IKAMI Sulsel: Narasi Feri Amsari Tak Berdasar, Bisa Untungkan Mafia Pangan

SulawesiPos.com, Jakarta – Ketua Umum IKAMI Sulsel, Andi In Amul Hasan, menegaskan bahwa pernyataan Feri Amsari terkait tudingan pemerintah tidak jujur dalam swasembada pangan merupakan narasi yang tidak berdasar dan berpotensi menyesatkan publik.

“Saya menilai pernyataan tersebut tidak mencerminkan fakta di lapangan. Kritik boleh, tetapi harus berbasis data, bukan asumsi yang justru membingungkan masyarakat,” tegas Andi In Amul Hasan dalam keterangan resminya.

Ia menekankan bahwa capaian sektor pertanian nasional di bawah kepemimpinan Andi Amran Sulaiman menunjukkan hasil nyata yang tidak bisa diabaikan.

Menurutnya, berbagai indikator memperlihatkan tren positif, mulai dari peningkatan produksi padi nasional yang mencapai sekitar 60 juta ton gabah kering giling, surplus beras nasional hingga jutaan ton, hingga cadangan beras pemerintah yang menembus lebih dari 4 juta ton—tertinggi sepanjang sejarah.

Selain itu, program strategis seperti pompanisasi, optimalisasi lahan rawa, modernisasi alat mesin pertanian (alsintan), serta pembenahan distribusi pupuk subsidi dinilai telah memberikan dampak langsung terhadap produktivitas petani dan penguatan ketahanan pangan nasional.

BACA JUGA: 
4.000 Petani Demo di Jakarta, Tuntut Feri Amsari Ditangkap dan Minta Maaf

“Ini bukan klaim kosong. Ini kerja nyata yang dirasakan petani dan terlihat dalam data produksi nasional,” ujarnya.

Lebih lanjut, Andi menduga bahwa narasi yang dibangun dalam kritik tersebut tidak berdiri dalam ruang hampa. Ia menilai ada pola yang berpotensi mengarah pada kepentingan pihak tertentu yang terganggu oleh penguatan sektor pangan nasional.

“Kami melihat ada kecenderungan narasi yang melemahkan capaian nasional. Sangat patut diduga ada pihak-pihak yang terganggu—termasuk mafia pangan—yang selama ini diuntungkan oleh ketergantungan impor dan tata niaga yang tidak sehat,” tegasnya.

Ia pun mengingatkan bahwa dalam situasi global yang penuh tantangan, menjaga kepercayaan publik terhadap sektor strategis seperti pangan menjadi sangat penting.

“Jangan sampai opini yang tidak berbasis data justru merusak kepercayaan publik. Kita butuh kritik yang membangun, bukan narasi yang berpotensi menyesatkan,” tambahnya.

Di akhir pernyataannya, Ketua Umum IKAMI Sulsel mengajak seluruh elemen masyarakat untuk tetap objektif dan mengedepankan fakta dalam menilai kebijakan publik, serta bersama-sama menjaga kedaulatan pangan nasional sebagai kepentingan strategis bangsa.

BACA JUGA: 
Wamentan Sudaryono Terima Wamentan Polandia, Perkuat Kolaborasi Pangan Hadapi Dinamika Global

SulawesiPos.com, Jakarta – Ketua Umum IKAMI Sulsel, Andi In Amul Hasan, menegaskan bahwa pernyataan Feri Amsari terkait tudingan pemerintah tidak jujur dalam swasembada pangan merupakan narasi yang tidak berdasar dan berpotensi menyesatkan publik.

“Saya menilai pernyataan tersebut tidak mencerminkan fakta di lapangan. Kritik boleh, tetapi harus berbasis data, bukan asumsi yang justru membingungkan masyarakat,” tegas Andi In Amul Hasan dalam keterangan resminya.

Ia menekankan bahwa capaian sektor pertanian nasional di bawah kepemimpinan Andi Amran Sulaiman menunjukkan hasil nyata yang tidak bisa diabaikan.

Menurutnya, berbagai indikator memperlihatkan tren positif, mulai dari peningkatan produksi padi nasional yang mencapai sekitar 60 juta ton gabah kering giling, surplus beras nasional hingga jutaan ton, hingga cadangan beras pemerintah yang menembus lebih dari 4 juta ton—tertinggi sepanjang sejarah.

Selain itu, program strategis seperti pompanisasi, optimalisasi lahan rawa, modernisasi alat mesin pertanian (alsintan), serta pembenahan distribusi pupuk subsidi dinilai telah memberikan dampak langsung terhadap produktivitas petani dan penguatan ketahanan pangan nasional.

BACA JUGA: 
Mentan Amran Tunjukkan Kepedulian, Serahkan Santunan untuk Keluarga Prajurit Marinir yang Gugur

“Ini bukan klaim kosong. Ini kerja nyata yang dirasakan petani dan terlihat dalam data produksi nasional,” ujarnya.

Lebih lanjut, Andi menduga bahwa narasi yang dibangun dalam kritik tersebut tidak berdiri dalam ruang hampa. Ia menilai ada pola yang berpotensi mengarah pada kepentingan pihak tertentu yang terganggu oleh penguatan sektor pangan nasional.

“Kami melihat ada kecenderungan narasi yang melemahkan capaian nasional. Sangat patut diduga ada pihak-pihak yang terganggu—termasuk mafia pangan—yang selama ini diuntungkan oleh ketergantungan impor dan tata niaga yang tidak sehat,” tegasnya.

Ia pun mengingatkan bahwa dalam situasi global yang penuh tantangan, menjaga kepercayaan publik terhadap sektor strategis seperti pangan menjadi sangat penting.

“Jangan sampai opini yang tidak berbasis data justru merusak kepercayaan publik. Kita butuh kritik yang membangun, bukan narasi yang berpotensi menyesatkan,” tambahnya.

Di akhir pernyataannya, Ketua Umum IKAMI Sulsel mengajak seluruh elemen masyarakat untuk tetap objektif dan mengedepankan fakta dalam menilai kebijakan publik, serta bersama-sama menjaga kedaulatan pangan nasional sebagai kepentingan strategis bangsa.

BACA JUGA: 
Kementan Percepat Hilirisasi Perkebunan, Siapkan Lahan hingga Pekebun untuk 7 Komoditas Strategis

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru