SulawesiPos.com – Universitas Hasanuddin (Unhas) berpeluang memperluas jejaring kerja sama internasional di kawasan Pasifik melalui penguatan program Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA) dan diplomasi kebudayaan Indonesia.
Peluang tersebut mengemuka dalam webinar yang diselenggarakan Atase Pendidikan dan Kebudayaan (Atdikbud) KBRI Port Moresby bersama Wakil Delegasi Tetap Republik Indonesia untuk UNESCO.
Kegiatan itu membahas strategi memperkuat diplomasi pendidikan, pengembangan program BIPA, serta kerja sama kebudayaan Indonesia di kawasan Pasifik dan Timor Leste.
Webinar menghadirkan Atase Pendidikan dan Kebudayaan KBRI Dili Prof. Tasrifin, Atase Pendidikan dan Kebudayaan KBRI Port Moresby Arief Kusdwiadnanto, pengajar BIPA University of Goroka, serta akademisi dan perwakilan perguruan tinggi dari Indonesia maupun luar negeri.
Program BIPA Terus Berkembang di Papua Nugini

Dalam paparannya, Arief Kusdwiadnanto menjelaskan KBRI Port Moresby yang membawahi Papua Nugini dan Kepulauan Solomon terus memperluas diplomasi pendidikan melalui pengembangan program BIPA, pemberian beasiswa, dan kerja sama pendidikan tinggi.
Saat ini terdapat 10 pusat BIPA dengan sekitar 800 peserta didik yang tersebar di berbagai institusi, seperti University of Goroka, University of Natural Resources (UNRE), Lae Secondary School, hingga Papua New Guinea Defence Force.
Menurut Arief, tingginya minat masyarakat Papua Nugini terhadap beasiswa Indonesia menjadi peluang strategis bagi perguruan tinggi Indonesia, termasuk Unhas, untuk memperluas kerja sama akademik.
Program beasiswa seperti The Indonesian Aid Scholarship (TIAS), Kemitraan Negara Berkembang (KNB), Darmasiswa, serta berbagai beasiswa perguruan tinggi diharapkan semakin mempererat hubungan Indonesia dan Papua Nugini melalui sektor pendidikan.
Diplomasi Budaya Perkuat Hubungan Indonesia-Pasifik
Selain pendidikan, diplomasi kebudayaan juga terus diperkuat melalui pelatihan angklung, rencana pengenalan kolintang, hingga inisiatif nominasi bersama Warisan Budaya Takbenda UNESCO untuk tradisi Bakar Batu (Mumu Stones).
Kolaborasi budaya juga diperluas melalui penguatan hubungan antara kerajinan Noken dari Indonesia dan Bilum dari Papua Nugini.
Sementara itu, Prof. Tasrifin menjelaskan bahwa di Timor Leste, BIPA telah berkembang menjadi instrumen diplomasi budaya yang efektif untuk mempererat hubungan masyarakat sekaligus membuka peluang kerja sama di bidang pendidikan, ekonomi, dan kebudayaan.

Di Timor Leste yang menjadi kekuatan utama diplomasi pendidikan dan kebudayaan adalah peran Pusat Budaya Indonesia KBRI Dili dibawah satuan kerja Atase Pendidikan dan Kebudayaan. Tahun 2026, peserta pembelajar BIPA sebanyak 16.500 peserta yang tersebar di 12 Distrik. Ini didukung dengan tingginya animo Warga Negara Timor Leste yang kuliah di Indonesia.
Dalam sesi diskusi, para peserta menilai penguatan program BIPA bukan hanya meningkatkan kemampuan berbahasa Indonesia, tetapi juga menjadi jembatan bagi pengembangan kerja sama pendidikan tinggi, mobilitas mahasiswa, dan hubungan Indonesia dengan negara-negara Pasifik.
Pameran Pendidikan Indonesia Digelar di Papua Nugini
Sebagai tindak lanjut, KBRI Port Moresby akan menggelar Pameran Pendidikan Indonesia pada 30 September hingga 1 Oktober 2026.
Kegiatan tersebut akan menghadirkan sepuluh perguruan tinggi Indonesia, lembaga pendidikan vokasi, serta pameran budaya dan produk Indonesia guna memperluas akses masyarakat Papua Nugini terhadap informasi pendidikan dan berbagai program beasiswa di Indonesia.
Melalui berbagai inisiatif tersebut, Indonesia terus menegaskan komitmennya menjadikan pendidikan, bahasa, dan kebudayaan sebagai pilar utama diplomasi untuk mempererat persahabatan dan kerja sama dengan negara-negara di kawasan Pasifik.

