Lonjakan 66 Persen Ekspor Iran ke Afrika: Manuver Ekonomi Kontra-Hegemoni Menuju Blok Perdagangan Baru Global South

Overview

  • Nilai ekspor Iran ke Afrika melonjak 66% pada sembilan bulan pertama 2026, menandai akselerasi perdagangan luar negeri yang signifikan.
  • Strategi ini memanfaatkan populasi besar, sumber daya alam melimpah, dan kebutuhan infrastruktur Afrika untuk memperkuat posisi ekonomi Teheran.
  • Langkah Iran bukan sekadar bertahan dari sanksi, tapi membangun blok ekonomi alternatif yang saling menguntungkan dengan negara-negara Afrika.

SulawesiPos.com – Perdagangan luar negeri Iran memasuki babak baru ketika nilai ekspornya ke negara-negara Afrika melonjak 66 persen dalam sembilan bulan pertama tahun berjalan hingga menyentuh sekitar 940 juta dolar AS, sebagaimana dilaporkan kantor berita Iranian Students News Agency (ISNA) pada awal tahun ini.

Angka tersebut menjadi penanda akselerasi paling tajam dalam beberapa tahun terakhir sekaligus mengirim sinyal kuat bahwa Teheran tengah mengalihkan orientasi ekonominya secara agresif ke luar lingkaran pasar tradisional Barat yang selama ini dibatasi sanksi finansial dan hambatan transaksi global.

Dengan populasi sekitar 1,4 miliar jiwa serta pertumbuhan kelas menengah yang konsisten meningkat menurut data Bank Dunia dan African Development Bank, Afrika kini dipandang sebagai episentrum konsumsi baru dunia berkembang sekaligus ruang ekspansi dagang yang belum jenuh.

Bagi Iran yang lebih dari satu dekade menghadapi embargo energi, pembatasan sistem pembayaran internasional, dan isolasi perbankan, benua tersebut menjelma menjadi jalur strategis diversifikasi ekspor demi menjaga stabilitas devisa, ketahanan industri, dan keberlanjutan fiskal nasional.

BACA JUGA:  AS Siap Bertemu Iran Pekan Ini, Trump Dorong Kesepakatan Damai di Tengah Konflik

Kawasan Afrika Utara, Barat, dan Selatan menawarkan kombinasi cadangan minyak, gas, fosfat, tembaga, emas, serta bahan mentah penting yang membuka peluang kolaborasi di sektor energi, pertambangan, petrokimia, dan industri hilir yang selaras dengan pengalaman teknis Iran.

Pada sektor pertanian, hamparan lahan subur yang luas namun minim mekanisasi menghadirkan ceruk kerja sama baru melalui transfer teknologi irigasi, pupuk, pengolahan pangan, dan mesin pertanian yang selama ini menjadi lini ekspor manufaktur menengah Iran.

Pembangunan infrastruktur besar-besaran seperti pelabuhan laut dalam, jalan raya transnasional, rel kereta, pembangkit listrik, dan kawasan industri terpadu turut menciptakan peluang kontrak bernilai tinggi bagi perusahaan rekayasa teknik Iran yang terbiasa bekerja dalam kondisi pembiayaan terbatas.

Dominasi generasi muda Afrika yang diperkirakan lebih dari 60 persen penduduknya berusia di bawah 25 tahun memperluas permintaan terhadap obat-obatan generik, alat kesehatan, produk konsumsi murah, dan teknologi digital, sektor yang selama ini menjadi keunggulan kompetitif industri ringan Iran.

Negara-negara seperti Mesir, Aljazair, dan Tunisia tetap mempertahankan hubungan historis perdagangan, sementara pasar Sub-Sahara seperti Nigeria, Kenya, Tanzania, dan Afrika Selatan tumbuh cepat seiring urbanisasi dan integrasi ekonomi regional.

BACA JUGA:  Iran Ungkap Serangan Udara Israel di Teheran Tewaskan Ali Larijani

Direktur Jenderal Kantor Afrika pada Organisasi Pengembangan Perdagangan Iran, Mohammadreza Safari, menyebut nilai perdagangan dengan 39 negara Afrika dalam periode tersebut sebagai pertumbuhan tahunan tertinggi dalam beberapa tahun terakhir, didorong forum bisnis, pameran dagang, dan diplomasi ekonomi intensif.

Teheran juga meniru strategi investasi infrastruktur ala Tiongkok dan jejaring kewirausahaan Turki untuk memperkuat penetrasi pasar, sembari memperluas penggunaan mata uang lokal dan mekanisme barter guna menghindari sistem pembayaran berbasis dolar.

Secara global, pola ini sejalan dengan tren “South–South Cooperation” di mana negara berkembang membangun jejaring dagang mandiri tanpa ketergantungan berlebihan pada pusat ekonomi Barat.

Bagi masyarakat internasional, konektivitas Iran–Afrika berpotensi memengaruhi stabilitas pasokan energi, pupuk, bahan pangan, dan farmasi murah, sekaligus membuka koridor teknologi kesehatan yang lebih inklusif bagi negara berpendapatan rendah.

Dosen Departemen Ilmu Hubungan Internasional Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Hasanuddin, Agussalim Burhanuddin, S.IP., MIRAP., menilai lonjakan ini mencerminkan ketahanan ekonomi sekaligus keteguhan politik Iran dalam menghadapi tekanan sanksi Amerika Serikat dan sekutunya.

Agus salim
Agussalim Burhanuddin, S.IP., MIRAP., Dosen Departemen Ilmu Hubungan Internasional FISIP Universitas Hasanuddin, menyoroti ketahanan ekonomi Iran dan munculnya kerja sama Selatan–Selatan sebagai strategi kontra-hegemoni dalam peta perdagangan global baru.

Menurutnya dalam wawancara bersama SulawesiPos.com, Senin (2/2/2026), ekspansi agresif ke Afrika dapat dibaca sebagai strategi kontra-hegemoni yang bertujuan mematahkan dominasi arsitektur ekonomi global yang selama ini dikendalikan negara-negara Barat.

BACA JUGA:  Spanyol Tolak Bantu AS dalam Perang, Presiden Iran: Etika dan Hati Nurani Masih Hidup di Barat

Ia menjelaskan bahwa langkah tersebut bukan sekadar upaya bertahan hidup, melainkan proyek pembentukan blok ekonomi alternatif di luar orbit kekuatan hegemon dengan menjadikan Afrika sebagai mitra strategis berbasis populasi besar dan sumber daya melimpah.

Melalui kacamata teori interdependensi, hubungan Iran–Afrika menggambarkan ketergantungan timbal balik yang saling menguntungkan karena Iran membutuhkan pasar, devisa, dan bahan mentah, sementara negara-negara Afrika membutuhkan teknologi, investasi, serta keahlian teknis Iran.

Agussalim menambahkan bahwa interdependensi yang dirancang secara strategis itu dapat membentuk konstelasi kekuatan ekonomi baru yang memberi ruang otonomi lebih luas bagi negara-negara Global South yang selama ini termarginalkan dalam sistem global.

Di tengah ketidakpastian geopolitik, konflik kawasan, serta fluktuasi harga komoditas dunia, diversifikasi pasar seperti ini menjadi pilihan rasional sekaligus langkah politik-ekonomi untuk memperluas daya tawar internasional.

Dengan pertumbuhan 66 persen yang konsisten, Afrika kini bukan lagi sekadar pasar alternatif bagi Teheran, melainkan poros strategis yang berpotensi menggeser peta perdagangan antara Asia Barat dan benua Afrika serta membuka babak baru solidaritas ekonomi lintas Selatan global pada dekade mendatang. (ali)

Overview

  • Nilai ekspor Iran ke Afrika melonjak 66% pada sembilan bulan pertama 2026, menandai akselerasi perdagangan luar negeri yang signifikan.
  • Strategi ini memanfaatkan populasi besar, sumber daya alam melimpah, dan kebutuhan infrastruktur Afrika untuk memperkuat posisi ekonomi Teheran.
  • Langkah Iran bukan sekadar bertahan dari sanksi, tapi membangun blok ekonomi alternatif yang saling menguntungkan dengan negara-negara Afrika.

SulawesiPos.com – Perdagangan luar negeri Iran memasuki babak baru ketika nilai ekspornya ke negara-negara Afrika melonjak 66 persen dalam sembilan bulan pertama tahun berjalan hingga menyentuh sekitar 940 juta dolar AS, sebagaimana dilaporkan kantor berita Iranian Students News Agency (ISNA) pada awal tahun ini.

Angka tersebut menjadi penanda akselerasi paling tajam dalam beberapa tahun terakhir sekaligus mengirim sinyal kuat bahwa Teheran tengah mengalihkan orientasi ekonominya secara agresif ke luar lingkaran pasar tradisional Barat yang selama ini dibatasi sanksi finansial dan hambatan transaksi global.

Dengan populasi sekitar 1,4 miliar jiwa serta pertumbuhan kelas menengah yang konsisten meningkat menurut data Bank Dunia dan African Development Bank, Afrika kini dipandang sebagai episentrum konsumsi baru dunia berkembang sekaligus ruang ekspansi dagang yang belum jenuh.

Bagi Iran yang lebih dari satu dekade menghadapi embargo energi, pembatasan sistem pembayaran internasional, dan isolasi perbankan, benua tersebut menjelma menjadi jalur strategis diversifikasi ekspor demi menjaga stabilitas devisa, ketahanan industri, dan keberlanjutan fiskal nasional.

BACA JUGA:  Ketegangan Energi Global Belum Mereda, Tiongkok Tolak Sanksi AS atas Minyak Iran

Kawasan Afrika Utara, Barat, dan Selatan menawarkan kombinasi cadangan minyak, gas, fosfat, tembaga, emas, serta bahan mentah penting yang membuka peluang kolaborasi di sektor energi, pertambangan, petrokimia, dan industri hilir yang selaras dengan pengalaman teknis Iran.

Pada sektor pertanian, hamparan lahan subur yang luas namun minim mekanisasi menghadirkan ceruk kerja sama baru melalui transfer teknologi irigasi, pupuk, pengolahan pangan, dan mesin pertanian yang selama ini menjadi lini ekspor manufaktur menengah Iran.

Pembangunan infrastruktur besar-besaran seperti pelabuhan laut dalam, jalan raya transnasional, rel kereta, pembangkit listrik, dan kawasan industri terpadu turut menciptakan peluang kontrak bernilai tinggi bagi perusahaan rekayasa teknik Iran yang terbiasa bekerja dalam kondisi pembiayaan terbatas.

Dominasi generasi muda Afrika yang diperkirakan lebih dari 60 persen penduduknya berusia di bawah 25 tahun memperluas permintaan terhadap obat-obatan generik, alat kesehatan, produk konsumsi murah, dan teknologi digital, sektor yang selama ini menjadi keunggulan kompetitif industri ringan Iran.

Negara-negara seperti Mesir, Aljazair, dan Tunisia tetap mempertahankan hubungan historis perdagangan, sementara pasar Sub-Sahara seperti Nigeria, Kenya, Tanzania, dan Afrika Selatan tumbuh cepat seiring urbanisasi dan integrasi ekonomi regional.

BACA JUGA:  Bakom: Konsolidasi Ekspor Danantara Cegah Manipulasi dan Perkuat Daya Tawar RI

Direktur Jenderal Kantor Afrika pada Organisasi Pengembangan Perdagangan Iran, Mohammadreza Safari, menyebut nilai perdagangan dengan 39 negara Afrika dalam periode tersebut sebagai pertumbuhan tahunan tertinggi dalam beberapa tahun terakhir, didorong forum bisnis, pameran dagang, dan diplomasi ekonomi intensif.

Teheran juga meniru strategi investasi infrastruktur ala Tiongkok dan jejaring kewirausahaan Turki untuk memperkuat penetrasi pasar, sembari memperluas penggunaan mata uang lokal dan mekanisme barter guna menghindari sistem pembayaran berbasis dolar.

Secara global, pola ini sejalan dengan tren “South–South Cooperation” di mana negara berkembang membangun jejaring dagang mandiri tanpa ketergantungan berlebihan pada pusat ekonomi Barat.

Bagi masyarakat internasional, konektivitas Iran–Afrika berpotensi memengaruhi stabilitas pasokan energi, pupuk, bahan pangan, dan farmasi murah, sekaligus membuka koridor teknologi kesehatan yang lebih inklusif bagi negara berpendapatan rendah.

Dosen Departemen Ilmu Hubungan Internasional Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Hasanuddin, Agussalim Burhanuddin, S.IP., MIRAP., menilai lonjakan ini mencerminkan ketahanan ekonomi sekaligus keteguhan politik Iran dalam menghadapi tekanan sanksi Amerika Serikat dan sekutunya.

Agus salim
Agussalim Burhanuddin, S.IP., MIRAP., Dosen Departemen Ilmu Hubungan Internasional FISIP Universitas Hasanuddin, menyoroti ketahanan ekonomi Iran dan munculnya kerja sama Selatan–Selatan sebagai strategi kontra-hegemoni dalam peta perdagangan global baru.

Menurutnya dalam wawancara bersama SulawesiPos.com, Senin (2/2/2026), ekspansi agresif ke Afrika dapat dibaca sebagai strategi kontra-hegemoni yang bertujuan mematahkan dominasi arsitektur ekonomi global yang selama ini dikendalikan negara-negara Barat.

BACA JUGA:  Bill Madden Bongkar Taktik AS-Israel Gunakan Serangan Iran untuk Kubur Kasus Jeffrey Epstein Files

Ia menjelaskan bahwa langkah tersebut bukan sekadar upaya bertahan hidup, melainkan proyek pembentukan blok ekonomi alternatif di luar orbit kekuatan hegemon dengan menjadikan Afrika sebagai mitra strategis berbasis populasi besar dan sumber daya melimpah.

Melalui kacamata teori interdependensi, hubungan Iran–Afrika menggambarkan ketergantungan timbal balik yang saling menguntungkan karena Iran membutuhkan pasar, devisa, dan bahan mentah, sementara negara-negara Afrika membutuhkan teknologi, investasi, serta keahlian teknis Iran.

Agussalim menambahkan bahwa interdependensi yang dirancang secara strategis itu dapat membentuk konstelasi kekuatan ekonomi baru yang memberi ruang otonomi lebih luas bagi negara-negara Global South yang selama ini termarginalkan dalam sistem global.

Di tengah ketidakpastian geopolitik, konflik kawasan, serta fluktuasi harga komoditas dunia, diversifikasi pasar seperti ini menjadi pilihan rasional sekaligus langkah politik-ekonomi untuk memperluas daya tawar internasional.

Dengan pertumbuhan 66 persen yang konsisten, Afrika kini bukan lagi sekadar pasar alternatif bagi Teheran, melainkan poros strategis yang berpotensi menggeser peta perdagangan antara Asia Barat dan benua Afrika serta membuka babak baru solidaritas ekonomi lintas Selatan global pada dekade mendatang. (ali)

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru