Menyusuri Rimba Papua Barat, Mahasiswa Unhas Petakan Pala Premium Lewat Dashboard Digital

SulawesiPos.com – Pala Weri Saharey, Distrik Weri Saharey, Kabupaten Fakfak, Papua Barat, mulai dipetakan secara digital oleh Tim Ekspedisi Patriot (TEP) 20 Universitas Hasanuddin pada 10 Oktober 2026 yang dirilis hari Selasa (13/10).

Pemetaan pohon dan kebun bersama petani itu dilakukan untuk membuat data pasokan, mutu, dan produksi lebih mudah diakses calon pembeli dari tingkat nasional hingga internasional.

Kegiatan tersebut merupakan bagian dari kolaborasi Universitas Hasanuddin dengan Kementerian Transmigrasi melalui Program Patriot.

Tim menyusuri kebun-kebun pala warga, mencatat titik koordinat, serta memasukkan informasi lapangan ke dashboard komoditas pala.

Setiap Pohon Dicatat dalam Dashboard

Survei dilakukan secara spasial dan berulang. Setiap pohon serta kebun yang ditemukan dipetakan sehingga data pada dashboard dapat diperbarui mengikuti kondisi lapangan.

Model tersebut dirancang untuk menampilkan lokasi kebun, luas lahan, tingkat mutu, data produksi, harga pasar, stok gudang, hingga calon pembeli.

Dengan informasi yang lebih terbuka, petani diharapkan memiliki dasar yang lebih kuat saat berhubungan dengan pasar.

BACA JUGA:  Bakar Semangat Mahasiswa Baru Unhas, Mentan Amran: Berlian Dicetak dengan Tekanan Tinggi

Program pemetaan itu menjadi bagian dari kerja TEP 20 Unhas yang dipimpin Muhammad Junaid.

 Tim TEP 20 Unhas bersama warga dan petani Weri Saharey di tengah hutan pala
Tim TEP 20 Unhas bersama warga dan petani Weri Saharey di tengah hutan pala (dokumentasi TEP 20 Unhas)

Tim tidak hanya mendata lokasi tanaman, tetapi juga mendampingi petani dalam membaca potensi komoditas pala di kawasan transmigrasi Weri Saharey.

Ukuran Biji Menjadi Acuan Mutu

Tim mengukur biji pala dari pohon sampel menggunakan caliper digital dan timbangan digital.

Dalam pengukuran tersebut, pala yang masuk kriteria premium memiliki panjang minimal 36,9 milimeter, warna cokelat kehitaman, serta bobot sekitar 10 gram atau lebih per biji.

Fuli atau selaput pembungkus biji pala yang dinilai baik tampak berwarna merah menyala.

Ukuran itu menjadi acuan awal bagi petani untuk mengenali mutu hasil panen, sekaligus memberi gambaran bagi pembeli sebelum melakukan transaksi.

Data tersebut masih merupakan hasil pengukuran sampel tim di lapangan, bukan penetapan sertifikasi mutu untuk seluruh produksi pala Weri Saharey.

Teknologi Didorong Masuk ke Kebun Warga

Program Patriot Kementerian Transmigrasi diarahkan untuk membawa teknologi dan pengetahuan perguruan tinggi ke masyarakat di kawasan transmigrasi.

BACA JUGA:  Menteri Pertanian dan Wali Kota Makassar Ramaikan Fun Walk Dies Natalis ke-70 Unhas

Di Weri Saharey, mahasiswa dan dosen Unhas menjalankan pendampingan langsung di kebun bersama warga.

Pengembangan dashboard juga dibahas dalam pameran produk TEP Unhas.

Ilustrasi alur spasial dashboard komoditas pala Weri Saharey: dari peta Papua hingga rantai nilai dan pembeli
Ilustrasi alur spasial dashboard komoditas pala Weri Saharey: dari peta Papua hingga rantai nilai dan pembeli. (Sumber: dashboard Agromaritim-Hub dan TEP 20 Unhas)

Kepala Dinas Kominfo Kabupaten Fakfak, Taufik, mengunjungi posko TEP 20 untuk berdiskusi mengenai pertanian cerdas dan pengembangan sistem data komoditas.

Dashboard rantai nilai yang dikembangkan TEP 20 dan Agromaritim-Hub dirancang mengikuti alur dari peta Papua, kawasan pesisir Fakfak, Weri Saharey, hingga titik-titik kebun binaan.

Data dari kebun kemudian dihubungkan dengan informasi pasokan dan pasar.

Tim TEP 20 berencana mengembangkan model serupa untuk cabai dan komoditas pertanian lain.

Jika berlanjut, sistem tersebut dapat menjadi contoh pengelolaan data pertanian untuk kawasan transmigrasi lain di Papua Barat dan daerah lain di Indonesia.

catatan: Kolaborasi Kementerian Transmigrasi dan Universitas Hasanuddin lewat Program Patriot menghubungkan petani pala Weri-Saharey dengan pembeli nasional hingga internasional

SulawesiPos.com – Pala Weri Saharey, Distrik Weri Saharey, Kabupaten Fakfak, Papua Barat, mulai dipetakan secara digital oleh Tim Ekspedisi Patriot (TEP) 20 Universitas Hasanuddin pada 10 Oktober 2026 yang dirilis hari Selasa (13/10).

Pemetaan pohon dan kebun bersama petani itu dilakukan untuk membuat data pasokan, mutu, dan produksi lebih mudah diakses calon pembeli dari tingkat nasional hingga internasional.

Kegiatan tersebut merupakan bagian dari kolaborasi Universitas Hasanuddin dengan Kementerian Transmigrasi melalui Program Patriot.

Tim menyusuri kebun-kebun pala warga, mencatat titik koordinat, serta memasukkan informasi lapangan ke dashboard komoditas pala.

Setiap Pohon Dicatat dalam Dashboard

Survei dilakukan secara spasial dan berulang. Setiap pohon serta kebun yang ditemukan dipetakan sehingga data pada dashboard dapat diperbarui mengikuti kondisi lapangan.

Model tersebut dirancang untuk menampilkan lokasi kebun, luas lahan, tingkat mutu, data produksi, harga pasar, stok gudang, hingga calon pembeli.

Dengan informasi yang lebih terbuka, petani diharapkan memiliki dasar yang lebih kuat saat berhubungan dengan pasar.

BACA JUGA:  Bakar Semangat Mahasiswa Baru Unhas, Mentan Amran: Berlian Dicetak dengan Tekanan Tinggi

Program pemetaan itu menjadi bagian dari kerja TEP 20 Unhas yang dipimpin Muhammad Junaid.

 Tim TEP 20 Unhas bersama warga dan petani Weri Saharey di tengah hutan pala
Tim TEP 20 Unhas bersama warga dan petani Weri Saharey di tengah hutan pala (dokumentasi TEP 20 Unhas)

Tim tidak hanya mendata lokasi tanaman, tetapi juga mendampingi petani dalam membaca potensi komoditas pala di kawasan transmigrasi Weri Saharey.

Ukuran Biji Menjadi Acuan Mutu

Tim mengukur biji pala dari pohon sampel menggunakan caliper digital dan timbangan digital.

Dalam pengukuran tersebut, pala yang masuk kriteria premium memiliki panjang minimal 36,9 milimeter, warna cokelat kehitaman, serta bobot sekitar 10 gram atau lebih per biji.

Fuli atau selaput pembungkus biji pala yang dinilai baik tampak berwarna merah menyala.

Ukuran itu menjadi acuan awal bagi petani untuk mengenali mutu hasil panen, sekaligus memberi gambaran bagi pembeli sebelum melakukan transaksi.

Data tersebut masih merupakan hasil pengukuran sampel tim di lapangan, bukan penetapan sertifikasi mutu untuk seluruh produksi pala Weri Saharey.

Teknologi Didorong Masuk ke Kebun Warga

Program Patriot Kementerian Transmigrasi diarahkan untuk membawa teknologi dan pengetahuan perguruan tinggi ke masyarakat di kawasan transmigrasi.

BACA JUGA:  Rehan Bisa Masuk Unhas Tanpa Tes, Siswa Pinrang Ini Dapat Golden Ticket Usai Diakui NASA

Di Weri Saharey, mahasiswa dan dosen Unhas menjalankan pendampingan langsung di kebun bersama warga.

Pengembangan dashboard juga dibahas dalam pameran produk TEP Unhas.

Ilustrasi alur spasial dashboard komoditas pala Weri Saharey: dari peta Papua hingga rantai nilai dan pembeli
Ilustrasi alur spasial dashboard komoditas pala Weri Saharey: dari peta Papua hingga rantai nilai dan pembeli. (Sumber: dashboard Agromaritim-Hub dan TEP 20 Unhas)

Kepala Dinas Kominfo Kabupaten Fakfak, Taufik, mengunjungi posko TEP 20 untuk berdiskusi mengenai pertanian cerdas dan pengembangan sistem data komoditas.

Dashboard rantai nilai yang dikembangkan TEP 20 dan Agromaritim-Hub dirancang mengikuti alur dari peta Papua, kawasan pesisir Fakfak, Weri Saharey, hingga titik-titik kebun binaan.

Data dari kebun kemudian dihubungkan dengan informasi pasokan dan pasar.

Tim TEP 20 berencana mengembangkan model serupa untuk cabai dan komoditas pertanian lain.

Jika berlanjut, sistem tersebut dapat menjadi contoh pengelolaan data pertanian untuk kawasan transmigrasi lain di Papua Barat dan daerah lain di Indonesia.

catatan: Kolaborasi Kementerian Transmigrasi dan Universitas Hasanuddin lewat Program Patriot menghubungkan petani pala Weri-Saharey dengan pembeli nasional hingga internasional

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru