SulawesiPos.com – Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengakui kecerdasan dan kecerdikan para negosiator Iran saat menjelaskan perkembangan perundingan Washington–Teheran dalam wawancara dengan Real America’s Voice yang diberitakan pada Senin waktu AS atau Selasa (11/8/2026) waktu Indonesia, ketika kedua negara berusaha menemukan jalan diplomatik untuk meredakan perang dan menyelesaikan sengketa pengelolaan Selat Hormuz melalui tekanan politik, ekonomi, dan ancaman militer.
“Sekarang saya berada dalam tahap perundingan dengan orang-orang Iran, dan mereka merupakan negosiator yang memiliki kecerdikan dan kelihaian luar biasa. ,” kata Trump sebagaimana dilaporkan Middle East News pada 11 Agustus 2026.
Presiden AS tersebut menuding pihak Iran terkadang menerima suatu hal di ruang perundingan, tetapi kemudian tampil di hadapan media dan menyatakan tidak pernah memberikan persetujuan.
Terlepas dari nada tuduhannya, pernyataan Trump menjadi pengakuan terbuka bahwa diplomat Iran bukan lawan yang mudah ditekan karena mampu menjaga ruang tawar, mengatur pesan publik, dan menghindari komitmen sebelum memperoleh jaminan yang dianggap memadai.
Laporan Real America’s Voice pada 10 Agustus 2026 juga mengonfirmasi bahwa Trump membahas kelanjutan negosiasi Iran dalam wawancara di tengah pertimbangan pemerintahannya terhadap pilihan diplomatik, ekonomi, dan militer.
Tiga Pilihan Trump, Diplomasi Dinilai Paling Rasional
Trump mengatakan Washington memiliki tiga pilihan dalam menghadapi Iran, yakni menunggu sambil mengamati perkembangan keadaan, melancarkan pukulan militer yang lebih keras, atau meningkatkan tekanan ekonomi yang menurutnya sedang diterapkan pemerintah AS.
Pilihan militer membawa risiko paling besar karena serangan baru dapat memicu balasan Iran terhadap pangkalan, kapal, jalur energi, dan infrastruktur negara-negara kawasan Teluk yang menjadi mitra Washington.
Analisis Mike Wagenheim yang diterbitkan i24NEWS pada11 Agustus 2026 menyimpulkan bahwa mempertahankan kebuntuan diplomatik sambil menghindari perang besar merupakan pilihan paling masuk akal bagi Trump.
Dalam analogi permainan catur, kebuntuan atau stalemate dapat menyelamatkan pemain dari kekalahan, sehingga kelanjutan perundingan memberi Trump ruang untuk mempertahankan citra ketegasan tanpa menanggung risiko perang regional yang lebih luas.
Trump sebelumnya mengatakan kepada Axios pada 9 Agustus 2026 bahwa pemerintahannya sedang menangani Iran secara lebih tenang sambil membiarkan tekanan ekonomi bekerja, yang menunjukkan kecenderungan Washington menunda operasi militer besar.
Keterangan Trump mengenai berlangsungnya pembicaraan tetap harus ditempatkan sebagai klaim Washington karena Teheran sebelumnya membantah adanya perundingan langsung, sedangkan Reuters pada 4 Agustus 2026 melaporkan bahwa komunikasi dijalankan melalui negara-negara mediator.
Perbedaan keterangan mengenai status pembicaraan itu dapat mencerminkan diplomasi tidak langsung, ketika pesan, rancangan kesepakatan, dan tanggapan dipertukarkan melalui perantara tanpa pertemuan resmi kedua delegasi.
Hormuz Membuat Posisi Tawar Iran Tak Bisa Diabaikan
Inti tarik-menarik diplomatik berkaitan dengan penghentian perang dan pembukaan penuh Selat Hormuz, sementara Iran menuntut pencabutan blokade, pelonggaran sanksi, pembebasan aset yang dibekukan, jaminan keamanan, dan kompensasi atas kerusakan akibat serangan AS–Israel.
Washington juga menuntut konsesi keamanan dan nuklir serta jaminan kebebasan pelayaran, sedangkan rancangan pengaturan lalu lintas kapal bersama Iran dan Oman belum mencapai kesepakatan final mengenai kewenangan serta kemungkinan pungutan bagi kapal komersial.
Nilai strategis Hormuz menjadikan kemampuan diplomasi Iran sangat menentukan karena data Badan Informasi Energi Amerika Serikat (EIA) menunjukkan sekitar 20 juta barel minyak per hari atau setara 20 persen konsumsi cairan petroleum dunia melintasi selat itu pada 2024.
EIA juga mencatat sekitar 20 persen perdagangan gas alam cair global pada 2024 melewati Hormuz, terutama ekspor Qatar, sehingga kegagalan perundingan berpotensi menaikkan biaya energi, transportasi, pangan, dan produksi di banyak negara.
Dampak kebuntuan sudah terlihat ketika Reuters pada 11 Agustus 2026 melaporkan kenaikan harga minyak akibat tersendatnya perundingan AS–Iran mengenai perdamaian dan pembukaan kembali selat tersebut.

