Pakar Unhas Kritik Komunikasi Publik Prabowo, Dinilai Berisiko Rugikan Segmen Pemilih

SulawesiPos.com – Pakar politik Universitas Hasanuddin (Unhas), Prof. Dr. Armin, M.Si, menilai komunikasi publik Presiden Prabowo Subianto berisiko merugikan segmen pemilih tertentu jika tidak disampaikan secara hati-hati. Menurutnya, sebagai kepala negara, Prabowo harus memperhatikan pilihan kata dan cara berkomunikasi karena kebijakannya menyangkut seluruh masyarakat, baik pendukung maupun bukan pendukungnya.

Hal tersebut disampaikan Prof Armin saat menjadi pembicara dalam Diskusi Publik bertajuk “Komunikasi Publik Presiden, Bagaimana Seharusnya?” yang digelar SulawesiPos.com di Kedai Ayah UQ, Jalan Boulevard, Ruko Cempaka, Makassar, Sabtu (31/10/2026).

Diskusi tersebut membahas komunikasi publik Presiden Prabowo yang belakangan menjadi perbincangan dan menuai kontroversi.

Prof Armin mengatakan, Prabowo sebagai aktor politik merupakan milik seluruh rakyat, termasuk masyarakat yang tidak memilihnya dalam pemilihan presiden.

“Itu miliknya karena seluruh kebijakannya Prabowo itu menyentuh kepentingan pemilih dan bukan pemilih. Karena itu, Prabowo kalau berpidato atau menanggapi media sosial, jangan sampai ada salah satu segmen pemilih yang dirugikan,” ujarnya.

BACA JUGA:  Menyusuri Rimba Papua Barat, TEP 20 UNHAS Petakan Pala Premium Lewat Dashboard Digital

Ia mencontohkan penggunaan kata ‘goblok’ oleh Prabowo di hadapan publik saat menanggapi seorang ahli.

Menurut Prof Armin, peristiwa tersebut menunjukkan pentingnya peran orang-orang di sekitar presiden, khususnya para pendukung, untuk mengingatkan dalam menjaga komunikasi politik.

“Maka karena itu, karena komunikasi politik individu itu, maka yang membentuknya ini orang-orang yang ada di sekitarnya, orang-orang yang mengaku pendukungnya, orang-orang yang merasa bahwa Prabowo-Gibran itu memiliki nilai lebih,” ujar Prof Armin.

Prof Armin menilai, jika seorang presiden harus menyampaikan pernyataan yang berpotensi menyinggung pihak tertentu, pemilihan kata perlu dilakukan dengan sehalus mungkin.

“Karena itu, komunikasi politik itu, aktor politik itu dalam berkomunikasi terhadap konstituennya harus memuaskan siapa saja. Kalau tidak memuaskan, jangan bicara,” kata dia.

Diskusi Terbatas SulawesiPos bertajuk "Komunikasi Publik Presiden, Bagaimana Seharusnya?" di Kedai Ayah UQ, Makassar, Sabtu (31/10/2026). Foto: Tari/SPos.
Diskusi Terbatas SulawesiPos bertajuk “Komunikasi Publik Presiden, Bagaimana Seharusnya?” di Kedai Ayah UQ, Makassar, Sabtu (31/10/2026). Foto: Tari/SPos.

Lebih lanjut, Prof Armin menjelaskan bahwa pendukung yang dimaksud juga mencakup partai politik pengusung.

Menurutnya, partai politik memiliki tugas memasarkan aktor politik kepada masyarakat, sebagaimana pengusaha yang berupaya memperoleh keuntungan.

BACA JUGA:  Unhas Pamerkan 50 Program Pengabdian, Dorong Hilirisasi Potensi Bulukumba

“Jadi, pengusaha dalam politik itu, itu adalah partai politik. Partai politik berusaha mengiklankan aktor politik agar aktor politik layak jual dan harganya bagus, terjangkau oleh pemilih,” jelasnya.

Ia menegaskan partai politik bersama tim sukses harus berupaya memasarkan calon yang diusung agar tampil hebat, berkualitas, dan menarik perhatian banyak pemilih.

Menurut Prof Armin, keberhasilan seorang aktor politik juga dapat dilihat dari daya tariknya di tengah masyarakat.

Salah satu indikatornya adalah ketika seorang aktor politik berada di tengah kerumunan dan dikerumuni masyarakat hingga meninggalkan lokasi.

Hal tersebut, kata dia, menunjukkan adanya daya tarik yang membuat masyarakat ingin mendekat kepada aktor politik tersebut.

“Yang berpengaruh itu dia memiliki daya tarik: daya tarik ketampanan, daya tarik ekonomi, daya tarik bicara, daya tarik berperilaku, daya tarik berucap. Sehingga apa saja yang diucapkan itu bagus,” paparnya.

SulawesiPos.com – Pakar politik Universitas Hasanuddin (Unhas), Prof. Dr. Armin, M.Si, menilai komunikasi publik Presiden Prabowo Subianto berisiko merugikan segmen pemilih tertentu jika tidak disampaikan secara hati-hati. Menurutnya, sebagai kepala negara, Prabowo harus memperhatikan pilihan kata dan cara berkomunikasi karena kebijakannya menyangkut seluruh masyarakat, baik pendukung maupun bukan pendukungnya.

Hal tersebut disampaikan Prof Armin saat menjadi pembicara dalam Diskusi Publik bertajuk “Komunikasi Publik Presiden, Bagaimana Seharusnya?” yang digelar SulawesiPos.com di Kedai Ayah UQ, Jalan Boulevard, Ruko Cempaka, Makassar, Sabtu (31/10/2026).

Diskusi tersebut membahas komunikasi publik Presiden Prabowo yang belakangan menjadi perbincangan dan menuai kontroversi.

Prof Armin mengatakan, Prabowo sebagai aktor politik merupakan milik seluruh rakyat, termasuk masyarakat yang tidak memilihnya dalam pemilihan presiden.

“Itu miliknya karena seluruh kebijakannya Prabowo itu menyentuh kepentingan pemilih dan bukan pemilih. Karena itu, Prabowo kalau berpidato atau menanggapi media sosial, jangan sampai ada salah satu segmen pemilih yang dirugikan,” ujarnya.

BACA JUGA:  Unhas Pamerkan 50 Program Pengabdian, Dorong Hilirisasi Potensi Bulukumba

Ia mencontohkan penggunaan kata ‘goblok’ oleh Prabowo di hadapan publik saat menanggapi seorang ahli.

Menurut Prof Armin, peristiwa tersebut menunjukkan pentingnya peran orang-orang di sekitar presiden, khususnya para pendukung, untuk mengingatkan dalam menjaga komunikasi politik.

“Maka karena itu, karena komunikasi politik individu itu, maka yang membentuknya ini orang-orang yang ada di sekitarnya, orang-orang yang mengaku pendukungnya, orang-orang yang merasa bahwa Prabowo-Gibran itu memiliki nilai lebih,” ujar Prof Armin.

Prof Armin menilai, jika seorang presiden harus menyampaikan pernyataan yang berpotensi menyinggung pihak tertentu, pemilihan kata perlu dilakukan dengan sehalus mungkin.

“Karena itu, komunikasi politik itu, aktor politik itu dalam berkomunikasi terhadap konstituennya harus memuaskan siapa saja. Kalau tidak memuaskan, jangan bicara,” kata dia.

Diskusi Terbatas SulawesiPos bertajuk "Komunikasi Publik Presiden, Bagaimana Seharusnya?" di Kedai Ayah UQ, Makassar, Sabtu (31/10/2026). Foto: Tari/SPos.
Diskusi Terbatas SulawesiPos bertajuk “Komunikasi Publik Presiden, Bagaimana Seharusnya?” di Kedai Ayah UQ, Makassar, Sabtu (31/10/2026). Foto: Tari/SPos.

Lebih lanjut, Prof Armin menjelaskan bahwa pendukung yang dimaksud juga mencakup partai politik pengusung.

Menurutnya, partai politik memiliki tugas memasarkan aktor politik kepada masyarakat, sebagaimana pengusaha yang berupaya memperoleh keuntungan.

BACA JUGA:  Dedikasi 24 Tahun Antar Prof Niswar Raih Suguru Yamaguchi Memorial Award

“Jadi, pengusaha dalam politik itu, itu adalah partai politik. Partai politik berusaha mengiklankan aktor politik agar aktor politik layak jual dan harganya bagus, terjangkau oleh pemilih,” jelasnya.

Ia menegaskan partai politik bersama tim sukses harus berupaya memasarkan calon yang diusung agar tampil hebat, berkualitas, dan menarik perhatian banyak pemilih.

Menurut Prof Armin, keberhasilan seorang aktor politik juga dapat dilihat dari daya tariknya di tengah masyarakat.

Salah satu indikatornya adalah ketika seorang aktor politik berada di tengah kerumunan dan dikerumuni masyarakat hingga meninggalkan lokasi.

Hal tersebut, kata dia, menunjukkan adanya daya tarik yang membuat masyarakat ingin mendekat kepada aktor politik tersebut.

“Yang berpengaruh itu dia memiliki daya tarik: daya tarik ketampanan, daya tarik ekonomi, daya tarik bicara, daya tarik berperilaku, daya tarik berucap. Sehingga apa saja yang diucapkan itu bagus,” paparnya.

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru