MODANTARA Respons Rencana Prabowo Pangkas Komisi Ojol, Minta Kajian Mendalam

SulawesiPos.com – Rencana Presiden Prabowo Subianto untuk menurunkan potongan aplikator ojek online (ojol) menjadi 8–10 persen mendapat respons dari pelaku industri.

Asosiasi Industri Mobilitas dan Pengantaran Digital Indonesia (MODANTARA) menyatakan menghormati langkah pemerintah yang dinilai berpihak pada kesejahteraan mitra pengemudi, yang selama ini menjadi bagian penting dalam ekosistem layanan digital.

Meski mendukung semangat kebijakan tersebut, industri mengingatkan agar pemerintah tidak terburu-buru dalam menetapkan angka potongan.

Mereka menilai penurunan hingga 8 persen perlu dikaji secara menyeluruh.

Direktur Eksekutif MODANTARA, Agung Yudha, menegaskan bahwa kebijakan yang baik harus berbasis data dan mempertimbangkan kondisi ekonomi secara luas.

“Kami memahami semangat pemerintah untuk meningkatkan kesejahteraan mitra pengemudi, namun kebijakan yang baik harus berpijak pada data, realitas ekonomi, dan keberlanjutan ekosistem,” ujarnya.

Ganggu Ekosistem Digital

MODANTARA menilai pemangkasan komisi secara drastis berpotensi mengganggu keseimbangan ekosistem digital.

Pasalnya, potongan platform selama ini digunakan untuk berbagai kebutuhan operasional.

BACA JUGA: 
Prabowo Gelar Bazar dan Hiburan Rakyat di Monas, Bagikan 100 Ribu Kupon hingga Doorprize Motor Listrik

Mulai dari pengembangan teknologi, peningkatan keselamatan, layanan pelanggan, hingga insentif bagi mitra pengemudi.

Jika ruang pendapatan platform berkurang signifikan, kualitas layanan dikhawatirkan ikut terdampak.

“Batas potongan 8 persen mungkin terdengar sederhana, tapi dampaknya bisa sangat luas, bahkan dapat mengurangi ruang platform untuk menjaga kualitas layanan, insentif, dan keselamatan mitra,” jelas Agung.

Ekosistem ojol saat ini melibatkan jutaan pihak, mulai dari 2–4 juta mitra pengemudi aktif hingga pelaku UMKM yang bergantung pada layanan digital.

MODANTARA menilai kebijakan ini harus mempertimbangkan dampak luas tersebut agar tidak justru mengurangi peluang kerja dan pendapatan di sektor ini.

“Ekosistem ini telah menjadi bantalan sosial bagi jutaan orang, sehingga kebijakan yang diambil perlu menjaga keberlanjutannya,” tambahnya.

Asosiasi juga memperingatkan bahwa pembatasan komisi hingga 8 persen dapat memangkas ruang operasional platform hingga 60 persen.

Kondisi ini berpotensi memaksa perusahaan mengubah model bisnisnya secara signifikan.

Mereka mempertanyakan apakah kebijakan tersebut benar-benar akan meningkatkan kesejahteraan mitra dalam jangka panjang, atau justru berdampak sebaliknya.

BACA JUGA: 
Lapor Pak Amran: Mentan Amran Tindak Tegas Pelanggaran, Petani Makin Terlindungi

SulawesiPos.com – Rencana Presiden Prabowo Subianto untuk menurunkan potongan aplikator ojek online (ojol) menjadi 8–10 persen mendapat respons dari pelaku industri.

Asosiasi Industri Mobilitas dan Pengantaran Digital Indonesia (MODANTARA) menyatakan menghormati langkah pemerintah yang dinilai berpihak pada kesejahteraan mitra pengemudi, yang selama ini menjadi bagian penting dalam ekosistem layanan digital.

Meski mendukung semangat kebijakan tersebut, industri mengingatkan agar pemerintah tidak terburu-buru dalam menetapkan angka potongan.

Mereka menilai penurunan hingga 8 persen perlu dikaji secara menyeluruh.

Direktur Eksekutif MODANTARA, Agung Yudha, menegaskan bahwa kebijakan yang baik harus berbasis data dan mempertimbangkan kondisi ekonomi secara luas.

“Kami memahami semangat pemerintah untuk meningkatkan kesejahteraan mitra pengemudi, namun kebijakan yang baik harus berpijak pada data, realitas ekonomi, dan keberlanjutan ekosistem,” ujarnya.

Ganggu Ekosistem Digital

MODANTARA menilai pemangkasan komisi secara drastis berpotensi mengganggu keseimbangan ekosistem digital.

Pasalnya, potongan platform selama ini digunakan untuk berbagai kebutuhan operasional.

BACA JUGA: 
Prabowo Gelar Bazar dan Hiburan Rakyat di Monas, Bagikan 100 Ribu Kupon hingga Doorprize Motor Listrik

Mulai dari pengembangan teknologi, peningkatan keselamatan, layanan pelanggan, hingga insentif bagi mitra pengemudi.

Jika ruang pendapatan platform berkurang signifikan, kualitas layanan dikhawatirkan ikut terdampak.

“Batas potongan 8 persen mungkin terdengar sederhana, tapi dampaknya bisa sangat luas, bahkan dapat mengurangi ruang platform untuk menjaga kualitas layanan, insentif, dan keselamatan mitra,” jelas Agung.

Ekosistem ojol saat ini melibatkan jutaan pihak, mulai dari 2–4 juta mitra pengemudi aktif hingga pelaku UMKM yang bergantung pada layanan digital.

MODANTARA menilai kebijakan ini harus mempertimbangkan dampak luas tersebut agar tidak justru mengurangi peluang kerja dan pendapatan di sektor ini.

“Ekosistem ini telah menjadi bantalan sosial bagi jutaan orang, sehingga kebijakan yang diambil perlu menjaga keberlanjutannya,” tambahnya.

Asosiasi juga memperingatkan bahwa pembatasan komisi hingga 8 persen dapat memangkas ruang operasional platform hingga 60 persen.

Kondisi ini berpotensi memaksa perusahaan mengubah model bisnisnya secara signifikan.

Mereka mempertanyakan apakah kebijakan tersebut benar-benar akan meningkatkan kesejahteraan mitra dalam jangka panjang, atau justru berdampak sebaliknya.

BACA JUGA: 
Lebaran 2026, 850 Ribu Driver Ojol Terima Bonus Hari Raya

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru