SulawesiPos.com – Empat anak Michael Bambang Hartono disebut menerima pengalihan saham senilai sedikitnya US$ 2,93 miliar atau sekitar Rp52,36 triliun per orang dalam proses warisan keluarga Hartono yang mencuat pada Kamis, 13 Agustus 2026, setelah laporan media dan keterbukaan informasi pasar modal menyoroti perubahan struktur kepemilikan di PT Dwimuria Investama Andalan, pemegang saham pengendali BCA.
Nilai jumbo itu muncul setelah 49 persen saham milik almarhum Michael di PT Dwimuria Investama Andalan dilaporkan dibagi rata kepada empat ahli warisnya, membuat transfer kekayaan keluarga ini masuk deretan warisan terbesar di Asia dalam beberapa tahun terakhir.
Michael Bambang Hartono wafat pada Maret 2026 dalam usia 86 tahun.
Semasa hidupnya, Michael bersama saudaranya, Robert Budi Hartono, menguasai perusahaan induk keluarga yang menjadi pemegang mayoritas saham PT Bank Central Asia Tbk.
Berdasarkan halaman komposisi pemegang saham BCA, PT Dwimuria Investama Andalan menggenggam 54,94 persen saham atau 67.729.950.000 lembar saham perseroan.
Dengan pijakan kepemilikan itu, porsi saham Michael di perusahaan induk keluarga disebut bernilai sedikitnya US$ 11,7 miliar atau sekitar Rp209,1 triliun per 11 Agustus 2026.
Pembagian 49 persen saham itu kemudian membuat estimasi warisan untuk masing-masing anak Michael berada di kisaran Rp52,36 triliun.
Selain aset di induk pemegang saham BCA, keluarga Hartono juga memiliki kepentingan di berbagai lini bisnis lain yang membentang dari rokok, pusat perbelanjaan, e-commerce, hingga perkebunan.
Daftar Nama Anak Michael Hartono
1. Roberto Setiabudi Hartono
2. Vanessa Ratnasari Hartono
3. Stefanus Wijaya Hartono
4. Tessa Natalia Damayanti Hartono
Keterlibatan dalam Bisnis
1. Roberto Setiabudi Hartono: Aktif dan terlibat dalam lini bisnis PT Hartono Istana Teknologi (pemilik merek Polytron).
2. Tessa Natalia Damayanti Hartono: Pernah memegang peran penting sebagai CEO dan Advisor di kawasan bisnis Grand Indonesia.
3. Stefanus Wijaya & Vanessa Ratnasari Hartono: Memiliki keterlibatan serta kepentingan bisnis pada berbagai portofolio perusahaan keluarga, termasuk sektor menara telekomunikasi dan investasi strategis lainnya.
Perubahan Pengendali Tercatat
Perubahan warisan itu ikut muncul dalam keterbukaan informasi PT Bank Central Asia Tbk di Bursa Efek Indonesia karena PT Dwimuria Investama Andalan merupakan pemegang saham pengendali terakhir perseroan.
BCA menjelaskan perubahan terjadi setelah wafatnya Bambang Hartono selaku pemegang saham PT Dwimuria Investama Andalan.
Dalam dokumen tersebut, BCA menerangkan Robert Budi Hartono kini menjadi pemegang 51 persen modal ditempatkan dan disetor PT Dwimuria Investama Andalan.
Perseroan juga menyebut telah menerima Surat OJK Nomor SR-21/PB.333/2026 tertanggal 29 Juli 2026 yang mencatat perubahan struktur kepemilikan akhir BCA dalam administrasi pengawasan otoritas.
Perubahan itu membuat Robert Budi Hartono tercatat sebagai pemegang saham pengendali terakhir BCA.
Skala pengalihan aset keluarga Hartono ini juga disebut melampaui warisan mendiang pendiri United Overseas Bank asal Singapura, Wee Cho Yaw, yang bernilai sekitar US$ 10 miliar.

