memperlihatkan dua sumber ketahanan Netanyahu, yakni kemampuan menjaga kepentingan sekutu dan membangun kembali citra kepemimpinan keamanan.
Patrice sendiri menyoroti bagaimana perang dan persoalan dalam negeri telah menjadi arena pertarungan politik, dengan kelompok penentang berusaha menjadikannya dasar untuk mengakhiri kepemimpinan Netanyahu.
Namun, tuduhan bahwa perang sengaja dijalankan untuk mempertahankan jabatan harus dibedakan dari fakta yang telah terbukti karena menyangkut penilaian terhadap motif politik.
Delapan Kursi yang Menentukan Nasib
Jajak pendapat Kan News yang dipublikasikan pada 11 Oktober, melaporkan proyeksi 53 kursi bagi blok Netanyahu, atau delapan kursi di bawah mayoritas mutlak Knesset.
Dalam survei yang sama, empat kekuatan utama oposisi memperoleh total 50 kursi, sedangkan dua daftar partai Arab diproyeksikan menguasai 13 kursi dan gabungan Reservis–Partai Ekonomi mendapatkan empat kursi.
Partai Yashar pimpinan mantan kepala staf militer Gadi Eisenkot berada di posisi pertama dengan 22 kursi, disusul Likud pimpinan Netanyahu dengan 20 kursi.
Angka tersebut merupakan proyeksi survei sebelum pemungutan suara, sehingga tidak memastikan hasil pemilu maupun keberhasilan salah satu kubu membentuk pemerintahan.
Ketentuan resmi Knesset menetapkan ambang batas sebesar 3,25 persen suara sah nasional, sehingga kelolosan partai kecil dapat memengaruhi pembagian kursi dan peluang koalisi mencapai mayoritas.

Dengan konfigurasi tersebut, pembacaan Patrice mengenai pentingnya daya tawar menjadi relevan karena tambahan dukungan parlemen harus diperoleh melalui kesediaan partai lain berunding.
Di kubu oposisi, tantangannya juga tidak sederhana karena penolakan terhadap Netanyahu belum tentu disertai kesepakatan mengenai mitra pemerintahan.
Reuters pada 23 Oktober 2026 melaporkan bahwa keengganan Eisenkot bermitra dengan partai-partai Arab dapat mempersulit usahanya menghimpun mayoritas, meskipun Yashar mengungguli Likud dalam jajak pendapat.
Dukungan Asing Diuji di Kotak Suara
Patrice memandang perubahan sikap Trump sebagai perkembangan penting dalam persaingan, terutama karena hubungan dengan Amerika Serikat memiliki bobot strategis bagi Israel.
Meski demikian, dukungan presiden Amerika Serikat tidak dapat disamakan dengan dukungan otomatis seluruh organisasi lobi pro-Israel ataupun dianggap langsung menghasilkan tambahan kursi.
Bagi Netanyahu, tantangan terdekatnya adalah mengubah dukungan diplomatik menjadi kepercayaan pemilih, mempertahankan sekutu, dan meyakinkan pendukung yang ragu untuk datang ke tempat pemungutan suara.
Bagi para penentangnya, ujian utamanya adalah mengubah keunggulan elektoral menjadi kesepakatan politik yang mampu menopang pemerintahan.
Karena itu, peluang bertahan Netanyahu sebagaimana disoroti Patrice tetap terbuka, tetapi kepastiannya baru ditentukan oleh hasil pemilu dan kemampuan merangkai dukungan di parlemen.


