Mensesneg Sebut Mentan Amran Panglima Pangan, Siap Pacu Bioetanol

SulawesiPos.com – Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi menyebut Mentan Amran sebagai “panglima pangan” saat rapat koordinasi percepatan pengembangan bioetanol bersama 44 bupati, Senin (21/9/2026), sebagai bentuk apresiasi atas kerja keras Kementerian Pertanian mengawal swasembada pangan sekaligus menyiapkan kemandirian energi nasional.

Dalam rapat yang digelar melalui konferensi video itu, pemerintah menegaskan dukungan regulasi, anggaran, dan kolaborasi pemerintah daerah untuk mengembangkan bioetanol berbasis tebu, singkong, dan jagung.

Prasetyo menyampaikan penghargaan kepada jajaran Kementan, pemerintah daerah, dan petani yang bekerja tanpa mengenal waktu untuk menjaga produksi pangan serta mempercepat pencapaian swasembada.

“Terima kasih sebesar-besarnya kepada semua pihak yang bekerja keras pagi, siang, malam, tidak mengenal hari libur untuk memastikan swasembada pangan secepat-cepatnya. Salam hormat kepada bapak ibu semua, dan terima kasih kepada petani Indonesia yang telah mengabdikan dirinya. Mereka adalah pahlawan bangsa yang sering kali kita lupakan,” katanya.

Pemerintah, kata Prasetyo, akan memberikan dukungan penuh terhadap program strategis pertanian melalui penyediaan regulasi dan dukungan anggaran karena Presiden Prabowo menempatkan pangan sebagai salah satu prioritas pembangunan nasional.

BACA JUGA:  Mentan Amran: 160 Juta Petani dan Peternak Suplai Program MBG, Kesejahteraan Petani Rekor Tertinggi Sepanjang Sejarah

“Selama Pak Mentan membutuhkan dukungan regulasi, tentu menjadi tugas dan tanggung jawab kami di Kementerian Sekretariat Negara untuk memproses secepat-cepatnya. Demikian juga dukungan APBN. Salah satu fokus utama Presiden selain keamanan adalah pangan. Jadi apa pun yang dibutuhkan untuk memastikan pangan terjamin, pemerintah akan mendukung,” tegasnya.

Prasetyo juga melaporkan kepada Presiden Prabowo mengenai persiapan percepatan pengembangan energi berbasis bioetanol yang dipimpin Mentan Amran dan jajaran Kementan.

“Tadi malam saya melapor kepada Presiden mengenai target pengembangan energi berbasis bioetanol. Pak Mentan Amran dan jajaran memimpin rapat persiapan ini dan kami diperintahkan untuk ikut mendengarkan. Tidak ada arahan beri sambutan. Tapi ini sekalian untuk menyapa para bupati. Mumpung panglima pangan (Mentan Amran) yang perintahkan,” ujarnya.

Mentan Amran menyebut Indonesia telah melewati tantangan krisis pangan global dengan sejumlah indikator positif, mulai dari kenaikan Nilai Tukar Petani, pertumbuhan PDB pertanian, peningkatan produksi, swasembada, hingga ekspor pangan.

“Krisis pangan kita aman. NTP kita tertinggi, produksi meningkat, swasembada bahkan ekspor. Kita juga mampu membantu negara lain seperti Palestina. Data-data ini bukan dari kami, tetapi dari BPS, FAO, dan USDA,” ungkap Mentan Amran.

BACA JUGA:  Kementan Dorong UGM Daftarkan HAKI PVT

Dari Swasembada Pangan Menuju Bioetanol

Setelah memperkuat swasembada pangan dan menyelesaikan program biodiesel, pemerintah mulai mengarahkan agenda berikutnya pada pengembangan bioetanol sebagai bagian dari strategi kemandirian energi.

“Pangan kita selesaikan, biodiesel kita selesaikan, sekarang kita masuk ke bioetanol. Mimpi besar kita adalah setiap pulau mandiri pangan dan mandiri energi. Indonesia memiliki sumber daya yang luar biasa untuk mewujudkannya,” ujarnya.

Pengembangan bioetanol yang dipersiapkan Kementan menggunakan bahan baku tebu, singkong, dan jagung sesuai potensi produksi di daerah.

Tebu menjadi salah satu komoditas prioritas karena dapat diarahkan untuk menghasilkan gula konsumsi atau etanol berdasarkan kondisi harga dan kebutuhan energi.

“Seperti Brasil, tebu bisa menjadi gula dan bisa menjadi etanol. Semua potensi itu kita miliki. Persoalannya tinggal bagaimana kita bergerak bersama untuk mengoptimalkannya,” jelasnya.

Skema tersebut memungkinkan komoditas tebu memiliki fungsi ganda dalam mendukung kebutuhan pangan dan energi.

Ketika harga gula lebih menguntungkan, hasil tebu dapat diarahkan untuk memenuhi kebutuhan gula konsumsi, sedangkan saat harga energi lebih menarik, bahan baku yang sama dapat dimanfaatkan untuk produksi etanol.

BACA JUGA:  Indef: Dinamika Harga Pangan Jelang Idul Fitri 1447 H Masih Dalam Tren yang Dapat Diantisipasi

44 Bupati Diminta Bangun Komitmen Daerah

Rapat koordinasi yang diikuti 44 bupati dari berbagai provinsi menjadi langkah awal untuk menyatukan komitmen pemerintah pusat dan daerah dalam pengembangan komoditas bioetanol.

Setiap daerah didorong mengembangkan bahan baku sesuai potensi dan keunggulan wilayahnya, termasuk tebu, singkong, maupun jagung.

Mentan Amran menegaskan percepatan program tersebut tidak dapat berjalan tanpa dukungan pemerintah daerah.

“Tanpa dukungan bupati, tidak mungkin kita bisa bergerak cepat. Ini perjuangan bersama menuju Indonesia yang berdaulat pangan dan berdaulat energi,” pungkasnya.

Dukungan pemerintah daerah akan menjadi bagian dari penguatan rantai produksi, mulai dari penyiapan komoditas, pengembangan bahan baku, hingga pemanfaatannya sebagai sumber energi.

Melalui rapat tersebut, pemerintah menempatkan pengembangan bioetanol sebagai kelanjutan agenda swasembada pangan dan program biodiesel dalam upaya memperkuat kemandirian energi nasional.*

SulawesiPos.com – Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi menyebut Mentan Amran sebagai “panglima pangan” saat rapat koordinasi percepatan pengembangan bioetanol bersama 44 bupati, Senin (21/9/2026), sebagai bentuk apresiasi atas kerja keras Kementerian Pertanian mengawal swasembada pangan sekaligus menyiapkan kemandirian energi nasional.

Dalam rapat yang digelar melalui konferensi video itu, pemerintah menegaskan dukungan regulasi, anggaran, dan kolaborasi pemerintah daerah untuk mengembangkan bioetanol berbasis tebu, singkong, dan jagung.

Prasetyo menyampaikan penghargaan kepada jajaran Kementan, pemerintah daerah, dan petani yang bekerja tanpa mengenal waktu untuk menjaga produksi pangan serta mempercepat pencapaian swasembada.

“Terima kasih sebesar-besarnya kepada semua pihak yang bekerja keras pagi, siang, malam, tidak mengenal hari libur untuk memastikan swasembada pangan secepat-cepatnya. Salam hormat kepada bapak ibu semua, dan terima kasih kepada petani Indonesia yang telah mengabdikan dirinya. Mereka adalah pahlawan bangsa yang sering kali kita lupakan,” katanya.

Pemerintah, kata Prasetyo, akan memberikan dukungan penuh terhadap program strategis pertanian melalui penyediaan regulasi dan dukungan anggaran karena Presiden Prabowo menempatkan pangan sebagai salah satu prioritas pembangunan nasional.

BACA JUGA:  Presiden Prabowo Puji Mentan Amran: Ini Orang Oke, Swasembada 4 Tahun Tercapai dalam 1 Tahun

“Selama Pak Mentan membutuhkan dukungan regulasi, tentu menjadi tugas dan tanggung jawab kami di Kementerian Sekretariat Negara untuk memproses secepat-cepatnya. Demikian juga dukungan APBN. Salah satu fokus utama Presiden selain keamanan adalah pangan. Jadi apa pun yang dibutuhkan untuk memastikan pangan terjamin, pemerintah akan mendukung,” tegasnya.

Prasetyo juga melaporkan kepada Presiden Prabowo mengenai persiapan percepatan pengembangan energi berbasis bioetanol yang dipimpin Mentan Amran dan jajaran Kementan.

“Tadi malam saya melapor kepada Presiden mengenai target pengembangan energi berbasis bioetanol. Pak Mentan Amran dan jajaran memimpin rapat persiapan ini dan kami diperintahkan untuk ikut mendengarkan. Tidak ada arahan beri sambutan. Tapi ini sekalian untuk menyapa para bupati. Mumpung panglima pangan (Mentan Amran) yang perintahkan,” ujarnya.

Mentan Amran menyebut Indonesia telah melewati tantangan krisis pangan global dengan sejumlah indikator positif, mulai dari kenaikan Nilai Tukar Petani, pertumbuhan PDB pertanian, peningkatan produksi, swasembada, hingga ekspor pangan.

“Krisis pangan kita aman. NTP kita tertinggi, produksi meningkat, swasembada bahkan ekspor. Kita juga mampu membantu negara lain seperti Palestina. Data-data ini bukan dari kami, tetapi dari BPS, FAO, dan USDA,” ungkap Mentan Amran.

BACA JUGA:  Mentan Amran: Ekspor Pupuk ke Australia Tembus Rp7 Triliun, Selanjutnya India, Filipina, Brazil, dan Banglades

Dari Swasembada Pangan Menuju Bioetanol

Setelah memperkuat swasembada pangan dan menyelesaikan program biodiesel, pemerintah mulai mengarahkan agenda berikutnya pada pengembangan bioetanol sebagai bagian dari strategi kemandirian energi.

“Pangan kita selesaikan, biodiesel kita selesaikan, sekarang kita masuk ke bioetanol. Mimpi besar kita adalah setiap pulau mandiri pangan dan mandiri energi. Indonesia memiliki sumber daya yang luar biasa untuk mewujudkannya,” ujarnya.

Pengembangan bioetanol yang dipersiapkan Kementan menggunakan bahan baku tebu, singkong, dan jagung sesuai potensi produksi di daerah.

Tebu menjadi salah satu komoditas prioritas karena dapat diarahkan untuk menghasilkan gula konsumsi atau etanol berdasarkan kondisi harga dan kebutuhan energi.

“Seperti Brasil, tebu bisa menjadi gula dan bisa menjadi etanol. Semua potensi itu kita miliki. Persoalannya tinggal bagaimana kita bergerak bersama untuk mengoptimalkannya,” jelasnya.

Skema tersebut memungkinkan komoditas tebu memiliki fungsi ganda dalam mendukung kebutuhan pangan dan energi.

Ketika harga gula lebih menguntungkan, hasil tebu dapat diarahkan untuk memenuhi kebutuhan gula konsumsi, sedangkan saat harga energi lebih menarik, bahan baku yang sama dapat dimanfaatkan untuk produksi etanol.

BACA JUGA:  Mentan Amran: 160 Juta Petani dan Peternak Suplai Program MBG, Kesejahteraan Petani Rekor Tertinggi Sepanjang Sejarah

44 Bupati Diminta Bangun Komitmen Daerah

Rapat koordinasi yang diikuti 44 bupati dari berbagai provinsi menjadi langkah awal untuk menyatukan komitmen pemerintah pusat dan daerah dalam pengembangan komoditas bioetanol.

Setiap daerah didorong mengembangkan bahan baku sesuai potensi dan keunggulan wilayahnya, termasuk tebu, singkong, maupun jagung.

Mentan Amran menegaskan percepatan program tersebut tidak dapat berjalan tanpa dukungan pemerintah daerah.

“Tanpa dukungan bupati, tidak mungkin kita bisa bergerak cepat. Ini perjuangan bersama menuju Indonesia yang berdaulat pangan dan berdaulat energi,” pungkasnya.

Dukungan pemerintah daerah akan menjadi bagian dari penguatan rantai produksi, mulai dari penyiapan komoditas, pengembangan bahan baku, hingga pemanfaatannya sebagai sumber energi.

Melalui rapat tersebut, pemerintah menempatkan pengembangan bioetanol sebagai kelanjutan agenda swasembada pangan dan program biodiesel dalam upaya memperkuat kemandirian energi nasional.*

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru