Trump Sebut AI “Kecerdasan Super”, Pakar Unhas: Nama Tak Mengubah Kemampuan

SulawesiPos.com – Usul Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk menyebut artificial intelligence sebagai super intelligence dalam dokumen resmi memicu tanggapan pakar AI Universitas Hasanuddin, Prof. Dr. Ir. Indrabayu, S.T., M.T., M.Bus.Sys., IPM., ASEAN.Eng., pada Selasa (23/9/2026).

Hal ini ditanggapi sehari setelah Trump menyampaikannya di Sidang Majelis Umum PBB di New York, karena istilah “kecerdasan super” memiliki arti ilmiah yang berbeda dari kecerdasan buatan yang digunakan masyarakat saat ini.

Pernyataan Trump diberitakan Julia Manchester dalam The Hill pada 22 September 2026 dan dibahas AFP dalam laporan yang terbit pada Selasa (23/9/2026).

Jurnalis SulawesiPos.com menghubungi Prof Indrabayu pada Selasa (23/9/2026) untuk meminta penjelasannya tentang makna ilmiah istilah tersebut dan dampaknya bagi cara publik memahami AI.

“Sebagai orang yang setiap hari bekerja dengan teknologi ini, saya perlu meluruskan satu hal kecil,” kata Prof Indrabayu.

Trump beralasan kata artificial membuat kecerdasan mesin terdengar palsu, lalu menyatakan Amerika Serikat akan memakai istilah super intelligence dan berharap dunia mengikutinya.

BACA JUGA:  Trump Dicemooh Usai Final Piala Dunia 2026, Ingin Jadi Tuan Rumah Lagi Bersama China
Trump memahkotai AI sebagai kecerdasan super, sementara ilmuwan menguji kemampuan dan keselamatannya secara nyata (Dok. Ilustrasi)
Trump memahkotai AI sebagai kecerdasan super, sementara ilmuwan menguji kemampuan dan keselamatannya secara nyata (Dok. Ilustrasi)

Indrabayu menjelaskan bahwa artificial berkaitan dengan sesuatu yang dibuat melalui keterampilan manusia, bukan pernyataan bahwa kemampuan suatu sistem hanyalah tipuan; penjelasan akar kata tersebut sejalan dengan penelusuran Oxford yang menghubungkannya dengan kata Latin artificium, bermakna karya atau keterampilan.

“Jadi yang palsu bukan kecerdasannya, melainkan tafsir atas katanya,” ujarnya.

“Super” Memerlukan Bukti

Istilah artificial intelligence sudah dipakai dalam proposal penelitian John McCarthy dan rekan-rekannya pada 1955, sebelum lokakarya Dartmouth pada 1956 menjadi tonggak awal bidang AI.

Menurut Prof Indrabayu, superintelligence merujuk pada kemampuan yang jauh melampaui kemampuan kognitif manusia di hampir semua bidang, sehingga menyematkannya pada seluruh sistem AI akan mengaburkan perbedaan antara teknologi yang ada dan kemampuan yang masih menjadi tujuan penelitian.

“Sistem yang kita pakai hari ini belum sampai ke sana,” katanya.

Ia mencontohkan bahwa model pengenal citra di laboratoriumnya masih dapat keliru membedakan buah sawit matang dari bayangan pelepah, sementara chatbot dapat menyajikan referensi yang ternyata tidak ada.

BACA JUGA:  Nama Trump Berpotensi Menggusur Pahlawan Kulit Hitam dari Kapal Induk Raksasa AS

Temuan dalam AI Index 2026 dari Stanford turut menunjukkan bahwa model AI terkemuka masih menghasilkan jawaban keliru pada pengujian tertentu, meskipun tingkat kesalahannya berbeda menurut model dan jenis uji.

Bagi Prof Indrabayu, klaim kemampuan AI seharusnya diuji dengan data, metode evaluasi, dan pembanding yang jelas sebelum diterima sebagai kesimpulan ilmiah.

“Mengganti nama obat menjadi ‘supermedicine’ tidak membebaskannya dari uji klinis, dan mengganti nama AI tidak membebaskannya dari pengujian keselamatan,” ujarnya.

Di Washington, Istilah Itu Punya Konsekuensi

Prof Indrabayu menyoroti ironi lain: Senator Bernie Sanders dan anggota DPR Amerika Serikat Greg Casar telah mengumumkan rencana Ban Artificial Superintelligence Act pada 3 September 2026 untuk melarang pengembangan sistem yang melampaui kecerdasan manusia dan menghentikan sementara pengembangan AI canggih sampai aturan keselamatan tersedia.

Pernyataan Prof Indrabayu bahwa “filter spam di kotak surat pun ikut terancam dilarang” merupakan sindiran tentang rancunya penamaan, sebab cakupan rencana tersebut ditentukan oleh kemampuan sistem yang hendak diatur, bukan semata oleh nama yang diberikan kepadanya.

BACA JUGA:  Trump Pecat Menteri Angkatan Laut AS di Tengah Ketegangan Iran

Perdebatan keselamatan AI juga masuk ke agenda Dewan Keamanan PBB pada 23 September 2026, di tengah dorongan agar pembuat teknologi dan pemerintah membahas risiko serta cara mengawasinya.

Bagi Indonesia, Indrabayu menyarankan pengujian AI dengan data dan kebutuhan setempat, pengawasan terhadap dampaknya, serta penjelasan yang jujur kepada publik mengenai kemampuan dan keterbatasannya.

“Saya memilih tetap menyebutnya kecerdasan buatan, justru karena kata ‘buatan’ itu jujur,” katanya.

Menurutnya, istilah tersebut mengingatkan bahwa manusia membuat dan menggunakan teknologi itu, sehingga manusia pula yang harus bertanggung jawab ketika hasilnya keliru. (Ali)

SulawesiPos.com – Usul Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk menyebut artificial intelligence sebagai super intelligence dalam dokumen resmi memicu tanggapan pakar AI Universitas Hasanuddin, Prof. Dr. Ir. Indrabayu, S.T., M.T., M.Bus.Sys., IPM., ASEAN.Eng., pada Selasa (23/9/2026).

Hal ini ditanggapi sehari setelah Trump menyampaikannya di Sidang Majelis Umum PBB di New York, karena istilah “kecerdasan super” memiliki arti ilmiah yang berbeda dari kecerdasan buatan yang digunakan masyarakat saat ini.

Pernyataan Trump diberitakan Julia Manchester dalam The Hill pada 22 September 2026 dan dibahas AFP dalam laporan yang terbit pada Selasa (23/9/2026).

Jurnalis SulawesiPos.com menghubungi Prof Indrabayu pada Selasa (23/9/2026) untuk meminta penjelasannya tentang makna ilmiah istilah tersebut dan dampaknya bagi cara publik memahami AI.

“Sebagai orang yang setiap hari bekerja dengan teknologi ini, saya perlu meluruskan satu hal kecil,” kata Prof Indrabayu.

Trump beralasan kata artificial membuat kecerdasan mesin terdengar palsu, lalu menyatakan Amerika Serikat akan memakai istilah super intelligence dan berharap dunia mengikutinya.

BACA JUGA:  Selebrasi Trump Dance Warnai Kemenangan Belgia 4-1 atas Amerika Serikat di Seattle
Trump memahkotai AI sebagai kecerdasan super, sementara ilmuwan menguji kemampuan dan keselamatannya secara nyata (Dok. Ilustrasi)
Trump memahkotai AI sebagai kecerdasan super, sementara ilmuwan menguji kemampuan dan keselamatannya secara nyata (Dok. Ilustrasi)

Indrabayu menjelaskan bahwa artificial berkaitan dengan sesuatu yang dibuat melalui keterampilan manusia, bukan pernyataan bahwa kemampuan suatu sistem hanyalah tipuan; penjelasan akar kata tersebut sejalan dengan penelusuran Oxford yang menghubungkannya dengan kata Latin artificium, bermakna karya atau keterampilan.

“Jadi yang palsu bukan kecerdasannya, melainkan tafsir atas katanya,” ujarnya.

“Super” Memerlukan Bukti

Istilah artificial intelligence sudah dipakai dalam proposal penelitian John McCarthy dan rekan-rekannya pada 1955, sebelum lokakarya Dartmouth pada 1956 menjadi tonggak awal bidang AI.

Menurut Prof Indrabayu, superintelligence merujuk pada kemampuan yang jauh melampaui kemampuan kognitif manusia di hampir semua bidang, sehingga menyematkannya pada seluruh sistem AI akan mengaburkan perbedaan antara teknologi yang ada dan kemampuan yang masih menjadi tujuan penelitian.

“Sistem yang kita pakai hari ini belum sampai ke sana,” katanya.

Ia mencontohkan bahwa model pengenal citra di laboratoriumnya masih dapat keliru membedakan buah sawit matang dari bayangan pelepah, sementara chatbot dapat menyajikan referensi yang ternyata tidak ada.

BACA JUGA:  Eskalasi Konflik Iran–AS Menguat, Trump Prediksi Korban Bertambah, Ulama Syiah Serukan Jihad Global

Temuan dalam AI Index 2026 dari Stanford turut menunjukkan bahwa model AI terkemuka masih menghasilkan jawaban keliru pada pengujian tertentu, meskipun tingkat kesalahannya berbeda menurut model dan jenis uji.

Bagi Prof Indrabayu, klaim kemampuan AI seharusnya diuji dengan data, metode evaluasi, dan pembanding yang jelas sebelum diterima sebagai kesimpulan ilmiah.

“Mengganti nama obat menjadi ‘supermedicine’ tidak membebaskannya dari uji klinis, dan mengganti nama AI tidak membebaskannya dari pengujian keselamatan,” ujarnya.

Di Washington, Istilah Itu Punya Konsekuensi

Prof Indrabayu menyoroti ironi lain: Senator Bernie Sanders dan anggota DPR Amerika Serikat Greg Casar telah mengumumkan rencana Ban Artificial Superintelligence Act pada 3 September 2026 untuk melarang pengembangan sistem yang melampaui kecerdasan manusia dan menghentikan sementara pengembangan AI canggih sampai aturan keselamatan tersedia.

Pernyataan Prof Indrabayu bahwa “filter spam di kotak surat pun ikut terancam dilarang” merupakan sindiran tentang rancunya penamaan, sebab cakupan rencana tersebut ditentukan oleh kemampuan sistem yang hendak diatur, bukan semata oleh nama yang diberikan kepadanya.

BACA JUGA:  Obama vs Trump? Ini Respons Obama soal Video Kontroversial di Truth Social

Perdebatan keselamatan AI juga masuk ke agenda Dewan Keamanan PBB pada 23 September 2026, di tengah dorongan agar pembuat teknologi dan pemerintah membahas risiko serta cara mengawasinya.

Bagi Indonesia, Indrabayu menyarankan pengujian AI dengan data dan kebutuhan setempat, pengawasan terhadap dampaknya, serta penjelasan yang jujur kepada publik mengenai kemampuan dan keterbatasannya.

“Saya memilih tetap menyebutnya kecerdasan buatan, justru karena kata ‘buatan’ itu jujur,” katanya.

Menurutnya, istilah tersebut mengingatkan bahwa manusia membuat dan menggunakan teknologi itu, sehingga manusia pula yang harus bertanggung jawab ketika hasilnya keliru. (Ali)

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru