SulawesiPos.com – Dosen Ilmu Komunikasi UIN Datokarama Palu, Dr Attock Suharto, S.Sos.I., M.Si, menyoroti komunikasi publik Presiden Prabowo Subianto dalam diskusi publik SulawesiPos.com bertema Komunikasi Publik Presiden, Bagaimana Seharusnya? di Kedai Ayah UQ, Sabtu (31/10/2026).
Ia menilai komunikasi Prabowo selama kurang lebih dua tahun ini belum mengarah pada penataan kebijakan negara.
Attock bahkan menyebut komunikasi politik yang dibangun Prabowo lebih menyerupai pertunjukan di panggung sandiwara.
Kritik tersebut didasarkan pada pandangannya bahwa komunikasi seorang presiden semestinya memberikan gambaran mengenai arah kebijakan pemerintah.
“Sayang sekali Presiden Prabowo dalam kurang lebih dua tahun ini, komunikasi publik yang dibangun Prabowo itu adalah komunikasi publik yang bukan lagi mengarah kepada bagaimana menata arah kebijakan negara. Tapi yang saya lihat adalah bagaimana Prabowo menata lelucon komunikasi politik di panggung sandiwara,” ungkapnya.
Presiden Bukan Hanya Penyampai Informasi
Attock menjelaskan, presiden merupakan komunikator paling berpengaruh di sebuah negara. Oleh karena itu, setiap ucapan kepala negara selalu menjadi perhatian publik dan dibaca sebagai gambaran arah kebijakan pemerintah.
“Presiden itu adalah komunikator yang paling berpengaruh di sebuah negara, di negara manapun. Ucapan presiden itu akan selalu dibaca sebagai arah kebijakan,” kata Attock.
Ia menegaskan, masyarakat tidak hanya menunggu informasi mengenai kegiatan atau hasil pembangunan. Publik juga membutuhkan penjelasan tentang kebijakan yang akan ditempuh pemerintah, baik melalui pernyataan presiden di dalam istana maupun di luar forum resmi.
Menurut Attock, penyampaian informasi pembangunan dapat dilakukan oleh wartawan. Sementara itu, presiden memiliki peran komunikasi yang lebih besar karena setiap pernyataannya menjadi rujukan masyarakat dalam memahami arah pemerintahan.
“Kalau hanya sekadar memberikan informasi, cukup wartawan yang disuruh menginformasikan seluruh hasil pembangunan kita. Tapi karena presiden ini adalah merupakan komunikator yang paling berpengaruh di sebuah negara, maka yang ditunggu-tunggu adalah arah kebijakan,” ujarnya.
Diskusi tersebut turut menghadirkan Guru Besar Bidang Ilmu Sosial dan Politik Universitas Hasanuddin, Prof Dr Armin Arsyad, M.Si, sebagai pembicara. Kegiatan dipandu Dosen Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Unhas, Dr Supratman, S.S., M.Sc., Ph.D., serta diikuti 30 peserta dari berbagai elemen masyarakat.


