SulawesiPos.com – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Makassar telah menyalurkan 5.138.000 liter air bersih gratis kepada warga yang mengalami kesulitan mendapatkan air akibat kekeringan.
Distribusi tersebut hingga Sabtu (26/9/2026) telah menjangkau 62 kelurahan.
Sebanyak 28.054 kepala keluarga (KK) atau 97.356 jiwa tercatat telah menerima manfaat dari operasi distribusi air bersih tersebut. Penyaluran dilakukan tanpa memungut biaya kepada masyarakat.
Kepala Pelaksana BPBD Makassar Fadli Tahar mengatakan, operasi pemenuhan kebutuhan air bersih masih berlangsung.
Tim Tanggap Darurat Bencana (TDB) BPBD Makassar terus memantau dan melakukan penilaian kondisi di lapangan untuk menentukan kebutuhan distribusi.
“Anggota kami masih terus melakukan pemantauan dan assessment di lapangan. Tim kami juga terus berkoordinasi dengan pihak kelurahan, kecamatan, PDAM, dan Damkarmat untuk proses penilaian dan pendistribusian itu,” ujarnya, Sabtu (26/9/2026).
BPBD tidak menunggu warga datang mengambil air. Armada dikerahkan langsung menuju titik-titik yang telah ditentukan berdasarkan hasil pemantauan dan kebutuhan di lapangan.
Distribusi Menyasar Warga Kesulitan Air
Sasaran utama operasi tersebut adalah masyarakat yang mengalami keterbatasan akses air bersih, terutama warga yang menggunakan air bawah tanah dan bukan pelanggan PDAM.
“Yang menjadi sasaran utama adalah masyarakat yang mengalami keterbatasan akses air bersih, yang menggunakan air bawah tanah, bukan pelanggan PDAM,” kata Fadli.
Untuk menjaga distribusi tetap berjalan, BPBD Makassar mendapat dukungan kendaraan dan mobilisasi dari sejumlah unsur, termasuk Damkarmat, Dinas Lingkungan Hidup (DLH), Palang Merah Indonesia (PMI), Kementerian Pekerjaan Umum, pemerintah kecamatan, serta armada lainnya.
Sebagian kebutuhan distribusi juga ditopang menggunakan truk sewa. Armada tersebut digunakan untuk menjaga mobilisasi air sekaligus memperluas jangkauan pelayanan kepada warga terdampak.
Operasi ini merupakan bagian dari Tanggap Darurat Bencana (TDB) BPBD Kota Makassar dalam merespons dampak kekeringan akibat kemarau.
Sulsel Masuk Kategori HTH Ekstrem Panjang
Kekeringan di Makassar berlangsung di tengah kondisi hari tanpa hujan (HTH) yang panjang di sejumlah wilayah Indonesia.
Berdasarkan pemutakhiran BMKG hingga 20 September 2026, terdapat 17 provinsi yang masuk kategori HTH ekstrem panjang.
Sulawesi Selatan tercatat mengalami HTH hingga 112 hari. Sementara durasi HTH terpanjang dalam pemantauan BMKG mencapai 141 hari di Daerah Istimewa Yogyakarta.
BMKG menggunakan kategori HTH ekstrem panjang untuk menunjukkan wilayah yang mengalami hari tanpa hujan dalam periode yang sangat panjang.


