Ia menekankan bahwa dunia membutuhkan prosedur objektif untuk menilai kemampuan pemimpin dalam situasi berisiko tinggi, sebagaimana pilot, dokter bedah dan operator fasilitas nuklir menjalani standar kesehatan dan kompetensi yang ketat karena kesalahan kecil mereka dapat menimbulkan akibat besar.
“Peringatan paling penting dari perdebatan ini bukan bahwa kita harus takut kepada satu orang, tetapi bahwa umat manusia tidak seharusnya menggantungkan keselamatannya pada kestabilan psikologis seorang individu tanpa lapisan pengawasan institusional yang kuat,” ujar Ichlas.
Dalam perspektif tersebut, kontroversi mengenai Trump dan peringatan Abraham menjadi pengingat bahwa persoalan senjata nuklir pada akhirnya bukan hanya persoalan teknologi atau militer, tetapi juga persoalan psikologi manusia, desain institusi dan kemampuan peradaban membatasi kekuatan destruktifnya sendiri. (Ali)

